Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Bersaing


__ADS_3

Sampai dirumah, Akbar mengangkat tubuh mungil Maxwell dari dalam mobil. Anak itu tertidur selama perjalanan. Akbar membawanya masuk kedalam rumah lalu menidurkannya dikamar.


Setelah memastikan Maxwell terlelap, Akbar berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah penuh dengan keringat karna seharian jalan bersama Maxwell. Akbar mulai menyiram tubuhnya dengan air, ia tersenyum ketika mengingat kembali pertemuan tidak sengaja antara dirinya dengan Mila di mall tadi.


Namun ketika mengingat Mila yang pulang dengan Aldo kemarin, itu membuatnya jadi kesal.


Akbar keluar dari kamar mandi, dengan telanjang dada ia berjalan menuju lemari baju, handuk ia lilitkan di pinggangnya, dan handuk kecil ia gantungkan dileher untuk mengiringkan rambutnya yang basah.


"Sial, kenapa aku terus mengingat pria itu" gerutunya ketika wajah Aldo muncul dipikirannya.


"Ahhh.. semakin di pikirkan aku semakin kesal" teriaknya sambil melempar handuk kecil dilehernya.


Akbar membuka lemari lalu mengambil baju dan segera memakainya. Akbar mengamati HPnya yang tergeletak di atas meja. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia tersenyum lalu meraih HPnya.


Sudah tidur?. Mengirim pesan ke Carmila, terkirim.


Akbar menunggu balasan dari Mila sambil terus memandang layar HPnya. Setelah beberapa menit HPnya berbunyi, pesan masuk dari Mila. Dengan semangat Akbar langsung membukanya.


Belum. Jawaban singkat dari Mila.


Kenapa? Apa kamu memikirkan ku?. Balasnya lagi.


Tidak, dari pada memikirkan mu, aku lebih senang memikirkan Maxwell.


"Kenapa jadi Maxwell ?" bertanya pada dirinya sendiri.


Kenapa memikirkannya ? Dia sudah bahagia bersama Daddynya, kamu tidak perlu memikirkannya, lagi pula kalian baru bertemu sekali. Balasnya lagi.


Kali ini tidak ada balasan lagi dari Mila. Akbar meletakkan kembali HPnya. "Mungkin dia sudah tidur" gumamnya dalam hati.


Disisi lain, Mila senyum-senyum sendiri membaca ulang semua pesan Akbar, sampai-sampai Mona yang melihatnya jadi bingung.


"Kak Mila baik-baik saja? " tanya Mona pada Mila.


"Tentu saja baik, ada apa?" sembari mengangkat wajahnya menatap Mona, lalu kembali ke layar HPnya.


"Tidak biasanya Kakak seperti itu, pesan dari Kak Akbar ya?" tebak Mona sambil berusaha mengintip HP Mila.


"Tidak!" jawab Mila berbohong.


"Kalau begitu, coba lihat" tantangnya.


"Anak kecil tidak boleh lihat" sengkal Mila lalu beranjak meninggalkan Mona.


"Huuu dasar pelit" sorak Mona.


********


Sore itu setelah pulang kerja, Mila mampir ke toko kue Delicious Bakery yang dikelola Nayra dan Milva. Mila dan Irene sudah berjanji akan datang ke toko itu.


Mila memasuki toko tersebut yang langsung disambut ramah seluruh karyawan disana, Mila sudah sering berkunjung kesana dan para karyawan itu juga tahu kalau Mila adalah sahabat bos mereka.


"Nayra nya ada?" tanya Mila pada salah satu kasir disana.


"Ada Bu, Bu Nayra sudah menunggu diruangannya bersama temannya" jawab kasir itu dengan sopan.


"Dengan temannya?" berpikir sejenak. "Ohh itu pasti Irene, oke terima kasih ya" ucap Mila lalu bergegas menuju ruangan Nayra.


Sesampai disana, Mila mendapati Nayra dan Irene duduk berdua sambil ngemil cookies.


