
Tidak butuh waktu lama untuk iblis hati mengalahkan pembunuh bayaran itu. Yun Yi melihat ke arah para pembunuh bayaran yang kini terkapar di lantai, ada yang pingsan, ada yang terluka parah, ada juga yang masih sadar namun di penuhi banyak luka.
"Kita apakah mereka?" Tanya Yun Yi entah kepada siapa.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Yun Yi, Raja Xin yang hanya diam saja, dan Putri Wang yang sedari tadi terus menunduk.
Wajah Yun Yi tertekuk, ketika tidak ada yang menyahutinya. "Apakah tidak ada yang mau menjawab pertanyaan ku?"
"Karena pembunuh bayaran ini mengincar Putri Wang, jadi tanyalah kepadanya." Raja Xin menunjuk Putri Wang dengan wajahnya.
Yun Yi menoleh, ia menatap Putri Wang yang masih menunduk. Yun Yi ingin bertanya, tapi melihat bahu Putri Wang yang kembali bergetar, Yun Yi mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Mata Yun Yi melihat ke sekeliling, sudah tidak ada siapapun di aula ini, sedangkan Kaisar dan Permaisuri memang sudah tidak ada sejak Yun Yi di ajak makan oleh Raja Xin.
"A'Guang, bukankah seorang Putri selalu mempunyai dayang pribadi dan beberapa prajurit yang menjaganya. Lalu, kenapa sekarang tidak ada siapapun di sini. Bahkan tadipun, ketika Putri Wang di serang, tidak ada prajurit yang maju. Prajurit Kekaisaran ini pun sekarang entah pergi ke mana." Mata Yun Yi terus melihat ke sekelilingnya, benar-benar tidak ada siapapun.
"Mengenai seorang dayang, bukankah tadi mereka pergi ke luar istana? Termasuk dayangmu." Tutur Raja Xin.
"Eh, benar juga ya." Yun Yi terkekeh pelan, mengapa ia bisa lupa.
"Lalu untuk para prajurit, aku juga tidak tahu." Mendengar itu, mata Yun Yi memicing. Ia menatap Raja Xin tidak percaya.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku benar-benar tidak tahu." Raja Xin menoleh, menghindari tatapan Yun Yi.
"A'Guang, jangan berbohong." Yun Yi berucap dengan sedikit nada peringatan.
Karena tidak ingin membuat Yun Yi kesal, Raja Xin pun berkata. "Aku mempunyai tebakan, entah dnar atau tidak. Tapi aku tidak bisa mengatakannya karena ini bukan masalah Kerajaan Xin."
Alis Yun Yi bertaut, "Mengapa kau malah melibatkan kerajaan mu?" Tanya Yun Yi.
Raja Xin menghela nafasnya. "Dengar, ini hanya tebakanmu saja ya." Raja Xin menjeda perkataannya beberapa saat.
"Setahuku, kelompok tengkorang merah di bangun oleh Kaisar Wang sebelumnya, dan Kaisar Wang saat ini adalah pemimpin baru dari kelompok mereka. Kelompok tengkorang merah di tugaskan untuk membunuh musuh dari Kakisaran Wang sendiri. Dan..." Mata Raja Xin tertuju pada Putri Wang yang kini semakin terisak.
__ADS_1
"Dan apa?"
"Dan mereka selalu mematuhi perintah pemimpin mereka apapun tugasnya." Ucap Raja Xin dengan menekan kata 'apapun'.
Yun Yi berbalik, kembali menatap Putri Wang yang masih menangis. Kini ia paham kenapa tidak ada satu prajurit pun di sini.
'Tidak mungkin kan kalau para pembunuh bayaran itu ingin membunuh Putri Wang atas perintah Kaisar Wang. Bukankah kaisar Wang adalah ayahnya.' batin Yun Yi.
"Aku pikir kalau aku menjadi salah satu pemenang perburuan, Ayah akan memaafkan ku." Gumam Putri Wang dengan suara lirih.
Walau tidak jelas, tapi Yun Yi masih dapat mendengar gumaman Putri Wang.
Yun Yi menatap Putri Wang sendu, ia kembali memeluk tubuh Putri Wang.
Putri Wang semakin terisak, tangisannya semakin kencang. Dan itu membuat Yun Yi gelagapan, semasa hidupnya sebagai Xiao Lin, dia tidak pernah menenangkan orang yang tengah bersedih. Jadi, Yun Yi hanya bisa menepuk punggung Putri Wang, canggung.
