Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Akhir yang bahagia


__ADS_3

Akbar mengetuk pintu kamar Mona. Barangkali mereka ada disana pikirnya. Namun lagi-lagi Akbar mendapati kamar yang kosong.


"Mila! Maxwell!" Teriaknya memanggil nama itu secara bergantian. Ia berlari mengelilingi seluruh isi rumah, namun tetap saja tidak menemukan mereka dimana-mana. Akbar kembali menaiki kamarnya, mengambil ponsel dan menghubungi Mila. Tapi ternyata ponsel Mila tertinggal dikamar. Akbar semakin kesal, ia melempar ponselnya ke atas tempat tidur lalu kembali menuruni tangga.


Sesampainya diujung tangga, ia dikejutkan dengan lampu yang tiba-tiba menyela. Semua lampu tiba-tiba menyala, dan dari ruang tamu muncul semua penghuni rumah. Mila, Maxwell, Mona bahkan Bi Lina terlihat berjalan kearahnya. Mereka berempat tertawa bersama, dan ditangan Mila terlihat sebuah cake yang bertuliskan "Happy Birthday Daddy"


"Happy Birthday Daddy" Mereka serentak menyanyikan lagu itu secara berulang. Akhirnya Akbar bernapas lega. Ia ikut tertawa melihat kejutan yang mereka berikan kepadanya.


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya" Seru Maxwell. Anak itu terlihat paling semangat. Dengan malu-malu Akbar pun meniup lilinnya.


"Yeay" Seru semuanya.


"Happy birthday sayang" Ucap Mila sembari mencium suaminya.


"Terimakasih sayang" Balasnya. "Ahh kalian membuat takut" sambungnya dengan menggelengkan kepala mengingat kekhawatirannya tadi.


"Happy Birthday Kak Akbar" Seru Mona lalu memeluk Akbar.


"Terimakasih Mona" sambil membalas pelukan gadis itu.


"Selamat ulang tahun Tuan" Sambung Bi Lina.


"Terimakasih Bi" Jawab Akbar sembari tersenyum menatap Bi Lina.


"Daddy! selamat ulang tahun" Seru Maxwell dengan semangat.


Akbar tertawa melihat tingkahnya. Ia pun mengangkat tubuh anak itu dan menciuminya berulang.


"Daddy! jangan menciumi ku lagi" Tolak Maxwell sambil menjauhkan wajahnya.


"Kenapa?"


"Maxwell sudah besar, dan sebentar lagi akan jadi Kakak" ucap Maxwell.


"Kakak?" Kening Akbar berkerut mendengar ucapan Maxwell. Dia beralih menatap Mila dan yang lain. Meminta penjelasan dari ucapan Maxwell.


Bi Lina tertawa, sementara Mona terlihat mendengus.


"Dasar bocah, tidak bisa diajak kompromi" Batin Mona.


"Emm sayang, aku punya sesuatu untuk kamu" Mila meletakkan cake yang dia pegang sedari tadi, lalu beralih meraih sebuah kotak di atas meja.


"Yeay Bunda punya kado" Teriak Maxwell.


"Sayang, kamu tidak perlu menyiapkan kado seperti ini"


"Buka saja dulu" Pinta Mila.


Akbar menurunkan Maxwell, lalu meraih kotak tersebut dari tangan Mila. Perlahan ia menarik pitanya, lalu membuka tutupnya.


Akbar menaikkan kedua alisnya ketika mendapati sebuah test pack didalamnya.


"Apa ini? Sambil mengamati benda tersebut.


"Sayang, itu adalah hasil tes pack, kamu lihat garisnya, ada dua kan, itu artinya aku hamil sayang, aku hamiiil" Mila berucap dengan semangat.


Akbar terdiam. Dia mencoba mencerna apa yang ia dengar barusan.


"Aku tidak salah dengar kan?"


"Tidak Kak Akbar, Kak Mila memang hamil" Mona ikut menimpali. "Maxwell akan segera punya adek" seru Mona tak kalah girangnya.


"Hore! punya adek" Teriak Maxwell.


"Mila, ini benaran?" Masih belum yakin sepenuhnya.


Mila mengangguk dengan cepat.


"Lihat, ini hasil USG aku, kata Dokter usia kandungan ku sudah memasuki dua bulan" Jawab Mila sembari menunjukkan hasil USGnya yang ada didalam kotak itu juga.


Akbar mengamatinya, lalu melihat gambar calon anaknya disana. Ia menarik tubuh Mila lalu memeluknya dengan erat. Menciumi kepala istrinya berulang sambil mengucap banyak rasa syukur didalam hati. Mila membalas pelukannya, dan membenamkan wajahnya didada bidang itu. Sementara Maxwell masih berteriak menyerukan dirinya yang akan jadi kakak.


