
Yun Yi turun dari kereta di bantu oleh Raja Xin. "Jelaskan sambil berjalan saja." Pinta Yun Yi.
"Sedari awal aku memang sudah menebak kalau pangeran pertama akan melakukan kudeta di acara perjamuan, tapi aku tidak pernah mengira kalau kudeta yang mereka lakukan sangatlah awal." Jelas Raja Xin.
"Sedari awal pengangkatan pangeran kedua menjadi putra mahkota begitu di tentang oleh rakyat kekaisaran Wu. Pangeran kedua di kenal sebagai laki-laki yang suka bermain dengan wanita dan tidak kompeten. Sikapnya pada rakyatpun begitu kejam, dia selalu semena-mena pada rakyat. Dan sebaliknya, pangeran pertama sangat di sukai para rakyat. Dia baik, selalu membantu sesama tanpa membedakan pangkat, dan begitulah. Maka dari itu, banyak Mentri dan jendral kekaisaran Wu yang mendorong pangeran pertama untuk merebut tahta."
Mendengar penjelasan Raja Xin, Yun Yi menganggukkan kepalanya mengerti.
"Apakah kamu masih mempunyai pertanyaan?" Tanya Raja Xin.
"Ada. Pertanyaannya, kau akan membawa kami kemana? Kenapa kita malah semakin masuk ke dalam hutan?" Yun Yi menatap sekelilingnya yang semakin gelap akibat banyaknya pohon-pohon yang tumbuh menjulang tinggi.
"Ini adalah hutan terdekat dengan Kerajaan ku." Ujar Raja Xin.
"Kerajaan Xin? Kamu jangan membual. Bukankah jarak antara Kekaisaran Wu dan Kerajaan Xin sangatlah jauh. Lalu mengapa seara tiba-tiba kita sudah ada di hutan dekat istana mu?" Yun Yi terkekeh, merasa lucu dengan ucapan Raja Xin.
Tanpa mengucapkan apapun, Raja Xin menarik Yun Yi. Semakin lama mereka berjalan, semakin banyak pohon-pohon yang baru Yun Yi lihat.
Langkah Yun Yi terhenti ketika Raja Xin menghentikan langkahnya. "Kenapa malah berhenti?" Tanya Yun Yi.
Raja Xin tersenyum, ia mengalihkan pandangannya ke depan. "Luo, buka gerbangnya." Ucap Raja Xin entah pada siapa.
Tiba-tiba tanah bergetar, pohon dengan penampilan yang paling mencolok tiba-tiba terbelah menjadi dua, lalu menampilkan sebuah pintu yang cukup besar.
"Masuklah bersama keluarga mu." Raja Xin melepaskan genggaman tangannya.
"Lalu kau akan kemana?" Tanya Yun Yi ketika Raja Xin berjalan mundur.
"Kita akan bertemu di dalam, aku tidak bisa masuk lewat sini. Jadi, tunggulah aku di dalam ya." Setelah mengucapkan itu, sosok Raja Xin menghilang dalam pandangan Yun Yi.
Dengan ragu Yun Yi pun melangkah ke depan pintu besar itu, lalu mendorongnya perlahan.
__ADS_1
Kriet
Pintu terbuka, semua nya gelap, Yun Yi tak bisa melihat apapun di dalamnya. Tapi ketika Yun Yi menapakkan kakinya, tiba-tiba banyak kunang-kunang yang beterbangan di sepanjang lorong.
"Tunggu Yi'er." Cegah Jendral Huang ketika Yun Yi akan masuk ke dalam.
"Kenapa Ayah?"
"Itu..." Jendral Huang menatap lorong yang di penuhi kunang-kunang itu. Mengerti akan tatapan Jendral Huang, Yin tersenyum kecil.
"Jika A'Guang memintaku masuk, aku yakin tidak akan ada bahaya di dalam Ayah." Ujar Yun Yi. Ia melangkahkan kakinya semakin dalam.
Melihat punggung Yun Yi yang semakin menjauh, Jendral Huang pun ikut masuk. Tentu saja keluarga Huang yang lainpun ikut.
Lorong itu seperti lorong rahasia, auranya agak seram, tapi untungnya kunang-kunang yang menerangi lorong ini mengurangi kesan seram itu. Entah berjalan berapa lama, kaki Yun Yi mulai pegal.
