Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Pernikahan Nayra & Nando part 2


__ADS_3

Akbar sudah merenggangkan tangannya yang sedari tadi menggenggam erat tangan Mila. Tidak bisa terima dengan semua yang dibicarakan orang disekelilingnya. Tatapannya semakin tajam kala melihat Tina dan Dara yang tersenyum sinis kearah mereka. Mila yang sadar akan amarah Akbar langsung berusaha mengendalikannya.


"Akbar! Jangan hiraukan mereka". Menarik tangan Akbar untuk kembali melanjutkan langkahnya.


"Tidak! Mereka tidak bisa dibiarkan". Ucapnya dingin.


"Tenangkan dirimu sayang, ingat! ini pernikahan Nayra dan Nando, pernikahan sahabat kita, jangan buat keributan!". Kembali menarik tangan Akbar. Sementara Tina dan Dara yang menyadari tatapan Akbar mulai berpindah dari tempatnya. Kedua gadis itu melangkah mundur dan menghilang dikeramaian.


"Ayo!". Sekali lagi Mila menarik tangan Akbar, dan kali ini dia menurut, melanjutkan langkahnya bersama Mila. Mereka mencari tempat duduk yang kosong. Tidak lama setelah duduk, seluruh lampu tiba-tiba padam dan bersamaan dengan itu sebuah lagu romantis terdengar memenuhi ruangan itu. Pembaca acara menaiki panggung dan mengarahkan semua tamu untuk menyambut kedua mempelai. Mereka pun berdiri.


Sebuah lampu kini menyoroti kedua mempelai yang berjalan perlahan menuju altar. Sorak tepuk tangan pun mengiringi setiap langkah keduanya. Dari tempatnya berdiri, Mila bisa melihat dengan jelas wajah bahagia Nayra dan Nando. Senyum mengembang keduanya menjadi bukti kalau mereka adalah pasangan yang berbahagia. Tepat dibelakang mempelai, kedua orangtua Nayra dan Nando ikut berjalan mengiringi. Dan dibelakangnya lagi terlihat Milva dan Mona berjalan sambil bergandengan tangan.


"Tante Mona!". Teriak Maxwell. Akbar langsung melotot begitu melihat Mona, sementara gadis itu malah tersenyum jahil begitu melewati mereka.


Setelah sampai di altar, semua lampu kembali menyala. Kini sepasang pengantin muda sudah berada dihadapan seluruh tamu. Acara pun di mulai.


Serangkaian acara telah dilewati, Maxwell yang sudah mengantuk mulai merengek minta pulang.


"Daddy! Max mau pulang". Rengeknya sambil menguap.


"Sebentar lagi ya". Bujuk Akbar berusaha menenangkan Maxwell dipangkuannya.


"Sayang, apa kita pulang saja sekarang". Ucap Mila yang tidak tega melihat Maxwell.


"Tapi acaranya belum selesai".


"Kasihan Maxwell". Mengusap wajah Maxwell yang mulai menyandarkan kepalanya di dada Akbar. "Ini sudah jam tidurnya, lagi pula acaranya sudah hampir selesai kan".


"Baiklah, tapi kita temui Nayra dan Nando dulu". Ajak Akbar. Keduanya pun beranjak dari duduknya dan melangkah menuju panggung menghampiri pengantin. Nayra yang melihat mereka langsung menyambut dengan heboh.


"Selamat... ". Mila yang ikut berbahagia dengan pernikahan sahabatnya langsung memeluk Nayra.


"Terimakasih". Membalas pelukan Mila. "Aku pikir kalian sudah pulang, tadi ada Parto bersama Yuda dan Ifan, kalian tidak bertemu ?".


"Sudah tadi, rasanya seperti reuni lagi". Jawabnya dengan tertawa. "Tapi sekarang kami mau pulang, lihat, Maxwell sampai ketiduran". Menunjuk Maxwell yang sudah terlelap digendongan Akbar.


"Ya ampun, kasihan sekali". Mengelus pipi anak itu dengan gemas namun tidak membuatnya terbangun.


