
Hari ini adalah hari keberangkatan Yun Yi pergi ke reruntuhan. Namun, Guang Luo tidak bisa menjemput Yun Yi dan ia pun tidak mempermasalahkan itu.
Gurunya berkata akan menunggu di perbatasan Kerajaan Ming, tepatnya di desa Huo. Jarak antara Kekaisaran Xi dan Kerajaan Ming cukup jauh. Tapi tidak sejauh antara Kekaisaran Xi dan Kekaisaran Wu.
Yun Yi kira Raja Xin akan kembali ke Kerajaan Xin. Tapi ternyata Raja Xin pun akan ikut ke reruntuhan. Katanya ia sudah mendapatkan ijin masuk, tanpa harus memenuhi syarat yang di tentukan.
Reruntuhan ini berada di wilayah ujung Kerajaan Ming, kerajaan yang ada di bawah kekaisaran Wang. Kerajaan Ming adalah pembatas antara Kekaisaran Wang dan Kekaisaran Zhi.
Saat ini Yun Yi tengah menunggu Lan Mei menyelesaikan pekerjaan nya, yaitu mengemas barang nya. Karena ini pertama kalinya Yun Yi pergi ke dunia luar tanpa pengawasan Jendral Huang. Jendral Huang sedari pagi sudah mengoceh, tentang barang apa saja yang harus di bawa. Bahkan Wanran dan Guan Yin pun ada di sini.
"Yi'er." Yun Yi menoleh ketika seseorang memanggil nya.
Ternyata itu adalah Raja Xin, di belakang nya ada Guan Yin. Yang tengah memegang sebuah barang yang di bungkus oleh kain hijau.
"Ada perlu apa?" Tanya Yun Yi ketika Raja Xin dan Guan Yin sudah berada di hadapannya.
Raja Xin menggeser kan tubuhnya, membiarkan Guan Yin berbicara. "Nenek masih khawatir tentang kamu yang ingin pergi tanpa pengawal. Jadi Nenek membawa ini untuk mu."
Ya, Yun Yi juga meminta Jendral Huang untuk tidak membawa pengawal maupun prajurit. Awalnya Jendral Huang tidak setuju, tapi karena berbagai nujuk dayu, akhirnya Jendral Huang pun setuju.
Guan Yin membuka kain yang menutupi barang itu. Ada sebuah kotak yang entah apa isinya dan satu buah belati yang sangat indah.
"Ku dengar, kamu sangat mahir menggunakan belati. Jadi, Nenek meminta kenalan Nenek untuk membuat belati ini. Kamu bisa menggunakan belati ini bersamaan dengan belati yang kamu punya." Tutur Guan Yin.
Mata Yun Yi tertuju pada kotak kayu yang berukuran bunga Edelweis. "Lalu apa isi kotak ini?"
"Di dalam sini ada berbagai macam ramuan dan pil. Mulai dari pil pemilih, pil penyamar, ramuan peningkat Kultivasi dan masih banyak lagi." Jelas Guan Yin. Tangannya mengusap kotak kayu itu dengan senyum hangat.
__ADS_1
"Kotak ini di bawakan oleh ibumu ketika baru pulang dari Desa Aidelwis. Desa unik yang sangat susah di masuki. Kata ibumu Desa Aidelwis penuh dengan bunga dan sangat indah. Tapi dia tidak terlalu menejlaskan bagaimana Desa itu, ya mungkin pemimpin Desa Aidelwis susah mewanti-wanti untuk tidak memberi tahu apapun. Dan kotak ini ibumu dapatkan dari salah satu pengrajin terkenal di Desa Aidelwis."
Mengenai ibu nya saat ini, Yun Yi tidak pernah melihatnya, termasuk lukisan wajahnya pun ia tidak pernah melihatnya.
"Nenek, apa Nenek punya lukisan wajah ibu?" Yun Yi memberanikan diri untuk bertanya.
Guan Yin mengangguk. "Ada, apakah kamu ingin melihatnya?"
"Ya." Sahutnya, mantap.
Guan Yin terlihat merogoh lengan Hanfunya. Lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas berwarna putih kekuningan.
Guan Yin memberikannya pada Yun Yi sambil berkata. "Ini Nenek berikan pada mu. Tapi jangan sampai Ayahmu tahu."
