Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Jangan menangis!


__ADS_3

Semakin hari keinginan Mila untuk hamil semakin tinggi. Dia menjalankan semua saran Dokter yang ia kunjungi beberapa waktu lalu. Mila selalu iri setiap melihat Nayra dengan kedua bayinya. Mila juga akan menangis ketika mendapati dirinya datang bulan. Akbar sering melihatnya menangis, ia pun semakin khawatir dengan istrinya tersebut.


Malam itu, seperti biasa Mila menangis di dalam kamar mandi setelah melihat bercak darah di ****** ********.


"Sayang! ayo dong buka pintunya" Bujuk Akbar pada Mila yang mengurung diri di dalam kamar mandi. Ia menggedor pintu tersebut dan berharap Mila segera membuka pintu.


Tidak ada sahutan dari Mila, yang terdengar hanya isak tangis. Ia belum juga mau membuka pintu.


"Mila! sayang!" Panggilnya lagi. Belum ada sahutan juga, namun suara tangis Mila sudah tidak terdengar lagi.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Mila pun membuka pintu, ia keluar dengan penampilan yang sedikit berantakan. Wajahnya sembab dan matanya memerah.


Akbar meraihnya dan langsung memeluk istrinya tersebut. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, karena Akbar sudah tahu penyebab istrinya menangis. Ia hanya memeluk Mila, mengusap punggung wanita itu secara berulang, dan memenangkan Mila yang kembali menangis. Akbar menyeka air matanya, lalu membimbing Mila untuk duduk di tepi tempat tidur.


"Apa kamu mau sesuatu?" Tanya Akbar sembari menyelipkan rambut Mila yang terlihat berantakan. Mila menggeleng pelan. Kesedihan terlihat jelas diwajahnya.


"Kalau gitu, sekarang kamu istirahat saja ya" Mila mengangguk, dan tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Maxwell masuk dan berlari memeluk Mila.


"Max! jangan ganggu Bunda" Tegur Akbar. "Kenapa belum tidur?"


"Max mau peluk Bunda dulu" Jawabnya Polos. Ia membenamkan wajahnya dipelukan Mila untuk beberapa saat, lalu mengangkat wajahnya dan melihat wajah Mila yang sembab.


"Bunda menagis?" Sambil memiringkan wajahnya.


"Tidak sayang" Jawab Mila berbohong sembari menyunggingkan sebuah senyuman palsu.


Maxwell berdiri, bak pria dewasa, dengan hati-hati ia mengelus pipi Mila dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan menangis Bunda! Max jadi sedih. Max janji tidak akan nakal-nakal lagi" Ucapnya dengan sungguh-sungguh. "Apa Daddy juga nakal? Kalau Daddy nakal, Max akan memarahinya" Bocah ini sangat pandai menghibur Mila.


Mila dibuat terharu oleh kata-katanya. Dengan mata berkaca-kaca, Mila memeluknya dan mencium puncak kepalanya secara beruntun.


"Maafin Bunda ya sayang, Bunda sudah membuat kamu khawatir"


"Max sayang Bunda, sayaaangg sekali" Mengeratkan pelukannya sembari membenamkan wajahnya dibahu Mila.


Suasana haru menyelimuti kamar itu. Mila kini sadar betapa egoisnya dirinya. Ia terlalu berambisi dengan keinginannya, terlalu iri dengan ibu-ibu yang lain, hingga ia lupa kalau ia sudah punya sesuatu yang sangat berharga. Ia melupakan Maxwell, anak yang dengan sepenuh hati menyayanginya, anak yang telah menjadikannya dan mengajarinya jadi seorang ibu. Air matanya jatuh sambil menciumi anak itu.


Akbar yang masih duduk disana ikut merasakan kasih sayang keduanya. Keduanya terlihat tulus saling menyayangi, dan bahkan sekarang kelihatannya Maxwell malah lebih sayang pada Mila daripada dirinya.


Akbar tersenyum bahagia melihat anak dan istrinya ini, dengan semangat ia membentangkan kedua tangannya, memeluk kedua orang tersebut. Tangannya yang panjang mampu menjangkau Maxwell dan Mila. Tapi itu hanya sesaat, karena sekian detik kemudian, Maxwell yang tidak suka dihimpit langsung meronta dan mendorong Akbar.


"Daddy menjauhlah" Ucapnya sambil mendorong tubuh Akbar.


"Loh kenapa? Daddy juga ingin memeluk kalian"


"Tidak mau, tidak boleh! Daddy tidak boleh peluk-peluk Bunda" Teriak Maxwell dengan gusar.


"Hey bocah! gadis ini adalah istri ku" Jawab Akbar dengan sombong.


"Hey Daddy! ini adalah Bundaku" Jawab Maxwell dengan meniru gaya bicara Akbar.


"Wow... makin berani ya" sambil mengangkat jari telunjuknya dan menggoyang-goyangkannya.


"Semakin berani ya" Maxwell kembali menirukan Akbar.


