Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Pertama kali


__ADS_3

Akbar dan Mila turun menemui tamu yang menunggu mereka.


"Wah wah" dengan tepukan tangan begitu melihat Akbar dan Mila menuruni tangga. Nando berdiri menyambut mereka. Yah, tamu yang datang itu adalah Nando. "Pengantin baru jam segini baru keluar kamar" godanya. "Selamat pagi pasangan suami istri" ujarnya.


"Pagi juga jomblo" sahut Akbar sambil menuruni tangga dan menghampiri Nando yang berdiri diujung tangga. "Kamu memang tidak tahu malu, pagi-pagi sudah mengganggu pengantin baru" balas Akbar.


"Ahh sialan" jawab Nando dengan senyum lebarnya. "Hai Mila" sapanya pada istri sahabatnya itu.


"Hai" balas Mila dengan senyum dikedua sudut bibirnya.


"Mari duduklah dulu" ajak Akbar, lalu mereka pun sama-sama duduk disofa. Akbar duduk bersebelahan dengan Mila, sementara Nando duduk disofa lainnya.


Tidak lama kemudian, Bi Lina pun datang membawakan mereka minuman dan kembali kedapur setelah menghidangkannya diatas meja.


"Terima kasih Bi" ucap Mila sebelum Bi Lina pergi.


"Apa aku mengganggu kalian? "


"Tentu saja, kamu mengganggu paginya pengantin baru yang sedang bermesraan" jawab Akbar spontan.


"Benarkah? Mila, apa benar aku mengganggu ?"


"Tidak, tidak sama sekali" sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu bicara apa sih ?" sembari mencubit lengan Akbar.


"Sayang, jangan menyiksa ku" keluh Akbar sambil menekan bekas cubitan Mila.


Mila melotot namun membuat Akbar malah tertawa ngakak.


"Kamu sangat menggemaskan". Mencubit pipi Mila dengan kedua tangannya.


"Hei...hei...kalian pikir aku datang hanya untuk menyaksikan ini?" ucap Nando dengan kesal.


"Oh iya, aku lupa kalau disini ada jomblo" dengan sengaja menekankan kata jomblo.


"Aishh kamu memang sialan Akbar" semakin kesal.


"Hahaha makanya kamu harus segera melamar Nayra".


"Nando mau melamar Nayra ?" sangat kaget dengan ucapan Akbar. Mila memang tidak tahu sejauh mana hubungan Nayra dengan Nando karena selama ini Nayra tidak pernah menceritakannya. "Kalian akan menikah?" sambungnya lagi sambil menatap Nando.


Nando malah menatap Akbar dan semakin kesal.


"Sayang, apa Nayra tidak pernah bercerita kalau Nando meminta Nayra untuk menunggunya selama lima tahun".


"Tidak, jadi karena itu Nayra tidak pernah mau pacaran selama ini". Akhirnya menemukan jawaban yang membuat sahabatnya menjomblo selama ini.


"Nayra tidak pernah berpacaran ?" senyum. "Jadi dia benar-benar menunggu ku" gumamnya pelan.


"Kalian mau menikah?" tanya Mila lagi.


"Semoga" sahut Nando.


"Dulu kalian selalu ribut, kalian seperti Tom and Jerry yang tidak pernah akur"


"Entahlah" jawab Nando dengan menggelengkan kepalanya.


"Padahal aku ingin menjodohkan Nayra dengan teman sekantor ku" dengan senyum jahil. Akbar tertawa melihat ekspresi Nando yang berubah seketika.


"Mila, kamu sangat keterlaluan" Keluh Nando yang langsung terlihat murung.


"Aku hanya bercanda". Setelahnya Mila dan Akbar tertawa puas. Nando menatap kesal, namun akhirnya ikut tertawa.


"Oh iya, sebenarnya aku ingin mengajak mu ke acara peresmian Cafe ku"


"Kenapa opening sekarang, aku tidak bisa keluar rumah" jawab Akbar. Dia tidak ingin meninggalkan Mila dihari pertama mereka menjadi suami istri.


"Sebentar saja, teman yang lain sudah menunggu disana" bujuk Nando.


"Kalau begitu Mila akan ikut" sambil menatap Mila yang berada disebelahnya.


