Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Aku senang kamu menungguku


__ADS_3

"Mila...... " sapa Akbar sambil menyeka keringatnya.


Mila tidak menyahut, sekilas memperhatikan Akbar lalu berjalan mendahuluinya.


"Aku pikir kamu pulang dengan Rio, itu sebabnya aku tidak menjemputmu tadi"


Mila menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya, lalu memandang Akbar yang masih mematung ditempatnya.


"Kamu pikir aku peduli ? kamu datang atau tidak aku sama sekali tidak peduli, aku malah senang kalau kamu benar-benar tidak datang"


Akbar tersenyum dan seperti biasa memamerkan lesung pipinya. Dia berjalan mendekati Mila lalu berhenti menyisakan jarak setengah meter diantara mereka.


"Kamu bisa saja pulang dengan Nayra tadi, tapi lihat... sekarang kamu masih ada disini" jawab Akbar sambil menatap Mila yang berusaha mengalihkan pandangannya.


"aku belum pulang bukan karna menunggumu, tapi...." Mila bingung harus memberi alasan apa, karna dirinya memang benar menunggu Akbar, namun akan memalukan kalau harus mengakuinya.


"Tapi apa ? hemm..... " Akbar mulai menggoda Mila.


"Ka. karna.. itu.. karna aku mengerjakan tugas" jawabnya dengan terbata-bata.


Akbar tidak menjawab tapi dia makin melebarkan senyumnya karna dia tahu kalau Mila sedang berbohong.


"Kenapa kamu tersenyum?" bentak Mila.


Akbar tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dan masih dengan senyum yang memamerkan lesung pipinya.


"Menyebalkan.... " ketus Mila lalu berbalik berniat meninggalkan Akbar, namun baru saja Mila melangkahkan kakinya, tangannya langsung ditahan oleh Akbar.


Akbar menggenggam pergelangan tangan Mila dan menahan gadis itu.


"Aku senang kamu menungguku" ucap Akbar dengan selembut mungkin, sementara Mila menatapnya dengan pikiran yang tidak menentu.


"Ayo pulang, kamu sudah terlalu lama disini, bundamu nanti khawatir" lanjutnya lalu melepaskan tangan Mila.


Akbar berjalan mendahului Mila, dan Mila mengikutinya dari belakang. Tidak ada lagi obrolan diantara mereka, Mila berjalan dibelakang Akbar sambil memandang punggung cowok itu dengan perasaan yang masih tidak menentu, dan Akbar terus tersenyum sepanjang jalan hingga mereka sama-sama sampai diparkiran.


"Kamu boleh kesal denganku karna sudah membuat mu menunggu lama, tapi kamu juga melakukan hal yang sama, jadi jangan marah padaku" kata Akbar begitu sampai di depan motornya.


Mila menyerngit tidak mengerti dengan ucapan Akbar.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan" batin Mila


"Kamu juga membuat aku kesal, bahkan membuat ku sangat marah" Akbar mulai meninggikan suaranya dan berbalik memandang Mila.

__ADS_1


Mila semakin tidak mengerti apa yang dikatakan Akbar, dan dia mulai takut dengan Akbar yang sekarang memberinya pandangan tajam yang sepertinya siap menerkam. Mila diam dan menundukkan kepalanya.


"Ada apa sih dengannya, tiba-tiba jadi marah seperti ini, ahhh.... Nayra, seharusnya aku benar-benar pulang denganmu tadi" Mila berteriak dalam hati memanggil pertolongan pada Nayra.


"Kamu bilang kaki mu sakit dan tidak bisa jalan di jam istirahat untuk mengajariku privat, tapi kenapa kamu malah jalan bersama Rio"


"hah... apa ?" Mila benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Kamu membuat ku marah sampai-sampai ingin mematahkan kaki kalian berdua, aku tidak mau melihatmu jalan bersama dia lagi" sambung Akbar masih dengan suara yang meninggi.


"Sekarang aku benar-benar yakin kalau kamu memang orang gila" cibirnya begitu mendengar ucapan Akbar yang dianggapnya begitu konyol.


"Apa kamu bilang? seharusnya kamu menenangkan ku, kenapa malah mengatai ku orang gila" balas Akbar makin kesal


"Kenapa aku harus menenangkanmu ? kamu membuat ku seolah ketahuan berselingkuh padahal kan kita tidak punya hubungan apa-apa" balas Mila dengan rasa kesalnya juga. "Dan kamu sama sekali tidak punya hak melarang aku jalan dengan siapapun termasuk Rio" sambungnya lagi.


"Kenapa kamu mau bersama Rio? apa kamu menyukai nya? " kata Akbar dengan mata memerah menahan amarah.


"Iya... aku menyukainya, lalu apa? apa kamu akan melarang ku menyukai nya juga? " jawab Mila. Sebenarnya Mila juga tidak ingin mengatakan ini, tapi dia kesal dengan Akbar yang berusaha mengaturnya.


"Oke, kalau memang seperti itu, mulai sekarang kamu bebas, kamu bisa bersama dengan siapapun yang kamu suka" jawab Akbar dengan dingin, lalu menaiki motornya dan berlalu meninggalkan Mila yang diam mematung melihat kepergiannya.


"Apaan coba, kenapa harus repot-repot mendatangi ku tadi kalau mau meninggalkan ku seperti ini, menyebalkan... aku membenci mu" ucap Mila lalu berjalan meninggalkan parkiran. Akhirnya Mila pulang dengan menaiki bus.