Perlahan, tangisan Putri Wang mereda. Tapi tubuh Putri Wang melemah, dengan panik Yun Yi merebahkan Putri Wang di pangkuannya.
"Sepertinya dia pingsan karena kelelahan." Raja Xin memanggil Shen, menyuruhnya untuk membawa Putri Wang.
Raja Xin memerintahkan Shen untuk membawa Putri Wang ke penginapan yang mereka tempati.
"Yun'er, kamu pergilah ke kereta kuda terlebih dulu. Aku akan berpamitan kepada Kaisar Wu." Ujar Raja Xin.
Yun Yi mengangguk, dengan langkah tergesa-gesa ia keluar dari istana. Saat ia sampai di kereta kuda milik Raja Xin, iaendapati Lan Mei yang tengah berbincang dengan Kakak laki-laki nya.
"Lan Mei." Merasa di panggil, Lan Mei mendongak.
"Xiăo Jiě mengapa anda sudah keluar, bukankah perjamuannya masih berlangsung?" Tanya Lan Mei.
"Kita akan pergi terlebih dahulu. Putri Wang pingsan dan dia sudah di bawa Shen ke penginapan. Jadi kita harus ke sana." Ucap Yun Yi.
"Putri Wang? Apakah maksud anda Putri Wang Shu Ren?" Yun Yi mengangguk, membenarkan ucapan Lan Mei.
__ADS_1
"Yun'er, ayo." Raja Xin secara tiba-tiba muncul begitu saja, padahal Yun Yi tidak mendengar suara langkah kaki.
"Kau mengagetkanku." Yun Yi mengelus dadanya, dia benar-benar kaget ketika Raja Xin muncul begitu saja.
Ketika Yun Yi akan membuka suara, Raja Xin segera membungkamnya menggunakan tangannya sendiri.
"Kita tidak bisa lama-lama di sini. Sebentar lagi akan ada kudeta di sini. Pangeran Pertama, Wang Feng Jun, berniat merebut kekuasaan Ayahnya sendiri. Aku sudah memerintahkan bawahanmu untuk membawa keluargamu keluar dari istana ini. Kita pun harus bergegas sekarang." Jelas Raja Xin, Raja Xin mengangkat tubuh Yun Yi secara tiba-tiba.
"Aaa. Apa yang kau lakukan?!" Yun Yi mencoba memberontak, tapi ia tidak bisa lepas.
Raja Xin menoleh ke arah dua bersaudara yang ada di sampingnya, "Kalian! Segera masuk ke dalam kereta kalian!" Titah Raja Xin.
Lan Mei mengangguk, ia menarik Kakaknya untuk segera masuk ke kereta pelayan. Ke dua kereta kuda itu melaju dengan cepat, mereka melewati pasar yang sudah sangat sepi.
"Mengapa pasar menjadi sepi seperti ini?" Yun Yi yang duduk di dekat jendela menatap aneh ke luar. Di pasar tidak ada satu orang pun yang berkeliaran, benar-benar sangat sepi.
"Sepertinya Wang Feng Jun sudah mengatur semua ini." Ucap Raja Xin, menyahuti perkataan Yun Yi.
"Tapi, mengapa Pangeran pertama tidak menjadi Putra mahkota?" Tanya Yun Yi, sedikit melenceng dari pembahasan awal.
"Karena dia anak dari selir, bulan dai permaisuri." Jawab Raja Xin, singkat.
"Ohh." Yun Yi mengangguk-anggukan kepalanya.
Baru saja Yun Yi berkata 'ohh', tiba-tiba kereta berhenti. Dan tunggu dulu, mengapa pandangan di luar menjadi sangat berbeda dari sebelumnya.
"A'Guang, mengapa pemandangan di luar menjadi banyak pepohonan. Bukankah kita akan pergi ke penginapan?" Tanya Yun Yi.
"Tidak jadi, aku membawa kalian ke tepat lain. Penginapan mungkin saja sudah di tutup karena adanya kudeta ini." Raja Xin keluar dari kereta, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya.
"Ayo turun dulu, biar aku jelaskan nanti." Ucap Raja Xin.
...🔸️To Be Continued🔸️...
__ADS_1