
Mila duduk di atas tempat tidurnya dan terus mengutuki dirinya sendiri yang dengan bodohnya menganggukkan kepala menyetujui keinginan Akbar. Mila memukuli kepalanya dengan pelan berulang kali, karna bagian inilah yang menurutnya paling bersalah dalam hal ini.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar dan bersamaan dengan itu Mona pun muncul diambang pintu.
"Mona" sapa Mila begitu melihat Mona, namun yang disapa tidak menyahut, Mona langsung memasuki kamar Mila dan duduk persis disampingnya.
"Ada apa ? " tanya Mila dengan dahi yang berkerut sambil memperhatikan wajah Mona yang sedang cemberut.
"Apa benar kakak berpacaran dengannya?" ucapnya tiba-tiba yang membuat mata Mila membulat seketika.
"Maksud Mona apa? " jawab Mila dengan seribu kebingungan di wajahnya.
"Apa kakak berpacaran dengan kak Akbar?" kali ini memberi pertanyaan yang jelas dan tegas.
"Tidak, kakak.... "
"Yes...... berarti aku masih punya kesempatan" jawabnya girang padahal Mila belum selesai dengan ucapannya.
"Mona... kamu kenapa?"
"Mona menyukai kak Akbar kak, dan Mona akan memintanya untuk jadi pacar Mona" jawabnya santai dan senyum yang mengembang.
"Apa? " sangat terkejut dengan apa yang dia dengar barusan. "Mona, kamu masih kecil tidak boleh ngomong pacar-pacaran" tegur Mila dan berusaha menasehati adiknya itu.
"Kalau kak Akbar mau apa salahnya" malah membalas dengan santai.
"Tidak boleh, lagi pula kak Akbar tidak suka dengan anak kecil"
"Kenapa? bukankah aku cantik, atau kakak juga menyukai kak Akbar ya" sambil memperhatikan raut wajah Mila.
"Tidak"
"Kalau kakak menyukainya, berarti mulai sekarang kakak harus bersaing denganku" usai berkata demikian, Mona turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar Mila.
"Astaga.....anak itu, siapa yang mengajarinya berbicara seperti itu" gumam Mila sambil memandang kepergian Mona.
***********
Sesuai apa yang dia katakan, begitu bel berbunyi, Akbar langsung bergegas menuju kelas XI IPA 3, namun sesampainya disana para siswa penghuni kelas tersebut semuanya masih berada dalam kelas. Guru yang mengajar dijam terakhir dikelas itu masih saja sibuk menjelaskan pelajaran padahal bel sudah berbunyi dan siswa-siswa dari kelas lain sudah berhamburan untuk pulang.
Melihat hal tersebut, Akbar pun memilih menunggu Mila dan duduk di depan kelas itu. Sementara didalam kelas, semua siswa sudah mulai resah karna bu guru belum juga mengakhiri pelajaran, mereka bergumam minta pulang dan bahkan sebagian siswa sudah ada yang menyusun bukunya kedalam tas. Lima belas menit kemudian akhirnya bu guru pun mengakhiri pelajaran, semua siswa bernapas lega dan mulai bergegas keluar dari kelas tersebut. Mila dan Nayra masih sibuk menyusun buku ketika Irene dan Ifan datang menghampiri mereka.
"Mila, Nay, hari ini aku pulang bersama Ifan" ucapnya seraya mengembangkan senyuman.
"Apa kalian akan pergi kencan" seru Nayra, mendengar itu Irene langsung membekap mulut Nayra.
"Jangan kencang-kencang !" tegur Irene lalu melepaskan tangannya. Sejak dua bulan yang lalu Irene dan Ifan memang sudah resmi berpacaran, namun Irene tidak mau teman-teman dikelasnya mengetahui hal tersebut, dan sampai saat ini orang yang mengetahui hubungan mereka hanya orang terdekat mereka saja seperti yakni Mila Nayra Parto dan Yuda.
"Kalian akan pergi kemana?" sambung Mila
__ADS_1
"Kalian tidak perlu tahu, aku duluan ya, daaaaa....." melambaikan tangannya dengan senyum selebar mungkin lalu bergegas meninggalkan kelas tersebut bersama Ifan.
"Aku juga ingin pergi kencan seperti Irene" kata Nayra begitu Irene dan Ifan menghilang dari pandangannya.
"Bukannya kamu sering kencan dengan Bima" jawab Mila dan mulai beranjak dari duduknya yang diikuti Nayra.
"Mila.... aku hanya pergi sekali dengannya, dan itu bukan kencan" jawabnya dengan wajah yang memelas.
"Kalau perginya hanya berdua itu berarti kencan" balas Mila, mereka berjalan beriringan keluar dari kelas itu, sesampainya di pintu mereka melihat Akbar yang sedang duduk di depan kelas. Akbar duduk membelakangi pintu kelasnya dan tidak menyadari keberadaan Mila dan Nayra.
"Dia benar-benar datang" batin Mila.
"Jangan bilang kamu akan pergi kencan dengannya" sambil menatap Mila dengan tajam.
"Tidak" jawab Mila singkat.
"Lalu untuk apa dia datang kesini ? sejak kapan kalian berbaikan?" Nayra bertanya dengan penuh selidik.
"Nay, kamu duluan ya, nanti aku akan menyusul mu keparkiran, aku akan berbicara sebentar dengannya" menghindari pertanyaan Nayra.
