
Mila berusaha melepaskan diri dari Aldo, dia menarik tangannya sekuat mungkin, namun percuma saja, karna tangan Aldo jauh lebih kuat mencengkeramnya.
"Aldo, kenapa kamu jadi seperti ini?" ucap Mila dengan mata berlinang menahan sakit dilengannya.
"Kamu masih bertanya kenapa? Hah? " gertak Aldo. "Kamu yang membuat aku jadi seperti ini Mila" semakin mendekat ke arah Mila.
Mila mendorongnya lalu lari untuk keluar dari toilet perempuan itu, tapi belum sampai di pintu, Aldo sudah terlebih dulu menjangkaunya, dan kembali menarik lengannya dan mendorong hingga membuat tersungkur ke lantai. Mila merintih kesakitan, dan sikunya mulai mengeluarkan darah karna mengenai lantai.
Aldo berjalan mendekatinya, lalu menangkap wajahnya.
"Mila, selama ini aku berusaha baik kepadamu, tapi kenapa kamu menolak ku? Kenapa?" teriaknya. "Mungkin aku bisa tahan kalau pria yang kamu pilih jauh lebih baik dari ku, tapi.... " Aldo tertawa dan menggantung kalimatnya. "Tapi, lihat pria yang kamu pilih, Akbar tidak ada apa-apanya dibanding aku Mila, dia hanya seorang duda, dan punya anak, aku jauh lebih baik darinya" sambung nya lagi dengan semakin menggila. "Apa kamu bermaksud merendahkan ku? Hah? Dan sekarang kalian malah tertawa dihadapan ku"
"Dasar psikopat, aku bersyukur dan semakin yakin dengan pilihan ku, menolak mu adalah pilihan terbaik ku" jawab Mila dengan tegas, air matanya yang sedari ia tahan kini sudah berhamburan membasahi pipinya. Mila terus merintih kesakitan, namun Aldo tidak peduli sama sekali.
Mendengar jawaban Mila, Aldo semakin marah, dia kembali mendorong tubuh Mila, bersamaan dengan itu seorang karyawan restoran yang berniat membersihkan toliet memasuki tempat itu dan mendapati Aldo yang sedang menyiksa Mila.
Karyawan tersebut berteriak mendapati apa yang dia lihat, dia langsung berlari dan meninggalkan tempat itu.
Disisi lain, Akbar mulai resah karena Mila belum juga kembali dari toilet.
"Daddy, apa Bunda pulang?" tanya Maxwell yang ikut resah dengan Mila yang tak kunjung datang.
"Tidak , Bunda lagi ke toilet, sabar ya, sebentar lagi akan datang" jawab Akbar, dia tidak ingin Maxwell ikut resah.
Akbar mengitari seluruh restoran sambil mencari Mila, hingga akhirnya Akbar sadar kalau Aldo juga tidak ada ditempat duduknya yang tadi. Akbar menatap kursi kosong milik Aldo, begitu juga dengan Rio, ternyata Rio juga menunggu Aldo yang tak kunjung kembali. Menyadari keduanya tidak ditempat, Akbar berdiri dari duduknya, dia membawa Maxwell lalu bertanya pada karyawan restoran itu, dimana toilet berada, belum sempat yang ditanya menjawab, tiba-tiba karyawan yang tadi ke toilet datang menghampiri mereka.
Dia datang dengan napas ngos-ngosan.
"Ditoilet, toilet perempuan ada laki-laki" ucapnya sambil mengatur napasnya. "Dia mendorong gadis itu" sambungnya. Sebenarnya rekan-rekannya tidak mengerti maksud ucapannya, namun Akbar langsung yakin kalau itu adalah Aldo. Akbar menggendong Maxwell dan berlari ke toilet, Rio yang merasa curiga juga ikut beranjak dari duduknya, dan beberapa karyawan pun mengikuti mereka.
Sesampainya di pintu toilet, Akbar menurunkan Maxwell.