"Dia pasti kecapean". Sambung Nando.


"Iya, kami harus pulang sekarang". Jawab Akbar. Nando pun mengangguk.


"Oke, tapi kita foto dulu ya". Nayra yang tidak mau melewatkan momen ini langsung meminta fotografer untuk memotret kebersamaan mereka. Tiga jepretan dengan gaya yang berbeda. Setelah itu Mila dan Akbar pun pamit dan langsung bergegas turun dari sana. Mereka pulang meninggalkan pesta yang sudah dipenghujung acara.


Sampai dirumah, Mila menidurkan Maxwell di kamarnya. Setelah itu ia pun kembali ke kamarnya dan mendapati Akbar yang sudah berada di atas tempat tidur. Pria itu duduk bersandar menunggunya. Mila merangkak menaiki tempat tidur menghampiri Akbar yang langsung memeluknya.

__ADS_1


"Kenapa sekarang tiba-tiba murung ?". Mencium pipi istrinya yang terlihat berbeda dengan saat dipesta tadi.


"Aku teringat Irene, seandainya dia juga disini, pasti menyenangkan bisa sama-sama hadir di pernikahan Nayra tadi". Menatap wajah Akbar dengan senyum. "Aku merindukannya". Menghela napasnya dengan berat. "Entah kapan bisa bertemu lagi". Keluh Mila.


"Kamu ingin bertemu dengannya?".


Mengangguk pelan.


"Bersyukurlah karena punya suami yang peka seperti diri ku". Ucap Akbar dengan penuh maksud.


"Tentu saja aku bersyukur". Jawab Mila seadanya tanpa mengerti maksud ucapan Akbar.


Akbar membuka laci yang ada di samping tempat tidur. Meraih sesuatu dari dalam sana dan memamerkannya di wajah Mila.


"Lusa kita akan ke Kanada". Ucap Akbar. Mila meraih selembar kertas dari tangan Akbar.


"Apa ini?". Membolak balik kertas tersebut.


"Tiket ke Kanada, lusa kita akan liburan ke Kanada, dan nanti kamu bisa bertemu Irene disana".


"Benarkah?". Akbar mengangguk membenarkan. Mila kembali membolak balik kertas yang ditangannya, memastikan kalau itu tidak palsu. "Ini benaran kan?". Tanya lagi.


"Iya sayang". Kembali mencium pipinya.


"Kamu senang?".


"Tentu saja". Balasnya dengan semangat.


"Kalau begitu kamu harus membayar ku". Mila belum sempat mencerna maksud ucapan Akbar, tiba-tiba Akbar sudah mendorongnya dan sama-sama jatuh di tempat tidur. Selanjutnya Mila pun paham bayaran yang dimaksud Akbar.


*******


Semua sudah dipersiapkan, baju dan beberapa kebutuhan mereka selama liburan di Kanada, Mila sudah menyuusun rapi di dalam koper. Hari ini, Akbar, Mila dan juga Maxwell akan berangkat ke Kanada. Pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah berangkat menuju bandara, sementara Mona dan Bi Lina tetap di rumah dan hanya mengantarkan mereka sampai depan rumah. Mona tidak bisa ikut karena dia tidak bisa meninggalkan sekolahnya, begitu juga dengan Bi Lina yang menolak ikut karena takut naik pesawat.


Sampai di bandara, Mila dikejutkan dengan kehadiran Nayra dan Nando. Pasangan pengantin muda itu melambaikan tangan menyambut kedatangan mereka. Keduanya berjalan menghampiri.


"Mila.... "..Teriak Nayra.


"Kalian kok bisa ada disini?". Mila yang masih bingung dengan kehadiran mereka menatap Nayra dan Nando secara bergantian.


"Kita akan ke Kanada". Seru Nayra.


"Kalian ke Kanada juga?". Nayra mengangguk dengan cepat.


"Kami dapat kado honeymoon ke Kanada dari suami mu". Jawab Nando sambil senyum ke arah Akbar.

