Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Mila bersama Rio


__ADS_3

Mila melangkahkan kakinya, menyusuri panti menuju ruang belajar. Kakinya yang masih sedikit terasa sakit membuatnya berjalan lambat. Sesampainya di ruang belajar, Mila tidak langsung masuk, sejenak Mila memperhatikan mereka yang di dalam dari


kaca transparan ruangan tersebut, mereka berkumpul mengelilingi Akbar dan samar-samar terdengar tawa anak-anak dari dalam, membuat Mila tersenyum.


Menyebalkan.... kenapa anak-anak malah menyukainya ? Bahkan Mona sampai tertawa lepas seperti itu, Dia memang pandai cari muka. Gerutu Mila dalam hati, dia tidak terima karna semua yang di panti menyukai Akbar.


Tadinya Mila ingin menyuruh Akbar untuk segera pulang, namun melihat Mona dan yang lain begitu senang dengan Akbar, dia mengurungkan niatnya. Mila meninggalkan ruang belajar itu dan memilih ke taman panti yang berada dibelakang.


Mila duduk di ayunan yang terletak di taman tersebut. Dia menyandarkan kepalanya ke salah satu tiang ayunan itu. Mila mengingat kembali kejadian di sekolah tadi, suara Tina dan Dara yang menghinanya terngiang-ngiang di telinganya. Ini bukan kali pertamanya mendapat perlakuan seperti itu, dulu semasa SMP, Mila juga sering diejek karna dia hanya anak panti asuhan, namun hari ini rasanya lebih menyakitkan. Mila tidak pernah menyesali dirinya yang berstatuskan anak panti, walau sering mendapat perlakuan tidak baik, Mila tetap menyukai dan mencintai pantinya. Menyedihkan memang, jika memikirkan orang tua yang tidak peduli dan bahkan tidak mau merawat anaknya, sampai-sampai tega menitipkannya ke panti asuhan, tapi berkat kasih sayang dari Bunda Rita dan Pak Dedi mereka yang berada di Panti Asuhan Nurul Iman ini bisa tumbuh dengan baik.


Dibanding bersedih terus menerus memikirkan orang tua yang tidak tau entah dimana, Mila lebih memilih banyak mensyukuri apa yang dia miliki saat ini. Bersyukur memiliki Bunda Rita dan Pak Dedi yang dengan sepenuh hati menyayangi mereka, bersyukur memiliki saudara sebanyak di panti ini. Itulah yang ditanamkan Mila dalam hidupnya.


Jangan sedih Mila. Gumamnya dalam hati berusaha menguatkan dirinya sambil menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja.


Dari tempatnya berdiri Akbar melangkah mendekati Mila, entah sejak kapan dia berada disana, Mila begitu terkejut dengan kedatangan Akbar yang langsung ikut duduk di ayunan. Akbar duduk dihadapannya.


"Akbar.... " sapanya sambil mengeringkan pipinya yang basah karena air matanya yang terus menetes.


"hemmm"


"untuk apa ke sini?"


"kenapa kamu menangis? " bukan menjawab malah balik bertanya.


"siapa yang menangis ? aku tidak menangis" sengkal Mila.


"hmmm... jadi tidak menangis" balas Akbar pura-pura percaya dengan Mila.


"mana mungkin aku menangis, kamu pikir aku cewek cengeng, dan...kamu ngapain ke sini?"


"aku mau pamit pulang"


"untuk apa pamit sama ku, bukan aku juga yang mengajak mu di sini"


"aku cuma takut kalau nanti kamu kehilangan mencari ku" jawab Akbar dengan senyum yang menampilkan lesung pipinya.

__ADS_1


"hah.... apa? kehilangan ? jangan mimpi kamu, aku malah senang kalau kamu segera pulang" balas Mila dengan setengah berteriak.


"tetap saja kamu pasti akan menanyakan ku kalau aku tidak pamit sama mu" jawabnya datar.


"aku pulang....."lalu turun dari ayunan, Mila tidak menyahut dan malah mengalihkan pandangannya. Akbar berjalan meninggalkan Mila namun baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik menatap Mila.


"oh ya satu lagi......" katanya yang membuat Mila menoleh ke arahnya. "jangan merindukan aku" selesai mengatakan itu Akbar pun pergi, sementara Mila menatap kepergiannya dengan geram.


"dasar cowok gila, siapa juga yang mau merindukan mu, memikirkan mu saja aku tidak sudi" teriak Mila, tapi Akbar tidak menghiraukannya.


Ahhhh.... menyebalkan, dia pikir dia siapa?


**************************


Beberapa hari ini, Akbar meniadakan privatnya dengan Mila karna kakinya belum sepenuhnya sembuh, dan tidak bisa berjalan jauh ke taman. Tapi Akbar tetap mengantarkannya pulang seusai jam pelajaran sekolah. Di jam istirahat Mila lebih memilih tetap di kelas. Nayra dan Irene ikut menemaninya di kelas, mereka sama-sama menghabiskan waktu di kelas, berbagi cerita sampai kadang tertawa heboh. Sama seperti hari ini, mereka kembali menghabiskan waktu istirahat di kelas. Selain mereka bertiga, ada juga beberapa teman sekelasnya yang lain duduk bergerombol di sudut.