******


Semenjak kehamilan Mila, Akbar berubah menjadi suami yang posesif. Dia melarang Mila melakukan semua pekerjaan rumah, bahkan hanya untuk membantu Bi Lina menyajikan makanan pun tidak boleh.


Kini tugas mengantar Maxwell sekolah pun beralih menjadi tugas Akbar. Dan anak itu akan pulang dengan bus sekolahnya.


Hari-hari berlalu, dan seperti orang hamil pada umumnya, berat badannya pun meningkat. Tiap hari ia menimbang beratnya, dan akan kesal ketika mendapati angka yang semakin tinggi setiap harinya.


"Tu kan, nambah lagi beratnya" Teriak Mila dengan kesal.

__ADS_1


"Sayang! itukan hal yang biasa, namanya juga orang hamil" Akbar menyahutinya dari atas tempat tidur. Pria itu duduk sambil memangku laptop dipahanya.


"Aku kesal, tiap hari angkanya bertambah terus" Gerutu Mila sembari berjalan menghampiri Akbar.


"Kalau begitu jangan dilihat, lagian kamu ngapain tiap hari timbang berat badan?" Akbar menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop.


"Iya juga ya" Sambil memikirkan sesuatu. "Tapi aku penasaran, dulu Nayra kelihatannya lebih gemuk dibanding aku, tapi kok berat badan ku lebih tinggi dibanding dia ya? Padahal dia kan hamil anak kembar. Sayang! kalau seandainya aku hamil anak kembar juga gimana ya? " Mulai lagi deh batin Akbar, ia mendesah mendengar Mila yang mulai meracau kemana-mana. Selain berat badan Mila yang bertambah, bicaranya juga bertambah. Bahkan tak jarang Akbar harus begadang untuk mendengarkan ceritanya.


Selain itu, masalah ngidam juga membuat Akbar kewalahan. Ngidamnya sih tidak aneh-aneh, dan masih bisa dibilang wajar, tapi waktunya yang buat Akbar harus banyak ngelus dada dan banyak bersabar.


Mila sering merengek minta dibelikan sesuatu di tengah malam, padahal sebelum tidur Akbar selalu menanyakannya apa ingin sesuatu dan jawabannya selalu saja tidak ada.


"Kamu yakin tidak ingin sesuatu?" Tanya Akbar memastikan. "Besok pagi-pagi aku ada meeting, jadi malam ini tidak bisa begadang biar besok tidak telat" Kata Akbar memperingati.


"Tidak sayang" Jawab Mila meyakinkan.


Tapi menjelang jam 2 pagi, Mila kembali membangunkannya, dan minta dibelikan nasi goreng pake telur dadar. Melihat Akbar yang kesal, Mila pun menundukkan wajahnya, memasang wajah sedih.


"Maaf, tapi tadi aku mimpi makan nasi goreng, dan sekarang aku sangat menginginkannya" Ucapnya pelan. "Inikan keinginan anak mu juga"


Kalau sudah begini Akbar mana tega. Meskipun tahu kalau itu hanyalah alasan yang dibuat-buat, Akbar tetap akan luluh dan mau menuruti keinginannya.


Selain ngidam tengah malam, Mila juga suka minta dibelikan sesuatu disaat Akbar berada dikantor. Tak jarang Akbar pulang dijam kantor yang masih berlangsung. Bahkan pernah juga saat Akbar meeting, ia minta dibelikan bubur.


"Sayang, aku sedang meeting, nanti saja ya makan buburnya" Bujuk Akbar. Namun Mila kekeh maunya saat itu juga. "Kalau begitu aku minta Bi Lina yang belikan ya" Bujuknya lagi. Akbar benar-benar tidak enak dengan peserta meeting yang sedari tadi memperhatikannya.


"Tidak mau, aku maunya kamu yang belikan"


"Sayang aku lagi meeting"


"Berarti kamu gak sayang sama ku, kamu juga gak sayang sama anakmu" Membuat kesimpulan seenaknya.


Akhirnya dengan terpaksa Akbar pun membubarkan meeting, bergegas membeli bubur lalu kembali ke rumah dan menyerahkannya pada Mila.


Meskipun kesal, tapi begitu sampai dirumah dan mendapati Mila yang menyambutnya dengan senyuman, rasa kesal dan letihnya langsung hilang begitu saja. Ia turun dari mobil, lalu bergegas menghampiri Mila yang sudah menunggunya didepan pintu.


"Sayang, kenapa harus keluar? Kamu kan bisa menunggu didalam" Tegur Akbar. Ia membimbing Mila dan membawanya memasuki rumah.


