Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Mengantar pulang


__ADS_3

"Mila.. " ternyata yang ditabrak Maxwell adalah Mila.


"Akbar.. " Mila tidak kalah terkejutnya melihat Akbar.


"Kak Akbar!" seru Mona dengan senyum girang. Dia sangat senang melihat Akbar. Selama ini dia sangat penasaran kenapa Akbar tidak pernah muncul lagi dihadapannya, namun Bunda Rita selalu melarangnya mengungkit nama Akbar, terutama di depan Mila.


"Hai Mona" sapa Akbar dengan membalas senyumnya.


Maxwell terlihat bingung diantara orang dewasa disekelilingnya, dia menyembunyikan wajahnya dibelakang kaki Akbar.


"Apa ini anak mu?" tanya Mila sambil tersenyum ramah ke arah Maxwell.


"Iya" jawab Akbar sambil menarik tubuh Maxwell yang berusaha bersembunyi dibelakangnya. "Max... ayo say hi" kata Akbar pada Maxwell.


"Hai... tante" ucap Maxwell malu-malu sambil melambaikan tangannya.


"Hai juga... Lucu bangat sih kamu" balas Mila sembari mengusap lembut kepala Maxwell.


Setelah saling sapa, mereka memutuskan untuk makan ice cream bersama. Kini mereka menuju salah satu cafe ice cream yang berada di lantai 3 mall itu. Begitu sampai disana mereka duduk ditempat yang jauh dari tamu lain, dan tidak lama kemudian seorang waiters pun datang membawakan buku menu, dia menawarkan ice cream dengan berbagai macam rasa.


"Maxwell suka ice cream ?" tanya Mila pada Maxwell yang duduk disamping Akbar. Anak itu mengangguk dan tersenyum malu-malu.


"Maxwelk mau rasa apa?" sambung Mila sambil membuka lembaran buku menu yang diberikan waiters. "Apa mau rasa strawberry?" lanjutnya.


"Ahh jangan Mila, Maxwell alergi dengan strawberry" jawab Akbar.


"Oh ya? Maaf ya Maxwell, tante tidak tahu" ucap Mila dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa tante" jawab Maxwell dengan mulutnya yang mungil. "Max mau rasa coklat" sambungnya.


"Wahh... selera kita sama" sahut Mona. "Tos dulu dong" sambil mengangkat tangannya, dengan ragu-ragu Maxwell pun mengangkat tangannya. "Sekarang kita teman ya" sambung Mona, mendengar kata teman Maxwell langsung menganggukkan kepalanya lalu tertawa. Tawanya yang lucu menggemaskan membuat mereka bertiga ikut tertawa dibuatnya.


"Daddy suka rasa strawberry" Maxwell kembali mengeluarkan suaranya.


"Dia tahu selera mu" ucap Mila pada Akbar, sementara Akbar tersenyum mendengarnya. "Kami pesan yang rasa coklat dua, strawberry dua" kata Mila pada waiters yang sedari tadi berdiri disampingnya. Setelah mencatat pesanan Mila, waiters itu pun pamit dan meninggalkan mereka.


Akbar dan Maxwell memang sering menghabiskan waktu dengan makan ice cream bersama, jadi tidak heran kalau Maxwell hafal kesukaan Akbar.


"Daddy makan ice cream sampai belepotan" kata Maxwell tiba-tiba yang membuat Mila dan Mona tertawa seketika.


"Hei hei kamu yang suka belepotan ya" sengkal Akbar.


"Daddy juga, makannya sampai ke sini" balasnya sambil menunjuk pipinya.


"Tidak, Kamu yang seperti itu" jawab Akbar sambil menggelitiki Maxwell. "Iya kan? ayo ngaku" anak itu tertawa sambil berusaha menghindari tangan Akbar yang menggelitiki tubuhnya.


Mila tertegun melihat kedekatan Akbar dan Maxwell, di matanya, mereka benar-benar terlihat seperti ayah dan anak. Mila melihat banyak perubahan di dalam diri Akbar, sekarang dia jauh lebih dewasa, dia bukan lagi Akbar yang dulu, yang suka berbuat semaunya, sekarang pria ini sudah menjelma menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab.


Pesanan ice cream mereka datang, waiters menyajikannya di atas meja lalu kembali meninggalkan mereka.


