Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Hinaan Rania


__ADS_3

"Bunda". Teriak Maxwell dan berlari kepelukan Mila.


"Max, kamu kemana saja, Bunda merindukan mu". Mila berjongkok memeluk anak itu. Mencium pipinya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Mereka kembali berpelukan, Maxwell mengalungkan tangannya dileher Mila dengan erat.


"Max mau sama Bunda". Ucapnya pelan, namun tetap terdengar ditelinga Rania dan Nayra yang berdiri disana.


"Iya sayang". Jawab Mila sambil mengusap punggungnya. Namun tiba-tiba Rania menarik tubuh Maxwell dengan kasar.


"Max, ayo masuk ke mobil". Dengan sedikit meninggikan suaranya. Menatap Mila dan Nayra dengan tatapan tidak suka. Mila berdiri dan mencoba mendekati Maxwell yang kini ditahan oleh Rania.


"Rania, berikan aku sedikit waktu untuk bicara dengan Maxwell, kami sudah lama tidak bertemu". Ucap Mila dengan penuh harap.


"Tidak bisa, kami mau pulang". Menjawab dengan cepat.


"Mommy, Max mau sama Bunda". Maxwell merengek dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rania.


"Diam Maxwell, ayo masuk ke mobil". Memaksa Maxwell masuk ke mobilnya.


"Tidak mau, Max mau sama Bunda". Maxwell mulai menangis dan menolak untuk masuk kedalam mobil.


"Maxwell, kalau kamu nakal seperti ini, Mommy akan memarahi mu". Suara Rania semakin meninggi. Dia mengangkat tubuh Maxwell dan memaksanya masuk kedalam mobil.


"Bunda". Teriak Maxwell dari dalam mobil, dia menangis memanggil Mila.


"Rania, kenapa kamu kasar seperti itu dengan Maxwell, kasihan dia". Mila sangat khawatir, dan berjalan mendekati mobil Rania, dia berusaha membuka pintu mobil Rania, namun belum sampai disana Rania sudah terlebih dahulu mendorongnya. Beruntung ada Nayra yang menahannya dibelakang.


"Kamu sudah kelewatan Rania!". Nayra yang sudah emosi membentak Rania dengan suaranya yang tinggi. "Harusnya kamu berterimakasih pada Mila, selama ini dia sudah menjaga anak mu dengan baik". Sambungnya dengan geram.


"Kamu siapa?. Aku tidak punya urasan dengan mu". Membentak balik Nayra, kemudian beralih menatap Mila. "Dengar ya Mila, mungkin bagi Akbar kamu adalah istri yang ideal, tapi bagiku kamu tetaplah gadis panti asuhan yang tidak tahu asal usulnya darimana, kamu pikir aku tidak tahu semua tentang kamu". Mila yang diteriaki seperti itu hanya bisa menunduk, yah sampai kapanpun, kenyataan itu tidak akan pernah hilang dalam hidupnya. Nayra yang ikut mendengar semakin emosi, tangannya sudah sangat gatal ingin merobek mulut Rania, namun Mila menahannya. Mila menahan tangan Nayra agar tetap menopang tubuhnya yang kini mulai lemas.


"Aku tidak mau peduli dengan kehidupan mu bersama Akbar, tapi Maxwell, aku tidak akan membiarkan anak ku dibesarkan oleh wanita rendahan seperti kamu". Air mata Mila mulai menetes mendengar perkataan Rania. "Semua keluarga kami sangat terpandang, begitu juga dengan Maxwell, aku tidak ingin kelak anak ku di pandang rendah hanya karena dibesarkan oleh wanita seperti kamu". Mila menutup matanya, menahan rasa sakit atas semua ucapan Rania. Meski sakit, namun Mila tidak bisa membela diri, ia merasa apa yang diucapkan Rania memang benar.


"Cukup Rania! kamu benar-benar kelewatan, kamu pikir kamu lebih baik dari Mila, kamu bahkan......". Nayra ingin mengantakan kalau Rania lebih rendah daripada Mila karena sudah hamil duluan sebelum menikah, namun ucapannya tertahan karena Mila kembali menahannya. Mila menggelengkan kepalanya.


"Mulai sekarang jangan pernah mendekati Maxwell lagi". Rania memasuki mobilnya lalu pergi meninggalkan mereka. Dan dari dalam mobil Maxwell masih saja berteriak memanggil Mila.


"Maxwell.... ". Mila hanya bisa menyaksikan mobil itu pergi membawa Maxwell. Mila menangis dan membenamkan wajahnya dipelukan Nayra.


"Mila, kamu tidak boleh diam diperlakukan seperti ini, harga diri kamu jauh lebih tinggi daripada wanita itu". Menepuk punggung Mila dengan lembut.


Selang beberapa saat, Akbar yang mau menjemput Mila pun sampai dan melihat Mila yang menangis dipelukan Nayra. Dia langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri keduanya.


