Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Ter-ulang


__ADS_3

"Benarkah?" Mata Yun Yi berbinar mendengar tawaran dari Raja Xin.


"Iya." Raja Xin menganggukkan kepalanya, 8a mengusap Surai Yun Yi pelan. Matanya tak sengaja melihat keluar jendela. "Ternyata sudah mau pagi." Gumamnya.


"Hoam." Yun Yi menguap, ia merasa ngantuk karena tidak tidur sejak semalam.


"Apakah kamu ingin pergi tidur?" Tanya Raja Xin.


Yun Yi mengangguk dengan mata mengantuk. "Tapi, bukannya kita akan pulang hari ini? Jadi, aku tidak mungkin tidur sekarang."


"Tak apa, kamu tidurlah, biar aku beritahu Ayah mu kalau kamu semalam tidak tidur karena ber-kultivasi." Tutur Raja Xin.


"Apa Ayah tidak akan marah?" Tanya Yun Yi, khawatir kalau Ayah nya marah nanti. Dia kan sudah meninggalkan pekerjaannya cukup lama. Qiou Yue pun pasti sedang di cari Huangtaizi dari kekaisaran Xi.


"Tidak akan, aku yakin dia akan mengerti."


Raja Xin bangkit dari duduk nya, ketika ia akan melangkah, Yun Yi menyeka pergelangan tangannya.


"Jangan deh." Cegah Yun Yi. "Aku tidur di kereta saja nanti."


Raja Xin menatap Yun Yi. "Apakah kau yakin? Tidur di kereta pasti tidak akan nyaman. Karena terus terombang-ambing."


Yun Yi mengangguk, "Hoam." Dan dia kembali menguap.


"Bagaimana kalau kamu tidur di cincin ruang saja?" Usul Raja Xin. Ia tidak mungkin membiarkan gadis nya tidur di tempat yang tidak nyaman, seperti kereta kuda.


"Tapi nanti kalau Ayah atau Nenek mencari ku bagaimana?" Tanya Yun Yi, ia yakin Neneknya akan terus menanyakan dirinya seperti kemarin-kemarin saat mereka melakukan perjalanan dari kerajaan Xin ke kekaisaran Wang.


"Aku akan mencegahnya untuk tidak menemuimu." Jawab Raja Xin. "Kamu tidak perlu khawatir." Tangan Raja Xin terulur merapikan rambut yang turun menghalangi mata Yun Yi.


"Baiklah." Karena mengantuk, Yun Yi berjalan keluar kamar dengan mata sedikit terpejam.


Raja Xin terkekeh ketika Yun Yi malah membuka pintu lemari yang di samping pintu keluar. "Bukan ke sana Yi'er."


Raja Xin menghampiri Yun Yi lalu segera menggendongnya ala Bridal style. Dan Yun Yi menerimanya dengan senang hati, ia memejamkan matanya, rasa kantuknya ini terasa amat. Perlahan ketika beberapa anak tangga berhasil Raja Xin lalui, mata Yun Yi tertutup sempurna.

__ADS_1


'Entah sejak kapan, aku menurunkan kewaspadaan ku terhadap sekitar kalau ada di dekat A'Guang.' Batin Yun Yi sebelum pergi ke alam mimpi.


Bibir Raja Xin membentuk kurva tipis, ia senang ketika Yun Yi terlihat merasa nyaman jika ada di dalam pelukannya.


Matanya mengisyaratkan untuk diam, saat Qiou Yue menghampirinya.


"Apakah Yun'er kurang tidur?" Tanya Qiou Yue dengan berbisik.


"Semalaman dia tidak tidur karena ber-kultivasi." Jelas Raja Xin secara singkat.


Qiou Yue hanya menganggukan kepalanya.


Ketika mereka keluar dari penginapan, sudah banyak suara bising yang terdengar. Yun Yi menggeliat dalam tidurnya kaibat suara bising itu.


Raja Xin yang tidak ingin Yun Yi terbangun memasang tabir tipis di sekitar telinga Yun Yi agar meredam suara bising itu.


Perlahan Yun Yi kembali tertidur nyenyak seperti semula.


Walau waktu baru saja beranjak pagi, tapi sudah banyak pedagang yang bersiap untuk berjualan. Dan warga-warga yang sudah mulai beraktivitas.


Dari kejauhan Jendral Huang terlihat sedang meng-instrupsi para prajurit. Dan setelahnya ia berbalik menghampiri Raja Xin.