"Huft." Yun Yi menghembuskan nafasnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Ketika sampai di ujung lorong, ada pintu dengan ukuran sama seperti pintu saat Yun Yi masuk, Yun Yi kembali mendorong pintu itu.
Kriet
Ada danau yang sangat indah, walau tidak terlalu besar. Di danau ada beberapa pasang anhsa yang tengah berenang. Tak jauh dari danau, ada taman buka yang terlihat sangat indah dengan berbagai macam jenis bunga dan Wanda yang berbeda.
Tidak hanya Yun Yi yang kagum dengan pemandangan ini, tapi juga semua orang. Beda halnya dengan Guang Luo yang terdiam. Ketika semua orang melangkah keluar lorong, Guang Luo masih terdiam di tempat.
"Guru, ada apa?" Tanya Yun Yi.
"Tidak." Guang Luo menggeleng, ia melangkah Keluar lorong, ia mengamati sekitarnya dengan wajah heran.
"Kenapa guru terlihat kaget?" Gumam Yun Yi.
__ADS_1
Langkah Yun Yi terhenti ketika mendengar suara batin Guang Luo. 'Bukankah, tempat ini tadinya adalah lapangan pelatihan. Kenapa kurang dari satu Minggu sudah berubah menjadi tempat seperti ini?'
"Memangnya ini bukan ada sejak dulu?" Gumam Yun Yi, lagi.
Yun Yi mengamati sekitar, dari bunga-bunga yang di tanam, ini terlihat sudah ada sejak lama. Danau nya pun seperti danau yang tercipta begitu saja, bukan sengaja di ciptakan.
"Tapi memangnya aku tahu apa bedanya danau buatan dan bukan?"
Tanpa Yun Yi sadari, angsa yang tadi tengah berenang di danau kini berubah menjadi wanita cantik. Matanya menyiratkan kerinduan, dia terus menatap punggung Yun Yi yang sudah jauh.
"Dewi, kapan anda akan mengingat kami?" Mata wanita itu meneteskan air mata, terdengar isakan kecil dari sana, lalu wanita itu kembali berubah menjadi angsa dan terbang entah kemana.
...> > > ✧✧✧ < < <...
Di sisi lain, Shi Wen menggerammarah ketika bawahannya tidak dapat menemukan keberadaan Dei Alam.
"Bukankah kalian paling hebat dalam mencari orang. Lalu mengapa mencari seorang Dewi cacat saja tidak bisa!!"
"Maafkan saya Dewi, tapi sepertinya salah satu bawahan Dewi alam sengaja menyembunyikan keberadaan Dewi Alam."
Shi Wen duduk di singgasananya, lalu berkata. "Kalau begitu cari bawahan Dewi cacat itu. Lalu cari informasi tentang nya."
"Baik Dewi." Para bawahan Shi Wen menghilang dalam sekali kedipan mata.
Mata Shi Wen berubah menjadi ungu. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup. Apalagi sampai kau bisa mengingat masa lalumu. Tanpa mu seluruh dunia dapat berjalan dengan baik. Aku yakin itu."
"Aku rasa tidak." Seorang lelaki tiba-tiba muncul. Tubuhnya menyatu dengan awan, wajahnya putih pucat, dengan rambut putih ke emasan. Hanfunya terdapat ukiran awan dan dia nampak sangat indah dengan sayap yang ada di punggungnya.
"Keadaan dunia sangatlah cakau ketika tidak ada Dewi alam. Tanpa adanya dia, alam semesta sangatlah sulit di atur, banyak angin yang tidak dapat di atur. Bintang-bintang banyak yang tidak ingin menerangi langit akibat tidak adanya Dewi alam. Tanaman yang tidak sepenuhnya subur, dan Qi spiritual yang semakin rusak." Lelaki dengan sayap itu mendongak.
"Apakah ini yang di namakan dunia yang berjalan dengan baik? Yang ku sebutkan tadi hanya beberapa masalah yang sudah terjadi sebelumnya. Lalu bagaimana jika ke depannya banyak yang tidak bisa berjalan seperti semestinya?" Lelaki itu menatap Shi Wen dengan wajah penuh tanya.
__ADS_1
"Diam kau! Kau hanyalah Dewa awan, Dewa dengan pangkat rendah. Jangan berani-beraninya kau berbicara lancang kepadaku!"
...🔸️To Be Continued🔸️...