Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Ibu rumah tangga


__ADS_3

Pekerjaan yang sudah menumpuk membuat Akbar harus pulang malam, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 21.30 ketika dia sampai dirumah. Akbar berjalan menuju pintu rumah. Rumah yang sudah gelap, hanya ada beberapa lampu yang masih menyala. Pintu itu sudah terkunci, namun itu tidak masalah karena Akbar selalu membawa kunci rumah bersamanya. Pintu pun terbuka, dan ketika Akbar akan memasuki rumah, sebuah mobil yang tidak dikenalinya memasuki halaman rumahnya yang luas. Dia berdiri di pintu menunggu orang dalam mobil itu turun, dan tidak lama kemudian terlihat Mona turun dari mobil tersebut. Dan yang membuat Akbar terkejut, Milva juga turun dari mobil itu, keningnya semakin berkerut kala melihat kedua manusia itu tersenyum malu-malu saat saling berpamitan.


Setelah pamit, Milva kembali memasuki mobilnya dan meninggalkan Mona yang berdiri menatap kepergiannya. Mobil sudah menjauh dan menghilang dari pandangannya, Mona berbalik dan berjalan menuju pintu rumah. Senyum lebarnya tadi seketika lenyap ketika melihat Akbar yang berdiri didepan pintu. Ragu-ragu namun akhirnya tetap menghampiri Akbar, karena bagaimana pun dia sudah tertangkap basah, mau menghindar pun sudah tidak bisa lagi.


"Kak Akbar sejak kapan berdiri disini?". Ucapnya dengan hati-hati.


"Sebelum mobil yang mengantar mu datang". Jawabnya datar.


Berarti tadi Kak Akbar melihat aku dengan Kak Milva dong.


"Kak, kami tidak seperti yang Kak Akbar pikirkan". Mulai panik dengan tatapan Akbar yang ditujukan padanya.


"Kamu tahu apa yang aku pikirkan?".


"Heeheheh tidak juga". Jawab Mona berusaha tersenyum walaupun hasilnya sangat jelas terlihat palsu.


"Masuklah, istirahat dan segera tidur". Membuka pintu dengan lebar supaya Mona bisa lewat. Dengan cepat Mona melangkah masuk. "Mona, mulai sekarang aku akan mengawasi mu, setiap orang yang menjemput dan mengantar mu pulang harus bertemu dulu dengan ku". Peringatan Akbar sebelum Mona memasuki kamarnya. Mona hanya bisa mengangguk mendengarnya.


Akbar menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua, tapi sebelum memasuki kamarnya, seperti biasa setiap pulang kerja dia terlebih dulu memasuki kamar Maxwell yang berada persis disebelah kamarnya.


Akbar membuka pintu dengan pelan-pelan, lalu berjalan menghampiri Maxwell yang sudah terlelap ditempat tidurnya. Memperhatikan wajah Maxwell yang semakin hari semakin mirip dengan ayahnya. Maxwell mewarisi alis, mata, dan hidung yang sama dengan kakaknya. Setiap menatap Maxwell, rasanya dia sedang berhadapan dengan Kakaknya. Anak ini sangat mirip dengan Kakaknya sewaktu kecil.


Anakmu sudah besar Kak Dika. Batinnya.


Akbar memperbaiki selimut Maxwell, mengusap lembut kepalanya, dan terakhir mencium kening anak itu. Dia mematikan lampu kamar itu dan meninggalkan Maxwell yang masih terlelap. Setelah menutup pintu dengan rapat, Akbar menuju kamarnya. Sama halnya ketika memasuki kamar Maxwell, saat memasuki kamarnya, dia pun membuka pintu dengan hati-hati, tidak ingin membuat suara yang bisa saja membangunkan istrinya yang mungkin saja sudah tidur.


Dugaannya benar, Mila sudah tidur dengan selimut yang menutupi tubuh sampai leher. Akbar meletakkan tas dan jasnya diatas sofa, lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, dia berjalan menuju lemari besar yang berada tidak jauh dari pintu kamar mandi, membuka lemari tersebut, dan memilih baju lalu mengenakan baju tidur pilihannya. Berjalan pelan dan menaiki tempat tidur.


Guncangan tempat tidur ketika Akbar menaikinya malah membuat Mila terbangun. Gadis itu membuka matanya lalu menatap Akbar yang sudah berada disampingnya.


"Akbar, kamu sudah pulang ?". Sambil mengucek matanya.


Akbar mengangguk lalu menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Mila. Mengangkat selimut lalu ikut masuk kedalamnya.


"Apa kamu sudah makan? Aku akan menyiapkan makan malam mu". Ucap Mila dan berniat akan bangkit dari tempat tidur.


"Aku sudah makan". Langsung menahan Mila dan mendekapnya. "Tidurlah, maaf sudah membuat mu terbangun, kamu pasti capek seharian menjaga Maxwell". Mengeratkan pelukannya.


