Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Keluarga


__ADS_3

Selesai makan malam, Akbar menuju ruang kerjanya, sementara Mila dan Mona memilih kembali ke kamar mereka dan Maxwell masih saja menempel dengan Mila, ia mengikuti Mila memasuki kamar Daddynya. Padahal biasanya anak itu tidur sendiri dikamarnya yang berada persis disamping kamar Akbar, namun meskipun Bi Lina sudah membujuknya untuk kembali kekamarnya dia tetap tidak mau.


"Biarkan saja Bi, kami akan tidur bertiga disini". Kata Mila pada Bi Lina yang masih saja membujuk Maxwell.


"Baiklah Nona, tapi saya khawatir kalau Nona dan Tuan nanti tidak bisa tidur dengan nyaman, dan biasanya dia juga tidak mau tidur berdempetan dengan orang lain". Jawab Bi Lina membeberkan kebiasaan tidur Maxwell.


"Max mau tidur dengan Bunda!". Sahut Maxwell sambil mengeratkan pelukannya.


"Tidak apa-apa, malam ini biarkan saja dia tidur disini". Sahut Mila sambil membelai rambut Maxwell yang memeluknya dengan erat. Dia benar-benar tidak ingin lepas dari Mila.


"Baik Nona".


Bi Lina keluar dari kamar itu, setelahnya Maxwell pun melepaskan pelukannya, lalu tertawa sambil berbaring disamping Mila.


"Maxwell sudah mau tidur?". Maxwell menggeleng dengan cepat. "Mau Bunda bacakan buku dongeng ?". Dengan cepat Maxwell menganggukkan kepalanya. "Bunda ambilkan bukunya dulu ya". Mila tersenyum lebar lalu beranjak mengambilkan buku dongeng Maxwell yang disusun rapi dikamarnya. Mila kembali dengan beberapa buku dongeng ditangannya. Layaknya seorang Ibu, Mila membacakan Maxwell dongeng, sesekali mereka pun tertawa dengan isi cerita buku itu.


Di ruangan yang berbeda, Akbar masih duduk menatap layar didepannya, membuka semua email yang masuk, membacanya satu per satu dan memeriksanya. Meskipun tidak berangkat ke kantor, tapi Akbar selalu mengontrol pekerjaannya lewat laporan yang dikirimkan kepadanya.


Setelah memeriksa semuanya, Akbar pun menutup laptopnya, dan keluar meninggalkan ruangan tersebut. Akbar berjalan melewati ruang tamu yang sudah gelap, karna Bi Lina sudah memadamkan semua lampu. Sesampainya dikamar, Akbar mendapati Mila dan Maxwell yang sudah tidur dan saling berpelukan. Dia menutup pintu dengan sangat hati-hati supaya tidak menimbulkan suara, lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi, dan ketika keluar dari kamar mandi Mila sudah terbangun dan duduk bersandar diatas tempat tidur.


"Sayang, kamu bangun". Menghampiri Mila dan duduk disebelahnya. "Apa suara dari kamar mandi tadi membuat mu terbangun ?". Tanya Akbar sembari meraih tangan Mila dan mengecup telapak tangannya.


"Tidak". Jawab Mila sambil menggelengkan kepalanya. "Malam ini kita tidur bertiga, Maxwell ingin tidur bersama ku". Lanjutnya dengan menunjuk Maxwell yang tidur nyenyak disampingnya.


"Dia sangat menyukai mu, biasanya aku harus membujuknya seharian untuk bisa tidur dengannya". Mencubit pipi Maxwell yang sedang tidur nyenyak.


Spontan Mila menampar tangan Akbar.


"Jangan mengganggunya!". Tegur Mila dengan melototkan kedua matanya.


"Kenapa galak sekali, aku hanya menyentuhnya". Sengkal Akbar sembari menarik kembali tangannya. "Besok aku akan mulai ke kantor, banyak pekerjaan yang harus segera aku bereskan, apa kamu akan baik-baik saja dirumah?"


"Tentu saja, kenapa kamu mengkhawatirkan itu".


"Apa kamu tidak keberatan jagain Maxwell ?".


"Kamu bicara apa sih, kenapa aku harus keberatan, Maxwell adalah anak kita". Jawab Mila dengan sedikit kesal.


"Bukan begitu sayang, aku takut dia akan merepotkan mu".


