
Yun Yi keluar dari ruang bawah tanah itu sambil memapah Hua Wei. Gadis itu masih dalam kondisi sama, dia masih termenung dengan tatapan kosong.
Yan Shui menyambut Yun Yi, dia pun membantu Yun Yi untuk memapah Hua Wei.
"Dewi, kita harus segera pergi dari sini. Kaisar dan orang-orangnya sedang menuju kemari." Wajah Yan Shui terlihat begitu cemas, matanya terus melirik ke belakang.
"Kamu tidak perlu secemas itu, karena kita akan langsung pergi dari sini." Ujar Yun Yi.
'Walau aku masih ingin memberi pria itu sebuah pelajaran, priorias utamaku kali ini adalah Hua wei.' Yun Yi melanjutkannya dalam hati.
Wush
Bertepatan dengan tibanya Yue Yi, sosok Yun Yi, Yan Shui dan Hua Wei telah menghilang tanpa jejak.
Yue Yi membulatkan matanya, ketika tangga yang menuju tempat yang selalu ia rahasiakan terbuka. "Bagaimana..."
Merasa janggal, Yan Shui segera masuk ke dalam. Setelah melewati lorong dan membuka pintu, keterkejutannya bertambah berkali lipat.
Mentri-mentri yang selalu ia percayai kini sudah tewas dengan mengenaskan. Ada yang lidahnya terpotong, kehilangan kaki, badan yang terbelah dua, dan ada yang bertubuh utuh tapi di penuhi banyak luka yang begitu dalam.
"Mengapa bisa seperti ini?"
Yue Yi menatap sekeliling, tempat ini begitu tidak beraturan. Yue Yi melangkah, mencari semua mainannya yang ia simpan di ruang ini.
"Kemana perginya mereka?!" Yue Yi berseru marah, ketika dirinya tidak menemukan seorang wanita pun di ruangan ini.
Sedangkan di sisi lain, Yun Yi membawa Hua Wei ke kediaman Zhao.
"Panggilkan tabib." Yan Shui yang peka seera memerintahkan seorang pelayan untuk mencari tabib.
Yun Yi meletakkan Hua Wei di peraduan yang dirinya tempati semalam. Tak lama, tabib datang.
Tabib itu nampak begitu serius, lalu ditnya menghela nafas. "Maafkan saya Zhao Fūrén. Kemampuan obat saya tidak dapat menyembuhkan penyakit yang di deria nona ini."
"Kenapa?" Tanya Yun Yi terburu-buru, mendahului Yan Shui.
"Penyakit yang di alami nona ini bukanlah penyakit fisik, tapi penyakit jiwa. Sepertinya mental nona ini terguncang. Melihat keadaan nona ini yang penuh luka, dugaan awal saya adalah nona ini mengalami trauma akibat sebuah pukulan yang mengarah padanya."
Yun Yi terdiam, andai di sini ada seorang psikolog, mungkin Hua Wei akan mudah untuk sembuh.
__ADS_1
Tapi selama ini Yun Yi tidak pernah mendengar seseorang yang memiliki pengetahuan tentang kejiwaan.
"Saya sarankan anda membawanya pada tabib suci. Setahu saya, tabib suci dapat menangani hal kecil seperti ini."
Mendengar saran dari tabib, Yan Shui mengangguk setuju.
"Kebetulan sekali. Bukankah tabib suci kini ada di kediaman anda di hutan buah persik?"
Bukannya mengangguk, Yun Yi malah mengernyitkan dahinya. "Sejak kapan tabib suci ada di sana?"
Mata Yan Shui mengerjap. "Dewi, kamu tidak bertanya tentang identitas gadis yang bernama Wen Yun itu?" Tanyanya.
"Wanita itu berkata dia adalah seorang tabib. Tapi, aku tidak tahu kalau ternyata dia adalah tabib suci."
Yan Shui hanya bisa tersenyum kaku, ketika mendapati jawaban seperti itu.
"Kalau begitu, aku akan membawa Hua Wei ke istana. Kebetulan Wen Yun sudah ada di sana."
Sebelum Yan Shui mengeluarkan suara, sosok Yun Yi sudah menghilang begitu saja.
"Lalu bagaimana dengan wanita-wanita yang ada di kediaman ini?" Yan Shui bertanya dengan lirih.
Ketika Yun Yi tiba-tiba muncul begitu saja.
