Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Mengunjungi Maxwell


__ADS_3

"Akbar" sangat kaget melihat Akbar yang ternyata mengetok pintunya.


"Mila, maaf karena mengunjungi mu malam-malam seperti ini" ucap Akbar.


"Tidak apa-apa, masuklah" ajak Mila.


Akbar pun masuk dan duduk di sofa yang ada diruang tamu itu.


"Mau minum apa ?" kata Mila menawarkan.


"Tidak perlu repot-repot Mila, aku hanya ingin bicara sebentar dengan mu"


"Ada apa ?" sembari duduk disofa yang lain.


"Beberapa hari yang lalu, Maxwell demam tinggi dan dibawa ke rumah sakit"


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang ?" tanya Mila dengan panik.


"Sekarang dia sudah membaik, dan sudah kembali ke rumah"


"Syukurlah" jawab Mila dengan bernapas lega mendengarnya.


"Tapi... " Akbar ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Tapi kenapa Akbar ?" tanya Mila penasaran.


"Selama di rumah sakit, Maxwell sangat susah untuk minum obat, dia memang selalu seperti itu, dan biasanya akan minum obat setelah bicara atau video call dengan Mommy nya, namun kali ini Maxwell tetap tidak mau minum obat dan menangis terus menerus".


Mila mendengarkan dengan baik-baik.


"Lalu, entah kenapa aku malah mengatakan pada Maxwell kalau kamu akan mengunjunginya ke rumah kalau dia mau minum obat" kata Akbar menjelaskan.


"Maaf Mila, aku tidak seharusnya mengatakan seperti itu, tapi ternyata Maxwell langsung mau minum obat, dan sekarang setelah kembali ke rumah, dia terus menanyakan mu". Akbar membuat jeda dikalimatnya.


"Mila, apa kamu mau mengunjungi Maxwell ke rumah, sebentar saja" kata Akbar penuh harap. "Tapi kalau tidak bisa juga, tidak apa-apa" Akbar merasa tidak enak sendiri jadinya.


Mila tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja aku mau" jawab Mila. "Aku akan mengunjunginya, kamu sudah janji padanya, maka kita harus menepatinya" jawab Mila tanpa ragu.


"Benarkah ?" tanya Akbar memastikan.


"Iya" jawab Mila meyakinkan Akbar. "Sebentar, aku ganti baju dulu". Mila bergegas ke kamar dan mengganti bajunya.


Tidak lama kemudian, Mila pun keluar dari kamar dengan baju yang berbeda dari sebelumnya. Mereka langsung bergegas keluar rumah dan menaiki mobil Akbar.


Akbar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Setelah sekian lama, ini kali pertama mereka berdua dalam mobil yang sama, keduanya pun merasa canggung. Akbar memutar musik untuk mengusir keheningan dan rasa canggung diantara mereka.


"Hmm... Mila" mencoba mencairkan suasana.


"Iya" jawab Mila sambil menoleh kearah Akbar.


"Apa tidak masalah kamu pergi dengan ku?"


"Tidak masalah" jawab Mila singkat.


"Apa kamu akan menceritakan ini pada Aldo ?" lanjutnya.


"Hah? Aldo? "


"Iya, tapi tidak masalah juga sih kalau kamu mau menceritakannya pada Aldo, aku ngerti, kamu kan harus terbuka dengannya".

__ADS_1


Mila yang mendengarnya semakin tidak mengerti, namun tetap mendengarkan.


"Tapi Mila, aku sama sekali tidak pernah memanfaatkan kedekatan mu dengan Maxwell, aku juga tidak mengerti kenapa dia sangat menyukai mu, dan... ".


"Tunggu, sepertinya ada yang salah deh" sela Mila yang semakin tidak mengerti arah pembicaraan Akbar "Pertama, kenapa aku akan menceritakan ini pada Aldo dan kenapa aku harus terbuka dengannya?" tanya Mila


"Aldo kan calon suami mu" jawab Akbar pelan tapi tetap terdengar oleh Mila. "Aku tahu kalian akan segera menikah dan akan tinggal di Kanada" lanjut Akbar dengan senyum menampilkan lesung pipinya. Meskipun bibirnya tersenyum, namun matanya tidak bisa berbohong kalau sebenarnya dia sangat merasa sedih dan terpukul dengan ucapannya barusan.


"Astaga...." keluh Mila dengan menggelengkan kepalanya. "Apa Aldo mengatakan seperti itu?"


"Iya" masih berusaha tersenyum.


"Dia memang melamar ku, tapi aku menolaknya"


Mobil berhenti tiba-tiba karena Akbar menekan rem secara mendadak.


"Akbar, apa yang terjadi, kenapa mobilnya berhenti?" Mila yang panik karena mobil berhenti tiba-tiba berusaha melihat kedepan, barangkali ada sesuatu yang tertabrak.


Sementara Akbar hanya diam menatapnya.


"Akbar, ada apa? " ulang Mila, dia masih saja panik ketakutan.