"Mila, apa yang terjadi?". Mengambil alih tubuh Mila dan memeluknya. Mila tidak bisa mengatakannya, dia membenamkan wajahnya didada Akbar dan semakin menangis. "Mila, katakan apa yang membuat mu menangis". Mengangkat wajah Mila, lalu berusaha mengeringkan pipinya yang dipenuhi air mata. "Nay, ada apa ini?". Beralih bertanya pada Nayra, karena sepertinya Mila memang tidak mau buka mulut.


"Kamu memang menyebalkan, kenapa lama sekali sih datangnya". Nayra yang tidak langsung menjawab, malah memaki terlebih dahulu. "Mantan istri kamu, dia benar-benar kurang ajar". Ucapnya dengan penuh kebencian. Setelah itu Nayra pun menceritakan semuanya.

__ADS_1


Tangan Akbar terkepal begitu mendengar cerita Nayra. Wajahnya memerah menahan amarah. Dia tidak habis pikir dengan Rania yang berani berbuat seperti itu. Emosinya pun semakin memuncak mendengar Rania yang mengatai Mila gadis rendahan. Selama ini dia sangat menghormati Rania sebagai ibu kandung Maxwell, dan selama ini dia juga menganggap Rania wanita baik-baik, tapi sekarang wanita itu sudah menghancurkan reputasinya sendiri dimata Akbar.


"Akbar, jangan memarahi Rania, dia hanya ingin yang terbaik untuk Maxwell". Mila masih saja membela Rania. Nayra yang mendengarnya langsung kesal. Ngapain masih membelanya, batin Nayra.


Akbar membuang napasnya dengan kasar, lalu menarik tangan Mila dan membawanya masuk kedalam mobil. Kemudian kembali menghampiri Nayra yang masih berdiri di tempatnya.


"Terimakasih Nay, karena sudah membantu Mila, sekarang pulanglah, Mila akan pulang dengan ku". Ucapnya lembut sambil menahan emosinya.


"Ah iya, baiklah, kalian hati-hati". Meskipun Akbar berusaha tenang, namun Nayra bisa melihat dengan jelas amarah yang ada diwajahnya. Ia bahkan tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan Akbar setelah ini.


Akbar memasuki mobilnya, dan langsung melaju meninggalkan mall itu. Akbar mengemudi dengan kecepatan tinggi, Mila yang berada disampingnya pun mulai ketakutan.


"Akbar, pelankan mobilnya". Mila berteriak namun Akbar tidak mendengarkannya. "Akbar, hentikan!". Teriaknya lagi.


Akbar membanting setir dengan keras karena mobil yang didepannya tidak memberinya jalan. Mila melihat kesekitar, dan menyadari ini bukanlah jalan pulang menuju rumah mereka.


"Akbar, kita mau kemana?". Akbar menoleh sedikit kearahnya namun tetap melaju tinggi.


Setelah melewati jalan besar, Akbar membawa mobilnya memasuki perumahan elite. Dan tidak jauh dari gerbang perumahan itu Akbar menghentikan mobilnya disebuah rumah besar.


"Ayo turunlah". Ajak Akbar, lalu turun dari mobil. Mila yang tidak tahu tempat ini ragu-ragu untuk turun. Akbar membukannya pintu, dan membantunya untuk segera turun.


"Akbar, ini rumah siapa?". Dengan cemas Mila mengikuti langkah Akbar.


"Rania". Teriak Akbar dengan sekencangnya. Tangannya menggenggam erat pergelangan Mila.


"Akbar, ada apa ini?". Tanya Papa Rania dengan cemas.


Akbar tidak menghiraukannya. Dia berjalan memasuki rumah sampai ke ruang tamu dan terus berteriak memanggil Rania. Kedua orangtua itu pun mengikutinya dengan penuh rasa kekhawatiran.


"Rania!". Teriak Akbar sekali lagi.


"Akbar, tenang kan diri kamu". Mila mencoba menenangkan Akbar yang terus menggenggam tangannya.


Tidak lama kemudian, Rania pun turun. Dia turun dari lantai dua setelah mendengar ada keributan dibawah. Awalnya dia masih berjalan dengan percaya diri, namun setelah mendekat dan melihat langsung wajah Akbar dia pun mulai takut, tapi karena Mamanya yang langsung menghampiri dan berdiri disampingnya, membuat dia kembali berani menatap Akbar.


"Tarik semua ucapan kotor kamu dan minta maaf sama istri saya". Langsung ke intinya tanpa mau basa basi. Memberi Rania tatapan tajam yang siap menerkam.


"Emang apa yang sudah diperbuat oleh Rania, sampai dia harus minta maaf pada istri kamu". Mama Rania yang menjawab sembari memberi tatapan benci pada Mila.


"Kenapa Tante tidak tanyakan langsung pada anak Tante". Membentaknya dengan suara tinggi. "Selama ini, saya selalu menghormati kalian, tapi hari ini kalian benar-benar keterlaluan". Bergantian menatap Rania dan Mamanya. "Rania, cepat minta maaf pada Mila, sebelum kesabaran ku habis".