"Menyebalkan" ucapnya dengan kesal tapi menurut dengan permintaan Mila, Nayra pun pergi meninggalkan Mila.
Begitu Nayra hilang dari pandangannya, Mila berjalan mendekati Akbar, dia berdiri dibelakang Akbar, namun Akbar masih belum menyadari keberadaannya. Mila menusuk punggung Akbar dengan jari telunjuknya, seketika Akbar pun berbalik menatapnya.
"Kenapa lama sekali? beraninya kamu membuat ku menunggu" serunya begitu melihat Mila.
"Aku tidak minta kamu menunggu ku" jawab Mila kesal, mendengar hal itu Akbar pun tersenyum memamerkan lesung pipinya. Akbar menepuk bagian kosong disampingnya, meminta Mila untuk duduk disampingnya, dan Mila pun menurut, kini mereka duduk bersebelahan.
"Iya, dan kamu harus membayarnya, besok gantian kamu yang menunggu ku" balasnya dengan cepat dengan seenaknya.
"Tidak mau" tolak Mila.
"Kenapa tidak mau? aku saja mau menunggu mu" dengan wajah yang mulai kesal.
"Berhentilah berbuat sesukamu Akbar, aku tidak suka" jawabnya tegas.
"Lalu...apa yang kamu suka? Rio?" dengan menatap dalam kedua bola mata Mila, mendengar hal itu seketika Mila tertawa, dia tidak tahan melihat raut wajah Akbar yang baginya itu terlihat sangat lucu.
"Kenapa tertawa? "
"Kamu memang bodoh percaya begitu saja" kata Mila sambil berusaha menahan tawanya.
"Beraninya menertawakan ku" menatap Mila dengan kesal.
"Maaf" lalu berhenti tertawa. "Kenapa kamu mempercayainya begitu saja" sambungnya lagi.
"Karna kamu mengatakannya dengan sepenuh hati" Akbar berucap dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Sepenuh hati apanya" gumam Mila dalam hati. "Sebenarnya waktu itu aku berbohong, pernyataan itu tidak benar, kamu sangat menyebalkan saat itu, dan aku asal bicara saja" kata Mila mengakui.
"Kamu pembohong yang baik" cibir Akbar. "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi" sambungnya lagi dan kali ini dengan sedikit senyuman dibibirnya. Hatinya terasa lega mendengar pengakuan Mila, dan menyesali waktu yang telah berlalu karna sudah membutnya menjauh dengan Mila.
"Aku harus menyusul Nayra, apa kamu masih mau disini? " Mila mulai beranjak dari duduknya, namun dengan sigap Akbar langsung menahannya.
"Ada apa lagi? Nayra sudah menunggu ku, aku harus menyusulnya" sambil berusaha melepaskan genggaman Akbar dilengannya.
"Dia sudah pulang "
"Kamu tahu darimana ? Nayra pasti menunggu ku" bantah Mila.
"Sebelum aku sampai disini, Bima sudah terlebih dulu menunggunya di parkiran, dan sekarang pasti mereka sudah pulang" jawabnya santai.
"Hmmm.... baiklah" akhirnya Mila tetap duduk disamping Akbar, namun tiba-tiba Akbar beranjak dari duduknya.
"Ayo...kita juga sudah harus pulang" ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Mila berdiri.
"Menyebalkan, kalau sudah mau pulang lalu kenapa tadi menahan ku" gerutu Mila dalam hati. Mila beranjak dari duduknya lalu menipis tangan Akbar. "Aku bisa sendiri" ketusnya lalu berjalan mendahului Akbar.
Akbar mengejarnya dan kini mereka berjalan beriringan.
"Minggu depan akan ada persami (perkemahan sabtu minggu), datanglah karna nanti akan ada banyak kegiatan dalam penyambutan anggota pramuka yang baru, akan ada api unggun juga" kata Akbar sambil terus melangkahkan kakinya. "Acaranya diadakan disekolah ini" sambungnya lagi.
"Aku sudah mendapatkan undangan itu" sambil memperlihatkan surat undangan yang dia keluarkan dari dalam tasnya.
"Darimana kamu mendapatkannya"
"Semua anggota Osis diundang, tadi Kak Rio yang memberikannya padaku" jawab Mila.
Akbar langsung kesal begitu mendengar nama Rio, dia menghentikan langkahnya lalu menatap Mila. "Berhenti menyebut nama itu didepan ku" lalu merebut undangan yang ditangan Mila kemudian merobeknya.
"Kenapa merobeknya !" seru Mila.
"Undangannya sudah tidak ada, kalau kamu datang diacara minggu depan, berarti kamu datang karna aku yang mengundang bukan karna surat undangan ini" lalu membuang sobekan kertas undangan yang ditangannya ketempat sampah.
"Kamu selalu bersikap seenaknya" keluh Mila dan kembali melanjutkan langkahnya yang disusul Akbar.
"Jadi, apa kamu akan datang?" tanya Akbar.
"Entah lah, aku belum tahu"
"Kalau begitu akan menjemput mu" kata Akbar dengan senyumnya, Mila pun ikut tersenyum melihatnya. Meski kesal dengan sikap Akbar, namun entah kenapa hari ini dia begitu nyaman berada disamping Akbar.
-
-
-
__ADS_1
bersambung.....