
Setelah melamar Mila secara pribadi, dua hari setelahnya lamaran resmi pun diadakan di rumah Mila. Kali ini Akbar membawa kedua orang tuanya dan beberapa keluarga dekat yang mendampinginya. Si kecil Maxwell pun ikut serta. Anak itu terlihat sangat bersemangat bahkan semangatnya mengalahkan Daddynya, dan ia terlihat lucu ketika ikut berdiri disamping Akbar. Nayra dan Mona tertawa terus melihatnya.
Acaranya cukup sederhana, dan Mila juga hanya mengundang teman dekatnya saja. Nayra, Irene, Ifan, Yuda, dan Parto ikut menyaksikan lamaran mereka.
Tanggal pernikahan langsung ditetapkan, mereka memilih minggu terakhir dibulan ini, atau tepatnya dua minggu setelah lamaran.
Setelah acara lamaran selesai, Mila dan Akbar ikut berkumpul bersama teman-temannya di teras rumah. Sementara Maxwell masih bermain dengan Mona dan Bunda Rita.
"Selamat untuk kalian berdua, melihat kalian akan segera menikah, aku jadi ingin menikah juga" ucap Yuda yang langsung disambut tawa oleh semuanya.
"Eh tapi benar loh, ini pertama kalinya aku melihat langsung orang lamaran, dan semoga saja setelah ini giliran aku yang lamaran." sambungnya lagi dengan percaya dirinya.
"Emang kamu punya yang mau dilamar." Ucap Parto dengan langsung mematahkan harapannya. "Lamaran tidak akan terjadi kalau tidak ada calonnya" lalu tertawa puas.
"Sialan kau"
"Tapi ada satu hal Mila yang membuat aku sangat penasaran, bagaimana dulu Akbar mengajakmu pacaran ?" Pertanyaan Ifan membuat mereka serentak menatap Mila.
"Ahh itu kenangan yang tidak ingin aku ingat" jawab Mila sambil mengibaskan tangannya.
"Kenapa? Ceritakan saja pada mereka bagaimana romantisnya aku dulu" sela Akbar.
"Romantis apanya?. Kalian tahu bagaimana dia menembak ku, Mila aku menyukai mu, apa segitu bodohnya kamu sampai tidak sadar aku menyukai mu" sambil menirukan gaya bicara Akbar. "Dan dia ngomong seperti itu dengan emosi, saat itu aku sampai bingung dia sedang menyatakan perasaannya atau sedang memarahi ku" jawaban Mila membuat mereka kembali tertawa.
"Yang penting kan aku diterima." ucap Akbar dengan bangganya.
"Iya, itu yang penting" sahut Yuda.
"Lalu kenapa dulu kamu tidak pernah menemui Mila?" Pertanyaan Nayra membuat mereka semua terdiam.
Hening sesaat, mereka menunggu jawaban dari Akbar. Sepertinya Nayra belum sepenuhnya bisa menerima Akbar, masih banyak hal yang membuatnya masih dendam pada Akbar karena telah sempat meninggalkan Mila.
"Awalnya aku memang tidak mau bertemu dengan Mila, aku tidak sanggup melihatnya, bahkan aku menghindari tempat yang kemungkinan bisa berjumpa dengannya, tapi semakin hari aku semakin memikirkannya, hingga akhirnya aku memutuskan untuk melihatnya dari jauh" Akbar menatap Mila yang sedari tadi memperhatikannya.
"Tapi, aku tidak bisa menemukan Mila dimana-mana, aku menunggunya di depan kampus, dia tidak pernah muncul, aku mencarinya ke kontrakan juga tidak ada, dan terakhir aku tahu kalau Panti di gusur, saat itu aku benar-benar kehilangan Mila, tidak lama kemudian Maxwell pun lahir dan perhatian ku mulai teralihkan padanya, aku mulai sibuk dengan Maxwell, hingga akhirnya kami dipertemukan lagi " kenang Akbar sambil menyisipkan sebuah senyuman diakhir kaliamatnya.
Apa yang dikatakan Akbar memang benar adanya, dia mencari Mila namun tidak menemukannya sama sekali, karena saat itu Mila mengambil cuti kuliah dan ikut dengan anak panti pindah ke pinggir kota.
"Yah, itu semua sudah berlalu, kini kalian sudah bersama lagi, dan akan segera menikah, yang lalu biarlah berlalu" Parto dengan kata bijaknya.
"Benar, masa lalu biarlah berlalu" ulang Ifan. Irene langsung menatapnya setelah berkata demikian.
*********
Karena waktu yang cukup singkat, akhirnya Mila dan Akbar memutuskan menggunakan jasa WO untuk membantu mereka mempersiapkan pernikahan.
