Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Berjanji


__ADS_3

Yun Yi menoleh ke samping. Seorang gadis muda dengan penampilan yang sederhana namun lembut itu tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tas kecilnya.


"Nek, berapa harga dari semuanya?" Tanya gadis itu, masih menundukkan kepalanya, sambil mengotak-atik tas kecilnya.


"Gūniáng, apakah anda juga akan membeli bakpao Nenek?" Nenek penjual bakpao itu tidak menjawab pertanyaan gadis di samping Yun Yi. Justru kini Nenek itu tengah menatapnya.


Yun Yi menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Sepetinya Gūniáng ini lebih membutuhkannya, aku akan mencari yang lain."


Gadis di samping Yun Yi segera mendongak, ia menatap Yun Yi dengan terkejut. "Eh? Ternyata Gūniáng belum memesan?" Ucap gadis itu, terlihat terkejut.


Gadis itu menatap Yun Yi dengan penuh sesal. "Maafkan saya, saya tidak tahu kalau Gūniáng belum memesan." Gadis itu tertunduk sambil mengucap maaf.


"Tak apa. Aku bisa akan memesan di tempat lain." Yun Yi membungkuk, lalu pergi ke kedai lainnya.


"Permisi... saya ingin memesan sepuluh bakpao." Ucap Yun Yi, pada penjual bakpao yang tempatnya tak jauh dari Nenek tadi.


"Aduh, maaf Gūniáng. Dagangan saya baru saja habis."


Yun Yi mengangguk, lalu segera pergi dari sana. Namun, sudah berkeliling di sekitar, dirinya tidak menemukan kedai makanan yang masih berjualan. Kebanyakan dagangan mereka sudah habis, dan sedang membuatnya lagi.


Namun, ketika Yun Yi kembali lagi ke tempat Nenek tadi. Ia melihat gadis muda yang tadi membeli bakpao, kini tengah membagikan bakpao itu pada rakyat kecil yang berada di pinggir jalan.


Sudut mulut Yun Yi terangkat, ternyata niatnya dan niat gadis itu sama. Dia senang, karena masih ada orang yang memperhatikan sekitarnya.


"Maaf ya adik kecil. Saya hanya bisa memberi mu satu buah bakpao saja, semuanya sudah di berikan kepada yang lain." Gadis itu menunduk sedih di hadapan anak laki-laki yang sepertinya berumur tujuh tahun.


"Tidak apa-apa, Gūniáng tidak perlu meminta maaf." Anak kecil itu menggeleng dengan wajah panik ketika gadis yang Yun Yi temui itu menundukkan kepalanya.


Yun Yi menghampiri mereka. "Ada apa ini?" Tanyanya ketika sudah berada dekat dengan keduanya.


"Ah, Gūniáng yang tadi." Gadis itu bangkit dari duduknya, lu memeri salam formalitas pada Yun Yi.


Yun Yi membalas seadaanya, lalu menatap anak laki-laki yang terus menatap bakpao hangat yang di pegangnya.


Yun Yi berjongkok di depan anak laki-laki itu, lalu mengusap kepalanya. "Kamu kenapa?" Tanya Yun Yi.

__ADS_1


"Saya sedih."


"Mm? Sedih? Sedih kenapa?"


Anak laki-laki itu mendongak, menatap Yun Yi dengan mata berkaca-kaca. "Hari ini adalah ulang tahun adik saya, dan saya berjanji untuk memberikannya dua buah bakpao. Tapi sedari pagi, saya tidak mendapatkan pekerjaan dan tidak ada orang yang memberikan saya uang, walau saya sudah memohon-mohon."


"Jadi saya tidak bisa membelikannya bakpao, dan ketika Gūniáng itu membagi-bagi bakpao, saya hanya mendapatkan satu." Setelah selesai berbicara, anak laki-laki itu tiba-tiba menangis.


"Padahal saya sudah berjanji." Anak laki-laki itu menangis sesegukan, dirinya menatap bakpao di tangannya dengan air mata berlinang.


"Jika satu bakpao di gantikan dengan satu buah persik, apakah adikmu akan senang?" Tanya Yun Yi, dirinya merogoh lengan Hanfunya, atau lebih tepatnya mengambil buah persik dari cincin ruangnya.