"Tidak akan, besok kami akan bermain sepanjang hari".


"Baiklah". Mengakhiri perdebatan dengan mencubit pipi Mila. "Kenapa kamu mengemaskan seperti ini". Mendekatkan wajahnya lalu perlahan menempelkan bibirnya dibibir Mila. Akbar menciumnya dengan lembut, Mila yang mulai terbiasa dengan ciuman itu berusaha membalasnya. Akbar mulai mendorong tubuh Mila dan berniat menjatuhkannya ditempat tidur, namun Maxwell yang tidur persis disamping Mila tiba-tiba membuka matanya.


"Bunda". Panggilnya.


Mila tersentak dan langsung mendorong tubuh Akbar, ia menggeser tubuhnya kesamping Maxwell. Dia berbaring dan kembali memeluk tubuh mungil itu. Maxwell pun dengan cepat kembali terlelap dipelukan Mila. Akbar yang masih duduk hanya bisa menatap Mila yang kini membelakanginya.


"Tidurlah, bukankah besok kamu akan kembali kerja". Ujar Mila sambil berbalik menatap suaminya. Akbar tidak menyahut, dia menghela nafas panjang lalu beranjak dari samping Mila.


*****


Pagi harinya, Maxwell bangun lebih awal dari Akbar dan Mila, dia membuka kedua matanya dan merasa sesak ketika mendapati dirinya yang berada ditengah-tengah tubuh orang dewasa.


"Daddy!". Teriaknya sambil mendorong tangan Akbar yang terbentang diatasnya hingga tubuh Mila. Akbar memang memeluk mereka dari malam tadi.


Baik Akbar maupun Mila langsung tersentak mendengar suara Maxwell.


"Daddy, kenapa tidur disini, sempit Daddy". Keluhnya dan kembali mendorong tubuh Akbar.


"Harusnya Daddy yang nanya, kenapa kamu tidur disini, ini kan kamar Daddy". Jawab Akbar sembari menguap. "Ini juga tempat tidur Daddy". Lanjutnya.


"Tapi Max mau tidur dengan Bunda". Jawabnya dengan polos. Mendengar pengakuannya Mila pun tertawa dan langsung memeluknya.


"Bunda itu tidurnya dengan Daddy, Max kan sudah punya kamar sendiri".

__ADS_1


"Max maunya tidur dengan Bunda". Jawab Maxwell dari dalam pelukan Mila.


"Kalau begitu kamu tidak boleh mengeluh dipeluk seperti ini". Meraih tubuh Mila dan Maxwell, sengaja memeluknya dengan erat.


"Daddy! Max tidak mau dipeluk sama Daddy". Teriaknya sambil mendorong tubuh Akbar.


Mila dan Akbar tertawa bersama melihat tingkah Maxwell, akhirnya Akbar pun melepaskan pelukannya.


Setelah puas menggoda Maxwell, Akbar beranjak dari tempat tidur, dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pagi ini dia akan kembali ke kantor. Selesai mandi, Mila dan Maxwell sudah tidak ada ditempat tidur, namun baju untuk Akbar pakai kerja sudah tersedia disana.


Akbar mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Mila. Setelah semuanya rapi, dia pun keluar dari kamar dan menuruni tangga. Akbar mendapati istri dan anaknya di meja makan, disana ada Mona juga Bi Lina yang terlihat sibuk menata makanan di meja. Pemandangan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Selama ini dia hanya mendapati meja makan yang sepi, sekarang dia benar-benar bahagia memiliki keluarga ini. Seorang istri yang sangat dia cintai, Maxwell, anak yang sudah berhasil membuatnya menjadi pria dewasa dan bertanggung jawab, ditambah lagi Mona yang semakin melengkapi keluarganya.


Akbar menghampiri mereka lalu duduk di samping Maxwell, anak itu sudah mandi dan berganti baju, dia tersenyum lebar ketika melihat Daddynya datang. Mereka pun mulai menyantap sarapan yang sudah disiapkan Bi Lina.


Mona yang sudah menyelesaikan makanannya, mulai beranjak dari kursinya.


"Aku berangkat Kak". Pamitnya dan berniat meninggalkan mereka, namun Akbar dengan cepat mencegahnya.


"Kamu berangkat dengan ku saja, aku akan mengantar mu kesekolah". Kata Akbar.


"Tapi Kak, sekolah Mona kan tidak searah dengan kantor Kak Akbar".