Melihat tingkah mereka, Mila pun jadi tertawa, ia memandangi Akbar dan Maxwell sambil mengucap banyak syukur didalam hati. Sekarang ia merasa menjadi wanita paling beruntung, selain mendapatkan suami yang mencintainya dengan sepenuh hati, ia juga mendapatkan anak yang sangat luar biasa.


Mulai saat ini, Mila berjanji tidak akan menangis lagi karena keinginannya yang ingin hamil. Ia berjanji akan lebih banyak menjaga apa yang dia punya saat ini.

__ADS_1


Maxwell yang kini dipangkuannya terlihat tertawa sambil berusaha menghindari tangan Akbar karena pria itu menggelitikinya dibagian perut. Ia meronta-ronta melepaskan diri dari tangan Akbar.


*****


Beberapa bulan kemudian...


Mila dan Maxwell mengunjungi Nayra dirumahnya. Mereka ingin melihat kedua anak kembar Nayra dan Nando.


Sesampainya disana, mereka mendapati Nayra yang terlihat kewalahan menenangkan kedua bayinya yang menangis. Anak kembarnya diberi nama Juna dan Jennie. Keduanya pun sudah berusia enam bulan.


"Aduh Juna sayang, kenapa kamu malah ikutan menangis?" Nayra yang menggendong Jennie dibuat pusing dengan Juna yang ikutan menangis. Anak itu duduk sambil menangis menatap Nayra.


"Cup cup cup" Kata Nayra menenangkan Jennie yang menangis lebih kencang digendongannya.


Mila dan Maxwell memasuki kamar Nayra. Keduanya masuk setelah dibukakan pintu oleh asisten rumah tangga Nayra.


"Nay! ada apa ini?" Tegur Mila sembari berjalan menuju Juna. Mila langsung menggendong anak itu untuk menenangkannya.


"Tidak tahu Mil, tadi Jennie menangis dan sekarang Juna malah ikutan juga"


"Kamu sendirian? Suster mu kemana Nay?" Sambil mencari Baby Sister yang biasa menjaga anak Nayra.


"Lagi pulang kampung Mila, keluarganya ada yang meninggal. Sudah beberapa hari ini aku sendiri yang jagain mereka" sambil mengayun-ayunkan Jennie digendongannya. "Sepertinya Jennie mau tidur" Melihat Jennie yang mulai mengucek matanya. Kebiasaan anaknya memang seperti itu, selalu menangis menjelang tidur.


"Iya nih, Juna juga" Tunjuknya pada Juna.


Mereka menggendong kedua anak itu, hingga akhirnya keduanya benar-benar tidur. Setelah tidur, Nayra meletakkannya kedalam box bayi yang ada dikamarnya.


"Akhirnya mereka tidur juga" Nayra bernapas lega, lalu duduk disamping Mila. "Aku capek banget Mila, ternyata mengurus anak itu tidaklah mudah. Aku sering mau menangis kalau Juna Dan Jennie sama-sama menangis" Keluhnya.


"Bukannya menyenangkan ya punya anak kembar"


"Nando emang gak mau bantu jagain?"


"Mau sih, tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka lama-lama dengan Nando"


"Kenapa?"


"Nando itu kalau disuruh jagain anak" Menggelengkan kepalanya. " Bisa hancur anak ku dengan Nando" Ucapnya kesal. "Kemarin aku tinggal sebentar, taunya Jennie dan Juna malah dibiarin main lipstik ku, muka dan badannya merah semua, untung gak termakan lipstiknya" Mila tertawa mendengarnya.


"Pas ditanya kenapa kasih main lipstik, jawabnya, itu yang Jennie yang mau katanya" Kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu kapan suster mu kembali?"


"Besok katanya sudah mau balik sih"


Maxwell yang sedari tadi menempel dengan Mila mulai turun dari tempat tidur. Ia berjalan dan mengamati Jennie dan Juna yang sudah tertidur.


"Tante, Maxwell boleh main dengan Juna?" Ucapnya penuh harap sambil menatap Nayra.


"Boleh sayang, tapi nanti ya kalau Juna-nya sudah bangun" Jawab Nayra dengan lembut.


"Kalau Juna kami bawa pulang ke rumah boleh?" Lanjutnya. Mila dan Nayra pun dibuat tertawa dengan pertanyaannya.


"Max, Juna kan masih kecil, belum boleh dibawa nginap dirumah" Mila yang menjawab. Maxwell terlihat kecewa, ia kembali mengamati Juna yang tertidur.


"Maxwell pengen punya adek tu" Ucap Nayra sembari melirik Mila. "Kamu masih konsultasi ke Dokter?"


Mila menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku capek Nay, berharap terus. Sekarang aku pasrah, kapan dikasihnya aja. Seperti kata Akbar, kalau emang sudah waktunya nanti juga aku akan hamil" Jawab Mila pasrah. Beberapa bulan belakangan ini, Mila memang sudah tidak konsultasi ke Dokter lagi. Tapi ia tetap menjalankan arahan yang Dokter itu sampaikan selama ini. Mila juga tidak pernah test pack lagi seperti yang sebelumnya rutin ia lakukan.


"Tapi aku lihat kamu agak gemukkan sekarang, jangan-jangan kamu sudah hamil ya? Duga Nayra.