__ADS_1


"Oh ya". Dengan heboh dan tidak bisa menutupi kebahagiaannya. "Aaa... aku senang sekali, kita Ke Kanada". Memeluk Nayra dengan erat.


"Iya". Jawab Nayra dengan tidak kalah hebohnya.


"Kita akan bertemu Irene".


"Iya". Teriak Nayra lagi.


Akbar menarik tubuh Mila dan menyeretnya ke sisinya.


"Ini bukan liburan kalian berdua, jadi jangan sampai lupa kalau masih ada aku dan Maxwell disini". Mulai kesal karena di cuekin.


"Iya iya, mana mungkin aku lupa". Padahal tadinya dia memang sempat lupa kalau ada suami dan anaknya dibelakang. "Sayang, ayo ikut sama Bunda". Mengambil alih Maxwell yang sedari tadi digandeng Akbar. Anak itu menurut dan langsung berlari meraih tangannya. Nando pun dibuat terkekeh melihat tingkah Akbar.


"Ingat! Nayra dan Nando sedang honeymoon, dan kamu juga punya suami dan anak, kalian tidak perlu berdempetan terus apalagi nanti kalau sudah bertemu Irene". Melihat kehebohan Mila dan Nayra disini, Akbar langsung membayangkan kehebohan lagi jika mereka sudah sampai di Kanada dan bertemu Irene. Dia senang melihat Mila yang bahagia seperti itu, tapi kesal karena malah dicuekin dan terlupakan.


Mereka melangkah bersama. Menaiki pesawat yang akan membawa mereka terbang.


Setelah melakukan penerbangan sampai belasan jam akhirnya pesawat yang membawa mereka pun mendarat di Toronto atau tepatnya di Bandar Udara Pearson. Bandara internasional yang selalu ramai dan menjadi salah satu bandara tersibuk dunia.


Mila yang berjalan disisi Akbar terus mengamati sekelilingnya, tersenyum dan mensyukuri karena sudah berhasil menginjakkan kaki di sini. Di lihatnya Maxwell, anak itu juga terlihat menikmati perjalanan mereka. Akbar masih menggendongnya.


Sesampainya di pintu utama mereka tidak menemukan Irene disana. Padahal gadis itu sudah berjanji akan menjemput begitu mereka sampai. Mereka menunggu dan mencari-cari keberadaan Irene namun sudah dua puluh menit, tetap saja gadis itu belum muncul. Maxwell yang bosan mulai merengek.


"Daddy, kenapa lama sekali?. Max lapar Daddy".


"Sabar ya sayang". Mila duduk jongkok didepan Maxwell dan menenangkan anak itu. "Kamu makan ini dulu ya". Meraih makanan yang dia simpan dari dalam tas dan menyerahkannya pada Maxwell.


"Aduhhh Irene kemana sih?". Nayra mulai kesal juga. "Aku capek". Keluhnya.


Akbar berdecak kesal. Padahal hotel yang di booking Akbar untuk tempat mereka menginap sudah menawarkan akan menjemput mereka ke Bandara, tapi karena Irene mengatakan dia akan menjemput mereka akhirnya Akbar pun menolak tawaran dari hotel itu dan memilih dijemput Irene.


Mila mencoba menghubungi Irene, tapi tidak ada jawaban dari gadis itu. Akbar yang semakin kesal mulai meraih ponselnya dan berniat menghubungi pihak hotel untuk menjemput mereka. Baru saja Akbar membuka ponselnya, sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti persis dihadapan mereka.


Tidak lama kemudian seorang yang mereka kenali pun turun dari dalam mobil itu. Tersenyum dan berjalan kearah mereka. Bukannya membalas senyumnya, mereka malah memasang wajah was-was. Mila bahkan mundur beberapa langkah. Melindungi Maxwell dibelakangnya, sementara Akbar langsung menghadang sosok yang semakin mendekat itu.


"Aldo..... ". Ucap Nayra dengan sedikit gemetar.


.


.


.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2