"Tidak apa-apa, aku bisa mengantar mu lebih dulu". Akbar beranjak dari duduknya yang diikuti Mila. Maxwell pun tidak mau kalah, ia dengan cepat mengikuti Mila.


Mereka berjalan bersama mengantarkan Akbar dan Mona sampai pintu.


"Aku berangkat, aku titip Maxwell". Ucap Akbar lalu mencium kening istrinya. Mila mengangguk disertai senyum dikedua sudut bibirnya. "Maxwell tidak boleh nakal dengan Bunda ya". Sambungnya pada Maxwell.


Mona pun ikut pamit, lalu mengikuti Akbar memasuki mobil, setelah itu mobil pun berjalan meninggalkan Mila dan Maxwell yang berdiri didepan pintu.


Setelah mobil Akbar menghilang, tidak lama kemudian sebuah mobil kini memasuki halaman. Mobil itu berhenti tepat dihadapan mereka. Sang pemilik mobil turun dan menghampiri Mila yang masih berdiri ditempatnya.


"Selamat pagi". Sapa Nayra dengan melebarkan senyumnya. "Wah, sepertinya kamu sangat menantikan kedatangan ku". Tertawa lalu beralih menatap Maxwell. "Hai ganteng". Sambungnya dengan mencubit pipi Maxwell, yang dicubit langsung mengusap pipi bekas tangan Nayra.


Nayra tidak menghiraukan ucapan Mila karena dia tahu itu hanya candaan semata, dan ini bukan pertama kalinya dia diusir seperti itu, dengan tidak tahu dirinya dia malah ikut masuk kedalam rumah.


"Kamu sama saja dengan Nando, datang pagi-pagi tanpa diundang". Mila mulai duduk di sofa sambil memangku Maxwell. Nayra pun ikut duduk disampingnya.


"Nando!". Entah kenapa sekarang hatinya selalu bergetar setiap mendengar nama itu. Nayra tersenyum malu menyebut nama itu.


"Hah, ada apa dengan ekspresi mu itu?". Menatap Nayra dengan penuh curiga.


"Kenapa dengan wajah ku?". Nayra menyentuh wajahnya yang semakin merona.


"Wajah kasmaran". Cetus Mila. "Kamu pacaran dengan Nando ya?". Tebak Mila.


Nayra menggeleng dengan senyum yang masih melekat dibibirnya.


"Kami tidak pacaran, tapi... ahh aku malu untuk mengatakannya". Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Astaga, berhentilah bersikap seperti itu, kamu seperti ABG yang sedang jatuh cinta". Menggelengkan kepalanya. "Lihat, Maxwell saja tidak suka dengan sikap mu". Menunjuk Maxwell yang sedari tadi menatap Nayra.


"Hahahaha baiklah, padahal aku sudah berusaha menutupinya". Kembali tersenyum. "Hmm... jadi aku punya dua kabar berita untuk mu".


"Kabar berita? Omong kosong apa itu, cepat katakanlah". Jawab Mila yang mulai tidak sabar.


"Yang satu kabar baik, satu lagi kabar buruk, kamu mau yang mana dulu ?".


"Kabar buruk".


"Tidak mau dengar kabar baik dulu?". Mila menggeleng. "Tapi aku ingin kabar baik dulu, heheheh". Mila mendengus kesal. "Aku dilamar Nando, Mila... aku akan segera menikah". Ucapnya dengan girang.


"Benarkah? secepat itu?". Dengan girang menyambut kabar yang baru saja didengarnya.


"Iya". Sahutnya sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jadi dia sudah melamar mu? Kapan? Terus kamu langsung menerima?". Tanya Mila dengan antusias.


"Tadi malam, dan kamu tahu, ehmmm...dia sangat romantis". Mengingat kembali saat Nando melamarnya. "Tapi, cafe Nando harus dikunjungi seratus orang setiap hari supaya aku menerimanya". Mengingat syarat bodohnya tadi malam.


"Maksudnya?". Dengan dahi yang berkerut.


"Aku ingin usahanya maju dan memberinya syarat bodoh seperti itu, tapi aku yakin syarat yang aku berikan pasti akan terwujud, lagi pula kalau pun tidak terpenuhi aku akan tetap menerimanya, heheheeh". Mengoceh sendiri padahal Mila sama sekali tidak mengerti apa yang dia ucapkan.


