Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Kembali kerumah


__ADS_3

"Aku.... aku juga menyukai mu" jawab Mila lalu mengalihkan pandangannya.


"Apa? aku tidak mendengar mu" sambil menarik lengan Mila untuk kembali memandang kearahnya.


"Aku juga menyukai mu" ucapnya lagi sambil menunduk.


"Hei... bicaralah yang jelas" goda Akbar.


Mila mengangkat wajahnya.


"Aku juga masih menyukai mu....Akbar" jawabnya, dan kali ini dengan suara yang tegas.


"Wah... aku hanya sekali mengatakan menyukaimu, tapi langsung kamu balas tiga kali" ucap Akbar disertai tawanya.


"Ishhh menyebalkan" ucap Mila lalu memukul lengan Akbar.


Akbar tersenyum dan seperti biasa memamerkan lesung pipinya, dia menangkap tangan Mila yang memukul lengannya. Untuk sesaat mata mereka kembali saling beradu, lalu Akbar menariknya dan memasukkan tubuh Mila kedalam pelukan Mila.


Akbar memeluknya dengan erat, dan perlahan Mila pun membalas pelukan itu.


"Terima kasih Mila, terima kasih sudah memberikan ku kesempatan kedua" ucapnya dengan hati yang tulus sambil membelai rambut hitam milik Mila. "Aku mencintai mu, sangat mencintai mu" lanjutnya lagi.


Mila mengangguk, lalu melepaskan tubuhnya dari pelukan Akbar, Mila tersenyum lalu meraih tangan Akbar.


Tanpa mereka sadari, ternyata banyak mata yang sedang menonton mereka. Bunda Rita, Nayra, Irene dan Mona berdiri dipintu menyaksikan mereka sedari tadi.


"Hhmmm hmmmm" Nayra membuka suara, dengan serentak Mila dan Akbar langsung menoleh keasal suara, dan begitu melihat mereka yang berdiri dipintu, Mila langsung melepaskan tangan Akbar.


"Apa ini drama percintaan dirumah sakit ?" sindir Nayra lalu mulai berjalan kearah Mila, Bunda Rita, Irene dan Mona pun mengikutinya dari belakang.


"Hai Nayra" sapa Akbar berusaha seramah mungkin.


"Jangan sapa aku! " bentak Nayra pada Akbar. "Apa kamu bahagia?" tanya-nya pada Mila.


"Te...tentu saja, hari ini aku akan kembali kerumah" jawab Mila kaku.


"Apa karena akan pulang pipi mu memerah seperti itu? " cibirnya melihat pipi Mila yang memerah. Mila langsung menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Meskipun kesal, namun sebenarnya Nayra senang bisa melihat Mila bahagia, namun tiap melihat Akbar, emosinya sangat tidak bisa dikontrol.


"Bunda " sapa Akbar pada Bunda Rita, Akbar beranjak dari duduknya untuk bisa memberi salam pada wanita itu.


"Bagaimana kabar mu nak?" tanya Bunda Rita pada Akbar.


"Baik Bunda" jawab Akbar.


"Bunda senang bisa kembali melihat mu"


"Akbar juga Bunda" jawab Akbar, dia lega karena Bunda Rita masih menerima kehadirannya.


"Bunda, jangan ajak dia bicara" protes Nayra. "Mila, ayo kemasi barang mu, aku akan mengantar mu pulang" ucap Nayra dengan lirikan tajam pada Akbar.


"Tapi Nay.... " Mila ingin mengatakan kalau dia akan pulang bersama Akbar, namun melihat tatapan mematikan dari Nayra, Mila pun mengurungkan keinginannya, dia menatap Akbar dengan mata sendunya.


"Tidak apa-apa, kamu pulang dengan Nayra saja, aku akan bersama Bunda" jawab Akbar yang dengan mudah memahami tatapan Mila.


Setelah mengemasi semua barang Mila, mereka pun keluar dari rumah sakit itu. Mila dan Irene menaiki mobil milik Nayra, sementara Bunda Rita memilih menaiki mobil Akbar.


Dalam perjalanan, Nayra masih saja terlihat kesal, dia mengemudikan mobilnya lebih cepat dibanding biasanya.