"Kamu disini, oke" . Maxwell diam dan menurut. Perlahan Akbar membuka pintu, dan langsung disuguhkan pemandangan yang membuatnya ingin membunuh Aldo saat itu juga. Didepannya, Aldo sedang menarik rambut Mila kebelakang, melihat itu Akbar langsung menendang tubuh Aldo dari samping.
"Aku akan membunuh mu Aldo" bentak Akbar. Aldo jatuh dan tersungkur ke lantai, begitu dia duduk, Akbar kembali memberinya satu tendangan, dan beberapa pukulan diwajahnya hingga Aldo mengeluarkan darah dibagikan bibirnya. Tidak lama kemudian beberapa karyawan restoran dan petugas keamanan pun datang, mereka menangkap Aldo dan menahan Akbar yang masih ingin memukuli Aldo.
Mereka menyeret Aldo keluar dari tempat itu, sementara Akbar menuju Mila yang duduk tidak berdaya.
"Mila!" dengan sigap menopang tubuh Mila.
"A...Ak...bar" dengan terbata-bata Mila menyahut, lalu sesaat kemudian Mila pingsan tidak sadarkan diri dipangkuan Akbar.
"Mila!" teriak Akbar, dan tanpa berpikir panjang, dia langsung mengangkat tubuh Mila, dan membawanya keluar dari toilet itu, tepat di pintu dia bertemu Rio yang berdiri disamping Maxwell.
"Daddy..." ucap Maxwell dengan wajah cemas melihat Mila.
"Mila kenapa Akbar?" tanya Rio.
__ADS_1
"Aku akan membawa Mila ke rumah sakit, aku titip Maxwell sama mu" jawab Akbar. "Max, kamu ikut Om Rio" dan dengan tergesa-gesa, ia kembali melanjutkan langkahnya dan segera membawa Mila ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Mila langsung ditangani Dokter. Akbar menunggu di depan ruangan dengan cemas. Akbar bolak-balik di depan ruangan, rasa cemas dan khawatir terlihat jelas di wajahnya.
Dokter keluar dari ruangan Mila, Akbar pun langsung menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan Mila ?"
"Dia syok, dan ada luka memar dibeberapa bagian tubuhnya, tapi Bapak tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja" jawab sang Dokter.
"Apa aku boleh menemuinya Dok? "
"Tentu saja, Bapak boleh menemuinya, tapi saat ini pasien masih dalam pengaruh obat, dia akan sadar satu jam lagi"
"Terima kasih Dok"
Dokter dan beberapa perawat itu pun pamit, dan meninggalkan Akbar. Akbar membuka pintu ruangan itu lalu berjalan mendekati Mila yang terbaring, ia duduk di kursi yang berada disamping ranjang Mila.
"Maafkan aku Mila" ucapnya sambil mengusap lembut rambut Mila. "Aku masih saja membuat mu terluka, harusnya tadi aku datang lebih cepat" lanjutnya dengan penuh penyesalan. Akbar menatap wajah Mila yang terlihat sangat pucat.
Sementara itu, Rio kini sedang berada di mobilnya bersama Maxwell, anak itu tertidur didalam mobil. Rio melirik Maxwell yang tidur dengan nyenyak.
"Dasar Akbar sialan, kenapa jadi aku yang menjaga anaknya" gerutu Rio sambil mengendarai mobilnya. Rio membawa Maxwell ikut pulang ke rumahnya, setibanya dirumah, Rio mengangkat tubuh mungil Maxwell dari dalam mobil, dia membawanya masuk kedalam rumah.
"Sayang, kamu dari mana saja ?" tegur Putri yang sengaja duduk menunggu kedatangannya. Rio tidak menjawab dan berlalu begitu saja.
"Sayang, ini anak siapa ?" Putri terus menanyainya.
"Apa kamu tidak bisa melihatnya, ini Maxwell, anaknya Akbar" jawabnya sambil melepas sepatunya.
"Maxwell" sambil memperhatikan wajah Maxwell, dan ternyata benar anak itu adalah Maxwell. "Kenapa dia bisa bersama mu ?" bertanya lagi. Putri memang mengetahui kalau Akbar sudah punya anak, dia juga sudah beberapa kali bertemu dengan Maxwell di berbagai acara keluarga, namun ini kali pertama Rio membawa Maxwell ke rumahnya, selain hubungan Rio dan Akbar yang kurang baik, Rio juga tidak terlalu menyukai anak-anak.