"Terserah, tapi perlu kamu tahu, aku sama sekali tidak mengundang perempuan, kalau Mila ikut dia akan jadi satu-satunya perempuan disana nanti"


"Menyebalkan" Akbar membayangkan Mila yang akan dikerumuni teman-temannya.


"Aku dirumah saja". Mila seolah mengerti dengan kekhawatiran Akbar.


"Apa tidak apa-apa aku meninggalkan mu"


"Tidak apa-apa, ada Bi Lina juga dirumah" jawab Mila dengan sangat yakin.


"Baiklah, aku ikut dengan mu, tapi ingat, aku hanya sebentar" mengingatkan Nando.


Akhirnya Akbar dan Nando berangkat menuju Cafe baru milik Nando. Mereka mengenderai mobil masing-masing.


*******


Setelah kepergian Akbar dan Nando, Mila kembali ke kamarnya, ia membaca novel untuk mengusir rasa bosannya. Namun baru beberapa lembar ia sudah bosan, akhirnya turun lagi, dan menemui Bi Lina yang berada di dapur.


"Nona, apa butuh sesuatu ?" tanya Bi Lina begitu melihat Mila memasuki dapur.


"Tidak ada Bi" sambil menggelengkan kepalanya. "Saya bosan dikamar, oh iya, Linda kemana Bi? Aku belum melihatnya sedari tadi" sambil melihat kesekeliling.


"Linda izin pulang kampung Nona, Ibunya sedang sakit". Mila mengangguk. "Nona mau dibuatkan makanan?"


"Tidak Bi, saya masih kenyang, Bibi sedang apa?" mendekati Bi Lina.


"Lagi buat daftar belanjaan Nona, Bibi mau kepasar" jawabnya sambil menulis beberapa kebutuhan dapur yang sudah habis.


"Pasar? Aku ikut ya Bi, aku akan bantu Bibi belanja" dengan antusiasnya.


"Jangan Nona, biar Bibi saja, dipasar nanti sangat kotor" tolak Bi Lina dengan halus.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bi, aku juga sering kepasar kok".


"Tapi kalau Tuan nanti marah bagaimana?"


"Tidak akan, Akbar lagi keluar, lagi pula ini kan kemauan ku, tunggu ya Bi, aku ganti baju dulu". Mila berlari ke kamar lalu mengganti bajunya. Bi Lina pun tidak bisa menolaknya lagi.


Mereka kepasar, belanja bersama kebutuhan pasar. Mila membantu Bi Lina membawa barang belanjaan, tapi Bi Lina menolaknya, namun karena Mila terus memaksa, akhirnya Bi Lina pun menyerahkan sebagian barang belanjaan untuk dibawa Mila.


Mila dan Bi Lina mengelilingi pasar sambil memeriksa daftar belanjaan yang dibuat Bi Lina. Setelah semuanya lengkap, mereka kembali kerumah.


Sesampainya dirumah, Mila membantu Bi Lina menyusun barang belanjaan, dan lagi-lagi Bi Lina menolaknya.


"Bi, jangan menolak terus dong, aku menganggap Bibi sebagai keluarga ku disini, jadi kita harus saling membantu" keluh Mila dengan sedikit kecewa dengan sikap Bi Lina yang terus menolak bantuannya.


"Maaf Nona, tapi saya tidak enak, Nona terlalu banyak membantu pekerjaan saya" jawab Bi Lina sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu sekarang giliran Bi Lina yang bantu saya"


"Bantu apa Nona ?" mulai mengangkat wajahnya.


"Bantuin aku masak makanan kesukaan Akbar". Bi Lina tidak langsung menjawab. "Mau ya Bi" bujuknya.


"Baiklah Nona"


"Asyik" serunya. "Akbar suka makan apa Bi?"


"Sebenarnya Tuan bukan orang yang pemilih dengan makanan, apapun yang Bibi masak selalu dimakan sama Tuan" jawab wanita paruh baya itu. "Tapi Tuan paling suka dengan sop bening gitu Nona"


"Kalau begitu, kita masak sop ayam aja Bi" sambil melirik ayam yang tadi mereka beli dipasar.