"Nay, sikap kamu sangat berlebihan terhadap Akbar, kasihan tau dia" ucap Irene yang duduk di kursi belakang.


"Iya Nay, kamu tidak seharusnya bersikap seperti itu" sambung Mila.


"Kalian memang lemah, kalian langsung luluh begitu saja dengannya" jawab Nayra. "Aku mengerti kalau Irene bisa dengan mudah menerima Akbar, karna kamu tidak disini, kamu tidak melihat bagaimana Akbar meninggalkan Mila dan menikah dengan gadis lain yang sudah hamil, kamu juga tidak melihat bagaimana hancurnya Mila waktu itu, aku tidak ingin hal itu terjadi lagi" ucapnya dengan tegas.


"Hancur apanya? Kamu sangat berlebihan Nay, aku baik-baik saja kok" sengkal Mila.


"Baik-baik saja ?" sengaja meninggikan suaranya. "Kamu lupa bagaimana kamu menangis waktu itu, dan tiap reuni kamu selalu menolak untuk ikut karena tidak ingin bertemu dengannya, bahkan selama ini, mendengar namanya saja kamu tidak mau, tapi sekarang dengan gampangnya kamu malah baikan dengannya, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mu Mila".


Mila menghela nafasnya dalam-dalam, ia mencoba memahami kekhawatiran Nayra padanya.


"Iya, awalnya memang seperti itu, tapi sekarang aku sadar, karena ternyata Akbar lah yang paling menderita dibalik ini semua" jawab Mila.

__ADS_1


"Menderita ? omong kosong" balas Nayra.


"Sebenarnya Akbar terpaksa menikahi Rania, dan Maxwell bukanlah anak kandungnya" kata Mila.


"Apa Akbar yang mengatakan seperti itu ? Lalu kamu percaya?" balas Nayra dengan menggelengkan kepalanya.


Akhirnya Mila pun menceritakan semuanya pada Nayra dan Irene, dia menceritakan penyebab Akbar yang terpaksa harus menikahi Rania hingga akhirnya mereka bercerai.


Nayra terdiam mendengar cerita Mila, dia membisu tanpa berkomentar lagi, sementara Irene menangis haru mendengar kisah Akbar yang harus menggantikan tanggung jawab Kakaknya.


Sementara itu, dimobil lain, Bunda Rita dan Mona sangat menikmati perjalanan mereka.


"Bunda, sebelumnya aku turut berduka atas kepergian Pak Dedi" ucap Akbar. Bunda Rita tersenyum mengangguk.


"Panti kenapa dipindahkan Bunda? aku sangat kesulitan mencari kalian" ucap Akbar.


"Kami terpaksa pindah karena saudara Bapak mengambil alih tanah itu" jawab Bunda Rita.


"Lalu sekarang panti dimana Bunda?"


"Kami pindah ke salah satu rumah peninggalan orang tua ku, letaknya dipinggir kota, sekitar satu jam dari sini" jawab Bunda Rita.


"Aku ingin berkunjung kesana Bunda, apa Akbar boleh datang ke panti ?"


"Tentu saja boleh, pintu kami selalu terbuka untuk kamu"


"Benarkah?"


"Kamu akan jadi tamu istimewa kami"


"Baiklah Bunda, secepatnya aku akan mengunjungi Bunda di panti" jawab Akbar dengan senyum lebar.


Sampai dirumah Mila, mereka semua pun turun dari mobil lalu sama-sama memasuki rumah, namun Akbar langsung pamit pulang karena harus menjemput Maxwell yang lagi berada dirumah Papa Mamanya. Akbar menahan Mila yang ingin masuk kedalam rumah mengikuti yang lain.


"Aku pulang sekarang Mila, aku harus menjemput Maxwell dirumah Mama" pamitnya pada Mila.


Nayra yang melihat mereka kini hanya diam tidak memberi komentar seperti biasanya. Dia melewati Mila dan Akbar begitu saja, lalu memasuki rumah Mila.


"Ya sudah kamu pulang saja" jawab Mila mengizinkannya.