"Aku tidak sabar menunggu mu, aku merindukan mu" Jawab Mila sambil melingkarkan tangannya dilengan Akbar.


"Benarkah?" Sembari mencium puncak kepala istrinya. "Kamu yakin merindukan ku?" Mila menganggukkan kepalanya. "Yakin? Bukan karena bubur ini kan?" sambil mengangkat bungkusan bubur yang ia bawa.


"Hehehe dua-duanya deh" Jawab Mila sembari meraih bungkusan bubur ditangan Akbar.


******


Semua keluarga mendatangi kediaman Akbar. Hari ini adalah ulang tahun Maxwell. Tidak ada perayaan mewah, mereka hanya mengundang keluarga dekat untuk tiup lilin dan makan malam bersama. Disana sudah hadir, Nenek dan Kakeknya. Bunda Rita pun sudah tiba dirumah sejak pagi tadi. Nayra, Nando bersama kedua anak kembarnya pun sudah terlihat hadir disana. Juna dan Jennie sudah bisa jalan, anak kembar itu terlihat semakin mengemaskan, Mila sedari tadi terus menciumi kedua bocah tersebut.


Mereka juga kedatangan seseorang, tamu yang sebenarnya tidak diundang, ia adalah Milva. Pria ini datang tanpa undangan dari Akbar, melainkan ia datang karena ajakan Mona. Nayra yang melihatnya disana langsung mengomelinya. Nayra menanyakan alasan Milva yang datang kerumah tersebut, dan untungnya saja ada Mila yang melerai.


Maxwell dan Juna terlihat bermain bersama. Mereka berdua lari kejar-kejaran yang dipandu oleh Milva. Sementara Jennie dibiarkan main sendiri. Ya, anak cewek yang diasingkan.


Acara akan segera dimulai. Akbar menyarankan semuanya untuk duduk ditempat yang sudah disiapkan. Setelah semuanya berkumpul, Akbar mulai menyalakan lilin, lalu dengan serentak menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday, happy birthday,


Happy birthday Maxwell


Semuanya bertepuk tangan ketika Maxwell meniup lilin yang ada diatas cakenya.


Selesai potong kue dan membagikannya, mereka pun memulai makan malam. Mereka makan diselingi obrolan ringan. Dan sesekali terdengar suara Juna dan Jennie yang berteriak.


Hingga diakhir makan malam, tiba-tiba Mila merasakan sakit luar biasa diperutnya. Ia menjatuhkan gelas yang ada ditanganinya, sontak semua perhatian tertuju padanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Akbar langsung panik melihat Mila.


"Awww...... perut ku" Teriak Mila sambil menahan rasa sakit.


"Akbar bawa Mila sekarang ke rumah sakit, sepertinya dia akan melahirkan" Ucap Nayra.


"Melahirkan?" Akbar pun semakin panik.


"Iya, ayo cepat bawa dia"


Akbar menggendong Mila, dengan cepat membawanya masuk kedalam mobil. Akbar melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang paling dekat dari rumahnya.


Sementara itu, mereka semua yang ada dirumah itu pun mulai bergegas untuk menyusul kerumah sakit. Milva membawa Mona, Maxwell dan juga Bunda Rita dengan mobilnya. Mereka yang lebih dulu keluar dari rumah itu. Disusul kedua orang tua Akbar. Semua terlihat panik. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda kalau Mila akan melahirkan, dan menurut perkiraan dokter, Mila akan melahirkan satu atau dua minggu lagi.

__ADS_1


Semua sudah menyusul ke rumah sakit, sementara Nayra dan Nando terlebih dulu mengantar kedua anak mereka ke rumah. Karena tidak mungkin juga membawa kedua anak kembar itu. Mereka menitipkannya pada baby sisternya lalu bergegas menuju rumah sakit.


Setibanya disana, yang lain terlihat menunggu didepan ruangan. Nayra dan Nando mempercepat langkahnya dan bergabung dengan yang lain.


"Bagaimana?" Tanya Nayra pada Mona.


"Belum Kak" Jawab Mona sambil menggelengkan kepalanya.


"Tante, Bunda akan baik-baik saja kan?" Melihat kekhawatiran orang disekelilingnya, Maxwell jadi khawatir juga. Apalagi tadi dia juga melihat Mila yang kesakitan.


"Bunda pasti baik-baik saja, bentar lagi Maxwell punya ade" Jawab Mona sambil menghibur bocah itu. Maxwell mengangguk namun masih tetap khawatir dengan keadaan Bundanya.


Didalam ruangan, Akbar tetap berada disisi Mila. Air ketubannya sudah pecah, dan mau tidak mua, Mila harus melahirkan anak dalam kandungannya sekarang.


