
Nayra masih menunggu Mila diparkiran. Dia duduk diatas motor matic miliknya sambil terus menatap arah kelas IPA berharap Mila segera tiba, namun sudah 20 menit Nayra menunggu baik Mila maupun Akbar belum juga terlihat.
"Ahh... menyebalkan, kenapa mereka lama sekali? " gerutu Nayra.
"Padahal hidupku sudah tenang karna beberapa saat tidak melihatnya, tapi sekarang malah muncul lagi ? Dan Mila, kenapa mau aja menuruti Akbar" berbicara sendiri dan kesal sendiri.
"Kamu sedang apa disini Nay ?" sapa seseorang yang membuat Nayra harus berbalik untuk melihat pemilik suara itu.
"Aku menunggu Mila" jawabnya dengan mengembangkan senyumnya begitu melihat Bima datang menghampirinya, dan menunjukkan wajah kesalnya ketika melihat Nando ikut bersama Bima. "Kamu belum pulang Bima ?" sambungnya lagi.
"Kalau sudah pulang kami tidak akan berada disini" sengkal Nando yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nayra.
"Aku tidak bertanya padamu" seru Nayra.
"Tapi aku bisa mendengar pertanyaan bodohmu itu" jawab Nando.
"Tutup saja telingamu" balas Nayra dengan geram.
"Lalu untuk apa aku punya telinga kalau harus ditutup" balas Nando dengan suara mulai meninggi.
"Astaga.... ada apa dengan kalian, kenapa harus selalu bertengkar" sela Bima.
Sejenak Nayra dan Nando diam, namun mata mereka masih saja saling melotot. Bima berjalan lebih dekat lagi kearah Nayra.
"Bukankah Mila bersama Akbar?" Nayra
menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Bima. "Lalu untuk apa kamu menunggu Mila ?" Nayra berpikir sejenak dengan dahi yang berkerut.
"Akbar akan mengantarkannya pulang, kamu hanya akan buang waktu menunggunya disini" sambung Bima.
"Tapi Mila bilang dia akan pulang denganku" sengkal Nayra.
"Kamu pikir Akbar akan membiarkannya" Nayra terdiam mendengarnya, dan membenarkan ucapan Bima, kalau Akbar sudah datang menjemput Mila ke kelas sudah pasti Mila harus pulang dengannya.
"Sudah lah, lebih baik ikut dengan kami saja" ajak Bima
__ADS_1
"Kemana ?" jawab Nayra dengan antusias.
"Kami akan ke cafe milik keluarga Parto" jawab Bima. "Bukankah Parto temanmu" sambung Bima.
"Iya" jawab Nayra diiringi anggukan kepala.
"Kalau begitu ikutlah dengan kami" semakin berusaha membujuk.
"Apa dia ikut juga? " jawab Nayra sambil menunjuk Nando.
"Kamu tidak perlu hiraukan dia, anggap saja dia tidak ada" ledek Bima pada Nando.
"Iya, dan aku juga tidak akan mengganggap kamu ada" balas Nando dan mulai menaiki motornya yang berada disamping motor Nayra.
Mendengar itu, Nayra makin geram dengan Nando, ingin sekali dia memaki Nando saat ini, namun dia menahan diri untuk tidak membalasnya karna disana ada Bima.
"Berikan kunci motormu, aku akan memboncengmu, dan Nando akan menaiki motornya sendiri" kata Bima sambil mengulurkan tangannya. Nayra pun langsung memberikan kunci motornya.
Bima mulai menaiki motor Nayra dan menghidupkan mesinnya, Nayra juga ikut menaiki motor tersebut dan mereka sama-sama meninggalkan SMA Pelita.
Nando mengikuti dari belakang tanpa berusaha mendahului Bima dan Nayra sedikit pun.
Mereka melaju dengan kecepatan sedang, dan kurang dari 10 menit mereka pun sampai di tempat tujuan.
Begitu sampai, mereka sama-sama masuk kedalam cafe. Pengunjung cafenya cukup ramai, hingga mereka sedikit kesulitan mencari tempat kosong. Nayra mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan, hingga matanya tertuju pada meja yang ditempati sepasang anak SMA, keduanya tidak asing bagi Nayra, dia mengenali kedua jacket yang dikenakan dua orang tersebut, Nayra berjalan menuju meja tersebut, dan benar saja kedua anak SMA itu tidak lain adalah Irene dan Ifan.
"Irene, Ifan... " seru Nayra yang membuat Irene dan Ifan terkejut karna tiba-tiba muncul dihadapkan mereka.
"Nayra.. kamu ngapain disini? " balas Irene masih dengan muka terkejutnya.
"Ternyata kalian disini" lalu duduk disamping Irene tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Nayra melambaikan tangannya kearah Bima dan Nando, memberi isyarat untuk ikut bergabung, kedua cowok itu pun menurut dan ikut bergabung dengan mereka.
Kini mereka berlima duduk berhadap- hadapan. Makanan yang mereka pesan beberapa saat lalu pun sudah terhidang dimeja. Sebenarnya Bima dan Nando merasa risih dan meminta pisah meja, mereka tidak ingin mengganggu Ifan dan Irene, namun Nayra tetap ingin bergabung, dan akhirnya mau tidak mau mereka tetap duduk ditempat itu. Mereka mengobrol bersama sambil sesekali tertawa.
Nayra bercerita panjang lebar tentang kucingnya yang menggemaskan dirumahnya. Hal ini membuat Nando muak karna dia tidak suka kucing.
__ADS_1
"Berhentilah bercerita tentang kucingmu, tidak penting sama sekali" ucapnya datar. Mendengar itu, Nayra langsung memberinya tatapan tajam.
"Nando... " tegur Bima
"Sudah 1 jam kamu menceritakan tentang kucing mu, kamu pikir kami kesini untuk membahas kucing mu" lanjutnya.
"Hei...." bentak Nayra. "Kalau tidak mau mendengar tutup saja telingamu" dengan suara yang meninggi. Orang yang duduk didekat meja mereka mulai memandang tidak suka kearah mereka.
"Nay... pelankan suaramu" tegur Irene
"Dia yang mulai" sambungnya lagi sambil menunjuk Nando.
"Makanya berhenti mengoceh tentang hal yang tidak penting" sahut Nando.
"Aahhh..... kamu benar-benar menyebalkan" umpat Nayra.
"Nayra..... "
Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil nama Nayra, serentak mereka menoleh dan mencari asal suara itu, dan ternyata yang berteriak itu adalah Mila, dia datang bersama Akbar yang berada dibelakangnya.
Nayra tersenyum girang begitu melihat Mila, dia melambaikan tangannya kearah Mila. Sementara Akbar geleng kepala melihat tingkah Mila.
"Ternyata kamu punya sikap kampungan seperti itu" ledek Akbar.
"Apa maksud mu? " jawab Mila sambil berbalik menatap Akbar.
"Ngapain kamu berteriak seperti itu, memalukan!" balas Akbar lalu berjalan mendahului Mila.
Seketika Mila pun sadar kalau ternyata kini semua mata pengunjung cafe memandang kearahnya. Mila menahan malu dan menundukkan kepalanya sambil berjalan mengikuti langkah Akbar.
-
-
-
__ADS_1
-
bersambung....