*********


Setelah beberapa hari tidak masuk kerja karena harus menemani Mila dirumah sakit, hari ini Mona pun kembali kerja seperti biasa. Mona sudah mengganti seragam sekolahnya dengan seragam kerja, dia sudah siap untuk memulai pekerjaannya, Mona keluar dari ruang ganti menuju toko, namun dipintu Milva menghalanginya.


"Permisi mau lewat" seru Mona pada Milva yang berdiri menghalangi jalannya.


"Kata siapa kamu boleh masuk kerja lagi?" jawab Milva. "Setelah beberapa hari tidak masuk tanpa kabar, sekarang seenaknya saja mau kerja lagi"


"Aku sudah izin kok sama Kak Nayra, lagian Bapak lihat sendiri kan kalau beberapa hari ini aku dirumah sakit jagain Kak Mila"


"Emang bos kamu cuma Kak Nayra saja, kamu juga harus izin pada ku"


"Baiklah, lain kali aku akan izin dengan Bapak" lalu berniat untuk meninggalkan Milva, namun Milva masih berusaha menghalanginya.


"Kali ini kamu dimaafkan, tapi kamu tetap harus dihukum" sambung Milva.


"Dihukum? Hukuman apa?" dengan dahi berkerut.


"Kamu harus menceritakan siapa saja yang datang menjenguk Kak Mila" bisik Milva. "Si Akbar itu apa datang lagi? Hah ?" sambungnya lagi dengan berbisik.


"Sangat tidak penting" gumam Mona dalam hatinya. "Bapak seharusnya mundur dari sekarang, Kak Mila sudah balikan dengan Kak Akbar, kemarin kami melihat mereka berpelukan dirumah sakit" sahut Mona dengan menahan emosinya.


"Benarkah? Ahh sial, harusnya kemarin aku ikut menjemputnya, apa hebatnya sih Akbar itu"


"Yang jelas dia jaaauhhh lebih hebat dari Bapak" sengaja membanggakan Akbar. "Kalau jadi Kak Mila juga, aku akan lebih memilih Kak Akbar dibanding Bapak"


"Tutup mulut mu, kamu pikir aku juga mau dengan mu" Jawab Milva dengan kesal. "Dan satu hal lagi, kapan kamu akan berhenti memanggil ku Bapak? Aku tidak setua itu, bahkan Akbar yang lebih tua dari ku kamu panggil Kakak" sambung Milva semakin kesal.


"Sampai rambut Bapak berubah jadi warna putih, lalu aku akan berhenti memanggil Bapak, dan berganti jadi memanggil Kakek" sahut Mona lalu berlari meninggalkan Milva, dan setelah berjarak dua meter dari Milva dia berbalik menatap Milva lalu menjulurkan lidahnya kearah Milva, kemudian lari lagi dan memasuki toko.


"Dasar Mona sialan" umpat Milva, namun akhirnya dia tertawa melihat tingkah Mona. "Kenapa dia bisa selucu itu" ucapnya tanpa sadar. "Ohh astaga ada apa dengan ku" begitu menyadari ucapannya.


*******

__ADS_1


Setelah beberapa hari istirahat dirumah, akhirnya Mila pun kembali beraktivitas seperti sebelum-sebelumnya, dia mulai masuk kerja, Mila berangkat kerja sebagaimana biasanya, namun berbeda dengan pas pulangnya, kini tiap hari Akbar menjemputnya dikantor. Dan sesekali Akbar mengajaknya ke rumah untuk bertemu dengan Maxwell, semakin hari Mila pun semakin dekat dengan Maxwell.


Tiap hari libur mereka selalu menghabiskan waktu bersama, bahkan terkadang Mona juga ikut bersama mereka untuk sekedar jalan-jalan. Tapi berbeda dengan hari ini, Akbar menjemput Mila kerumahnya, dia datang sendiri tanpa membawa Maxwell bersamanya.


"Kita mau kemana?" tanya Mila setelah berada didalam mobil.


"Nanti juga kamu bakalan tahu" jawab Akbar sambil mengedipkan matanya.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka pun sampai ditempat tujuan. Akbar berhenti dan memarkirkan mobilnya.


"Ayo turun, kita sudah sampai" ajak Akbar sambil melepas sabuk pengamannya.


