
Mila menutup pintunya, dan duduk disofa yang ada diruang tamu, lalu membuka tas jinjingnya untuk mengambil HP dari sana. Mila mencari kontak Mona dan mulai menghubunginya.
Panggilan terhubung, namun tidak ada jawaban dari Mona.
"Kemana anak ini? " gumam Mila sambil mencoba menghubunginya kembali, namun tetap tidak ada jawaban.
"Tidak biasanya Mona belum pulang di jam segini". Mila mulai khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan Mona, ia beralih menghubungi Nayra, panggilannya terhubung dan langsung tersambung dengan Nayra.
"Ada apa Mila ?" tanya Nayra dari seberang sana.
"Nay, apa Mona masih di toko ?"
"Masih, ada apa Mila ?"
"Aku khawatir, tidak biasanya dia belum pulang di jam segini" jawab Mila
"Mungkin dia lupa memberitahu mu, malam ini kami ada SO barang, jadi pulang agak telat" kata Nayra menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu" lalu mereka pun saling mengakhiri telepon.
Mila bernapas lega setelah tahu keberadaan Mona, ia berjalan ke kamar dan kembali mengganti bajunya.
Disisi lain Mona dan beberapa rekannya masih sibuk di toko. Mereka menghitung semua barang yang ada ditoko itu, menghitung mulai dari barang terkecil hingga yang besar.
Mona yang kebagian menghitung Cookies sudah hampir selesai lalu dia melihat seorang pemuda akan memasuki toko itu. Mona langsung berlari ke pintu dan mencegah pemuda itu masuk.
"Maaf, kami sudah tutup" ucap Mona pada orang tersebut sambil menunjukkan tulisan Close yang tergantung dipintu.
"Kamu tidak mengenal ku ?" jawab orang tersebut dengan kesal.
"Tidak, silahkan keluar, dan kembali besok jika ingin berbelanja" balas Mona.
"Sial" umpatnya dengan kesal. "Kamu anak baru ya ? kamu tidak tahu siapa aku" bentaknya.
Karyawan toko lainnya yang mendengar ada keributan pun datang menghampiri mereka. Begitu melihat orang tersebut, seniornya pun langsung minta maaf pada pemuda itu.
"Ini Tuan Milva, adiknya Bu Nayra" bisik senior itu pada Mona.
"Hah...adik ?" tercengang dan langsung menutup sendiri mulutnya yang menganga.
"Maaf Pak, aku tidak tahu kalau... "
"Pak? kamu memanggil ku Bapak? kamu pikir aku setua itu". Milva memotong ucapan Mona dan semakin emosi.
"Maaf om, aku... "
"Om? kamu benar-benar ya " bentak Milva lagi.
"Hentikan Milva!" tegur Nayra yang tiba-tiba muncul.
Nayra berjalan mendekati Mona, lalu memandang Milva dengan sinis.
"Kembali lanjutan pekerjaan kalian" kata Nayra pada karyawan yang berkerumun. Mereka pun membubarkan diri, dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Kini hanya tinggal Mona, Milva dan Nayra.
Dengan geram Nayra memukul kepala Milva.
"Aww... sakit, apaan sih ?" sambil menyentuh bagian kepalanya yang baru saja dipukul Nayra. Mona yang melihatnya langsung tercengang.
"Siapa suruh buat keributan ? Kamu selalu berulah setiap kesini" jawab Nayra dengan kesal.
__ADS_1
"Ini gara-gara dia" tunjuknya pada Mona. "Dia mengusir ku" sambil melototi Mona.
"Karna kamu emang tidak layak disini, apa gunanya membuka toko ini kalau kamu sendiri tidak mau bantu mengontrolnya" ucap Nayra dengan tatapan sinisnya. "Lihatlah, sampai-sampai karyawan disini tidak mengenali mu"
"Aku ada urusan penting beberapa hari ini, makanya tidak bisa ke toko ini" jawabnya dengan cengengesan. "Dia kan masih baru, jadi belum mengenal ku" sambungnya sambil melirik Mona yang berdiri disampingnya.
"Urusan penting apa? Kamu cuma sibuk mengurus pacar mu yang manja itu"
"Jangan bilang seperti itu dong Kak" jawab Milva. "Ahhh...terserah lah, kami juga sudah putus kok" sambungnya.
Mona langsung tertawa mendengarnya, dan dengan tatapan yang tajam, Milva melirik Mona dan membuatnya langsung terdiam.