Karena Yun Yi muncul begitu saja, di samping Shuan Si. Tentu saja Shuan si begitu terkejut, melebihi yang lainnya.
"Dewi anda membuat jantung saya terasa akan lepas." Shuan Si mengeluh sambil memegang dadanya yang bergemuruh.
"Nanti saja mengocehnya." Yun Yi mengabaikan keluhan Shuan Si dan segera membaringkan Hua Wei di peraduan kosong.
"Panggilkan Wen Yun kesini." Titah Yun Yi.
Awalnya orang-orang yang ada di dalam ruangan saling melihat satu sama lain. Tapi, beberapa saat kemudian. Jendral Li yang awalnya tengah membantu tabib lain, segera berlari ke luar, mencari Wen Yun.
Yun Yi membuat sebuah kursi modern dari sulurnya, duduk di samping Hua Wei.
Dan tak perlu waktu lama, Jendral Li sudah kembali, bersama Wen Yun.
"Tabib kecil ini memberi salam untuk Dewi." Walau masih terengah-engah, Wen Yun masih memberi salam pada Yun Yi. Dan ketika Yun Yi melambaikan tangannya, Wen Yun segera menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Periksa, Hua Wei." Ucap Yun Yi sambil menatap Huw Wei yang masih dengan pandangan kosong nya.
Wen Yun melihat siluman rubah di depan Yun Yi. Walau hanya sekilas, dirinya sudah tahu, kalau gadis rubah ini mengalami trauma yang cukup berat.
Wen Yun segera memeriksa nadi Hua Wei. Awalnya wajah Wen Yun terlihat tenang, tapi secara tiba-tiba matanya terbuka lebar,terlihat terkejut.
"I-ini..." Melihat dari wajahnya, Hua Wei terlihat seperti seorang gadis, tapi ketika memeriksa nadinya, ternyata dia sudah akan menjadi seorang ... ibu.
"Dewi, rubah ini memiliki trauma yang cukup parah. Tapi, untungnya ini bisa di obati." Wen Yun menjelaskan kondisi Hua Wei terlebih dahulu, supaya Dewinya tidak khawatir secara berlebihan.
"Dan, kita harus segera mengobatinya. Karna kalau tidak, itu akan membahayakan bayi di dalam perutnya." Setelah Wen Yun menyelesaikan perkataannya, wajah Yun Yi terlihat memerah.
Wen Yun merasa aneh dengan itu. Mengapa Dewi-nya malah terlihat marah, bukan senang.
"D-dewi, ..."
Wen Yun ingin bertanya, tapi melihat wajah Yun Yi yang begitu menakutkan, Wen Yun mengurungkan niatnya.
"Wen Yun, apakah ucapanmu tadi memiliki dasar?"Yun Yi mendongak, dan menatap Wen Yun dengan wajah serius yang begitu dingin, bahkan sampai membuat Wen Yun bergetar.
"Maafkan saya Dewi, saya tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan anda." Wen Yun mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari mata tajam Yun Yi yang membuat Wen Yun begitu takut.
"Hua Wei hamil, apakah itu benar adanya?" Yun Yi bertanya lagi, walau nadanya tidak tinggi seperti tadi, tapi ucapannya itu masih bisa membuat tubuh Wen Yun bergetar.
'Aura Dewi begitu menekan.' Walau dalam hati Wen Yun terus bergumam takut. Dirinya masih tetap menjelaskan kondisi Hua Wei dengan rinci, walau dengan terbata-bata.
"Ga-gadis rubah ini memang sedang mengandung Dewi-ku. Usia kandungannya masih berusia sekitar dua Minggu."
"Apakah kamu tidak berbohong?" Wen Yun segera menggeleng dengan cepat.
"Wen Yun tidak mungkin mengucapkan kebohongan, karena ini menyangkut medis." Shuan Si yang ada di sana segera berjalan ke samping Wen Yun.
"Jika Dewi masing ingin memastikan, biar saya memeriksanya." Shuan Si membungkukkan sedikit badannya, meminta izin.
"Lakukanlah."
Setelah mendapat persetujuan, Shuan Si segera mengulurkan tangannya, untuk memeriksa denyut nadi Hua Wei.
Awalnya Shuan Si berwajah tenang, tapi tak lama setelah dirinya meletakkan jarinya di pergelangan Hua Wei, matanya membelalak, kaget. Bereaksi sama seperti Wen Yun, tadi.
__ADS_1
...🔸️To Be Continued🔸️...