Semenjak kejadian itu, Akbar tidak pernah lagi mendatangi Mila. Seperti apa yang dikatakan Akbar, dia membebaskan Mila, dia tidak lagi meminta Mila untuk menjadi guru privatnya, dan tidak lagi mengantarkan Mila pulang seusai jam sekolah. Kini Mila pun bisa kembali pulang bersama Nayra seperti sebelum-sebelumnya. Nayra sangat senang akan hal ini, apalagi dia tidak perlu melihat Akbar lagi yang terus menerus ada disekeliling Mila.


Namun berbeda dengan Irene, meski Mila selalu menolak bercerita apa yang terjadi dengannya dan Akbar, tapi dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara Mila dan Akbar. Menurutnya tidak mungkin secepat ini Akbar tidak mau menjumpai Mila lagi.


Sementara Mila, awalnya dia menikmati hari-harinya karna tidak ada lagi yang menggangunya, dia juga bisa bersama teman-temannya lagi. Tapi makin hari, Mila jadi sering memikirkan Akbar, dia mulai merindukan Akbar yang suka berbuat semaunya.


Mila dan Akbar sama sekali tidak pernah bertemu lagi dan sepertinya Akbar benar-benar ingin menjauhinya, jika di kantin atau diperpustakaan Mila sering bertemu Nando dan Bima, tapi dia sama sekali tidak pernah melihat Akbar.


Sekarang dia hanya bisa melihat Akbar dari jauh, disaat Akbar latihan pramuka atau sedang main basket, Mila suka memperhatikannya, namun dia tidak pernah punya keberanian untuk menegurnya duluan. Selain Akbar yang nampaknya tidak peduli lagi dengannya ditambah dengan kini Tina dan Dara yang semakin sering dekat dengan Akbar, hal itu membuat nyalinya semakin menciut untuk menyapa Akbar.


Hari-hari berlalu, ujian semester dua pun telah berlalu, dan seperti biasa Mila mendapat nilai dan rangking tertinggi dikelasnya yang disusul oleh Irene diposisi kedua. Kini mereka bukan lagi junior di SMA PELITA, sekarang mereka berada dikelas XI IPA 3, mereka sudah menaik satu tingkat.


Kini Mila juga sudah menjadi anggota OSIS disekolahnya, dan ini berkat Rio yang mencalonkannya sebagai SEKRETARIS osis, Mila sudah menyandang status ini semenjak tiga minggu yang lalu setelah pelantikannya dengan anggota osis lainnya.


Menjadi sekretaris osis membuat Mila banyak kegiatan, dan membuatnya sering kumpul dengan anggota osis lainnya termasuk Rio. Rio memang tidak menjabat lagi sebagai ketua osis, namun diacara-acara tertentu dia masih ikut andil, dan hal ini membuat Mila dan Rio semakin sering bersama.


Sama halnya dengan siang ini, selesai meeting di ruang osis, Mila terlihat jalan berdua dengan Rio, mereka berjalan beriringan.


"Bagaimana kalau aku mengantarkan mu pulang?" kata Rio menawarkan

__ADS_1


"Tidak perlu kak, aku pulang sendiri saja" tolak Mila


"Kamu selalu menolak aku untuk mengantarkan mu pulang" balas Rio dengan sedikit kecewa.


"Bukan begitu kak, tapi hari ini aku ada janji dengan Nayra dan Irene, sebentar lagi mereka akan menjemput ku"


"kalau begitu, bagaimana kalau kita minum dulu sambil menunggu teman-teman mu?" ajak Rio lagi


"Tapi kak.... "


"Tolong jangan menolak lagi" sela Rio dengan muka memelas.


"Baiklah..." jawab Mila karna merasa tidak enak harus menolak ajakan Rio terus menerus , terlebih Nayra dan Irene belum datang, jadi menurutnya tidak masalah kalau hanya minum sebentar.


Rio tersenyum dan senang karna akhirnya Mila menerima ajakannya. Mereka berjalan menuju kantin sekolah dan melewati lapangan basket. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Rio, dan serentak Mila dan Rio berbalik mencari asal suara itu, dan ternyata itu suara Putri teman sekelas Rio. Menurut gosip Putri itu adalah pacar Rio, namun setiap Mila menanyakannya, Rio selalu menyangkalnya.


Rio pamit untuk menemui Putri.


"Mila, aku ke Putri sebentar, kamu kekantin duluan, nanti aku nyusul" kata Rio lalu berlari menemui Putri, sementara Mila melanjutkan langkahnya menuju kantin, namun baru beberapa langkah sebuah bola tiba-tiba melayang kearahnya.


"Mila......" teriak semua yang dilapangan basket, Mila menoleh dan belum sempat menghindar bola basket itu sudah terlebih dulu mengenai kepalanya.


Brukkk.....


Mila terjatuh kelantai akibat bola basket yang melayang mengenai kepalanya itu. Namun dia langsung berusaha duduk dan menekan bagian kepalanya yang terkena bola tadi.


"aww....... " pekik Mila sambil menahan rasa sakitnya. Beberapa saat kemudian seseorang menghampirinya dan berlutut didepannya.


"Apa kamu terluka....??" ucapnya orang tersebut dengan nada yang begitu khawatir sambil mengamati kepala Mila.


Mila mengenal suara itu, Mila pun mendongak untuk melihat wajah pemilik suara itu, dan seketika dia terkejut karna yang sekarang berada dihadapannya adalah...


"Akbar........


-


-


-


-


bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2