Maxwell yang sudah tidak sabar langsung menyendok ice cream yang terhidang dihadapannya dan segera memasukkannya ke dalam mulutnya. Namun, baru tiga sendok, ice cream sudah memenuhi wajahnya. Akbar yang melihat wajah Maxwell dipenuhi ice cream langsung menarik beberapa lembar tissu dan membersihkan wajah Maxwell.


"Lihatlah, siapa sekarang yang belepotan, hmm ?" ucap Akbar sambil melap wajah bocah itu, sementara Maxwell hanya tertawa dan terus menyendoki ice cream miliknya. Dia sangat menikmati ice cream itu.


Mila masih saja memperhatikan Akbar dan Maxwell, dia bahkan sama sekali belum menyentuh ice cream miliknya.


"Kamu tidak makan punya mu? " tegur Akbar menyadari Mila yang belum menyentuh ice cream miliknya.


"Oh iya" ucap Mila lalu mulai menyendok ice creamnya.

__ADS_1


Selesai makan ice cream, mereka pun keluar dari cafe tersebut. Mereka berjalan bersama sampai ke lantai dasar.


Mona yang langsung akrab dengan Maxwell, menggandeng tangannya sambil berjalan di depan Mila dan Akbar.


"Bagaimana kalian pulang ?" ucap Akbar begitu sampai di pintu keluar mall.


"Kami akan naik taksi" jawab Mila


"Bagaimana kalau kalian pulang dengan kami ?" kata Akbar menawarkan.


"Tidak perlu Akbar, kami akan naik taksi" tolak Mila.


"Kita pulang dengan Kak Akbar aja Kak, aku masih ingin bermain dengan Maxwell" sela Mona. "Iya kan Max?". Maxwell mengangguk lalu tertawa.


"Maxwell menyukai kalian, dia pasti senang berada satu mobil dengan kalian" sambung Akbar.


"Baiklah" akhirnya Mila bersedia.


Akbar mengambil mobilnya terlebih dahulu, sementara Mila, Mona dan Maxwell menunggunya.


"Tante...tante" panggil Maxwell


"Iya" serentak Mila dan Mona menyahut.


"Dua-duanya tante ?" Maxwell terlihat bingung karna Mila dan Mona menyahut bersamaan.


"Hmmm... gimana kalau Maxwell panggil aku tante" sambil menunjuk dirinya. "Dan ini Bunda" kata Mona menunjuk Mila.


"Mona! jangan ngaco kamu" tegur Mila.


"Kasian Kak, dia bingung kalau mau memanggil salah satu diantara kita"


"Iya, tapi... "


"Iya, seperti itu" jawab Mona dengan tersenyum lebar. "Dia sangat pintar Kak" ucap Mona dengan bangga.


Tidak lama kemudian, Akbar pun datang, mobilnya berhenti tepat didepan mereka.


"Daddy.." seru Maxwell yang langsung mengenali mobilnya Daddynya.


Mona dan Maxwell memasuki mobil lalu duduk di kursi belakang, sementara Mila mau tidak mau akhirnya duduk di depan, disamping Akbar.


Mobil keluar dari mall dan melaju dengan kecepatan sedang. Mona dan Maxwell terlihat sibuk dibelakang, mereka membuka buku dongeng milik Maxwell, dan sesekali tertawa bersama.


Sementara di kursi depan, Mila hanya diam sambil memandang jalanan yang mereka lewati. Akbar sesekali melirik kearahnya.


"Rumah kamu arah kemana?" tanya Akbar begitu sampai dipersimpangan.


"Sebelah kanan " jawab Mila singkat.


"Kenapa pindah dari kontrakan yang lama?" tanya Akbar


"Ingin pindah saja" jawabnya acuh.


"Panti juga pindah" sambung Akbar. "Kamu benar-benar menghilang Mila, bahkan kamu pindah kampus" lanjut Akbar. "Aku mencari-cari mu waktu itu" kenangnya.


Mila tidak menjawab, dia tidak ingin mengingat masa sulit itu lagi. Mila menarik nafas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah jalanan.