"Paling dua hari balikan lagi, hmm dasar bucin". Nayra sudah sangat hafal dengan kebiasaan Milva yang suka putus nyambung dengan pacarnya. Milva akan rajin ketoko kalau lagi ada masalah dengan pacarnya, dan akan jarang terlihat kalau sudah berbaikan.
"Dari pada kamu jomblo seumur hidup" cibir Milva.
"Kamu mau mati ya?" bentak Nayra, Milva langsung tersenyum menggeleng. Sementara Mona semakin kaget melihat interaksi kedua orang ini. "Ahh sudah lah" sambil mengibaskan tangannya. "Mona, orang ini adalah adik saya, kalau dia berani mengganggu mu lagi bilang aku saja" kata Nayra pada Mona.
"Siapa yang mengganggunya?" Milva masih saja menyela. Namun Nayra tidak lagi menghiraukannya.
"Sekarang kamu boleh pulang" lanjut Nayra pada Mona.
"Tapi Kak, pekerjaan ku belum selesai"
"Tidak apa-apa, nanti biar dilanjutkan sama yang lain, besok kamu harus sekolah" jawab Nayra. "Dan tadi Mila menelpon, dia sangat mencemaskan mu"
"Astaga! aku lupa ngabarin Kak Mila kalau malam ini pulangnya telat" menyadari kesalahan yang dia buat.
"Mila? Apa itu Mila yang aku kenal?" lagi-lagi Milva ikut menimpali.
"Iya, dia adiknya Mila" jawab Nayra. "Antarkan dia tidak pulang". Nayra menyuruh Milva mengantarkan Mona.
"Hei... harusnya aku yang mengatakan itu" sangkal Milva.
Nayra langsung tertawa mendengar penolakan Mona.
"Sekarang aku menemukan orang yang bisa dengan mudah menolak mu" tertawa lagi. "Mulai sekarang berhentilah bersikap paling keren" cibir Nayra pada Milva.
"Aku yakin mata mu tidak bisa melihat dengan benar" dengan kesal menatap Mona.
"Tapi Mona, sebaiknya kamu pulang diantar Milva, ini sudah larut malam, Mila juga akan tenang jika melihat mu pulang dengan Milva" sambung Nayra.
Akhirnya Mona pun menurut pulang diantar Milva.
"Ingat ya, aku mau mengantar mu karna aku hanya ingin bertemu Kak Mila, jadi kamu tidak usah kepedean" ucap Milva setelah mendekati rumah Mila.
"Justru aku sangat malu bisa satu mobil dengan mu" balas Mona.
"Kamu memang tidak punya sopan santun" merasa kesal dengan jawaban Mona.
Sampai dirumah, Mona pun langsung turun, Milva mengikutinya turun dari mobil.
"Panggilkan Kak Mila" suruh Milva.
"Tidak mau" jawab Mona.
"Kamu memang tidak tahu terima kasih" semakin geram dengan Mona. "Aku sudah lama tidak melihatnya, ayo cepat panggilkan" masih berusaha.
"Sebaiknya Bapak pulang saja, karna dilingkungan ini tidak dibenarkan bertamu dijam selarut ini, ya kecuali Bapak mau didatangi warga"
__ADS_1
"Kamu memanggil ku Bapak lagi ? Yang benar saja kamu, mana ada Bapak-bapak sekeren aku" jawab Milva dengan sombong.
"Terserah" jawab Mona lalu meninggalkan Milva dan masuk kedalam rumah.
"Dasar cabe-cabean" gerutu Milva setelah Mona masuk kedalam rumah.
************
Setelah Mila mengunjungi Maxwell malam itu, hubungan antara Mila dan Akbar pun jadi lebih baik, apalagi setelah tahu Mila tidak akan menikah dengan Aldo, Akbar mulai sering mengiriminya pesan, baik itu sekedar menanyakan kabar, atau ucapan selamat tidur. Kini Akbar juga tidak segan untuk meneleponnnya, mereka sering bicara lewat telepon dengan waktu yang cukup lama.
Mona diam-diam memperhatikan perubahan sikap Mila yang kian hari semakin banyak senyum. Meskipun tidak tahu alasan mereka dulu berpisah, namun melihat Mila dan Akbar kembali dekat membuatnya ikut senang.
Hari itu sesuai janjinya, Mila akan mengunjungi Maxwell. Namun karena Maxwell merengek ingin makan ice cream, akhirnya mereka pun sepakat untuk pergi ke mall.
