
Jian Yang ikut melihat ke arah atas.
Semua awan yang tadinya mendung kini kembali cerah, seperi semula. Bahkan awan-awan yang beerbangan di sekitar istana langitpun mulai kembali seperti semula.
Namun, belum ada Cahya matahari yang memancar. Cahaya matahari seolah masih enggan menyinari semesta, padahal awan-awan sudah tidak mendung lagi.
"Bagaimana bisa seperti ini?" Gumam Jian Yang.
Di kepala Jian Yang terlintas satu nama. "Bai Shi. Apa mungkin dia yang melakukan ini?" Gumamnya.
Tianzhi mengabaikan Jian Yang, atau dirinya tidak melihatnya. Tianzhi pergi begitu saja dari sana, entah pergi ke mana. Jian Yang terdiam ketika dirinya di tinggalkan begitu saja oleh Tianzhi.
Sedangkan di sisi lain. Kini Tianzhi tengah mencari keberadaan Bai Shi.
"Bai Shi, Bai Shi. Di mana kau?" Setelah tiga kali berteriak, memanggil Bai Shi. Laki-laki itu pun datang. Bai Shi menunduk, lalu memberi hormat pada Tianzhi.
"Ada keperluan apa Dewi tertinggi menemui saya?" Tanya Bai Shi dengan kepala masih menunduk.
"Jangan bersikap seolah-olah kamu tidak tahu." Tianzhi menatap Bai Shi dingin.
"Maksud anda apa? Saya benar-benar tidak tahu, dan tidak mengerti dengan apa yang Dewi ucapkan." Bai Shi masuk tetap mengelak.
"Bai Shi, apa kamu menyembunyikan keberadaan anak ku lagi seperti dulu? Apa kau sengaja menghapus awan-awan gelap itu, supaya aku tidak menemukannya?" Tianzhi menatap Bai Shi dengan kecewa.
"Saya tidak menyembunyikan apapun, dan siapa yang tengah anda carim?" Bai Shi masih tetap mengelak, walau Tianzhi memiliki pangkat yang lebih tinggi darinya, kerena beberapa alasan dirinya lebih menghormati Dewi Alam.
"Kalau kau tidak ingin memberitahu ku, maka tak apa. Aku bisa mencarinya sendiri." Setelah berucap seperti itu, sosok Tianzhi menghilang dari hadapan Bai Shi.
"Saya harap, untuk sementara ini, anda tidak di temukan oleh Dewi Cahaya terlebih dulu." Gumam Bai Shi.
Di sisi lain, kini Yun Yi tengah berkeliling , mencari An She. Istana ini begitu luas, bahkan lebih luas dari istana di Kekaisaran yang pernah Yun Yi kunjungi.
Ketika matanya melihat siluman kelinci yang tengah membawa banyak barang, ia segera menghampirinya.
__ADS_1
Saat Yun Yi berdiri di belakang siluman itu, sepertinya siluman itu tidak menyadari keberadaan nya seperti orang-orang yang berpapasan dengannya beberapa saat yang lalu.
Puk puk
Yun Yi menepuk bahu siluman kelinci. Siluman itu berbalik kaget. Sepertinya dia benar-benar tidak menyadari keberadaan Yun Yi.
Ketika siluman itu melihat Yun Yi. Matanya langsung berkaca-kaca. "De-dewi ku." Gumamnya.
"Apa kau tahu di mana keberadaan An She?" Tanya Yun Yi, mengabaikan tatapan siluman yang seperti tengah merindukannya.
Bruk
Siluman itu melempar barang-barang yang di bawanya, lantas berlutut di hadapan Yun Yi. "Siluman kecil ini ijin menjawab. Terakhir kali, saya bertemu dengan Peri, adalah tadi pagi. Di taman utama istana ini, dia sedang menyiram tanaman kesayangan anda, Dewi-ku." Ujar Siluman kelinci itu.
Nada bicaranya terdengar sangat begitu menyegani Yun Yi.
Yun Yi mengangguk, tanpa berlama-lama, dirinya berlari mencari keberadaan An She.
Setelah kepergian Yun Yi, siluman kelinci mengangkat wajahnya. "Dewi-ku, akhirnya anda sudah mengingat peri An She. Saya harap, setelah ini, ingatan anda pulih sepenuhnya."