Mulai dari gaun pengantin, catering sudah sama-sama mereka putuskan, dan untuk riasan Mila mempercayakannya kepada Irene. Hingga tiba dipemilihan konsep pernikahan, terjadi perbedaan pendapat diantara Mila dan Akbar.
Akbar menginginkan konsep glaumor didalam gedung mewah, sementara Mila menginginkan konsep outdoor yang simple.
"Mila, konsep outdoor itu tidak menarik, kita didalam gedung saja" ucap Akbar mulai kesal.
"Tidak mau, dari dulu aku sudah mengidamkan konsep pernikahan outdoor" tolak Mila dengan tegas. "Kalau tidak mau dengan konsep pilihan ku, kamu buat saja sendiri acara mu didalam gedung" ancam Mila.
__ADS_1
"Yang benar saja, mana ada pernikahan yang kedua pengantinnya berada ditempat berbeda" batin Akbar menahan rasa kesalnya. "Baiklah, kita akan pakai konsep outdoor." Akhirnya menuruti keinginan Mila.
Konsep outdoor mereka putuskan untuk acara pernikahan mereka. Mila senangnya bukan main, dia tersenyum lebar setelah mendapat persetujuan dari Akbar.
Hari yang ditunggu pun tiba, konsep pernikahan outdoor Mila dan Akbar digelar sederhana sesuai keinginan Mila. Semua tamu undangan merupakan keluarga dekat dari kedua mempelai. Keluarga Rio pun turut hadir dipernikahan itu. Rio datang bersama Papanya dan juga Putri, istrinya. Keluarga dari mantan istri Akbar juga terlihat datang menghadiri pernikahannya. Namun Rania sang mantan istrinya tidak bisa hadir karena masih di Amerika.
Selain keluarga dekat, teman-teman mereka juga pastinya diundang walaupun tidak semuanya. Selain Nayra dan Irene yang pastinya hadir, beberapa temannya yang lain semasa di SMA Pelita juga mulai berdatangan, Yuda dan Parto datang bersamaan, sementara Ifan datang dengan pacarnya. Tio si ketua kelas mereka pun hadir memenuhi undangan Mila, dan semua teman sekantor Mila juga diundang, namun tidak semuanya bisa hadir.
Setelah ijab kabul selesai, dengan didampingi Nayra dan Irene, Mila pun mulai memasuki pelaminan yang dimana Akbar sudah terlebih dulu disana. Begitu Mila keluar, bukan hanya Akbar yang terpesona melihatnya, namun seluruh tamu undangan juga sangat takjub melihat kecantikan mempelai perempuan. Rio yang sedari tadi memperhatikan Mila langsung mendapat cubitan dari Putri dilengannya.
Akbar tersenyum menyambut kedatangan Mila, dia meraih tangan Mila lalu mencium telapak tangannya.
"Istriku sangat cantik" bisiknya.
Mila tersipu malu mendengar sebutan istri yang ditujukan padanya.
Bunda Rita yang duduk paling depan mulai meneteskan air mata saking bahagianya melihat Mila yang kini telah menikah. Mona yang duduk bersebelahan dengan Milva juga ikut menangis haru melihat kebahagiaan Mila.
Milva menyodorkan beberapa lembar tissu kepada Mona.
"Pakai ini, riasan mu nanti akan rusak kena air mata mu". Entah apa yang membuatnya jadi perhatian seperti itu, namun Mona pun langsung menerimanya.
Dipenghujung acara, setelah sebagian tamu pulang, teman-teman Mila mulai mendekatinya dan bergantian mengucapkan selamat pada mereka.
"Kalau dulu aku masih bisa mengerti alasan kamu mau berpacaran dengan Akbar" ucap Tio begitu berada dihadapan Mila. "Tapi sekarang, aku sangat tidak mengerti apa yang membuat mu mau menikah dengan Akbar, masalah materi, uang ku juga banyak, tapi kenapa kamu memilih Akbar yang duda dan punya anak". Nyalinya besar juga berani mengatakan seperti itu.
"Hei! Kau mau mati ya" Akbar yang langsung emosi. Namun dengan sigap Mila menahannya.
"Justru itu adalah kelebihan Akbar, karena statusnya yang kini seorang duda anak satu, aku semakin yakin kalau dia akan jadi ayah yang baik untuk anak-anak ku kelak" jawaban Mila membungkam mulut Tio.
"Mulai sekarang aku serahkan Mila sepenuhnya padamu, awas saja kalau masih berani meninggalkannya" ancam Nayra.
"Tidak akan, mulai sekarang aku tidak akan melepaskannya" jawab Akbar. "Terima kasih sudah menjaga Mila selama ini" sambungnya.
