Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Bai Mei


__ADS_3

Ckelk


Ketika Raja Xin membuka pintu, ia mendapati Yun Yi yang tengah menggelar karpet di lantai, dan ada Yu Lin yang tengah bermain dengan kucing.


Setelah menyimpan nampan, Raja Xin ikut duduk di karpet.


"Yun'er, dari mana munculnya kucing itu?" Tanya nya.


Ketika ia merasakan kelembutan dari kain yang ia duduki, "Lalu kain apa ini?" Tanya Raja Xin lagi.


"Sebut saja karpet, aku meminta Zisè untuk membuatnya." Mata Yun Yi melihat nampan  yang berisi teko dan gelas.


"Apakah kamu mau mencobanya?" Raja Xin segera mengambil nampan itu ketika Yun Yi mengangguk.


"Cobalah." Raja Xin memberikan Yun Yi segelas teh.


Pertama-tama, Yun Yi mencium baunya, ya.. hampir sama. Dan ketika ia menyesapnya. "Emm." Mirip, walau harunya tidak terlalu mirip tapi rasanya benar-benar sama persis dengan yang di buat bawahannya dulu.


Raja Xin menjadi tegang, ia takut kalau teh buatannya tidak sesuai dengan lidah Yun Yi. "Yu-Yun'er, bagaiamana?"


"Ini enak, dan sangat mirip dengan teh yang pernah aku minum." Ujar Yun Yi.


"Huh." Raja Xin bernafas lega ketika Yun Yi menyukai teh buatannya. Ini adalah kali pertama baginya membuat teh, dan untungnya Yun Yi menyukainya.


"Apakah kau sudah sering membuatkan teh sebelumnya?" Tanya Yun Yi.


"Tidak, ini pertama kalinya aku membuatnya." Raja Xin menggaruk tengkuknya.


"Em? Aku kira kamu sudah terbiasa membuat teh." Yun Yi agak tidak percaya, ya namun di ingat dengan status tunangannya itu, tidak heran kalau Raja Xin baru pertama kalinya membuat teh.


Meong


Yun Yi mengalihkan atensinya, kucing putih ang tadinya tengah bermain dengan Yu Lin kini berjalan ke arahnya.


"Ada apa Hm?" Yun Yi memangku kucing putih itu.


"JiěJiě, JiěJiě. Mari kita beri dia nama." Yu Lin ikut menghampiri Yun Yi.


"Oh, nama ya?" Yun Yi menopang dagunya dengan sebelah tangan.


Yun Yi menatap mata kucing putih itu, entah kenapa ia seolah melihat sebuah permata bunga di mata kucing itu. "Bagaimana dengan Bai Mei?"


"Nama yang bagus." Yun Yi tersenyum ketika Raja Xin ikut mengelus Bai Mei. Tapi di mata Bai Mei, Raja Xin begitu menakutkan dengan senyumnya yang seperti itu.


'Kenapa kucing ini terus di elus.'Mata Raja Xin terus melihat tangan Yun Yi yang terus mengelus bulu Bai Mei.


Meong


Meong

__ADS_1


Meong


"Apakah kamu lapar? Mengapa terus mengeong."


"Kalau begitu biar Yu Lin ambilkan." Yu Lin segera berlari keluar. Meninggalkan Yun Yi dan Raja Xin, oh, juga Bai Mei.


Secara tiba-tiba, Raja Xin merebahkan tubuhnya. Kepalanya ia simpan di paha Yun Yi, jadi sekarang Yun Yi tengah memangku Bai Mei dan kepala Raja Xin secara bersamaan.


"Ada apa dengan mu?" Tanya Yun Yi.


"Entahlah, tiba-tiba kepalaku agak pusing." Raja Xin mengernyitkan alisnya, lalu memijit hidung bagian atasnya.


Tangan Yun Yi terulur, ia memijit pelan kepala Raja Xin. "Di bagian mana yang sakit?"


"Lebih ke kiri." Raja Xin memejamkan matanya, menikmati pijitan yang di berikan Yun Yi, entah kenapa ia merasa sangat mengantuk sekarang.


Perlahan, mata Raja Xin terpajam. Yun Yi tersenyum ketika mendengar dengkuran halus.


"Apakah kamu kelelahan? Kalau begitu tidurlah dengan nyenyak." Yun Yi terus mengusap Surai panjang milik Raja Xin.


'Jika A'Guang memotong rambutnya dengan gaya di zaman modern bagaimana hasilnya yah?' Yun Yi menerawang, membayangkan ketika Raja Xin memotong rambutnya.


"Mungkin dia akan tetap tampan. Lihatlah, wajah tidurnya pun sangat tampan, mungkin ketika menangis pun ia akan tetap tampan. Hihi." Yun Yi terkekeh, ia membayangkan wajah Raja Xin yang menangis, nantinya akan bagaimana ya?


Brak


"Jiěji-" Suara Yu Lin terdiam, ketika Yun Yi menaruh jari telunjuknya di bibir.


"JiěJiě apakah berat?" Tanya Yu Lin dengan berbisik.


Yun Yi menggeleng, ia tersenyum, lalu mengelus Surai Raja Xin. "Sepertinya dia terlalu lelah, dan kurang tidur." Mata Yu Lin tak sengaja melihat lingkaran hitam di bawah mata Raja Xin.


...> > > ✧✧✧ < < <...


Hari ini adalah acara perjamuan, jika biasanya acara perjamuan di lakukan di hari pertama, tapi Kekaisaran Wu berbeda, setiap tahunnya selalu saja berbeda, kadang-kadang mereka menambahkan acara yang belum pernah di lakukan sebelumnya.