"Akbar, sudah, kita pulang saja". Mila kembali mencoba menenangkan Akbar.


"Tidak Mila, orang-orang yang tidak tahu diri ini harus diberi pelajaran".

__ADS_1


"Akbar, tahan dulu emosi mu, kita duduk dulu dan bicarakan ini baik-baik". Papa Rania mencoba membujuk Akbar.


"Bagaimana saya tidak emosi Paman, Rania sudah menghina istri saya". Lagi-lagi memberi tatapan tajam. "Kamu pikir kamu lebih baik dari Mila ?. Sehelai rambut pun kamu tidak bisa disejajarkan dengan Mila. Kamu pikir kamu Ibu yang lebih baik?. Kamu tahu, Mila bahkan rela meninggalkan pekerjaannya untuk bisa menjaga Maxwell sepanjang hari, sementara kamu tega meninggalkannya ke Amerika, dan sekarang kamu mau bilang kamu lebih baik".


"Makanya sekarang aku kembali, mulai sekarang aku yang akan menjaganya". Jawab Rania memberanikan diri.


"Jangan seenaknya kamu, sekarang dimana Maxwell, aku akan membawanya pulang".


Bersamaan dengan itu, Maxwell pun muncul, melihat ada Daddy dan Bundanya, anak itu menuruni tangga.


"Daddy". Teriaknya dan berlari menuju Akbar, tapi Rania yang berada diujung tangga langsung menahannya. "Daddy, aku mau sama Daddy". Maxwell menangis karena tubuhnya ditahan Rania.


"Lepaskan dia". Akbar menarik tangan Maxwell.


"Tidak akan". Rania tidak mau melepaskan Maxwell, dia tidak peduli dengan Maxwell yang terus menangis karena ingin bersama Akbar. "Aku akan meminta pengadilan untuk memberikan hak asuh Maxwell, aku Ibu kandungnya, pengadilan pasti akan mengabulkannya, setelah itu aku akan membawanya ke Amerika".


"Kamu memang licik Rania, kamu tidak akan bisa menjaganya dengan baik".


Mereka masih saling menarik Maxwell, tanpa sadar kalau anak itu kesakitan karena tangannya yang ditarik sedari tadi.


Mila yang menyadari hal itu, berjalan mendekati Akbar lalu menahan tangannya.


"Lepaskan Akbar". Akbar langsung memberinya tatapan dingin. "Lihat, Maxwell kesakitan, kasihan dia kalau kalian terus berebut seperti ini". Mila melepaskan tangan Akbar dari tangan Maxwell. Setelah tangan Akbar terlepas, dengan cepat Rania menariknya dan mendekapnya. Rania menggendong dan membawanya ke lantai dua tanpa peduli Maxwell yang meronta meminta ikut Daddynya.


"Daddy, Daddy". Isak Maxwell sambil berusaha turun dari gendongan Rania.


"Mulai sekarang jangan coba-coba untuk mengambil Maxwell, hanya Rania yang berhak atas Maxwell". Setelah berkata demikian, Mama Rania pun menaiki tangga mengikuti putrinya. Sementara Akbar hanya bisa memandangi Maxwell yang semakin menjauh darinya.


"Maafkan atas sikap istri dan putri Paman, Akbar". Menepuk punggung Akbar. "Pulanglah dulu, Paman akan bicara dengan mereka". Akbar tidak menjawab, dia hanya mengangkat wajahnya memandang Papa Rania dengan tatapan penuh harapan. "Percaya pada Paman, apa yang dikatakan Rania tadi tidak akan pernah terjadi". Kambali menepuk punggung Akbar. "Sekarang pulanglah dulu". Akbar masih diam, namun kakinya mulai bergerak meninggalkan mantan mertuanya itu. Akbar menggandeng tangan Mila dan mengajaknya mengikuti langkahnya keluar dari rumah itu.


Sesampai di depan mobil, Akbar membukakan pintu untuk Mila, lalu membantunya masuk. Dia masih berdiri disana, menatap wajah Mila.


"Sayang, maafkan aku". Ucapnya lirih sambil mengusap lembut pipi istrinya. Dia sangat merasa bersalah karena tidak berada disisi Mila, saat istrinya itu mendapat hinaan dari Rania. Dan sekarang Akbar juga takut kalau mereka akan kehilangan Maxwell.


Mila meraih tangan Akbar yang menempel dipipinya lalu menggenggamnya dengan erat.


"Kamu tidak ada salah, dan aku baik-baik saja". Tersenyum untuk membuat Akbar percaya. "Sayang, semuanya akan baik-baik saja, Maxwell juga akan baik-baik saja". Akbar menganggukkan pelan sembari mengusap puncak kepala Mila. Dia menutup pintu mobil dan berjalan memutarinya, lalu memasuki mobil dan duduk dibelakang kemudi. Mereka meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang tidak menentu.


.


.


.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2