
Rintik hujan pagi ini membuat siapa saja malas untuk keluar rumah, namun pekerjaan dan kewajiban yang harus tetap dijalankan mengharuskan tetap keluar rumah dan melanjutkan aktivitas sebagimana mestinya.
Mila turun dari angkot yang telah membawanya ke SMA Pelita, dan rintik hujan masih saja turun membasahi siapa saja yang dijumpainya. Mila berlari kecil untuk menghindari hujan yang sudah membasahi sebagian baju seragamnya, begitu juga dengan Irene, begitu turun dari mobilnya, dia berlari menuju gedung sekolah. Mila dan Irene bertemu di depan ruang UKS. Mereka saling menyapa lalu berjalan bersama menuju kelas IPA. Setelah berjalan sekitar tiga menit, Mila dan Irene pun sampai di kelasnya, dan sesampainya disana mereka belum melihat Nayra, padahal biasanya anak itu selalu datang lebih awal dari mereka. Mila duduk di kursinya begitu juga dengan Irene.
"Nayra belum datang !" seru Irene pada Mila.
Mila menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Irene beranjak dari kursinya lalu menghampiri meja Mila. "Kenapa dia belum datang?" ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya dikursi yang biasa Nayra tempati.
"Entahlah, mungkin dia kejebak macet karna hujan" jawab Mila. Mereka berbincang santai sembari menunggu Nayra, namun sudah sepuluh menit berlalu Nayra belum juga muncul, Ifan Yuda dan Parto juga belum terlihat dikelas, dan bel masuk lima menit lagi akan berdering. Mila dan Irene mulai resah dengan teman-teman mereka yang belum juga terlihat. Irene mencoba menghubungi nomor ponsel Nayra, terhubung tapi tidak ada jawaban. Ditengah-tengah kegelisahan Mila dan Irene, tiba-tiba Tio, ketua kelas mereka terlihat baru tiba dan langsung menuju meja Mila.
"Gawat Mila, ini sungguh gawat, Nayra... dia.... "ucapnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Nayra? ada apa dengan Nayra?" balas Mila dengan panik.
"Nayra dibelakang perpustakaan, disana Akbar memukuli Bima" lanjutnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu bicarakan! " seru Irene, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Tio.
"Sebaiknya kalian kesana" jawab Tio sambil mengatur nafasnya. Mila dan Irene pun langsung berlari keluar dari kelas itu, dan didepan pintu mereka berpapasan dengan Ifan Yuda dan Parto.
"Eh... kalian mau kemana? bentar lagi bel berbunyi" tegur Ifan begitu melihat Mila dan Irene keluar dari kelas.
"Nayra dibelakang perpustakaan" seru Irene tanpa menghentikan langkahnya. Ifan, Yuda dan Parto tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Irene, namun mereka langsung ikut berlari menuju tempat yang dituju Mila dan Irene.
Sesampainya disana mereka mendapati kerumunan siswa yang rata-rata adalah anak IPS, sementara anak IPA hanya ada beberapa orang, mereka menerobos kerumunan itu, kini mereka berada paling depan, dan pemandangan pertama yang Mila dapati adalah tendangan Akbar pada Bima. Bima tersungkur jatuh ke tanah begitu tendangan Akbar melayang ditubuhnya. Akbar terlihat sangat marah, pandangannya terkunci hanya untuk Bima, belum puas menendang Bima, Akbar kembali menarik tubuh Bima yang terlihat sudah tidak berdaya, bahkan bibirnya sudah berdarah, bajunya sudah kotor dan robek dibeberapa bagian.
"Berapa kali aku bilang sama mu, aku paling benci cowok yang suka mempermainkan cewek" bentak Akbar.
Mila mencari Nayra, dan ternyata Nayra berada tidak jauh dari tempat Nando berada. Nayra terlihat sedang menangis, wajahnya sembab, matanya merah, dia juga ikut menyaksikan Akbar yang terus memukuli Bima. Mila ingin menghampiri Nayra, dan ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun jarak mereka terlalu jauh dan Mila juga tidak tahan melihat Akbar yang terus memukuli Bima. Perhatian Mila kembali ke Akbar.
Bima berusaha duduk setelah mendapat pukulan dari Akbar, dia terlihat sudah tidak berdaya, Akbar berjalan mendekatinya dan mengepalkan tangannya berniat melayangkan satu pukulan lagi untuk Bima, Mila yang melihat itu langsung berlari dan berjongkok didepan Bima, dia melindungi Bima dengan tubuhnya, dan beruntung Akbar bisa menahan pukulannya. Kepalan tangan Akbar berhenti tepat dibelakang kepala Mila.
__ADS_1
Mila berbalik dan menatap Akbar.
"Apapun alasannya, tolong hentikan ini" kata Mila dengan wajah yang memelas. Akbar menatapnya untuk beberapa saat, lalu menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan amarahnya. Perlahan Akbar menurunkan tangannya, dan beralih menarik tangan Mila untuk menjauh dari Bima.
"Kamu tidak pantas melindunginya seperti itu" kata Akbar dengan wajah yang masih terlihat marah.
"Kamu juga tidak boleh memukulinya seperti itu, kamu bukan preman Akbar !" seru Mila.
"Bawa Bima ke UKS!" seru Mila pada Ifan, Yuda dan Parto, mereka menurut lalu sama-sama membantu Bima berdiri dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Apa kamu akan bersikap seperti itu kalau tahu apa yang dia lakukan pada sahabatmu?" kata Akbar setelah Bima dibawa pergi.
-
-
__ADS_1
-
bersambung.....