"Tidak mungkin" Jawabnya. Namun keningnya mulai berkerut ketika mengingat dirinya yang belum datang bulan. "Ahh tidak mungkin, mungkin aku yang salah hitung" Gumam Mila dalam hati.


"Sabar ya Mila, aku selalu berdoa untuk mu, semoga kamu segera hamil dan punya anak juga" Nayra memeluk sahabatnya.


"Bunda sudah punya anak, aku kan anak Bunda" Maxwell menimpali ucapan Nayra. Anak itu berlari kearah mereka.


"Oh iya ya, Tante lupa" Jawab Nayra lalu mencubit pipi Maxwell dengan gemas.


Menjelang sore, Mila dan Maxwell pamit pulang. Nayra pun mengantar mereka sampai depan pintu. Mereka menaiki taksi yang sebelumnya sudah Mila pesan. Sambil melambaikan tangan, Nayra memandangi taksi yang membawa mereka menghilang.


Malam harinya, karena penasaran Mila kembali melakukan test pack. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan lagi. Mila mengunci kamar mandi dan mulai memasukkan benda itu kedalam air seni yang sudah ia tampung sedari tadi. Tidak mau berharap banyak, Mila menguatkan dirinya kalau hasilnya akan sama seperti sebelumnya.


Perlahan Mila mengangkat benda itu, namun ia belum berani melihatnya. Mila memejamkan matanya, dan kembali menguatkan dirinya. Ia berusaha mengendalikan dirinya, mencoba tetap tenang apapun hasilnya nanti.


Mila menarik napas dalam-dalam lalu mengbuangnya dengan perlahan. Mila membuka matanya, perlahan membuka satu mata dan mengintip hasil test packnya, dengan samar ia melihat dua garis. Untuk lebih jelas, Mila pun membuka mata yang satu lagi. Hasilnya menunjukkan dua garis biru.


Mila belum percaya, ia kembali mengamati benda itu, dan memastikan kalau dia tidak salah lihat. Dan dua garis biru itu memang nyata. Saking senangnya ia tidak sadar berteriak kencang. Akbar yang mendengarnya dari luar pun dibuat terkejut.


"Mila, kamu baik-baik saja kan?" Terdengar suara Akbar dari balik pintu.


"Iya sayang, aku baik-baik saja"


Mila kembali melihat hasil tes packnya, lalu tersenyum bahagia sambil memeluk benda itu.


"Mila, kamu ngapain didalam?" Terdengar lagi suara Akbar. Suaranya terdengar mulai khawatir. "Jangan berlama-lama dikamar mandi sayang" Mengingat Mila yang sering menangis didalam kamar mandi, ia jadi trauma dan khawatir hal itu akan terjadi lagi.


Mila mengantongi benda tersebut. Ia belum mau mengatakan hasil tes packnya pada Akbar. Mila berencana mau ke Dokter terlebih dulu, lalu akan memberitahu Akbar setelah Dokter juga mendapat pernyataan yang sama.


"Kenapa lama sekali?" Ucap Akbar dengan khawatir setelah Mila membuka pintu. "Kamu tidak apa-apa kan?"


Mila menggeleng sembari tersenyum. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia mencium pipi Akbar lalu berjalan ke tempat tidur.


"Sayang, kamu serius tidak apa-apa?" Mengikuti Mila melangkah ke tempat tidur. Ia merasa aneh dengan sikap istrinya tersebut.


"Tidak sayang, aku baik-baik saja" Jawab Mila kembali tersenyum. Gadis itu menaiki tempat tidur lalu mulai berbaring disana.


"Baiklah" Akbar pun menaiki tempat tidur dan ikut tidur disamping istrinya itu.


*****


Malam itu, Akbar mendapati rumah yang sudah sepi. Ia memang pulang larut karena hari ini dia habis dari luar kota. Akbar memasuki rumah yang sudah gelap, ia menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua.


Dengan hati-hati ia membuka pintu kamar Maxwell. Tidak seperti biasanya, anak itu tidak ada disana. Keningnya berkerut, ia kembali menutup pintu dan berjalan ke arah kamarnya.


"Mungkin Maxwell ada dikamar ini bersama Mila" Duganya. Ia membuka pintu kamar yang ia tempati bersama istrinya. Pelan-pelan mendorong pintu, tidak ingin membuat orang yang didalamnya terganggu.


Pintu terbuka, dan ternyata kamar itu juga kosong. Akbar mulai panik, tidak biasanya Mila dan Maxwell tidak ada dikamar dijam segini.


"Kemana mereka?" Akbar melempar tasnya keatas tempat tidur. Sekarang ia melangkah ke kamar mandi, berharap kalau Mila ada didalam sana.


"Mila" panggilnya sambil mengetuk pintu. "Sayang!" panggilnya lagi. Karena tidak ada sahutan Akbar pun membuka pintu kamar mandi tersebut, dan ternyata disana juga kosong.


Semakin panik, Akbar pun keluar dari kamar, berlari menuruni anak tangga sambil meneriaki nama Mila dan Maxwell secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2