Setelah mempersiapkan semua bahan, Mila pun mulai memasak sesuai arahan dari Bi Lina. Sama-sama bertempur didapur membuat mereka kian dekat, Bi Lina pun sudah tidak canggung lagi dengan kehadiran Mila.


Saking semangatnya memasak, mereka sampai tidak sadar kalau hari sudah sore. Bi Lina melihat jam yang sudah menunjukkan jam 5 sore.


"Nona, sisanya biar Bibi saja, ini sudah jam 5, sebaiknya Nona mandi, mungkin Tuan akan pulang sebentar lagi".


"Sudah jam 5 ya?" sambil melirik jam dinding. "Tapi nanggung nih Bi".


"Biar Bibi saja Nona, kan tinggal dituangkan ke mangkok saja, ini sudah matang kok Nona" sambil melihat sop yang berada di panci.


"Baiklah, aku tinggal ya Bi".


Mila pun meninggalkan dapur, dan naik ke lantai 2, dia berjalan memasuki kamar, dan mendapati kamar yang masih kosong.


"Kenapa Akbar belum pulang?" gumamnya.


Mila memeriksa HPnya, tidak ada pesan dari Akbar. Mila menghela nafas lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Selesai mandi, Akbar belum juga pulang. Mila sedikit kecewa, karena Akbar yang belum pulang juga, padahal tadi dia sudah berjanji hanya sebentar.


Mila duduk ditepi tempat tidurnya, dan kembali melanjutkan membaca novelnya.


Satu jam berlalu, Mila menutup novelnya dan melirik jam di atas meja.


Pintu kamar terbuka, sosok yang ditunggu akhirnya datang. Akbar menutup kembali pintu dan berjalan menghampiri Mila yang menyambutnya dengan wajah cemberut.


Akbar yang menyadari kesalahannya langsung memeluk Mila dan mencium pipinya.


"Sayang, maaf, mereka menahan ku, aku dipaksa untuk tetap berada disana" ucapnya dengan senyum memamerkan lesung pipinya.


"Menyebalkan, aku menunggu mu sedari tadi" sembari mencubit lengan Akbar.


Akbar meringis kesakitan.


"Itu hukaman untuk mu karena pulang telat". Menatap Akbar kesal namun tersenyum setelah beberapa detik kemudian. "Kamu sudah makan? Aku memasak untuk mu" ucapnya dengan semangat.


"Benarkah? Kebetulan sekali aku sangat lapar" jawab Akbar, padahal dia sudah makan dengan Nando dan beberapa temannya di Cafe tadi. "Kamu masak apa?".


"Aku masak sop dengan Bi Lina, katanya kamu suka sop bening"


"Iya aku suka sop, kalau begitu aku mandi dulu, baru kita makan malam bersama". Mila mengangguk, dan Akbar bergegas ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Akbar mengenakan baju yang sudah Mila siapkan di atas tempat tidur. Setelah itu mereka sama-sama ke dapur untuk makan malam.


Mila menyiapkan makanan Akbar, mengambilkan nasi, sop dan tambahan lainnya di piring milik Akbar.


"Selamat menikmati" Ujarnya setelah mengambil makanannya juga.


"Bagaimana?". Menanti komentar Akbar yang sudah beberapa suap memasukkan makanan ke mulutnya.


"Enak, aku tidak tahu kamu bisa masak seenak ini" puji Akbar.


"Tentu saja, Bi Lina mendampingi ku memasaknya dari awal" balas Mila disertai tawanya.


"Tetap saja ini masakan mu".


"Yah begitu lah" mulai sombong. "Oh iya, Maxwell kapan balik ke rumah, aku merindukannya".


"Besok dia akan kembali, dia pasti senang melihat mu ada dirumah"


"Aku sudah tidak sabar menunggunya" sambil terus menyantap makanannya. "Besok Bunda juga akan kembali ke panti" lanjutnya.


"Kalau begitu kita harus menjemput Mona untuk tinggal dengan kita disini"


"Mona boleh tinggal disini?". Tidak menyangka Akbar akan mengatakan itu. Mila tidak pernah berpikir kalau Akbar akan mengajak Mona ikut dengan mereka, selama ini dia sudah berusaha memikirkan akan dipindahkan kemana Mona, karena dia tidak tega kalau harus membiarkan Mona tinggal sendiri dikontrakannya yang lama.