Nayra menceritakan dirinya yang sering di sapa Bima, meskipun mengatakan tidak suka dengan Bima namun terlihat jelas di matanya kalau dia menyukainya. Berbeda dengan Irene yang terang-terangan mengaku suka dengan Ifan. Bahkan dia mengaku kalau mereka sering telfonan dan jalan berdua.


"kalian pacaran? " serentak Mila dan Nayra bertanya begitu selesai mendengar cerita Irene.


"sstttt..... jangan teriak" sambil membungkam mulut kedua temannya. Irene melanjutkan cerita dengan berbisik-bisik karna tidak ingin terdengar teman sekelasnya yang lain.


"kenapa lama sekali, bukannya kamu juga menyukainya?" tanya Nayra


"aku mau fokus untuk ujian semester ini dulu, aku tidak mau kalau nilai ku menurun gara-gara pacaran" jawab Irene


Mila dan Nayra pun mengerti dengan alasan Irene. Mereka berdua menyemangati Irene. Ditengah perbincangan mereka tiba-tiba Rio yang merupakan ketua osis Sma Pelita datang menghampiri mereka.


"Mila.... "sapa Rio yang membuat ketiga sahabat itu menoleh ke arah asal suara itu.


"kak Rio" jawab Mila.


"Mila... bisa ikut denganku sebentar , ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu" kata Rio.


"mau kemana kak? " tanya Nayra sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"ke ruang osis" jawabnya datar


"untuk apa?" kali ini Mila yang bertanya


"maka itu aku mengajakmu, nanti aku jelaskan" sambung Rio.


"hmmm... baiklah" Mila pun beranjak dari duduknya. "aku dengan kak Rio dulu ya" pamitnya pada Nayra dan Irene.


"apa bisa jalan ke sana? kaki mu bukannya masih sakit" kata Nayra.


"sudah jauh lebih baik kok" jawab Mila kemudian mengikuti Rio menuju ruang osis. Mereka berjalan beriringan dan lagi-lagi Mila menjadi pusat perhatian karna dia bisa jalan beriringan dengan Rio.


Sama halnya dengan Akbar, Rio juga banyak penggemarnya di sekolah ini, selain tubuh tegap dan wajah tampan, jabatannya sebagai ketua Osis juga semakin membuatnya di idolakan siswi -siswi ditambah lagi karna Rio juga cucu pemilik sekolah ini. Semua itu membuatnya terlihat sempurna.


Belum hilang gosip Mila dengan Akbar, sekarang Mila bersama Rio, hal ini membuat mereka makin iri. Mila memang cantik dan banyak yang menjulukinya sebagi bunga Pelita yang artinya dia cewek paling cantik disekolah ini, namun semenjak Tina dan Dara menyebarkan berita tentang dirinya yang seorang anak panti asuhan, banyak orang yang kemudian membencinya, mereka beranggapan Mila yang hanya seorang anak panti tidak pantas dengan Akbar maupun Rio.


Mila tidak terlalu memikirkan pendapat orang tentangnya, yang terpenting baginya, Nayra, Irene dan teman-teman di kelasnya tetap mau berteman dengannya, lagi pula dia tidak punya perasaan apa-apa baik untuk Akbar maupun Rio, jadi untuk apa peduli omongan orang, itulah yang terus menerus Mila tanamkan di hatinya setiap kali mendengar orang membicarakan yang buruk tentang dirinya.


"kaki kamu kenapa Mila? kata Nayra tadi kakimu sakit" kata Rio sembari terus berjalan menuju ruang osis.


"hanya luka sedikit kak, beberapa hari yang lalu aku jatuh, tapi sekarang sudah sembuh kok" jawab Mila


"oh... baguslah kalau memang sudah sembuh" sambung Rio, dan Mila tidak menyahut. Tiba di ruang osis Rio membukakan pintu ruangan itu lalu mengajak Mila masuk dan bersamaan dengan itu Akbar bersama Nando dan Bima melihatnya, mereka yang kebetulan lewat karna ingin ke kantin, tidak sengaja melihat Mila dan Rio sama-sama masuk ke ruang osis.


"itu bukannya Mila..." kata Nando "ngapain mereka berduan ke ruang osis" sambungnya lagi yang membuat Akbar makin geram. Bima yang melihat kemarahan Akbar seketika menginjak kaki Nando.


"awww....sakit" keluh Nando sambil mengangkat kakinya yang tadi di injak Bima.


"apa maksudmu menginjak kaki ku seperti ini" bentak Nando. Bima tidak menyahut, dia mengisyaratkan untuk diam dan melirik Akbar dengan ujung matanya. Akhirnya Nando mengerti kalau Akbar sedang marah karna melihat Mila bersama Rio. Dia pun menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Sementara Akbar masih tidak bergeming, dia memandang pintu ruang Osis dengan geram dan mengepalkan tangan kanannya.


-


-


-

__ADS_1


-


bersambung......


__ADS_2