"Nah, sekarang sudah rapih seperti awalnya." Gumam nya.
Bruk
Ketika dirinya baru saja berdiri, ia di kagetkan dengan seseorang yang secara tiba-tiba memeluknya dari belakang. Kepalanya tertunduk, untuk melihat tangan yang kini melingkar di pinggang nya.
Deg
Mata An She membulat ketika melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kecil itu. 'Dewi...'
"An She ku, akhirnya aku menemukan mu." Suara itu memasuki telinga An She, dan berhasil membuat An She terdiam kaku.
Ia terdiam, suaranya memang terdengar seperti junjungannya dengan tubuh barunya. Akan tetapi... Mengapa aura di sekitarnya begitu gelap?
__ADS_1
Pupil An She melebar ketika mengenali aura pekat ini. "Hei Sui?"
Setelah An She menggumamkan nama itu, pelukan itu terlepas. Lalu Yun Yi berjalan ke hadapan An She.
"Ternyata kamu masih mengingatku." Seru Yun Yi dengan senyuman.
Pupil mata An She kembali melebar, tangannya terangkat, menyentuh tanda bunga anggrek yang ada di sebelah pipi Yun Yi.
"Ba-bagaimana ini bisa terjadi?" Ini di luar prediksinya. Awalnya ia mengira Yun Yi akan berubah menjadi wujud Dewi yang sebenarnya, karena sudah bertemu dengan Tianzhi, Dewi Cahaya. Akan tetapi, mengapa Yun Yi yang ada di hadapannya malah berubah menjadi Hei Sui?
Yun Yi memejamkan matanya ketika tangan An She menyentuk sebelah pipinya. "Aku merindukan An She ku." Gumamnya.
Pelupuk mata An She kini mulai di penuhi air, ia senang karena Dewi nya kini telah mengingat nya. Walau dirinya berharap kalau Yun Yi mengingatnya dengan wujud Dewi nya, ia tidak marah karena Yun Yi mengingatnya dengan wujud Hei Sui nya.
"Dewi-ku, selamat datang." An She memeluk junjungan yang ia asuh sedari bayi itu. Air matanya meluruh, akhirnya setelah beratus-ratus tahun, Dewi nya kini ada di hadapannya.
Yun Yi membalas pelukan An She tak kalah erat, senyumannya sedari tadi tidak pernah luntur.
Mereka meluapkan kerinduan mereka dengan saling memeluk. Dan setelah puas berpelukkan, Yun Yi melepas pelukan nya.
"An She, bagaiaman keadaan orang-orang desa?" Tanya Yun Yi.
"Apakah anda sudah mengingat penduduk Aidelwis?" Mendengar pertanyaan yang di ajukan Yun Yi, An She merasa senang.
"Ya." Yun Yi mengangguk lalu setelahnya menundukkan kepalanya. "Akan tetapi, aku masih belum bisa mengingat semuanya. Seperti ingatan-ingatan sbelumnya, pasti ada saja yang terpotong. Seolah-olah ada yang menghalangiku untuk tidak mengingat semuanya." Tutur Yun Yi.
An She dapat memakluminya, seorang Dewi yang bereinkarnasi memang selalu melupakan ingatan nya di kehidupan pertamanya. Dan sangat jarang ada Dewi atau Dewa yang mengingat seluruh ingatan di kehidupan pertamanya.
Kalaupun ada, prosesnya pasti sangat panjang. Tapi, Dewi nya sangat beruntung. Karena dalam waktu dekat, junjungannya ini sudah mendapatkan banyak ingatan.
Bagaiaman ia bisa tahu? Tentu saja tahu, An She adalah orang yang berada di sisi Yun Yi sejak Yun Yi lahir sebagai Xiao Sui. Dan dirinya sudah memberikan salah satu mutiara jiwa perinya pada jiwa Xiao Sui, jadi dirinya dapat dengan mudah mengetahui segalanya.
Dari mulai apa yang di sukai, di benci dan segala hal. Bahkan terkadang, mimpi yang di alami Yun Yi akan ia alami juga.
__ADS_1
...🔸️To Be Continued🔸️...