Mila tertegun melihat tempat tujuan mereka, dia tersenyum lalu keluar dari mobil setelah Akbar membukakan pintu untuknya.


"Kenapa tidak bilang kalau kamu akan membawa ku kesini" ucapnya dengan senyum dikedua sudut bibirnya.


"Bagaimana? Kamu suka?"


"Tentu saja" jawab Mila.


Tidak lama kemudian anak-anak panti pun datang menyambut mereka.


"Kak Mila datang!" seru mereka lalu dengan berbaris rapi dan menyalami tangan Mila dan Akbar. Mila meminta mereka untuk kembali melanjutkan aktivitas mereka.


"Ayo masuk, Bunda sudah menunggu kita" ajak Akbar. Ternyata Akbar membawanya ke Panti Asuhan.


"Apa Bunda tahu kalau kita datang ?" tanya Mila sambil berjalan memasuki Panti.


"Aku sudah menelepon Bunda dan bilang kalau kita akan mengunjungi panti" jawab Akbar.


Begitu sampai didalam panti, Bunda Rita tersenyum menyambut mereka, nampaknya dia memang sedang menantikan kedatangan mereka.


"Bunda !" Mila langsung memeluk Bunda Rita untuk melepas rasa rindunya. Bunda Rita pun membalas pelukannya.


"Ayo duduk dulu" ajak Bunda Rita setelah selesai melepas rindu dengan Mila.


Mila dan Akbar pun menurut, mereka duduk disofa yang ada disana, Mila duduk disamping Bunda Rita, sementara Akbar duduk didepan mereka.


"Minumlah, kalian pasti capek dengan perjalanan kesini" Bunda Rita menuangkan minuman yang sedari tadi dia siapkan dimeja. Akbar meraih gelas dihadapannya, lalu meneguknya beberapa tegukan, begitu juga dengan Mila.


"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan dengan Bunda?" tanya Bunda Rita setelah Akbar dan Mila selesai minum.


"Membicarakan apa?" Mila bergantian menatap Akbar dan Bunda Rita.


"Akbar menelepon Bunda, dia bilang akan kepanti karena ada hal penting yang ingin disampaikan, kamu tidak tahu? " jawab Bunda Rita dengan sedikit bingung. Mila menggelengkan kepalanya. Dengan sedikit was-was mereka berdua menatap Akbar, dengan tatapan itu mereka meminta Akbar untuk segera bicara.


Akbar beranjak dari duduknya.


"Bunda, aku sengaja membawa Mila kesini supaya kita bisa sama-sama bertatapan seperti ini" ucap Akbar memulai, Mila dan Bunda Rita mendengarkannya dengan baik-baik.


"Aku, Akbar Bachtiar Wijaya ingin melamar putri Bunda yang bernama Carmila Khairani untuk menjadi istri ku dan Ibu dari anak-anak ku kelak" ucapnya dengan sunguh-sungguh.


Mila dan Bunda Rita tercengang mendengar lamaran Akbar yang dirasa sangat tiba-tiba. Mila terdiam dan hanya menatap Akbar, dan Akbar masih berdiri menunggu jawaban dari Bunda Rita.


"Akbar, apa ini tidak terlalu cepat" Bunda Rita akhirnya bicara.


"Tidak Bunda, justru kami sudah sangat banyak membuang waktu, aku tidak ingin menunda dan membuang waktu lagi" jawab Akbar dengan mantap.


Bunda Rita menatap Mila, lalu menggenggam tangannya.


"Semuanya Bunda serahkan pada Mila, apa pun jawabannya, Bunda akan mendukung" jawab Bunda Rita.


Akbar beralih menatap Mila yang mulai berkaca-kaca.


"Mila, maukah kamu menjadi istriku, menjadi Ibu untuk Maxwell, dan Ibu untuk anak-anak kita kelak, aku janji tidak akan melepaskan mu lagi, dan aku janji akan selalu disisi mu" ucapnya dengan sungguh-sungguh dari hatinya yang paling dalam.


Air mata yang sedari tadi menggenangi matanya kini jatuh membasahi pipinya. Mila menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari lamaran Akbar.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya ya 😊😊😊


Terima kasih.


__ADS_2