Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Memohon


__ADS_3

"Akbar?" ucap Mila tanpa suara.


Untuk sesaat mata mereka saling beradu, tersirat banyak kerinduan di kedua tatapan itu, namun Mila berusaha memungkirinya. Ini bukanlah pertemuan yang ia harapkan.


Mila mengutuki dirinya yang tidak bisa melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.


Ia berusaha mengendalikan dirinya dan menundukkan pandangannya, mulai melangkahkan kakinya dan melewati Akbar begitu saja.


"Mila!" tegur Akbar hingga membuat langkah Mila terhenti, namun tidak untuk berbalik memandangnya.


"Apa kamu ada waktu sebentar, ada yang ingin aku katakan" ucapnya penuh harap.


"Tidak bisa, aku buru-buru" jawab Mila.


"Lima belas menit saja Mila" berusaha membujuk Mila.


"Tidak bisa" jawabnya dengan tegas, lalu melanjutkan langkahnya.


"Bagaimana kalau sepuluh menit saja? Aku mohon Mila" bujuk Akbar penuh pengharapan.


Langkah Mila kembali terhenti, ia menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik menatap Akbar.


"Aku tidak punya waktu banyak, cepat katakanlah" ucapnya dengan menghindari kontak mata dengan Akbar.


Akbar bernapas lega ketika Mila mau berbalik, lesung pipinya terlihat jelas karna senyum dikedua sudut bibirnya.


"Mila!" Nayra dan Irene muncul setelah berteriak memanggilnya. Akbar pun terdiam ketika dua orang itu muncul tiba-tiba.


"Kamu sedang apa disini? Kami mencarimu dari tadi" kata Nayra begitu menghampiri Mila. "Kamu sama siapa?" memberi Mila pertanyaan beruntun tanpa memberi kesempatan untuk menjawab, dia juga belum menyadari kalau yang dihadapan mereka saat ini adalah Akbar.


Irene mencubit lengan Nayra hingga membuatnya meringis kesakitan. "Aww sakit, kamu kenapa mencubit ku?" ucapnya dengan kesal pada Irene.


Irene menunjuk orang yang dihadapan mereka dengan pandangannya, hingga Nayra mengikuti arah pandangannya, dan alangkah terkejutnya dia melihat Akbar yang berdiri dengan tegap dihadapannya.


"Kamu?" dengan emosi yang memuncak. "Kamu ngapain disini?" bentaknya pada Akbar. "Jangan coba-coba untuk mendekati Mila lagi" ancamnya. "Mila, ayo kita pergi dari sini" menarik tangan Mila.


"Mila, ku mohon jangan pergi dulu" kata Akbar memohon.


"Berani sekali kamu bicara seperti itu" ucapnya dengan geram pada Akbar. "Mila! jangan dengarkan dia!".


Mila menarik tangannya dari genggaman Nayra.


"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul" ucapnya pelan. Sebenarnya dia juga ingin segera pergi dari hadapan Akbar, namun entah kenapa hatinya lebih memilih untuk tinggal. Setidaknya dengarkan dulu apa yang akan Akbar sampaikan batinnya.

__ADS_1


Nayra terlihat sangat kesal, namun akhirnya bersedia meninggalkan Mila disana. Nayra dan Irene meninggalkan tempat itu dan kembali ke aula.


"Apa yang ingin kamu katakan?" kata Mila setelah Nayra dan Irene pergi.


"Duduklah dulu" kata Akbar, lalu mendahului Mila duduk di tempat yang tadi Mila duduki. Akbar menepuk tempat kosong disampingnya mengajak Mila untuk ikut duduk, dan dengan berat hati Mila pun menurut untuk duduk disamping Akbar.


Setelah duduk bersebelahan, Akbar malah diam dan menunduk, begitu juga dengan Mila. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan, keheningan pun tercipta untuk beberapa saat.


"Waktumu tinggal lima menit lagi" ucap Mila dengan penuh maksud.


