
Mila, Nayra dan Irene sama-sama berlari memasuki toko buku. Mereka sudah tidak sabar berburu buku yang ada ditoko itu. Meski tertunda karena kejadian kemarin, hari ini mereka masih beruntung karna promonya diperpanjang sampai hari ini. Mereka begitu antusias mencari buku, berlari dari rak yang satu ke rak yang lain, bahkan Nayra sampai menerobos beberapa orang yang didepannya, hingga membuat orang yang disekitarnya merasa kesal. Mila menuju rak buku fantasi dan sibuk mencari buku yang dia inginkan, mengamati satu per satu buku yang dihadapannya dengan seksama.
"Aku menemukannya" teriak Mila dengan girang begitu menemukan novel kesukaannya. Nayra dan Irene pun segera menghampirinya.
"Awaken? cerita apa ini? " kata Irene sambil memperhatikan buku yang ditangan Mila.
"Ini novel kesukaan ku, ini kelanjutan dari Abandon dan Underworld" jawab Mila dengan semangat. "Karya Meg Cabot" sambungnya lagi.
"Bukannya novel ini sudah lama? " kata Nayra seraya mengambil novel itu dari tangan Mila, lalu membolak-baliknya.
"Iya, tapi aku baru membaca sampai buku yang kedua, aku sudah lama mengincar buku ini" jawab Mila lalu kembali mengambil novel itu dari tangan Nayra, seolah takut kehilangan. Mila pun segera menuju kasir untuk membayar bukunya, yang diikuti Irene dan Nayra.
"Aku tidak mengerti, kenapa dia begitu menyukai buku fantasi" keluh Nayra sambil berjalan mengikuti sahabatnya itu dari belakang.
Antrian dikasir lumayan panjang, hal ini dikarenakan banyaknya pengunjung yang datang ke toko ini karna promonya yang berakhir hari ini. Semuanya berdiri dengan buku-buku ditangan mereka.
Selesai mengantri dan membayar buku, Mila dan kedua sahabatnya memilih langsung pulang karna ternyata jam sudah menunjukan pukul 16.45, saking asyiknya berburu buku mereka sampai lupa waktu, bahkan Irene sudah berungkali ditelepon supirnya menanyakan kapan dirinya akan pulang. Usai Irene pulang dengan supirnya, Nayra dan Mila pun segera menuju keparkiran tempat motornya berada. Seperti biasa Nayra mengantarkan Mila kepanti, lalu pulang kerumahnya.
"Daa... " seru Mila begitu turun dari motor Nayra. "Hati-hati ya" sambungnya lagi sambil melambaikan tangannya kearah Nayra, sampai Nayra benar-benar hilang dari pandangannya barulah dia masuk. Mila berjalan memasuki panti dengan senyum mengembang dibibirnya, dia begitu senang karna sudah mendapatkan novel kesukaannya, dan sudah tidak sabar untuk membacanya.
"Bunda... Mila pulang" teriaknya begitu memasuki panti.
"Dari mana saja kamu" bentak seseorang yang membuat Mila terkejut. Mila terdiam melihat Akbar yang dengan santainya duduk manis di sofa ruang tamu sambil menatapnya dengan tatapan yang mengesalkan bagi Mila.
"Kenapa kamu ada disini? " ucap Mila dengan dahi yang berkerut.
"Menunggumu, apalagi?" balasnya santai lalu beranjak mendekati Mila.
"Menungguku? "
"Hmm..." memperhatikan buku yang ditangan Mila, lalu mengambilnya. "Awaken? novel apa ini? "
"Ini novel kesukaan ku" jawabnya dan langsung merampas novel itu dari tangan Akbar.
"Mila, kamu sudah pulang" kata Bunda Rita yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Iya bunda"
"Ganti seragam mu dan cepatlah mandi, lalu kita makan malam bersama dengan nak Akbar, dia sudah menunggu mu dari beberapa jam yang lalu" kata bunda Rita dengan lembut.
"Untuk apa menunggu ku, aku tidak mengundangnya" jawab Mila yang langsung mendapat satu cubitan dilengannya dari bunda Rita. "Aww....sakit bunda " keluh Mila sambil menekan bagian lengannya yang terkena cubitan bunda Rita.
"Siapa yang mengajarimu seperti itu, kamu harus sopan dengan tamu, terlebih nak Akbar ini adalah tamu kamu" kata bunda Rita dengan memandang kesal Mila.