Mila yang memilih melahirkan secara normal kini sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayinya.


"Sayang, ayo kamu pasti bisa" Akbar menyemangatinya. Meskipun ia sendiri sebenarnya sudah tidak tahan melihat kondisi Mila. Tapi kalau dia sendiri menyerah bagaimana pula dengan Mila.


"Aku tidak kuat" Teriak Mila sembari menggenggam kuat lengan suaminya.


"Kamu tidak boleh menyerah, aku disini bersamamu" Akbar terus menyemangatinya. Menciumi kepala Mila. Beribu doa ia panjatkan untuk keselamatan anak dan istrinya.


Dokter juga terus memberi Mila arahan, hingga akhirnya, bayi itu pun lahir dengan selamat. Suara tangis yang memecah diruangan itu terdengar sampai keluar. Mereka yang menunggu sedari tadi langsung mengucap syukur setelah mendengar tangisannya.


"Maxwell, adek kamu sudah lahir" Seru Mona pada Maxwell. Spontan Maxwell pun melompat girang.


"Selamat ya Pak, Bu, bayinya perempuan" Ucap suster memberitahu jenis kelamin anak mereka. Sebelumnya mereka tidak pernah tahu jenis kelamin anak itu, karena mereka memang sengaja tidak mencari tahu. Biarlah itu tetap menjadi misteri, karena apapun jenis kelaminnya mereka akan tetap mensyukurinya. Sama seperti Nayra dan Nando, kini mereka juga memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan.


Suster menyerahkan bayi itu pada Akbar. Dan untuk pertama kalinya, Akbar menggendong bayinya. Ia menatap bayi itu dengan bahagia. Seperti mimpi, kini ia memiliki anak perempuan.


Akbar tersenyum sembari mencium bayinya. Tanpa sadar air matanya jatuh. Air mata bahagia. Air mata itu jatuh beriringan dengan senyum bahagia. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Perlahan Akbar berjalan menghampiri istrinya, lalu meletakkan bayi mungil itu disisi Mila.


"Sangat cantik, persis kamu" Ucap Akbar.


"Mau kasih nama siapa?" Ucap Mila sambil mengamati wajah mungil bayinya.


"Zia Qiani Wijaya" Jawabnya dengan mantap. Sepertinya Akbar memang sudah menyiapkan nama itu.


Nayra dan yang lainnya mulai memasuki ruangan itu. Mereka sangat antusias melihat bayi mungil perempuan itu. Mona bahkan langsung menggedong bayi itu dan memamerkannya pada Milva.


"Keponakan aku" Ucapnya.


Sementara itu, Maxwell terlihat sedikit kecewa, karena dia menginginkan seorang adik laki-laki. Ia ingin bermain dengan adiknya kelak seperti saat ia bermain dengan Juna.


Namun, setelah melihat langsung wajah adiknya, perlahan senyum dibibirnya mulai muncul. Ia menyentuh wajah bayi itu, lalu pada akhirnya ingin menggendongnya. Hanya hitungan jam, kini ia terlihat bahagia dengan kelahiran adik perempuannya. Ia menciumi bayi mungil itu dan tidak mau jauh-jauh darinya.


... *** SEKIAN ***...



Maxwell dan Zia beberapa bulan kemudian.


.


.


.


Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Jujur sebenarnya otakku sudah buntu untuk kelanjutan cerita ini, jadi harap dimaklumi ya kalau ceritanya membosankan. Terimakasih untuk yang sudah mengikuti novel ini. Terimakasih sudah mengikuti kisah cinta Mila dan Akbar, dari kenalan, dekat, pacaran, terus pisah, terus kembali lagi, dan akhirnya berakhir bahagia seperti saat ini. Terimakasih untuk dukungannya 😍😍😍😍


Sampai jumpa di season 2


Yah..... season 2, gak pengen baca deh


Hahahahahahah


Tapi aku tetap mau buat season 2, gimana dong 😂😂😂


Jadi rencananya aku mau buat cerita tentang Maxwell yang sudah dewasa. Ide cerita sudah ada, yang mau lanjut baca, ditunggu ya. InsyaAllah minggu depan sudah di up.


Dan sambil menunggu season 2, bagi teman-teman yang punya aplikasi NOVELM* mampir juga ya ke novel ku, judulnya BURONAN




Novelnya baru buat sih, dan sampai hari ini baru ada 5 bab. InsyaAllah akan di up rutin setiap hari.


Ditunggu kedatangannya ya, dan sampai jumpa 😀😀😀


Oh iya, jangan lupa like dan votenya.

__ADS_1


Terimakasih semuanya 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2