"Apa dia pacar mu ?" tanya Akbar tiba-tiba. Mila menoleh dengan menyerngitkan dahinya, dia tidak mengerti maksud pertanyaan itu. "Kemarin aku melihat mu masuk ke mobilnya" sambung Akbar.

__ADS_1


"Ohh...Aldo" ucap Mila setelah tahu orang yang dimaksud Akbar.


"Aku tidak menanyakan namanya" dengan sedikit kesal.


"Dia bukan pacar ku" jawab Mila dengan sedikit tersenyum.


"Benarkah ? lalu siapa dia ?" sedikit lega namun belum sepenuhnya yakin.


"Dia teman ku, dia anak dari salah satu donatur di panti" jawab Mila. "Keluarganya sekarang menetap di Kanada, tapi dia kembali ke kota ini untuk menangani beberapa bisnis keluarganya"


"Ohh" mulai kesal lagi. "Dia menjemput mu kemarin, apa kalian sedekat itu ?"


"Iya, kami cukup dekat" jawab Mila yang membuat Akbar semakin kesal.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, sampailah mereka di kontrakan Mila, rumah kecil sederhana tanpa pagar, hari sudah menjelang malam ketika mereka sampai. Mereka sama-sama turun dari mobil itu. Akbar membantu mengeluarkan barang belanjaan mereka dari bagasi.


"Aku masuk duluan ya" ucap Mona sembari mengangkat barang belanjaannya. "Terima kasih Kak Akbar" lanjutnya. "Maxwell, ddada..." sambil melambaikan tangannya pada Maxwell. Sikecil Maxwell pun membalasnya dengan senyum bahagia.


"Kamu tinggal disini?" kata Akbar sambil memperhatikan sekeliling rumah. Mila menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tinggal berdua dengan Mona?"


"Iya, mulai hari ini dia akan tinggal denganku" jawabnya.


"Aku masuk ya, terima kasih sudah mengantarkan kami" ucap Mila. "Maxwell, sampai jumpa lagi" dengan tersenyum lebar pada Maxwell.


"Iya Bunda" jawab anak itu dengan polosnya.


"Bunda ? sejak kapan kamu jadi Bunda ?" ucap Akbar dengan kaget mendengar panggilan Maxwell pada Mila.


"Astaga...ini hasil kerjaan Mona" keluh Mila. "Sayang, kenapa kamu menuruti ucapan Mona" kata Mila pada Maxwell sambil mencubit pipi Maxwell dengan lembut.


Maxwell tertawa. "Bunda!" ulangnya lagi .


"Baiklah, terserah kamu saja" sambil mengelus kepala Maxwell. "Maxwell terlihat bahagia, kamu pasti sudah merawatnya dengan baik"


"Tentu saja, aku Daddy yang hebat" jawabnya dengan sombong. Lalu mereka tertawa bersama.


"Aku masuk ya" pamitnya lalu berbalik berniat memasuki rumah.


"Mila" panggil Akbar membuat langkah Mila terhenti. Mila pun berbalik. "Apa aku boleh minta nomor HP mu ?" sambil mengeluarkan Hpnya dari kantong celana dan menyodorkannya pada Mila.


Mila tidak menyahut dan tidak bergerak meraih HP itu. "Sepertinya Maxwell sangat menyukai kalian, aku hanya takut kalau sewaktu-waktu dia menannyakan kalian dan ingin menelepon" kata Akbar berusaha menjelaskan.


"Alasan yang masuk akal" jawab Mila dengan menyunggingkan senyum disalah satu sudut bibirnya. Mila meraih HP dari tangan Akbar lalu memasukkan nomornya.


"Terima kasih" ucap Akbar begitu Mila mengembalikan HPnya.


Mila melanjutkan langkahnya dan memasuki rumah. Setelah Mila masuk kedalam rumah, Akbar membantu Maxwell masuk kedalam mobil, mereka pulang dengan hati yang berbahagia. Akbar mengemudi sambil senyum yang menampilkan lobang bulat di kedua pipinya. Sementara Maxwell mulai mengerjap dan menguap karena mengantuk. Akbar mempercepat laju mobilnya supaya sampai lebih cepat dirumahnya.


**********



*Daddy Akbar dan Maxwell


-


-

__ADS_1


bersambung*......


Jangan lupa like dan vote nya ya, terima kasih.


__ADS_2