"Tamu apanya" ucap Mila pelan namun tetap terdengar jelas ditelinga Akbar dan bunda Rita. Akbar tersenyum mendengar ucapan Mila, sementara bunda Rita langsung menatapnya dengan mata yang membulat siap menerkam, melihat itu Mila langsung bergegas masuk ke kamarnya. Sesampainya dikamar Mila meletakkan tas dan novel yang baru dia dapatkan di toko buku tadi. Sebenarnya Mila ingin segera membaca novel tersebut, namun dia mengurungkan niatnya itu, karna bunda Rita pasti akan memarahinya kalau tidak segera tiba dimeja makan untuk makan malam bersama, ditambah lagi dengan adanya Akbar yang membuatnya harus lebih cepat lagi keluar dari kamarnya.
"Kenapa ada Akbar, mau ngapain lagi dia? Menyebalkan sekali.....padahal aku sudah tidak sabar untuk membacanya" sambil mengelus novelnya. Mila bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket karna keringat seharian. Tidak butuh waktu lama, Mila pun sudah selesai mandi dan mengenakan baju rumah. Kini dia sibuk berkaca di depan cermin.
Tok.. tok...
Pintu kamar pun terbuka, lalu terlihat Mona berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Kak, bunda sama bapak sudah menunggu, kak Akbar juga sudah lapar, kenapa kakak lama sekali" kata Mona dengan muka cemberut.
"Sebentar lagi kakak selesai, kamu duluan saja" balasnya tanpa menatap Mona.
"Baiklah.. " lalu Mona kembali ke meja makan. Mila menyisir rambutnya dan mengoleskan bedak tipis diwajahnya. Setelah selesai Mila tersenyum melihat bayangannya dicermin.
"Kenapa aku merasa senang seperti ini" menggeleng kepala. "Tidak mungkin aku senang karna dia, tidak...tidak, aku senang karna aku sudah mendapatkan novel kesukaan ku" berusaha menghilangkan Akbar dari pikirannya.
Mila keluar dari kamarnya dan menuju meja makan. Disana semua anak panti sudah berkumpul begitu juga dengan Bunda Rita dan Pak Dedi yang duduk bersebelahan, sementara Akbar berada disamping Mona.
"Kakak kenapa lama sekali" keluh Mona begitu melihat Mila.
"Maaf ya membuat kalian menunggu" lalu duduk di kursi kosong disisi kanan Mona.
"Lain kali kakak tidak perlu berdandan, hanya untuk makan saja kenapa harus berdandan, kami jadi menunggu lama" kata Mona yang membuat Pak Dedi dan Akbar tertawa.
"Mona... kakak tidak berdandan, kakak hanya mandi" balas Mila dengan menahan malu karna Akbar ikut menertawakannya.
"Kalau tidak berdandan kenapa kakak memakai bedak tebal" sambung anak yang lainnya lagi.
"Tidak tebal, hanya memakai bedak sedikit saja" sambil memegang kedua pipinya.
"Apa karna ada kak Akbar ya?" kata yang lainnya lagi. "Ciee.. cieee... " sorak anak-anak yang membuat wajah Mila memerah menahan malu, sementara Akbar tersenyum melihat Mila yang menundukkan pandangannya.
"Sudah... sudah, sebaiknya kita segera makan, nanti makanannya keburu dingin" kata Pak Dedi menenangkan. "Mona, kamu pimpin doanya ya". Mona pun mengangguk dan mulai membaca doa. Mereka makan bersama tanpa ada yang bersuara lagi, hanya bunyi detingan piring sesekali yang terdengar.
Selesai makan anak-anak meninggalkan meja makan setelah sebelumnya menyusun piring masing-masing. Mila membantu bunda Rita membersihkan meja makan, selesai itu barulah dia menemui Akbar yang kini berada di teras depan duduk dan mengobrol bersama pak Dedi, namun begitu Mila datang pak Dedi pun beranjak dari duduknya.
Mila mengangguk, kemudian duduk disamping Akbar setelah Pak Dedi benar-benar masuk kedalam. Akbar memperhatikan Mila yang kini duduk disampingnya, dia menggeser sedikit badannya untuk bisa lebih dekat dengan Mila, sontak hal itu membuat Mila terkejut.
"Mau ngapain kamu? " bentak Mila sambil menjauhkan badannya.