"Kamu sudah datang ?" sambut Irene begitu melihat Mila memasuki ruangan itu.


"Kamu selalu telat" keluh Nayra.


"Telat apanya? begitu keluar kantor aku langsung ke sini" sambil mendaratkan bokongnya diatas sofa. "Kalian makan apa ?" mulai mengambil sepotong cookies dan langsung melahapnya. "Hmm... enak" kata Mila begitu mencoba cookies tersebut.


"Serius? ini produk baru kami, dan akan dijual minggu depan" ucap Nayra dengan bersemangat.


"Padahal sedari tadi aku sudah bilang cookiesnya enak, tetap aja dia tidak percaya" keluh Irene.


"Kalian tidak berbohong kan? aku takut nanti pelanggan kecewa"


"Tidak akan, ini enak banget, serius" jawab Mila meyakinkan, lalu mengambil sepotong lagi. "Oh ya Nay, gimana dengan Mona? Apa dia bisa kerja disini ? Dia mau kerja sepulang sekolah".


"Bisa, kalau mau, besok juga boleh" jawab Nayra.


"Benar ya? Dia pasti senang" dengan semangat membayangkan Mona yang akan kegirangan mendengar berita ini. "Tapi karyawan disini gimana Nay ? Aku takut dia tidak bisa beradaptasi dengan orang disini"


"Tenang, selagi ada aku , Mona akan baik-baik saja" ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


Mereka mulai membahas masa SMA mereka, dan sesekali tertawa seperti biasanya.


"Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat" ucap Irene. "Ngomong-ngomong bagaimana sekarang hubungan mu dengan Akbar?" tanyanya dengan hati-hati.


"Untuk apa kamu menanyakan itu? tentu saja Mila tidak boleh balikan dengan Akbar" kali ini Nayra yang langsung emosi mendengar nama Akbar.


"Kenapa tidak?" menatap Nayra dengan sinis. "Walau terpisah lama, kalian tetap pasangan yang serasi, aku mendukung kalain" ucap Irene meyakinkan Mila, hal itu membuat Nayra semakin naik darah.


"Serasi apanya? sudah seenaknya meninggalkan Mila, lalu sekarang tiba-tiba muncul dan bersikap tidak pernah terjadi apa-apa, aku tidak setuju, lagi pula kan Akbar sudah punya istri" ucap Nayra dengan suara meninggi.


"Akbar pasti punya alasan kenapa meninggalkan Mila" perdebatan berlanjut dan semakin memanas. "Oh iya, apa Akbar masih sama istrinya?" jadi penasaran dengan status Akbar saat ini.


"Astaga... aku tidak mengerti, kenapa kalian malah meributkan hal itu" keluh Mila sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak balikan dengannya, dan dia sudah pisah dengan istrinya" jawab Mila. "Mulai sekarang berhenti membahasnya"


"Hmm... baiklah" jawab Irene


"Bagaimana dengan Aldo yang menjemput mu waktu itu ?" tanya Irene penasaran.


"Aldo... ummm, dia teman ku, dia anak salah satu donatur panti, keluarganya ada di Kanada" jawab Mila tidak bersemangat.


"Apa kamu menyukai nya? Aku akan setuju kamu dengannya ?" ucap Nayra yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mila.


"Jangan! Aldo untuk ku saja" seru Irene dengan tidak tahu dirinya.


"Aihhh, kenapa kamu jadi seperti ini?" ucap Nayra yang disambung tawa oleh mereka bertiga. "Aku pikir kamu sudah kembali dengan Ifan" sambungnya.


"Awalnya aku juga berharap seperti itu, tapi sekarang Ifan sudah punya kekasih, dan kami sudah memutuskan untuk berteman" ucapnya memasang muka sedih. "Mila, cukup aku dan Ifan saja yang berpisah, aku sangat ingin kamu dan Akbar bisa bersatu lagi" lanjutnya dengan penuh harap.


"Yahh....mulai lagi" keluh Mila.


