
Hari ketiga Mila dirumah sakit, Bunda Rita datang menjenguknya. Pagi-pagi sekali wanita paruh baya itu sudah berada dirumah sakit.
Setelah kedatangan Bunda Rita, Mona pun pamit untuk berangkat kesekolah, dan sekarang hanya ada Bunda Rita dan Mila diruangan itu.
Mila menyelesaikan sarapannya dengan mengunyah suapan terakhir yang ada dimulutnya, lalu meneguk air putih yang terletak di atas meja.
"Seharusnya Bunda tidak perlu repot-repot kesini" ucap Mila sembari meletakkan kembali gelas yang dia pakai untuk minum tadi.
"Bagaimana mungkin Bunda tidak menjenguk mu, kamu terluka seperti ini, Bunda tidak habis pikir dengan Aldo" keluh Bunda Rita
"Mila sudah sehat kok Bunda, dan kata Dokter hari ini Mila sudah bisa pulang" jawab Mila dengan semangat. "Bunda jangan khawatir lagi ya" sambungnya.
"Baiklah, Bunda tidak akan khawatir, lagi pula kan sekarang sudah ada seseorang yang menjaga mu" ucap Bunda Rita dengan senyum penuh maksud.
"Si, siapa?" dengan dahinya yang berkerut.
"Akbar, kamu pikir Bunda tidak tahu, Mona sudah menceritakan semuanya pada Bunda"
"Apa? Mona cerita apa pada Bunda?"
"Dia cerita banyak tentang kamu dan Akbar"
"Bunda, itu tidak benar, kami tidak seperti yang Bunda pikirkan, kami..." Mila tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Mila, apapun yang membuat mu bahagia, Bunda akan mendukung mu"
"Tapi Bunda..." lagi-lagi Mila menggantung kalimatnya.
"Bunda memang tidak tahu betul apa yang terjadi diantara kalian, tapi mendengar sekarang Akbar ada disisimu, Bunda yakin kalain sudah menyelesaikan yang terjadi dimasa lalu". Mila terdiam menunduk.
"Kamu yang lebih tahu Akbar seperti apa" sambung Bunda Rita sembari merapikan rambut Mila.
Mila mengangkat wajahnya lalu memeluk Bunda Rita dengan erat.
"Terima kasih Bunda, terima kasih untuk semuanya" ucapnya lirih. Bunda Rita tidak menyahut namun mengusap punggung Mila dengan lembut.
Disaat berpelukan seperti itu, seorang pria berpakaian rapi lengkap dengan jas dan dasi yang menggantung dilehernya datang memasuki ruangan Mila. Pria itu berumur sekitar lima puluh tahunan, dengan tegap dia berjalan menuju ranjang Mila.
Mila dan Bunda Rita mengawasi setiap langkahnya, dan mereka sangat terkejut begitu mengenali pria ini. Kini pria itu berdiri disamping Mila dengan tersenyum ramah.
"Mila, bagaimana keadaan mu ?" tanya pria itu.
"Paman !" ucap Mila
"Tuan!" Bunda Rita beranjak dari duduknya.
Mereka sangat menghormati pria ini, karna dia adalah salah satu donatur di Panti Asuhan Nurul Iman, dialah yang paling banyak membantu panti saat ini, dan pria ini adalah Papanya Aldo.
__ADS_1
"Apa kehadiran ku membuat kalian terganggu ?" ucapnya dengan lembut.
"Tidak, tentu saja tidak Tuan" jawab Bunda Rita.
"Paman kenapa ada disini? Bukankah seharusnya Paman ada di Kanada? "
"Iya Mila, tapi begitu mendengar perbuatan Aldo padamu, Paman langsung terbang kesini"
Sesaat Bunda Rita dan Mila pun terdiam.
"Sebelumnya, atas nama Aldo, Paman mau minta maaf atas perbuatannya pada Mila" ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Ini kelalaian ku juga, harusnya aku tidak membiarkannya sendirian di kota ini" sambungnya.
"Maksud Paman ?" Mila dan Bunda Rita saling bertatapan menunggu jawaban Papanya Aldo.
"Sebenarnya Aldo itu menderita gangguan kepribadian ambang" jawabnya dengan berat hati. "Dia tidak bisa menerima penolakan dari orang lain, dulu setiap kali dia mendapatkan penolakan, dia akan menyakiti dirinya sendiri sampai menimbulkan luka" terlihat kesedihan di wajahnya. "Kami pindah ke Kanada, dan disana kami melakukan pengobatan untuknya, semua terlihat lebih baik, dan kami benar-benar berpikir dia sudah sembuh, kami mulai membiarkannya berjalan sendiri, mulai mengajarinya menjalankan bisnis, bahkan membiarkannya bolak balik dari Kanada kesini, hingga beberapa hari yang lalu dia menelpon dan mengatakan akan melamar mu, kami sangat cemas karena tidak yakin Mila menerimanya, namun dia bersikeras dan sangat yakin akan diterima Mila". Papa Aldo memberi jeda dikalimatnya. "Aldo sudah lama tidak kontrol ke Dokter, aku rasa itu yang membuatnya menjadi kasar dan tega melukai mu, dia tidak bisa menahan emosinya, tolong maafkan dia Mila, maafkan kami"
Bunda Rita dan Mila tercengang mendengar penuturan Papa Aldo, mereka tidak menyangka kalau Aldo yang mereka kenal selama ini adalah seseorang yang mengidap gangguan kepribadian. Mila sampai tidak bisa berkata-kata, dia hanya tertunduk lesu mendengar semuanya. Perasaan bersalah dan rasa takut kini menyelimutinya, dia merasa bersalah atas sikapnya pada Aldo, kalau tahu kondisi Aldo yang sebenarnya mungkin dia bisa lebih halus ketika menolaknya, kini dia juga merasa takut, takut kalau Aldo semakin membencinya dan kembali berusaha melukainya.