"Tidak, aku hanya mau melihat bedak tebal diwajah mu" goda Akbar dengan senyum yang seperti biasa memamerkan lesung pipinya. Mila tidak menjawab, namun memberikan Akbar tatapan tajam lalu memalingkan wajahnya.
"Kalian pergi kemana? tadi aku ke kelasmu, tapi kata Ifan, kamu dan teman-temanmu sudah pulang" kali ini dengan wajah serius.
"Ke toko buku" jawabnya singkat.
"Lalu? "
"Lalu apa?" jawab Mila dengan menyergitkan dahinya.
"Lalu kemana lagi ?"
"Tidak ada, kami hanya ke toko buku saja"
"Selama itu ke toko buku ?" jawab Akbar seolah tidak percaya dengan jawaban Mila.
"Iya, kami hanya ke toko buku, selesai itu kami langsung pulang, kami tidak pergi kemana-kemana setelah itu" jawab Mila mulai meninggikan suaranya. "Tunggu... kenapa juga aku harus menjelaskan itu sama mu" mulai kesal sendiri dengan penjelasannya. "Terserah kamu percaya atau tidak, aku tidak peduli" lalu kembali memalingkan wajahnya melihat kesembarangan arah. Akbar tersenyum lagi melihat tingkah Mila yang dia rasa sangat lucu.
"Aku percaya" jawab Akbar
__ADS_1
"Aku tidak peduli" tanpa menatap Akbar.
"Baiklah... "
Sesaat suasana hening tanpa ada obrolan diantara mereka berdua. Akbar terus memandang Mila, sementara Mila masih saja tidak mau melihatnya.
"Kenapa kamu datang kesini ?" kata Mila memulai pembicaraan.
"Pengen aja" jawabnya santai
"Aku serius Akbar" kali ini memberanikan diri menatap Akbar.
"Aku juga serius, aku datang kesini karna pengen aja...". Mila terlihat mulai kesal dengan jawaban Akbar. "Pengen aja liat kamu" sambungnya. Mila terlihat tersenyum mendengar jawaban Akbar.
"Bagaimana kabar mu?" kata Akbar dengan suara lembutnya.
Mila tidak langsung menjawab, dia sejenak memandang kedua mata Akbar, lalu menundukan pandangannya. "Aku baik-baik saja" jawabnya kemudian.
"Mila...hari itu aku meninggalkanmu diparkiran, aku minta maaf untuk hal itu" ucapnya tulus dan benar-benar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, aku juga sudah melupakannya"
"Oh ya, berarti mulai besok kamu akan pulang denganku lagi" langsung membuat kesepakatan sendiri.
"Kata siapa aku mau ?" memandang Akbar dengan sinis. "Aku tidak akan mau lagi pulang denganmu"
"Oke, besok aku akan menjemput mu ke kelas" ucapnya santai lalu beranjak dari duduknya. "Aku mau pulang" sambungnya lagi.
"Aku tidak mau pulang denganmu" jawab Mila dengan ikut beranjak dari duduknya.
"Aku tidak mengajakmu, aku akan pulang sendiri ke rumah ku" jawabnya sambil mengenakan jaketnya.
"Bukan sekarang , maksud ku besok sepulang sekolah" mulai kesal dan meninggikan suaranya.
"Pelankan suara mu" tegur Akbar. "Jangan merengek seperti itu, besok aku akan menjemput mu begitu bel berbunyi"
"Siapa yang merengek" bantah Mila, dia semakin kesal karna sikap Akbar yang seenaknya.
"Aku mau pamit sama Bunda mu dan pak Dedi" ucapnya tanpa mempedulikan Mila yang memelotinya. Akbar masuk kedalam panti lalu berpamitan kepada Bunda Rita dan Pak Dedi, selesai berpamitan Akbar kembali menemui Mila yang masih berdiri di tempatnya.
"Masuklah Mila, besok aku akan menjemputmu ke kelas" Mila tidak menyahut namun dia menganggukkan kepalanya. Akbar tersenyum. "Baiklah, aku pulang" kemudian Akbar menaiki motornya, lalu melaju meninggalkan panti, Mila menatap kepergian Akbar, setelah menghilang dari pandangannya, dia baru menyadari sesuatu.
"Apa?....tadi aku menganggukkan kepala, berarti aku setuju dong pulang dengannya, astaga Mila... ada apa denganmu" gerutu Mila sambil memukul kepalanya.
-
-
-
-
__ADS_1
bersambung....