"Kamu terlalu banyak bertanya" jawab Rio lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Rio memandang wajahnya dikaca, dan kembali mengingat kejadian di restoran tadi. Dia membuang napasnya kasar lalu mulai mandi seperti rencana awalnya.
***********
Satu jam setelah Akbar menunggui Mila, akhirnya dia pun sadar dan membuka matanya. Mila mengerjapkan kedua matanya menyesuaikan dengan cahaya ruangan tersebut.
"Akbar" sapa Mila setelah sesaat menyadari keberadaan Akbar.
"Mila, kamu sudah sadar" jawab Akbar dengan perasaan sedikit lega. "Apa masih sakit? Aku panggilkan Dokter ya" ucapnya lalu berniat segera pergi memanggil Dokter, namun ditahan oleh Mila.
Akbar kembali duduk dan menatapnya, lalu Mila pun menggelengkan kepalanya sebagai isyarat dia tidak butuh Dokter untuk saat ini.
"Mila, maafkan aku" sambil menggenggam jemari Mila. "Aku terlambat menemukan mu, harusnya aku lebih cepat mendatangi mu, maafkan aku Mila" ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Mila menggeleng sembari memaksakan senyum dibibirnya yang memar itu.
__ADS_1
"Kamu datang tepat waktu Akbar, terima kasih" jawab Mila pelan sambil menatap Akbar.
"Tapi kamu jadi terluka seperti ini" sembari merapikan rambut Mila.
"Aku akan baik-baik saja" berusaha meyakinkan Akbar.
"Dibagian mana yang sakit Mila ? Apa ini sakit" sambil menyentuh siku Mila yang dilapisi perban.
"Tidak, tapi jangan menyentuhnya" jawab Mila.
"Baiklah, kalau disini" menyentuh siku Mila yang satunya lagi.
"Disitu kan tidak ada luka" jawab Mila dengan tertawa, namun dia langsung kesakitan karena ada luka dibibirnya. "Aww... " sambil menyentuh bibirnya.
"Kamu jangan tertawa, itu akan terasa sakit, lukanya belum kering" tegur Akbar sambil memperhatikan bagian bibir Mila yang terluka.
Mila pun mengangguk sambil menahan tawanya.
"Kamu tidak boleh tertawa" ulang Akbar dan semakin mengeratkan jemari Mila, sementara tangannya yang satu lagi mengusap lembut rambut Mila. "Cepat sembuh ya" ujarnya dengan lembut, untuk beberapa saat mereka pun saling beradu pandang.
Keberadaan Akbar disampingnya, membuat dia lebih tenang, sakit disekujur tubuhnya pun terasa berkurang. Mila memandangnya dengan hati yang tenang, namun tidak dengan Akbar, melihat Mila terbaring seperti ini, hatinya meronta dan memaki Aldo, dia bahkan berjanji tidak akan memaafkan perbuatan Aldo, dan berniat akan membalasnya.
"Akbar, Max dimana?" menyadari Maxwell yang tidak ada disana.
"Hmm" dia juga baru teringat Maxwell. "Oh.. tadi aku menitipkannya pada Rio" jawabnya.
"Kenapa dia bersama Kak Rio ?" ucapnya dengan khawatir.
"Tidak usah khawatir, dia akan baik-baik saja"
Dan tidak lama kemudian, HP Akbar pun berdering yang menandakan ada pesan masuk.
Segera jemput anak mu, dia sudah mengacaukan seisi kamar ku, (dengan menyisipkan foto Maxwell yang sedang bermain diatas tempat tidurnya). Rio.
"Nampaknya Maxwell bersenang-senang dengan Rio" lalu menunjukkan pesan Rio pada Mila.
"Kamu harus segera menjemputnya" jawab Mila dengan tersenyum melihat foto Maxwell.
-
-
-
bersambung
Teman-teman, jangan lupa like dan votenya ya 😊😊😊, terima kasih...
__ADS_1