"Tentu saja boleh, dia adik mu, adik ku juga, kamu pikir aku akan membiarkannya tinggal sendirian" jawab Akbar.


"Baiklah besok kita menjemputnya". Lega mendengar pernyataan Akbar, kini dia tidak perlu mengkhawatirkan Mona lagi.


Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar. Mila duduk berselonjor diatas tempat tidur sambil mengirim pesan pada Mona, Mila memberitahukan kalau dia dan Akbar akan menjemputnya besok. Selesai mengirimi Mona pesan, Mila kembali mengirim pesan di grup.

__ADS_1


Hey, ternyata selama ini Nayra berpura-pura jadi jomblo.


Beberapa saat kemudian, Nayra membalas pesannya.


Bicaralah yang jelas, aku tidak mengerti. Nayra.


Diam-diam kamu berhubungan dengan Nando, kamu berutang penjelasan pada kami. Mila


Pantas saja Nayra meninggalkan ku selesai pesta kemarin, rupanya dia ingin melepas rindu dengan Nando. Irene.


Kalian bicara apasih, itu tidak benar. Nayra berusaha menyangkal.


Masih berani mengelak? Jadi kapan kalian akan menikah, aku dengar Nando ingin melamar mu. Mila sengaja memancingnya.


Bentar lagi sebar undangan dong. Balasan Irene dengan emogi tertawa.


Jangan buat berita konyol Mila, itu tidak benar. Balas Nayra.


Mila tertawa membaca setiap balasan pesan dari kedua sahabatnya itu, hingga Akbar yang sedang memeriksa laporan pekerjaan di laptopnya jadi tidak fokus. Akbar melirik Mila yang masih sibuk dengan Hpnya, dia mulai meletakkan laptopnya dan menghampiri Mila yang duduk di atas tempat tidur.


Akbar meraih ponsel yang ada ditangan Mila dan memasukkannya kedalam laci.


"Akbar, aku sedang berkirim pesan dengan Nayra dan Irene" merengek minta ponselnya dikembalikan.


"Waktu main Hpnya sudah habis". Akbar mulai berbaring dan mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur.


"Sejak kapan ada aturan seperti itu? Akbar, ayo kembalikan ponsel ku" menarik-narik tubuh Akbar.


"Mulai sekarang aturan itu berlaku, tidak ada yang boleh pegang HP setelah berada ditempat tidur" lalu membalas menarik tubuh Mila dan langsung mendekapnya.


"Akbar, aku tidak bisa bernapas" teriak Mila.


"Aishh kamu sangat berisik" melepaskan tangannya, dan membiarkan Mila tidur disebelahnya. "Ayo tidur lah" ajak Akbar sembari mengangkat kepala Mila dan menyelipkan bantal dibawahnya. "Tidurlah, besok kita akan menjemput Mona dan Maxwell" ucapnya lalu mengecup kening Mila dengan lembut.


"Tapi aku belum mengantuk" jawab Mila.


"Hmm... aku juga belum mengantuk, bagaimana kalau...." Akbar mendekatkan wajahnya sambil mengelus pipi Mila dengan jemarinya. Menyentuh pipinya lalu turun ke bibirnya. "Mila, apa kamu sudah siap untuk melakukannya?". Akbar menelan salivanya dengan kasar menantikan jawaban Mila.


Mila terdiam menatap Akbar yang berada persis diatas wajahnya, Mila menatap Akbar dengan lekat dan perlahan menganggukkan kepalanya.


"Kamu yakin Mila? Sekarang aku sungguh tidak sanggup menahannya". Mila kembali menganggukkan kepalanya.


"Tapi...." Mila menahan tubuh Akbar yang semakin mendekat.


"Kenapa?" bisik Akbar.


"Ini yang pertama kalinya untuk ku, tolong lakukan dengan pelan-pelan" ucapnya malu-malu.


Akbar tersenyum sekilas lalu kembali mengelus pipinya.


"Tentu saja, kita akan melakukannya dengan pelan-pelan, ini juga yang pertama untuk ku" jawab Akbar.