"Kalian juga tidak perlu khawatir, malam ini aku akan membawa Aldo kembali ke Kanada, dia tidak akan bisa melukai mu lagi, bahkan untuk menemui mu pun tidak" lanjut Papa Aldo seolah mengerti kekhawatiran kedua orang itu.
"Pasti kata-kata ku sangat melukainya waktu itu" gumam Mila. "Maafkan Mila Paman, karena Mila tidak bisa menerimanya, Mila yang membuatnya menjadi seperti ini" ucapnya dengan sedih.
"Tidak Mila, ini bukan salah mu, jangan menyalahkan dirimu seperti itu, kamu berhak menentukan pilihan mu" jawab Papa Aldo dengan sangat bijaksana.
"Maafkan kami Tuan, kami tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Bunda Rita.
"Bunda, aku merasa bersalah pada Aldo, seharusnya aku tidak menolaknya dengan cara seperti itu " keluh Mila. "Aku ingin menemuinya"
"Ini bukan salah kamu sayang" kata Bunda Rita menenangkan. "Kamu tidak bisa menemuinya, emosi Aldo belum stabil, dia akan kembali melukaimu jika melihat mu" sambung Bunda Rita.
"Permisi" Ucap seorang perawat yang memasuki ruangan Mila. "Maaf, keluarga Ibu Mila harap segera kebagian administrasi, ada beberapa berkas yang harus ditandatangani supaya Ibu Mila bisa segera pulang" ucap sang perawat.
Bunda Rita pun mengangguk lalu mengikuti perawat tersebut menuju bagian administrasi.
Kini tinggal Mila sendiri diruangannya. Dia duduk memainkan HPnya sembari menunggu Bunda Rita kembali, pikiran masih pada Aldo yang mengidap gangguan kepribadian. Mila benar-benar hanyut dalam pikirannya, sampai dia tidak sadar kalau sedari tadi Akbar berdiri di pintu memandangnya.
Tok...Tok ....
Akbar mengetuk pintu membuat Mila terkejut hingga hampir menjatuhkan HPnya.
"Akbar!"
Akbar berjalan mendekatinya, lalu duduk dikursi yang ada disamping Mila.
"Kamu mengagetkan ku" keluh Mila.
__ADS_1
"Kamu terlalu sibuk melamun sampai tidak menyadari aku datang" balas Akbar.
"Bukannya kamu baru sampai ?"
"Tidak, aku sudah lama beridiri disana" jawab Akbar. "Bagaimana, apa kamu sudah diperbolehkan pulang?" sambungnya.
"Iya, aku akan segera pulang, Bunda Rita sedang mengurus administrasi" jawab Mila.
"Bunda Rita ada disini ?"
"Iya"
"Apa Bunda Rita masih mau bertemu dengan ku?" Akbar sangat yakin kalau Bunda Rita sangat membencinya, meskipun dulu sangat dekat dengan Bunda Rita, namun setelah sempat meninggalkan Mila, dia selalu berpikir kalau semua orang yang disamping Mila pasti ikut membencinya, seperti halnya dengan Nayra yang dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya.
"Kenapa tidak, Bunda sangat menyukai mu" jawab Mila dengan enteng.
"Benarkah?"
"Hmmm... bahkan terkadang aku berpikir Bunda lebih menyukai mu daripada aku" sambung Mila disertai tawanya.
Akbar pun ikut tertawa mendengarnya.
"Lalu bagaimana dengan mu ?" tanya Akbar.
"Aku? Kenapa ?"
"Apa kamu masih menyukai ku?" dengan wajah serius.
Deg....
Jantung Mila yang tadinya normal, kini mulai berdetak dengan sangat kencang, Mila tidak bisa menjawab, dia terdiam kaku mendengar pertanyaan itu, ditambah lagi tatapan mata Akbar yang membuatnya semakin tidak bisa berkata-kata.
"Mila, apa kamu masih menyukai ku, seperti aku yang masih dan selalu menyukai mu" sambung Akbar tanpa melepaskan Mila dari pandangannya.
"Mila, kehilangan mu adalah trauma terbesar ku, mulai sekarang aku tidak ingin kehilangan mu lagi" meraih tangan Mila "Carmila, maukah kamu kembali dengan ku ?" ucap Akbar dengan sungguh-sungguh.
Mila menelan ludahnya dengan kasar, tenggorokannya seketika terasa mengering, dia menatap mata Akbar, lalu berusaha membuka mulutnya.
"Aku.....
-
-
-
bersambung.....
__ADS_1
Besok up lagi ya...
Jangan lupa like dan votenya ya, terima kasih.....