"Ternyata kamu sangat menyukainya". Cibir Mila. "Bagaimana dengan kabar buruknya?".


"Oh iya aku sampai lupa". Menepuk jidatnya sendiri. "Irene akan kembali ke Kanada".


"Kembali ke Kanada? Kenapa? Bukankah waktu itu dia bilang akan menetap disini". Mila tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya mendengar kabar itu. Baru sebentar mereka bersama Irene, kini gadis itu malah akan pergi lagi.


"Dia tidak bilang alasan dia kembali ke Kanada, tapi aku yakin ini semua karena Ifan, kamu tahu kan Ifan akan segera menikah".


"Irene pasti berharap bisa kembali dengan Ifan, lalu kapan dia akan berangkat?".


"Hari ini, sekarang dia menuju bandara, dia titip salam padamu". Ucap Nayra dengan sedih.


"Apa? Sekarang? Kamu gila ya, kenapa tidak bilang dari tadi, kita harus menemuinya, ayo Nay kita susul dia kebandara sekarang". Balas Mila dengan panik.


"Irene tidak mau disusul, dia tidak mau melihat kita menangis disaat dia akan pergi".


"Itu penting Nay, kita tidak tau kapan dia akan kembali, bagaimana pun kita harus menyusulnya".


"Kamu yakin akan menyusulnya? Lalu bagaimana dengan Maxwell". Melirik Maxwell yang duduk dipangkuan Mila.


Mila ikut menatap Maxwell, anak itu diam saja sedari tadi.


"Kita bawa saja dia".


Setelah mendapat izin dari Akbar, Mila membawa Maxwell bersamanya untuk menyusul Irene yang akan segera terbang ke Kanada.


Nayra mengemudikan mobilnya, berusaha santai walau sebenarnya ingin melaju cepat agar segera sampai dibandara, namun mengingat Maxwell yang ikut bersama mereka, Nayra menahan diri dan berharap kalau Irene masih dibandara.


Sesampainya dibandara, mereka berjalan setengah berlari mencari Irene, berkeliling sambil mencoba menghubungi nomor ponsel Irene, namun nomornya sama sekali tidak bisa dihubungi. Mila yang menggendong Maxwell mulai kelelahan, lalu duduk disalah satu kursi yang ada di sana. Setelah duduk, dari kejauhan mereka melihat Irene yang berjalan dengan sebuah koper ditangannya.


"Irene... ". Teriak mereka serentak. Irene yang mendengar teriakan itu langsung berhenti dan berbalik mencari asal suara.


Mila dan Nayra berjalan menghampirinya.


"Kenapa kalian ada disini?". Ucap dengan kaget melihat kedua sahabatnya itu.


"Kamu memang teman yang paling baik, pergi seenaknya tanpa pamit pada kami". Jawab Mila.


"Maaf, tapi aku tidak mau merepotkan kalian".


"Sekarang kamu benar-benar merepotkan kami". Balas Nayra.


"Kenapa pergi?". Tanya Mila dan mulai menunjukkan wajah sedihnya.


"Kalian sudah bahagia, tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan, Mila sudah kembali dengan Akbar, sementara Nayra sebentar lagi akan menikah dengan Nando, sekarang aku bisa belajar dengan tenang di Kanada, aku akan mencari kebahagiaan ku disana". Jawabnya Irene.


"Irene, kita bisa sama-sama mencari kebahagiaan disini, kenapa kamu harus pergi lagi?". Nayra pun tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


"Aku hanya ingin melanjutkan pendidikan ku, percayalah setelah lulus aku akan kembali lagi". Berusaha menghibur kedua sahabatnya yang kini mulai menangis.


"Irene, kami akan sangat merindukan mu". Mila memeluk Irene yang disusul Nayra. Mereka bertiga berpelukan dan saling menumpahkan air mata.


"Max, kamu jangan nakal ya, jadilah anak yang baik untuk Bunda Mila, jagoan Bunda kamu ya". Ucap Irene pada Maxwell yang sedari tadi berdiri disamping Mila. Dan seolah mengerti, Maxwell pun menganggukkan kepalanya.


Irene kembali menatap kedua sahabatnya.


"Aku berangkat ya". Pamitnya dengan sedih. Irene melanjutkan langkahnya diiringi lambaian tangan dari Mila dan Nayra.

__ADS_1


__ADS_2