Sesampai di mall, mereka bertiga memasuki restoran yang mereka datangi sebelumnya. Tanpa diduga, ternyata disana ada Aldo yang sedang meeting dengan Rio dan beberapa rekan lainnya.
Mila yang melihat Aldo dan Rio berusaha tersenyum sebagai sapaan untuk kedua orang itu. Tapi baik Aldo maupun Rio tidak ada yang membalasnya, mereka kembali melanjutkan meeting , Mila terlihat kecewa, lalu Akbar pun mengajaknya untuk duduk disalah satu meja yang kosong.
Seperti biasa, pelayan pun datang dan menawarkan ice cream, Akbar memesan rasa Cokelat untuk Maxwell, dan rasa strawberry untuknya dan Mila.
"Apa kamu menyesal karena sudah menolaknya?" tanya Akbar ketika pelayan sudah meninggalkan tempat mereka.
"Tidak, tentu saja tidak" jawab Mila sambil menyunggingkan senyum dibibirnya. "Aku sudah cukup lama mengenal Aldo, selama ini kami berteman baik, aneh rasanya tiba-tiba menjadi jauh seperti ini, aku ingin tetap berhubungan baik dengannya dan bisa saling menyapa seperti biasanya" sambung Mila dengan wajah sedih.
"Tidak semua orang bisa menerima penolakan, dia butuh waktu untuk bisa menerima keputusan mu" balas Akbar.
Tidak lama kemudian pesanan mereka pun tiba. Maxwell dengan tidak sabar langsung melahap ice creamnya, hingga membuat wajahnya penuh ice cream. Akbar bolak balik menarik tissu untuk membersihkan wajah Maxwell. Mila terus mengamati sikap Akbar yang selalu sabar mengurus Maxwell.
"Astaga anak ini" keluh Akbar yang melihat mangkok ice cream Maxwell sudah kosong.
Sementara Mila tertawa melihat wajah Maxwell yang lagi-lagi dipenuhi ice cream.
"Maxwell, lain kali makannya harus pelan-pelan, supaya tidak belepotan seperti ini" ucap Mila sambil membantu membersihkan wajah Maxwell, dan tanpa sengaja tangannya malah jadi bersentuhan dengan tangan Akbar yang juga ingin membersihkan wajah Maxwell. Seketika Mila pun langsung menarik kembali tangannya. "Maaf" ucapnya.
"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan" jawab Akbar sambil terus membersihkan wajah Maxwell.
"Ishh... dasar" balas Mila, lalu disambung tawa keduanya. Maxwell yang tidak mengerti juga ikut tertawa.
Dari tempat duduknya, ternyata Aldo diam-diam memperhatikan mereka, dia sangat kesal melihat Akbar dan Mila tertawa bersama. Wajahnya memerah melihat pemandangan itu.
"Aku ke toilet sebentar" pamit Mila, lalu beranjak dari duduknya. Melihat Mila berjalan ke toilet, Aldo ikut pamit pada rekan-rekannya dan mengikuti Mila ke toilet.
Akbar yang sibuk merapikan baju Maxwell yang ikut terkena ice cream, tidak menyadari kalau Aldo mengikuti Mila.
Selesai ditoilet, Mila bermaksud kembali ke mejanya, namun begitu keluar dia langsung terkejut melihat Aldo yang berdiri bersandar sedang menungguinya.
"Aldo, kenapa kamu ada disini?" melihat sekitar dan memastikan dia tidak salah masuk toilet, dan benar ini ada adalah toilet perempuan. "Untuk apa dia disini?" batin Mila dengan was-was. Aldo berjalan mendekatinya sementara Mila berjalan mundur menghindarinya. "Aldo, kamu mau apa?" tanya Mila mulai takut melihat mata Aldo yang sepertinya siap menerkamnya hidup-hidup. Aldo tidak menjawab dan terus melangkah hingga Mila tidak bisa bergerak lagi karena tubuhnya kini sudah menempel didinding. Mila semakin takut, ditambah lagi tidak ada orang disana selain mereka berdua, sialnya lagi dia tidak membawa HP dan tidak bisa menghubungi Akbar.
Dengan kasar, Aldo mencengkeram kuat lengan Mila, hingga gadis itu merintih kesakitan.
-
-
-
bersambung...
Jangan lupa like dan votenya ya 😊😊😊
__ADS_1