"Gak usah drama deh" teriak Nayra geram.


Tidak terasa, matahari sudah tenggelam dan kini gelap yang menyelimuti langit, namun mereka bertiga masih sibuk ngobrol. Kehadiran Irene membuat suasana semakin ramai, padahal dulu Irene termasuk orang pendiam, tapi sekarang dia yang paling banyak bicara.


Suara ketokan pintu terdengar dari luar, Nayra beranjak dan membukakan pintu. Terlihat salah seorang karyawannya berdiri didepan pintu itu.


"Ada apa?" tanya Nayra.


"Maaf Bu, di depan ada yang namanya Pak Aldo, dia mencari Bu Mila" ucapnya.


"Hah? Aldo, kenapa dia ada disini?" Mila yang mendengar nama Aldo langsung beranjak dari duduknya dan bergegas menemui Aldo. Nayra dan Irene mengikutinya dari belakang.


"Aldo" tegur Mila pada Aldo yang berdiri disamping mobilnya. Aldo menoleh lalu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Mila dan kedua sahabatnya. "Tahu dari mana aku disini?"


Mila tidak langsung menjawab, sejenak dia menatap kedua sahabatnya. Nayra dan Irene mengangguk, seolah mengerti maksud Mila.


"Baiklah, aku pulang duluan ya" pamit Mila lalu masuk kedalam mobil Aldo.


Aldo pamit juga pada Nayra dan Irene, lalu ikut masuk kedalam mobilnya, Aldo mulai melajukan mobil tersebut dan meninggalkan Nayra dan Irene.


"Kapan Mona mulai sekolah ?" tanya Aldo memulai pembicaraan didalam mobil.


"Seminggu lagi" jawab Mila


"Akan masuk di SMA mana dia?"


"SMA Pelita, sekolah ku dulu" jawab Mila dengan bangga.


"Salah satu rekan bisnis ku adalah Direktur SMA Pelita, apa kamu mengenalnya ?" tanya Aldo dengan sangat antusias.


"Siapa ?" dahinya berkerut sambil berpikir orang yang dimaksud Aldo.


"Namanya Rio, dia masih muda" jawab Aldo.


"Kak Rio " ulang Mila. "Bukankah SMA Pelita milik Kakeknya Rio dan Akbar ? kenapa sekarang malah Kak Rio yang jadi direktur, lalu bagaimana dengan Akbar?" gumam Mila dalam hatinya.


"Iya, apa kamu mengenalnya?"


"Iya tentu saja, dia senior ku" jawab Mila.


"Kalau begitu kamu pasti tahu dia akan segera menikah, kamu diundang ?"


"Iya" sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku juga dapat undangan, kalau begitu kita pergi bersama, aku akan menjemput mu, oke" ucapnya dengan bersemangat.


"Tapi aku akan pergi bersama Nayra dan Irene". Mila dan kedua sahabatnya memang sudah berjanji akan pergi bersama.


"Kamu berangkat denganku, dan kita akan bertemu mereka ditempat acara"

__ADS_1


"Tapi... " sedikit ragu.


"Ayolah Mila, aku tidak punya orang lain yang bisa ku ajak kesana, dan aku juga merasa segan kalau tidak hadir" bujuk Aldo.


"Baiklah" akhirnya setuju.


Mereka sampai di depan rumah kontrakan Mila. Begitu turun dari mobil, Mila sangat terkejut melihat Akbar yang berdiri di depan rumahnya. Aldo ikut turun dari mobilnya, dan sama-sama menghampiri Akbar.


"Akbar, kenapa ada disini ?" tanya Mila pada Akbar.


Akbar tidak langsung menjawab, dia terlebih dulu menatap Aldo dan memperhatikan pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pun dengan Aldo, dia menatap Akbar dengan tatapan tidak suka.


"Aku mau mengantarkan ini" sambil menyodorkan kantong plastik yang berisi belanjaan. "Milik Mona tertinggal di bagasi mobil ku" kata Akbar menjelaskan.