Anak laki-laki itu terlihat terkejut ketika Yun Yi menyodorkan satu buah persik yang sudah matang.


Aroma manis dari buah persik itu berhasil mengalihkan perhatian orang-orang di sekitar Yun Yi.


"Bagaimana?" Yun Yi masih mengangkat buahpersik itu di depan anak laki-laki itu.


"A-apakah Gūniáng akan memberikan buah ini untuk saya?" Tanya Anak laki-laki itu dengan ragu.


Mata anak laki-laki itu berbinar, dengan senang hati dirinya menerima buah persik di tangan Yun Yi. "Gūniáng, terimakasih. Adik saya pasti akan sangat menyukainya, karena buah ini adalah buah yang sangat di sukai sang Dewi Alam."


Deg


Yun Yi terdiam kaku, matanya bergetar. "Apa sangkut pautnya dengan itu?" Yun Yi bertanya dengan gugup.


"Keluargaku sangat menghormati Dewi Alam di bandingkan dengan Dewi atau Dewa lainnya, apalagi, adik saya. Adik saya pernah bercerita kalau dirinya di tolong langsun oleh Dewi Alam pada saat adik saya terluka di dalam hutan sebelah barat. Dia berkata kalau Dewi Alam begitu menyukai buah persik. Dan sejak saat itu, adik saya sangat begitu menyukai buah persik." Tutur anak laki-laki itu dengan senyuman yang sangat manis.


"Kalau begitu saya pamit, saya tidak sabar untuk memberikan buah ini pada adik saya." Anak laki-laki itu membungkukkan badannya lalu berlari meninggalkan Yun Yi.


"Sampai jumpa Gūniáng, terimakasih atas pemberian kalian. Saya benar-benar sangat senang." Anak itu berteriak ketika sudah jauh dari Yun Yi.


Yun Yi bangkit, dia menatap anak laki-laki itu dengan lembut. "Dia adalah Kakak yang baik." Gumam Yun Yi.


"Benar, saya merasa sedih karena hanya bisa memberinya satu buah bakpao saja." Gadis di belakang Yun Yi menyahuti.

__ADS_1


"Oh ya, atas kejadian tadi saya benar-benar minta maaf. Saya tadi tidak tahu kalau ada Gūniáng di tempat penjual tadi." Gadis itu kembali berucap.


"Tak perlu minta maaf." Yun Yi menggeleng maklum.


"Namun, bagaimana kamu tidak menyadari kalau ada aku di sana? Memangnya tingkatan Kultivasimu ada di ranah mana?" Tanya Yun Yi.


Gadis itu terlihat terkejut dengan pertanyaan yang di berikan Yun Yi.


"Ee..." Gadis itu menggaruk tengkuknya.


"Saya... tidak bisa berkultivasi." Ucap gadis itu dengan suara kecil.


"Tidak bisa? Lalu bagaimana kamu bisa mengambil wujud manusiamu?" Tanya Yun Yi, dirinya merasa aneh.


"Karena saya keturunan burung hantu, pemimpin kamu memiliki cara untuk merubah keturunan yang tidak berkultivasi untuk bisa mengambil wujud manusia." Gadis itu menjelaskan.


"Ternyata kamu keturunan burung hantu." Yun Yi mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.


"Apakah salah satu anggota Klan mu ada yang bernama Yang Hai?" Tanya Yun Yi memastikan.


"Apakah anda mengenal Kakak saya?" Gadis itu cukup terkejut ketika seseorang mengetahui nama Kakak laki-lakinga itu.


"Ya. Dulu aku pernah menjelajah bersamanya, dan juga yang lainnya." Jelas Yun Yi.


"Oh, begitu." Gadis itu mengangguk-angguk kepalanya.


Yun Yi memperhatikan penampilan gadis di depannya. "Apakah... Kamu adik kedua Yang Hai, Yang Hua?"


Spontan, gadis itu menatap Yun Yi dengan wajah terkejut. "Bagaimana anda bisa mengetahui nama saya?"


"Ah, ternyata benar." Yun Yi mengusap kepala gadis di depannya.


"Mungkin kamu tidak ingat. Dulu ketika umurmu baru satu tahun, aku datang ke kediamanmu dan merayakan ulang tahunmu yang ke satu bersama Kakakmu."


...🔸️To Be Continued🔸️...

__ADS_1


__ADS_2