"Sudah ku bilang, aku menjaganya bukan untukmu"
"Tetap saja aku sangat berterima kasih, dan aku sudah menyiapkan hadiah spesial untuk mu"
"Hadiah? Lupakan, aku tidak akan menerima apa pun darimu" langsung menolaknya.
"Ahh sayang sekali, padahal hadiahnya sudah hampir sampai, dibelakang mu"
"Apaan? " kesal tapi berbalik juga.
Nando berjalan kearahnya, tersenyum kepadanya dan berhenti tepat dihadapannya.
"Yakin masih mau menolak hadiahnya?" bisik Mila dari belakang.
Nayra tidak menjawabnya, jangankan untuk bersuara, mengedipkan matanya saja kini dia tidak bisa.
"Hai Nayra" sapa Nando.
"Ha.. hai juu, juga" balasnya kaku.
__ADS_1
"Kemarilah Nando, jangan dekat-dekat dengannya, barusan dia bilang tidak mau dengan hadiah yang akan kuberikan" sindir Akbar sembari menarik tubuh Nando.
Nayra diam mematung tidak tahu harus berbuat apa. Nando yang muncul tiba-tiba membuat hatinya bergetar.
Semua sudah siap untuk berfoto, sementara Nayra belum juga bergerak dari tempatnya. Irene pun berjalan mendekatinya.
"Hei, kau sedang apa? Ayo ikutlah berfoto" ajak Irene sembari menariknya untuk ikut bergabung dengan mereka.
************
Semua tamu sudah pulang, keluarga dan teman-teman Mila pun sudah berpamitan sedari tadi. Bunda Rita dan Mona sudah kembali kerumah diantar oleh Milva, sementara Maxwell dibawa oleh orang tuanya Rania, mereka meminta agar Maxwell tinggal dengan mereka untuk beberapa hari kedepan karena Maxwell memang sudah lama tidak menginap dirumah mereka. Sekarang Mila duduk diatas tempat tidur setelah mandi dan berganti baju, sedangkan Akbar masih dikamar mandi membersihkan tubuhnya.
Mila mulai resah memikirkan harus ngapain setelah Akbar selesai mandi.
"Aduh, apa aku pindah kamar aja kali ya". Ide konyolnya saking tidak tahunya harus berbuat apa. "Tapi pasti dia juga akan mencari ku". Sangat frustrasi, dan akhirnya meraih HPnya dan mengirim pesan di grup. "Kasih saran dong, aku harus ngapain nih? Akbar lagi mandi dan sebentar lagi akan keluar" tulisnya.
Irene mulai mengetik balasan, dengan tidak sabar Mila menunggunya.
Kasih aku saran juga, bagaimana aku mengatasi ini, dengan emogi menangis. Balasan Irene dengan foto undangan pernikahan dari Ifan dan pacarnya.
"Irene pasti sedang menangis, tidak akan ada gunanya meminta bantuan padanya" batin Mila. "Nayra kemana? Kenapa tidak membalas". Mulai mencari kontak Nayra lalu menghubunginya.
"Halo Nay" begitu terhubung.
"Apaan?" jawab Nayra dari seberang sana.
"Aku harus ngapain ni, Akbar sebentar lagi keluar dari kamar mandi"
"Ya mana saya tahu, kamu pikir aku pernah jadi pengantin, udah ya, aku lagi sama Nando, jangan ganggu, oke" lalu mengakhiri teleponnya.
"Nay.... Nayra!" tidak ada gunanya karena panggilan sudah terputus. "Nayra sialan" umpatnya. Mila semakin resah apalagi suara air dari dalam kamar mandi mulai tidak terdengar. "Akbar sudah selesai mandi". Pintu kamar mandi mulai terbuka, Mila langsung merebahkan tubuhnya ketempat tidur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Akbar keluar dari kamar mandi, dan memergoki Mila yang berpura-pura tidur.
Akbar tersenyum melihat kelakuan istrinya itu. Dia berjalan menuju lemari baju dan meraih baju kaos warna hitam lalu mengenakannya.
Akbar menaiki tempat tidur, lalu memeluk tubuh Mila dari belakang.
"Aku tahu kamu belum tidur" bisiknya.
.
.
.
.
Ahhh nanggung nih, penasaran !!!
Hahahaha Aku juga penasaran nih gimana kelanjutannya. Ikuti terus ya, dan jangan lupa like beserta votenya 😊😊😊.
Oh ya, buat teman-teman yang mau lihat visual Akbar dan Mila, silahkan follow instagram ku,
__ADS_1
Sampai jumpa diepisode selanjutnya 🤗🤗🤗