Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Rindu


__ADS_3

"Yun'er, bisakah aku memelukmu?" Tanya Raja Xin dengan penuh harap.


Yun Yi agak kaget ketika mendengar nada manja yang di buat oleh Raja Xin. Ia terdiam beberapa saat, lalu matanya menatap Raja Xin yang juga maih menatapnya, melas.


Dengan agak kaku, Yun Yi merentangkan tangannya. Raja Xin tersenyum, ia langsung memeluk Yun Yi dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu Yun'er." Ucap Raja Xin terendam, karena wajahnya ia simpan di ceruk leher Yun Yi.


Yun Yi mengangguk, sambil mencoba menjauhkan kepala Raja Xin dari lehernya.


"A'Guang, geli." Tubuh Yun Yi meremang ketika Raja Xin menghirup wangi dari tubuhnya.


"Kamu sangat harum." Tanpa memperdulikan ucapan Yun Yi, Raja Xin semakin menenggelamkan wajahnya.


Yun Yi pun sudah pasrah, ia membiarkan Raja Xin memeluknya se-erat itu. Yun Yi teringat akan sau hal,


"A'Guang, bagaimana dengan barang-barang yang kau janjikan padaku. Apakah kamj sudah memiliki nya?" Tanya Yun Yi.


Raja Xin membuka matanya, ia menautkan alisnya. "Sepertinya sudah, aku lupa." Ujarnya agak ragu.


"Kok lupa?"


"Ya.. mungkin karena terlalu banyak pekerjaan sampai aku lupa." Ungkap Raja Xin.


Yun Yi bergumam, mengerti. Kalau begitu tolong segera di ingat-ingat ya, aku ingin segera melanjutkan penelitian nya." Pinta nya.


"Baik."


Kini hanya ada keheningan. Raja Xin yang sedang menikmati pelukan itu, dan Yun Yi yang sedang mengobrol dengan Zisè, lewat pikirannya.


'Zisè sedang apa kau?'


'Seperti biasanya, tidur.' Sahut Zisè dari dalam ruang.


'Bisakah kau tidak bermalas-malasan? Setidaknya tolong siran bunga-bunga.'


'Mereka tidak perlu di siram, karena di bawah tanah sudah ada air yang sengaja di simpan agar para tumbuhan bisa makan dengan sendirinya.'


Ketika Yun Yi akan menyahuti Zisè, ia memekik kaget ketika Raja Xin mengangkat rubuhnya. "Akh?!"


"A'Guang kenapa kau tiba-tiba menggendongku seperti ini?" Tanya Yun Yi ketika Raja Xin menggendongka ala koala.


"Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ujar Raj Xin.

__ADS_1


"Kemana?" Yun Yi bertanya.


"Kau akan segera tahu." Raja Xin memeluk Yun Yi erat. Ia menyentuh cincin giok yang berada di jari tangan kanannya.


Secercah cahaya menyelimuti mereka, ketika mata Yun Yi terbuka. Yun Yi terdiam kaku, pemandangan macam apa ini?


Yun Yi turun dari pangkuan Raja Xin, matanya menelusuri tempat ini.


Di sebelah kiri ada hutan dan gunung es yang begitu putih. Lalu Yun Yi menoleh ke kanan, ada gurun yang di ujungnya ada gunung yang menjulang tinggi, gunung itu seperi di penuhi lava di mana-mana.


Yun Yi baru menyadari satu hal, ia melihat ke bawah. Ternyata ia tdak menalak di tanah, melainkan melayang di udara. Tunggu melayang?


"Ah.." Spontan Yun Yi memeluk lengan Raja Xin dengan erat.


"A'Guang, mengapa kita bisa melayang?" Tanya Yun Yi. Ini adalah sesuatu yang mustahil, bagaimana mereka bisa melayang tanpa alat.


"Mungkin kau tidak melihatnya, tapi aku sudah memasang array untuk bisa berdiri di udara seperti ini." Jelas Raja Xin.


"Array?" Gumam Yun Yi.


"Apakah aku juga bisa membuat array seperti ini?" Menatap Raja Xin dengan mata berbinar.


"Tentu, aku sudah mencarikan mu guru. Seperti keinginan mu, guru itu adalah seorang pengembara." Ucap Raja Xin.


Raja Xin terkekeh pelan, "Aku lupa siapa aku? Aku adalah seorang Raja." Ucap Raja Xin, agak sombong.


"Cih." Yun Yi mengalihkan pandangannya, ia lupa kalau tunangannya ini adalah seorang Raja. Ah.. ia beru tahu kalau tunangannya ini agak.. narsis.