Di acara ini akan di umumkan siapa yang menjadi juara perburuan tahun ini. Dan Yun Yi kini tengah bersiap-siap, di bantu oleh Lan Mei.


"Lan Mei, apakah aku harus memakai perhiasan sebanyak ini?" Yun Yi merasa tidak nyaman dengan berbagai perhiasan yang di pakaikan di kepalnya, sangat berat.


"Di bandingkan dengan nona bangsawan lainnya, ini hanya sedikit Xiăo Jiě." Lan Mei menyisir rambut Yun Yi yang tak di gelung.


"Oh ayolah, aku tidak suka memakai perhiasan banyak. Cukup beberapa tusuk rambut saja." Ingin sekali Yun Yi mencabut semua perhiasan ini, tapi Lan Mei selalu mencegahnya.


"Ayolah JiěJiě, anda harus tampil lebih cantik di bandingkan gadis lain. Raja Xin adalah pria yang di idam-idamkan banyak perempuan. Saya yakin, nantinya akan banyak nona bangsawan yang akan menggoda Raja Xin. Jadi, anda harus tampil lebih cantik dari mereka." Oceh Lan Mei.


Yun Yi menghela nafasnya, ia harus pasrah.


"Gadis ku tidak perlu berdandan berlebihan, tanpa berhiaspun gadisku sudah menjadi wanita paling cantik."

__ADS_1


Ke duanya menoleh ketika mereka mendengar suara Raja Xin.


"A'Guang, ada apa kamu datang kemari?" Tanya Yun Yi.


Raja Xin melangkah, menghampiri Yun Yi. "Tentu saja menjemputmu."


"Bukankah aku harus berangkat bersama Ayah?"


"Tidak juga, kau bisa berangkat bersama siapa pun. Hari ini, kerajaan ku dan keluarga mu akan berangkat bersamaan. Jadi, kita bisa berangkat bersama nantinya." Tutur Raja Xin.


Tangan Raja Xin kini tengah membantu melepas beberapa perhiasan dari rambut Yun Yi.


"Apa yang kamu lakukan?" Yun Yi menatap aneh pada Raja Xin.


"Membantumu bersiap. Sudah, kamu hanya perlu diam. Biar aku selesaikan ini." Ucap Raja Xin. Setelah selesai melepas perhiasan di kepala Yun Yi, Raja Xin kini tengah merapikan rambut Yun Yi yang agak berantakan.


"Sepertinya tangan mu sudah lihai melakukan ini. Apakah sebelumnya kamu pernah melakukan ini?" Tanya Yun Yi, Raja Xin benar-benar seperti sudah terbiasa menghias rambut.


"Ya, aku pernah melakukannya beberapa kali. Dulu ketika Hui'er kecil aku selalu melakukannya." Ujar Raja Xin.


"Hui'er? Siapa dia?"


Merasa percakapan ke dua junjungannya akan mengarah pada sesuatu yang lebih serius, Lan Mei segera keluar.


"Dia anak dari Gēgē mu." Sahut Raja Xin.


Alis Yun Yi terangkat, lalu berucap."Oh? Kau punya Gēgē? Lalu kenapa aku tidak melihatnya di acara tunangan kita?"


"Kami bukan lah saudara kandung. Dan pada saat kita bertunangan Juan Gē sedang tidak ada di kerajaan. Dia menemani istrinya pergi ke kampung halamannya." Mendengar penjelasan dari Raja Xin, Yun Yi mengangguk-anggukan kepalanya.


"Aku kira saudara kandung." Gumam Yun Yi.


"Aku tidak punya saudara kandung. Saat aku berusia dua belas tahun, ibu pergi." Raja Xin berucap dengan sendu.


Yun Yi agak tidak enak ketika mendengar suara Raja Xin yang berubah sendu. "Kau tidak perlu melanjutkannya jika kau belum siap untuk menceritakan nya."


Raja Xin menggeleng. Lalu melanjutkan perkataannya. "Lalu saat aku memasuki umur dewasa. Aku di tinggalkan, dan sendiri. Tapi ketika aku baru saja menjadi Raja, Juan Gē datang. Dia adalah sarjana terbaik di kala itu. Jadi aku tidak merasa sendiri lagi. Dan sekarang, aku mempunyai dirimu yang akan mengisi hari-hari ku." Setelah menempelkan beberapa perhiasan, Raja Xin memeluk tubuh Yun Yi dari belakang.


Yun Yi memegang tangan Raja Xin. "Jika kau memperlukan seseorang untuk menjadi tempat bercerita, kau bisa datang padaku." Ucap nya.


"Ketika kau butuh sebuah pelukan maka peluklah aku, intinya jika kau membutuhkan aku datanglah." Lanjutnya.


"Aku membutuhkanmu setiap saat, jadi... Aku boleh datang kapan saja bukan?" Tanya Raja Xin.


"Ya, tidak setiap saat juga. Sudahlah, ayo kita keluar. Aku yakin mereka sudah menunggu kita." Yun Yi melepaskan pelukan Raja Xin.


Mereka pun berjalan bersama, di luar, keluarga Huang, serta beberapa Mentri dari kerajaan Raja Xin sudah menunggu.


Jendral Huang berdiri, lalu berucap. "Karena semuanya sudah berkumpul, bagaimana kalau kita segera berangkat saja?"

__ADS_1


Raja Xin menganggukkan kepalanya. "Baiklah, mari."


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2