"Dia semalaman berkualitas, jadi sekarang dia membutuhkan tidur." Ujar Raja Xin sebelum Jendral Huang membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


Raja Xin pergi dari sana, ia melangkah menuju Shen yang berada di samping kereta kuda yang telah di siapkan nya.


"Silahkan yang mulia." Shen membukakan pintu kereta kuda.


"Pagi ini kau yang atur para prajurit." Raja Xin memberi perintah.


Shen mengangguk, ia melirik calon nyonya-nya yang tengah memejamkan mata di dekapan Raja nya. "Baik."


Setelah Raja Xin masuk ke dalam kereta kuda, Shen segera menutup pintunya kembali. Ia berjalan ke arah para prajurit lalu mulai berbicara.


Di dalam kereta, Raja Xin tidak pergi ke dunia ruang. Ia malah asik mengusap Surai panjang Yun Yi menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya enahan sebagian tubuh Yun Yi.

__ADS_1


"Yi'er, aku akan berusaha menemukan salah satu dari dua harta tertinggi. Aku akan membuatmu tidak merasa malu karena memiliki pasangan seperti ku." Ujar Raja Xin.


"Ku harap setelah ingatanmu kembali pulih nanti, kamu tidak akan meninggalkan ku. Aku tidak ingin, seseorang yang aku sayangi seperti mu membenciku. Seperti Ayah dan Ibu yang membenciku."


...> > > ✧✧✧ < < <...


Hari mulai beranjak siang, namun Yun Yi masih betah dalam alam mimpinya. Tangan Raja Xin mulai merasa pegal, karena tidak dapat bergerak.


"Mungkin aku juga harus tidur." Gumamnya.


Raja Xin menyenderkan kepalanya ke belakang, lalu memejamkan matanya. Baru saja beberapa saat matanya terpejam,


"Wah!" Mata Raja Xin kembali terbuka ketika Yun Yi tiba-tiba terbangun.


"Yi'er ada apa?" Tanya Raja Xin saat melihat wajah Yun Yi yang penuh dengan keringat.


"A'Guang... Huh, huh, huh." Naga Yun Yi tidak beraturan, seperti baru saja di kejar sesuatu.


Dengan sigap, Raja Xin mengambil air yang tersedia di dalam kereta. "Minumlah. Tenangkan dirimu dulu, lalu baru ceritakan."


Setelah Yun Yi meminum air yang di berikan Raja Xin, ia mulai mengatur nafasnya. "Mimpi kemarin malam terulang lagi."


Yun Yi menarik nafasnya. "Tapi di akhir, aku malah pindah tempat. Tempat itu penuh dengan bunga, sangat indah. Tapi ketika berbalik..." Tubuh Yun Yi bergetar, ia merasa tidak ingin mengingat mimpinya itu. Tapi ia ingin menceritakan nya pada Raja Xin.


"Tidak perlu di teruskan, kalau kamu tidak sanggup menceritakannya nya." Raja Xin menarik Yun Yi ke dalam dekapannya. Ia mengelus punggung Yun Yi agar sedikit lebih tenang.


"Ketika berbalik, aku... Aku melihat banyak sekali... Mayat dengan banyak luka dan... Darah. Di sekitarnya memang ada ladang bung yang indah, tapi... Ada mayat yang sangat mengerikan namun juga kasihan. Raut wajah mereka seperti... Tengah bersedih. Ada bekas air mata di pipi mayat-mayat itu." Yun Yi bercerita terputus-putus. Dan Raja Xin yang diam mendengarkan cerita Yun Yi.


Yun Yi melepas pelukan Raja Xin, dan mengubah posisi duduknya menjadi sedikit jauh dari Raja Xin. "Dadaku, dadaku terasa sesak melihat jejak air mata di mayat itu. Dan... Ada salah satu dari mereka yang mirip dengan... Lan Mei." Ujar Yun Yi, suaranya melirih ketika menyebut nama Lan Mei.


Air mata Yun Yi turun, dia memukul-mukul dadanya yang terasa amat sesak.


"Jangan di pukul." Raja Xin memegang tangan Yun Yi yang hendak memukul dadanya.


"Ta-tapi..." Yun Yi tidak melanjutkan perkataannya. Dia menunduk, membiarkan air matanya terus mengalir.

__ADS_1


"Kenapa hatiku terasa sangat sakit?" Gumam Yun Yi.


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2