Alis Yun Yi terangkat keiak mendengar ucapan Guan Yin. "Memwbganya kenapa?"
"Dan saat pria itu menyebut ibumu 'j****g' Ayah mu sangat murka dan menyerang pria itu. Dan akhirnya, terjadi keributan yang tidak di ingnkan. Ayahmu membabi-buta pria itu sampai tidak sadarkan diri. Dan semenjak itu, jika Ayah mu melihat lukisan ibumu dia akan menghila." Guan Yin menunduk, ia sedih ketika mengingat kejadian itu. Bagaimana pun ia sudah menganggap Jendral Huang seperti anak nya sendiri, bukan menantu.
Jendral Huang pun begitu mencintai anaknya, ia sangat senang. Tapi, melihat Jendral Huang yang seperti itu, dada Guan Yin terasa sesak. Bukan hanya Jendral Huang yang masih belum terima atas kepergian Ran Ran, tapi dirinya juga.
Melihat Neneknya yang menunduk, Yun Yi mengurungkan niatnya untuk membuka lukisan itu di sini. Ia menyimpannya ke dalam dunia ruang lalu memeluk Guan Yin.
"Nenek jangan menangis, nanti aku tidak jadi pergi karena Nenek." Yun Yi menepuk-nepuk punggung Guan Yin.
Guan Yin melepas pelukan Yun Yi lalu memegang pundak nya. "Kenapa karena Nenek?"
"Ya kan memang karena Nenek, kalau Nenek masih menangis aku tidak akan pergi."
__ADS_1
Guan Yin terkekeh, ia menghapus jejak air mata nya yang sempat keluar. "Baik, lihatlah. Sekarang Nenek sudah tidak menangis, jadi kamu haru sesera berangkat. Nanti takutnya kamu tidak bisa menginap di penginapan melainkan di hutan."
"Tidak masalah, di hutan pun aku masih bisa tidur." Ujar Yun Yi.
"Hais kau ini!" Yun Yi tertawa senang ketika melihat raut wajah kesal Guan Yin.
Mereka berjalan keluar dari Paviluin Yun Yi yang di ikuti Raja dari belakang.
Kebetulan Lan Mei pun sudah selesai berkemas, jadi sekarang mereka akan langsung berangkat.
Perjalanan kali ini hanya ada Yun Yi, Raja Xin, Lan Mei dan Shen. Yun Yi dan Lan Mei yang duduk di dalam kereta. Serta Raja Xin dan Shen yang menunggangi kuda. Benar-benar tidak ada prajurit ataupun pengawal yang di bawa, mau itu dari pihak Jendral Huang ataupun Raja Xin. Lalu di mana kusirnya? Tidak, tidak ada kusir. Raja Xin menempatkan Kuda spiritual yang dapat memahami ucapan manusia untuk menarik kereta Yun Yi.
Kuda ini sangat pintar dan patuh. Jadi mereka tidak membutuhkan seorang ksuir, cukup perintahkan saja mereka menggunakan ucapan.
Tapi di banyang-bayang, banyak mata yang mengikuti mereka. Tentu saja mereka adalah bawahan Raja Xin yang palin kuat dan handal. Raja Xin tidak mungkin benar-benar tidak membawa keamanan apapun.
Awalnya Yun Yi inginmenungganhi kuda, tapi Raja Xin tidak mengijinkan. Kalau Yun Yi ingin menaikki kuda maka dia akan berada di kuda yang sama dengan Raja Xin.
Yun Yi melambaikan tangannya ke luar jendela ketika kereta sudah mulai berjalan menjauhi Huang Fu. Yun Yi sudah tidak sabar untuk melihat tempat baru yang akan ia datangi, apakah di dunia ini akan banyak macam-macam tempat indah yang berbeda-beda seperti di dunia nya dulu? Atau apa?
Perjalanan kali ini hanya di habiskan dengan keheningan. Tidak ada siapapun yang berbicara. Yun Yi pun kini hanya membaca buku sambil memakan camilannya.
Brak
Ketika suara keras itu terdengar. Kuda yang di tunggangi Raja Xin dan Shen terkejut. Dan menjadi tidak terkendali, untungnya dengan cepat Raja Xin menarik tali kekang kudanya, sehingga sekarang kudanya sudah agak tenang.
...🔸️To Be Continued🔸️...
__ADS_1