"Mana mungkin" dengan dahinya yang berkerut Mila memiringkan wajahnya untuk melihat dengan jelas wajah Akbar. "Kamu sudah pernah menikah, bagaimana mungkin ini masih yang pertama bagimu"


"Aku kan sudah bilang, aku menikahi Rania hanya untuk menggantikan tanggung jawab Kakak ku, hanya itu, tidak lebih"


"Tapi bagaimana bisa, bukankah kalian tinggal serumah setelah menikah?" meragukan ucapan Akbar.


"Kami tinggal serumah, tapi kami tidur dikamar yang berbeda, aku tidak pernah tidur satu ruangan dengannya, Mila, percayalah kamu satu-satunya wanita dihati ku, hanya kamu" ucap Akbar dengan sungguh-sungguh. "Lagi pula mana mungkin aku menyentuh milik kakak ku" sambungnya dengan mencubit pipi Mila. "Bagiku Rania hanyalah Ibunya Maxwell, dan wanita yang dicintai Kakak ku".


"Tapi... "


Satu kecupan mendarat dibibir Mila.


"Kamu sangat pandai mengulur waktu" bisik Akbar lalu kembali mencium bibir Mila. Dengan penuh gairah Akbar melakukan aksinya yang sempat tertunda.


Akbar melepas satu per satu kain yang menempel ditubuh istrinya itu, dan dengan lembut menjamah seluruh isi tubuhnya. Mila yang polos berusaha membalas ciuman Akbar.


Beberapa kali Mila mencubitnya karena merasakan sakit, namun Akbar tidak mempedulikan cubitan itu lagi, ia terus melakukan aksinya. Malam yang panjang pun mereka lewati bersama dengan penuh kenikmatan. Keringat bercucuran di tubuh keduanya, hingga akhirnya mereka sama-sama mengakhirinya.


Mila tertidur lebih dulu setelah mereka mengakhirinya. Akbar memeluk tubuh Mila dan mendekapnya didadanya yang bidang, menarik selimut dan menutupi tubuh polos Mila. Terakhir dia mencium puncak kepala Mila lalu memejamkan matanya mengikuti Mila untuk tidur.


*********


Matahari mulai menampakkan sinarnya, dan mengintip malu-malu dibalik tirai putih kamar Akbar dan Mila. Mila terbangun setelah merasakan silau dari kaca jendela kamar.


Mila membuka mata dan mendapati dirinya yang berada dipelukan Akbar, tubuhnya masih polos tanpa mengenakan baju sehelai pun. Mila menatap wajah Akbar yang terlihat masih tidur nyenyak. Ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dan berniat meninggalkan tempat tidur, namun dengan cepat tangan Akbar menahannya.


"Kamu mau kemana?" ucap Akbar lalu membuka matanya.


"Ternyata kamu sudah bangun" membungkus tubuhnya dengan selimut yang sedari tadi dia tarik.


"Jangan pergi, temani aku sebentar lagi" meraih tubuh Mila dan kembali mendekapnya di dada. Akbar kembali memejamkan matanya.


"Akbar, ini sudah pagi, aku ingin mandi"


"Kalau begitu kita mandi bersama"


"Tidak mau" teriak Mila lalu mendorong tangan Akbar dari tubuhnya.


Akbar terperanjak, dia bangun lalu memiringkan tubuh menghadap Mila. "Kenapa ? Kenapa tidak mau ? Atau kamu mau kita melakukannya lagi?" dengan senyum penuh maksud.


"Tidak" teriak Mila. "Aku ingin mandi sendiri". Lalu turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi dengan membawa selimut yang ia bungkus ditubuhnya.


"Hati-hati, jangan lari seperti itu, nanti kamu bisa jatuh" teriak Akbar memperingati. "Padahal tadi malam dia tidak malu sama sekali, kenapa sesudah pagi jadi malu seperti itu" keluh Akbar dengan menggelengkan kepalanya.


-


-


-

__ADS_1


Maaf ya kalau penggunaan bahasanya kurang pas, maklumlah aku juga lagi belajar, dan baru pertama kali buat cerita seperti ini.


Jangan lupa like dan votenya ya, terimakasih 😊😊😊


__ADS_2