Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Sui'er


__ADS_3

"Jadi, jangan dengarkan omongan orang lain ya?"


Yun Yi mengangguk, entah kenapa suasana hatinya mulai berubah saat memasuki desa Huo.


"A'Guang, punggung ku terasa pegal, akibat duduk terlalu lama di kereta. Jadi, bisakah kamu memijitku?"


Raja Xin terdiam sejenak, tubuhnya menegang. Ia menatap Yun Yi yang kini tengah menatap nya penuh harap. "Baiklah."


Raja Xin menggendong Yun Yi, lalu membaringkan nya di kasur.


"Kasur nya kurang empuk..." Yun Yi berguling-guling dia tas kasur.


"Mau di ganti menggunakan kasur dari dunia ruang ku?" Tawar Raja Xin.


"Kalau kasur nya empuk, aku mau." Sahut Yun Yi.


Raja Xin mengangguk, lalu menukar kasur yang di tiduri Yun Yi dengan kasur dari dalam ruang, atau lebih tepatnya dari kamar yang yang ada di rumah ruang nya.


Melihat Yun Yi yang terlihat sudah nyaman, Raja Xin mulai memijat punggung Yun Yi. "Wah .., seperti biasa, jika kamu memijatku, rasanya selalu.. Hoam.. mengantuk." Mata Yun Yi menutup, lalu terbuka. Dia sudah mulai mengantuk.


Dan tidak membutuhkan waktu lama, Yun Yi pun terlelap. Terdengar suara dengkuran halus dari mulut Yun Yi.


Senyum Raja Xin terukir, ia mengusap kepala Yun Yi dengan sayang. Kepala nya turun, mendekati telinga Yun Yi.


"Mimpi indah, Dewi ku."


Dengan senyum yang masih terukir indah di wajahnya, Raja Xin pergi ke luar kamar. Lalu menutup pintu nya secara perlahan, takut membangun kan Yun Yi.


...¤ _ ¤...


Seorang anak kecil dengan Hanfu berwarna Lilac, kini tengah menarik wanita ber-Hanfu putih yang seperinya adalah ibunya, di tengah-tengah ramainya pasar.


"Ibunda, ayo cepat."


"Dayang Qian bilang, hari ini ada pertunjukan tari nada di depan rumah makan Hua. Aku ingin melihatnya." Ujar anak itu dengan tangan masih menyeret ibunya.


"Baik, baik. Tapi, berjalan perlahan saja, jangan berlari. Nanti kamu terjatuh, Sui'er."


Anak kecil yang di panggil Sui'er itu hanya mengangguk, namun tetap berlari. Wanita ber-Hanfu putih itu hanya tersenyum.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah makan Hua, di sana sudah banyak orang yang berkumpul.


"Yah, Sui terlambat." Anak kecil itu menatap orang-orang yang tengah berdiri di depan nya. Dia melompat-lompat, mencoba melihat celah untuk melihat ke balik kerumunan, namun tidak bisa.


"Ibunda..." Anak itu mengahmpiri Wanita ber-Hanfu putih dengan wajah cemberut.


Wanita ber-Hanfu putih itu berjongkok. "Ada apa Hm?"


"Pertunjukan nya tidak terlihat, hiks." Setetes air mata keluar dari pelupuk anak itu.


"U.. cup, cup. Jangan menangis." Wanita ber-Hanfu putih itu mengusap air mata anak itu menggunakan ibu jari nya.


"Bagaimana kalau kamu mencoba menerobos kerumunan?" Saran wanita ber-Hanfu putih.


"Bagaimana cara nya?" Anak itu mengerjap-ngerjapkan mata nya.


"Ikuti ibu." wanita itu memegang tangan mungil itu, lalu berdiri di belakang seorang laki-laki dengan Hanfu biru.


"Permisi, boleh beri kami jalan?" Laki-laki itu berbalik, menatap wanita hanfu putih.


"Ah, baik. Silahkan." Uajr laki-laki itu, dia terlihat gugup entah karena apa.


Ketika anak itu sibuk menyeka keringat yang keluar dari dahi nya. Ia merasa ada seseorang yang tengah menatap nya, matanya seketika membulat ketika mendapati naga kain dengan mata mengerjap-ngerjap, atau biasa di panggil barongsai.