"Ahh maaf" kata Akbar menyadari waktu yang ia punya hanya sedikit. "Bagaimana kabar mu ?" ucapnya pelan namun cukup jelas ditelinga Mila.


"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik-baik saja" jawabnya tanpa memandang Akbar.


"Syukurlah"


"Apa kamu sudah menikah?" tanya nya dengan ragu-ragu.


"Belum, aku menikmati kesendirian ku" jawab Mila, dan masih tidak mau menatapnya.


"Baguslah, aku hanya takut kamu tidak menikah karna menunggu ku" balasnya dengan nada bercanda.


"Kamu terlalu percaya diri Akbar" kata Mila dengan kesal.


"Aku hanya bercanda" ucapnya dengan senyum. Dia berusaha mencairkan suasana meskipun sebenarnya dia sangat gugup.


"Tunggu Mila, jangan pergi dulu" memotong ucapan Mila dan menahannya untuk tidak pergi.


"Apa lagi?" mulai kesal dan menatap Akbar dengan geram.


"Carmila....aku sangat merindukan mu" ucapnya tulus dan sungguh-sungguh, bahkan air matanya hampir saja menetes kalau saja dia tidak mengendalikan dirinya. "Maaf karena sudah melukai mu" sambungnya dengan wajah yang tertunduk.


"Omong kosong" balas Mila dengan mengalihkan pandangannya ke lain arah, dia berusaha menutupi dirinya yang kini berdebar mendengar ucapan Akbar.


Keheningan kembali menyelimuti mereka, dan tiba-tiba bunyi deringan dari HP Akbar terdengar hingga memecahkan kesunyian diantara mereka.


Akbar mengeluarkan HPnya yang berdering dari kantongnya, terlihat disana panggillan video call dari Mama.


"Aku angkat telpon dulu" kata Akbar lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"Ada apa Ma?" jawab Akbar begitu terhubung.


"Akbar, apa kamu masih lama? Anak mu tidak mau mandi kalau kamu belum pulang" balas Mamanya dari seberang sana. Mila diam-diam memasang telinganya untuk menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Daddy, jemput aku" terdengar suara anak kecil. "Aku tidak mau tinggal dengan Nenek, dia sangat cerewet" sambungnya.


"Nenek cerewet karma kamu nakal" balas Mamanya. Mereka terlihat berebut di depan layar Hp. "Akbar, anak mu ini sungguh nakal".


"Maxwell, jangan menyusahkan Nenek, mandilah, sebentar lagi Daddy akan menjemput mu" bujuk Akbar pada anak itu.


"Benarkah?"


"Iya"


"Baiklah, aku akan mandi, Bye Daddy"


"Bye" lalu mengakhiri video callnya.


Akbar kembali mengantongi HP miliknya.


"Apa itu anak mu?" tanya Mila penasaran.


"Umm... dia Maxwell"


"Sepertinya keluargamu sangat bahagia" sambung Mila dengan tersenyum getir memendam rasa pedih hatinya.


"Aku juga berharap seperti itu, paling tidak Maxwell bisa bahagia" balas Akbar. "Seperti yang dulu kamu katakan padaku, anak kecil tidak minta dilahirkan, dan mereka juga tidak tahu apa-apa, tapi kenapa orang dewasa suka menelantarkan mereka"


"Maksud kamu?" Mila tidak mengerti arah pembicaraan Akbar.


"Aku tidak tahu apa aku harus mengatakan ini, tapi sekarang aku mulai tidak tahan menanggungnya sendiri"


"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan" Mila dibuat bingung dengan perkataan Akbar. "Waktu sepuluh menit mu juga sudah habis, aku akan.... "


"Mila...sebenarnya Maxwell bukanlah anak ku"


"Hah...


-


-


-


bersambung.....


Ada yang bisa tebak, Maxwell anaknya siapa?. Coment dibawah ya......

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di next episode.


Dan terimakasih buat yang sudah like dan vote, sering-sering ya, hahahaha


__ADS_2