"Mila, apa tadi aku tidak salah dengar ?" tanya Akbar.


"Kamu dengar apa?"


"Kamu menolak lamaran Aldo?"


"Hmm itu, iya" jawab Mila.


"Kenapa?"


"Apa aku harus menjawabnya ?" balas Mila dengan sedikit meninggikan suaranya.


Sesampainya dirumah, Akbar dan Mila langsung memasuki rumah. Mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar tidur Maxwell, dan bertemu Bi Lina pembantu di rumah itu.


"Tuan" sapa Bi Lina pada tuannya.


"Maxwell dimana Bi?"


"Masih dikamarnya tuan, Linda masih membujuknya untuk makan, dia belum mau makan semenjak Tuan pergi" jawab Bi Lina menjelaskan.


Akbar mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar Maxwell, dan Mila mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di pintu, dari luar terdengar suara tangisan Maxwell.


"Daddy.... Daddy" di sela isak tangisnya.


"Max makan dulu ya, kalau tidak makan, nanti Daddy tidak mau pulang" bujuk Linda sang babu sister.


"Tidak, aku mau Bunda" teriaknya.


Perlahan Akbar membuka pintu kamar Maxwell, dan meminta Mila untuk menunggu di luar. Begitu mendengar suara pintu terbuka, serentak Maxwell dan Linda menoleh. Akbar pun muncul dan menghampiri Maxwell.


"Daddy !" seru Maxwell dengan tangisan yang semakin kencang.


Linda berdiri dan membiarkan Akbar mengambil tempat duduknya disamping Maxwell.


"Kenapa menangis?" tanya Akbar lembut.


"Max tidak mau makan dengan Mba Linda" ucapnya.


"Baiklah, kalau begitu, Max makan dengan Daddy saja" Maxwell mengangguk dan tangisnya mulai reda.

__ADS_1


"Linda istirahat saja dengan Bi Lina, Maxwell biar aku yang urus" kata Akbar pada Baby Sister itu. Linda pun menurut dan meninggalkan kamar itu.


Akbar mulai menyuapi Maxwell, hingga makan beberapa suap.


"Sudah" ucap Maxwell dan tidak mau lagi makan.


"Kalau Max mau makan lagi, makan Daddy akan kasih hadiah untuk mu" kata Akbar


"Hadiah?" dengan mata berbinar. "Apa Max boleh pilih hadiah sendiri ?"


"Tentu saja, Max mau hadiah apa?" sambil terus menyuapi Maxwell.


"Aku mau Bunda" seru Maxwell. "Kapan Bunda akan kesini ?"


"Coba saja panggil, nanti Bunda akan datang"


"Benarkah?"


Akbar mengangguk membenarkan.


"Bunda! " panggil Maxwell dengan semangat.


Mila pun muncul dari balik pintu dan berjalan menghampiri Maxwell dan Akbar.


"Bunda" seru Maxwell dengan girangnya, dia langsung turun dari tempat tidurnya dan berlari menghambur kepelukan Mila.


Mila menciumi pipinya dengan gemas lalu merapikan rambutnya.


"Apa Maxwell masih sakit?" tanya Mila


"Tidak, Max sudah sembuh, dan kekuatan Max juga sudah penuh" seru Maxwell dengan


mengangkat kedua tangannya.


"Tapi Maxwell harus makan banyak biar kekuaatannya bertambah lagi" bujuk Mila.


"Baiklah" jawabnya lalu turun dari gendongan Mila dan kembali duduk disamping Akbar. Akbar kembali menyuapinya.


Kini mereka bertiga duduk diatas tempat tidur itu. Akbar dan Mila bergantian menyuapi Maxwell. Terkadang Akbar menjaili Maxwell, ketika Maxwell sudah membuka mulutnya lebar-lebar, Akbar malah memberi suapan itu pada Mila, namun bukannya marah, Maxwell malah tertawa.


Begitu juga dengan Mila, dia mengambil alih makanan itu, saat Maxwell membuka mulutnya, dia malah menyuapi Akbar, namun kali ini Maxwell tidak rela berbagi makanan dengan Daddy-nya.


"Daddy, makanan Maxwell" sambil berusaha membuka mulut Akbar untuk mengeluarkan makanan itu dari mulutnya.


"Aihhss anak ini, giliran aku yang makan malah disuruh dikeluarkan lagi" keluh Akbar yang membuat Mila kembali tertawa.


Melihat Mila tertawa lepas seperti itu, Akbar jadi ikut tertawa dibuatnya , dan Si kecil Maxwell juga ikut-ikutan tertawa.


Sibuk bergurau, mereka sampai tidak menyadari kalau sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.


"Nenek!" seru Maxwell yang pertama kali menyadari kehadiran Mama Akbar.


Serentak Mila dan Akbar menoleh kearah pintu, wanita yang sudah berumur lima puluh tahunan itu pun menatap mereka berdua secara bergantian.


-


-


-


bersambung.....


Jangan lupa Like dan Votenya ya teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih 😊😊😊


__ADS_2