"Wah!" Karena kaget, anak itu memundurkan langkah nya, dan hampir saja terjatuh, kalau wanita ber-Hanfu putih tidak menahan bobot tubuh nya.


Wanita itu tersenyum kecil. "Apakah Sui kecil ibu kaget?"


Anak itu mengangguk, dia kembali melihat ke depan, barongsai itu tengah melakukan atraksi yang menakjubkan. Mata anak itu berbinar melihat naga kain itu, mata nya tidak lepas dari gerak-gerik naga kain itu.


Dan ketika naga kain itu selesai melakukan berbagai macam atraksi, dia Kemabli mengahmpiri anak itu. Kepala naga kain itu di miringkan, lalu matanya mengerjap.


Mata anak kecil itu ikut mengerjap ketika naga kain itu mengerjap. Lalu ketika kepala naga kain itu memiring, anak itu juga ikut memiringkan kepalanya.


Kini berbagai pasang mata tertuju pada tingkah anak kecil itu.


Ketika naga kain itu melompat kecil, anak itu juga melompat kecil.


Wanita ber-Hanfu putih tertawa melihat tingkah anak nya. "Sui'er ku memang sangat menggemaskan dan manis."

__ADS_1


...¤ _ ¤...


Mata Yun Yi terbuka, bibir nya terasa berkedut ketika mengingat mimpi itu. Ia merasa menjadi anak kecil yang di panggil Sui'er. Dan ketika wanita itu berkata bahwa anak kecil itu menggemaskan dan manis. Tanpa sadar ke dua sudut bibir nya terangkat.


"Perasaan hangat apa ini?" Yun Yi meraba dadanya yang terasa hangat, dan berdegup kencang.


Senyum nya semakin mengembang, sampai mata nya menyipit. "Kenapa aku bisa merasa senang mengingat mimpi itu?"


Yun Yi mengangkat tangan nya, ia memang merasa menjadi anak itu. Menarik tangan lembut wanita itu, dan entah kenapa, ia merasa masih bisa menghirup wangi harum dari wanita itu.


Harum yang tidak dapat di jelaskan, itu lembut seperti vanila, tapi juga tajam seperti mawar, serta ada sensasi menenangkan seperti lavender.


"Entah kenapa, aku berharap bisa memimpikan wanita cantik itu lagi." Gumam Yun Yi.


Namun, setelah beberapa saat. Ia menyadari sesuatu. "Bukankah wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang aku lihat di depan kamar tamu Huang Fu?"


"Mimpi tadi juga terasa nyata, sperti saat wanita itu mengahmpiri ku saat di Huang Fu. Dan entah kenapa, aku merasakan perasaan akrab ketika wanita itu memanggilku Sui'er."


Yun Yi terdiam, banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya.


Ckelk


Di saat Yun Yi masih asik dengan lamunan nya, pintu terbuka, menampilkan Raja Xin yang membawa nampan berisi teko dengan emas dan ada satu bungkusan kain di samping nya.


"Sudah kuduga kamu akan bangun." Ucap Raja Xin ketika sudah ada di dekat Yun Yi.


"Apa yang kamu bawa?" Yun Yi menatap penasaran pada bungkusan itu.


Raja Xin tersenyum. "Minum ini dulu." Raja Xin menyodorkan se gelas air teh hangat. Wanginya terasa familiar di hidung Yun Yi.


"Teh camomile?"


Senyum Raja Xin hilang, ia menggaruk tengkuknya lalu berkata. "Kebetulan di pasar ada yang menjual bunga camomile kering dan yang segar. Pada awal nya aku hanya akan membuat eh menggunakan bunga segar, tapi beberapa bunga camomile kering malah tidak sengaja masuk ke dalam teko. Jadi aku tidak tahu akan bagaimana rasa nya di lidah ku."


"Ini enak kok." Yun Yi menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Raja Xin yang seperti itu.


"Lalu..." Raja Xin membuka bungkusan itu. "Aku menemukan dua kue ini juga, di pasar."


Yun Yi menatap senang pada isi bungkusan itu. "Kue Mawar dan Camomile."

__ADS_1


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2