"Terima kasih Akbar, maaf jadi merepotkan" ucap Mila. "Oh iya, kenalkan ini Aldo teman ku" kata Mila memperkenalkan. Akbar dan Aldo saling berjabat tangan dan saling memberi tatapan tidak suka.


"Mila, apa aku boleh minta minum? aku kehausan karena menunggu sedari tadi" ucap Akbar.


"Oh iya tentu saja boleh, ayo silahkan masuk" ajak Mila.


"Aku juga tiba-tiba haus Mila" kata Aldo menimpali yang langsung mendapat tatapan sinis dari Akbar.


"Kalau begitu kalian berdua silahkan masuk" ajak Mila sambil membukakan pintu untuk kedua tamunya.


Mila mempersilahkan Akbar dan Aldo duduk di sofa tamu, lalu bergegas kedapur untuk membuatkan minum. Didapur dia bertemu Mona yang barus selesai mencuci piring.


"Kak Mila sudah pulang?" kata Mona


"Iya, tolong bantu Kakak buatkan minum" kata Mila sambil membuka lemari kecil tempat dia biasa menyimpan gelas.


"Untuk siapa Kak? Apa kita ada tamu"


"Iya, di depan ada Akbar dan Aldo " jawab Mila sembari menuangkan gula dan kopi dikedua gelas yang baru saja dia ambil dari lemari.


"Hah? kenapa mereka berdua ada disini? " ucap Mona kaget.


"Sudah, jangan bertanya, ayo cepat bantu kakak "


Mona membantu Mila menuangkan air panas pada dua gelas tersebut. Kini dua gelas kopi sudah siap. Mila meletakkan kedua gelas kopi itu di baki dan membawanya ke ruang tamu, dan Mona yang penasaran dengan kehadiran dua pria dirumah itu mengikuti Mila dari belakang.


Sesampainya di ruang tamu, Mila menghidangkan minuman diatasi meja, lalu ia pun duduk di salah sofa disana, Mona juga ikut duduk disampingnya.


Akbar dan Aldo mulai meneguk kopi tersebut lalu meletakkannya kembali. Situasi antara Akbar dan Aldo terlihat sangat canggung.


"Mona, kemarin kamu meninggalkan salah satu belanjaan mu di mobil Akbar, dia kemari untuk mengembalikannya" ucap Mila berusaha menyibakkan kesunyian diantara mereka.


"Terima kasih Kak Akbar" kata Mona, Akbar membalasnya dengan senyum.


"Kenapa barang belanjaan mu ada di mobilnya?" tanya Aldo sambil menatap Akbar. Rasa tidak sukanya pada Akbar sangat terlihat jelas.


"Kemarin kami tidak sengaja bertemu di mall, dan akhirnya kami pulang diantar Akbar dan Maxwell" jawab Mila.


" Siapa Maxwell?" tanya Aldo penasaran.


"Maxwell anaknya Akbar, dia sangat lucu" jawab Mila dengan bersemangat.


"Kamu sudah punya anak ?" kata Aldo sambil menatap Akbar. "Jadi kamu seorang ayah ?" sambungnya lagi. Pertanyaan namun terdengar seperti ejekan ditelinga Akbar.


Akbar sangat kesal mendengarnya, namun berusaha menahan diri semaksimal mungkin. "Iya, aku memang seorang ayah, aku Daddy Maxwell yang hebat" jawab Akbar dengan menatap tajam Aldo.


"Iya itu benar, Akbar adalah Daddy yang hebat" sahut Mila.


Aldo jadi semakin kesal dibuatnya.


"Sial" umpatnya dalam hati.


Sementara Akbar tersenyum, dia terlihat menyunggingkan senyum disalah satu sudut bibirnya.


-


-


-


bersambung .......


Kalian tim mana? Akbar atau Aldo ?


Pilih duda atau perjaka? 😆😆😆😆

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote nya...


Terima kasih 😊😊😊😊


__ADS_2