Yun Yi berbalik, baru saja reda dari keterkejutannya. Yun Yi kembali di buat takjub dengan pemandangan yang di lihatnya.


"Apa-apa ini?"


Gunung hijau yang nampak sangat indah, ada air terjun yang mengalir dari puncak gunung. Ketika mata Yun Yi melihat sedikit ke bawah, di samping air terjun itu ada sebuah rumah yang nampak begitu asri dan menakjubkan.


"A'Guang, bawa aku ke sana." Yun Yi menunjuk, rumah itu.


Raja Xin tersenyum, dengan senang hati ia membawa Yun Yi ke rumahnya. Mereka pun mendarat di depan gerbang rumah itu.


"A'Guang, bagaimana kamu bisa terpikirkan membuat rumah di samping air terjun seperti ini?" Tanya Yun Yi.


Yun Yi berlari, menghampiri air terjun yang terus mengalir ke bawah. Ketika tepat di samping air terjun, ada semilir angin yang menerpanya dan itu membuat hati Yun Yi menjadi damai.


"Aku malah ingin tinggal di sini." Monolog Yun Yi.

__ADS_1


Raja Xin menghampiri Yun Yi, ia memeluknya dari belakang. "Kalau kau ingin tinggal di sini tentu tidak masalah. Bahkan aku akan sangat senang, karena akan ada orang yang menemaniku." Raja Xin menyimpan dagunya di pundak Yun Yi, lalu menyandarkan kepalanya ke kepala Yun Yi.


"Memangnya di sini tidak ada bawahanmu?" Tanya Yun Yi.


"Hanya ada penjaga dunia ini. Serta beberapa hewan kontrak ku. Namun, mereka terpencar." Jelas Raja Xin.


Yun Yi melihat sekeliling, lalu bertanya. "Memangnya ini di mana?"


"Dunia ruang dari cincin ku." Ujar Raja Xin.


Yun Yi mengangkat tangan kanannya, "Apakah seperti dunia ruang cincin ini?" Tanya Yun Yi.


Raja Xin menatap cincin pertunangan yang ja berikan, lalu mengangguk. "Benar."


Yun Yi sekarang paham mengapa di tempat ini ada tiga macam gunung yang berbeda seperti ini.


Yun Yi memjamkan mata, merasakan aliran qi spiritual yang ada di sekitarnya. "A'Guang, apakah kau merasa qi spiritual di sini agak aneh?"


"Aneh bagaimananya?" Gumam Raja Xin.


"Entahlah, aku pun tidak dapat menjelaskannya. Namun, yang lasti sangat berbeda dari qi spiritual yang ada di luar dan di dunia ruang ku." Yun Yi berkata, sambil merasakan kembali qi spiritual yang ada di sini.


"Hmm.. mungkin karena pengaruh kristal Yin/Yang yang berada di pohon itu." Raja Xin menunjuk ke sebuah pohon besar yang berada di puncak gunung ini.


Yun Yi mendongak menatap pohon yang begitu besar, seperti pohon beringin. "Pohon jenis apa itu? Aku belum pernah melihatnya." Ujar Yun Yi.


Raja Xin mengangkat bahunya acuh. "Entah, yang pasti pohon itu sudah ada di sana ketika aku menjalin kontrak dengan dunia ini." Ungkap nya.


Yun Yi terus memerhatikan pohon itu, pohon itu seolah memancarkan aura yang begitu agung dan dahsyat. Dan sepertinya Yun Yi pernah melihat pohon itu, tapi di mana?


Karena rasa penasarannya belum tuntas, Yun Yi kembali bertanya. "A'Guang, apakah kamu tau dari mana asal pohon itu?"


"Sepertinya dari dunia para Dewa-Dewi."


Raja Xin yang tidak suka melihat Yun Yi yang sepertinya sangat peduli terhadap pohon itu. Ia segera membalikan tubuh Yun Yi.


Raja Xin memegang ke dua pipi Yun Yi, supaya Yun Yi menatap nya. "Jangan menatap pohon jelek itu terus. Lebih baik kau menatapku saja, aku jauh lebih indah untuk di pandangi."


"Apakah kamu... Memegang toples cuka di perutmu*?"


...🔸️To Be Continued🔸️...


Maksud memegang toples cuka di sini, bukan benar-benar memegang toples cuka. Tapi ini perumpamaan bagi orang yang sedang cemburu.

__ADS_1


__ADS_2