"Benarkah? kamu yakin sudah makan?".


"Hmm...sudah".


"Bagaimana pekerjaan mu?". Sekarang rasa ngantuknya sudah hilang. Mila berbalik untuk bisa melihat wajah Akbar dengan jelas.


"Semuanya berjalan lancar, kamu sendiri bagaimana, apa Maxwell menyusahkan mu?". Mulai mengelus pipi Mila.


"Tidak, dia anak yang pintar, aku senang bisa seharian dengannya, sewaktu dibandara juga dia jadi anak yang baik". Terang Mila dengan semangat. Sama sekali tidak ada rasa keberatan diwajahnya menjaga Maxwell seharian ini.


"Sepertinya dia lebih menurut denganmu daripada dengan ku". Tersenyum tipis namun tetap membuat lesung pipinya muncul dikedua pipinya. "Bagaimana dengan Irene, apa dia tetap terbang ke Kanada?".


Mila mengangguk pelan.

__ADS_1


"Irene tentunya lebih tahu apa yang terbaik untuknya, biarkan dia menenangkan diri, nanti juga dia akan kembali". Akbar berusaha menghibur istrinya yang tiba-tiba murung ketika membahas Irene. Mila kembali menganggukkan kepalanya. "Sayang, sepertinya kita harus segera mencari pengganti Linda untuk menjaga Maxwell, Linda tidak akan kembali lagi kerumah ini, dia mau menetap dikampung menjaga Ibunya".


"Kenapa harus mencari orang, aku kan bisa menjaganya". Tolak Mila dengan dahi berkerut.


"Bukankah cuti mu akan segara berakhir, kamu akan kembali kerja, tidak mungkin bisa menjaga Maxwell lagi".


"Hmmmm.... soal itu... ". Mila memutar matanya berusaha mencari kalimat yang pas untuk mengatakan keinginannya pada Akbar.


"Kenapa? Sudah lah kamu tidak perlu pikirkan itu, aku akan mencari baby sister yang pas untuk Maxwell". Mengecup kening Mila dan mengeratkan pelukannya.


"Akbar, aku tidak bisa bernapas". Keluh Mila sambil berusaha melepas pelukan Akbar. Meskipun tidak suka namun akhirnya Akbar melonggarkan pelukannya. "Sayang.. ". Ucap Mila malu-malu.


"Apa? kamu bilang apa?". Akbar langsung mengangkat kepalanya mendengar panggilan sayang yang baru saja keluar dari mulut Mila.


"Sayang.. ". Ulang Mila sembari menutup wajahnya menahan malu. Meskipun Akbar sering memanggilnya dengan sebutan sayang, tapi untuk Mila ini adalah pertama kalinya dia menggunakan kata itu. Dia malu sendiri setelah mengucapkannya. Akbar tertawa puas lalu menarik tangan yang menutupi wajah Mila. Dan dengan gemasnya Akbar menciumi pipi Mila berulang. "Akbar, hentikan". Menjauhkan wajahnya dari Akbar. "Ada yang ingin aku katakan padamu".


Akbar pun menurut, dia berhenti, dan kini memandangi wajah Mila sambil menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut gadis itu.


"Akbar, aku mau berhenti bekerja". Ucap Mila dengan serius. Akbar terdiam mendengar ucapan Mila yang ia rasa sangat tiba-tiba. "Kamu tidak perlu mencari baby sister lagi untuk Maxwell, aku yang akan menjaganya". Sambung Mila. Wajah Akbar berubah, ia langsung memberi tatapan tidak suka. "Aku yang akan menemaninya". Lanjutnya lagi.


"Kenapa kamu mau berhenti kerja? Bukankah kamu sangat mencintai pekerjaan mu? Aku tahu kamu menyayangi Maxwell, tapi aku tidak mau kalau kamu harus mengorbankan pekerjaan mu hanya untuknya". Dia menatap Mila masih dengan pandangan yang sama.


"Ini bukan karena Maxwell, tapi ini memang keinginan ku, iya, aku memang mencintai pekerjaan ku, tapi aku lebih mencintai keluargaku, aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan kalain, karena kalau aku kerja terus kamu juga kerja waktu kebersamaan kita pasti akan terbatas". Mila berusaha meyakinkan Akbar. "Ini keinginan ku sayang". Sengaja menekankan kata sayang, siapa tahu Akbar langsung luluh pikirnya.


Akbar memejamkan matanya sesaat lalu membuang napasnya dengan kasar, ia kembali menatap Mila.


"Apa kamu yakin dengan keputusan mu?".


"Sangat yakin". Menjawab dengan cepat. "Kecuali penghasilan mu tidak mampu membiayai kebutuhan kita, jadi mau tidak mau akan tetap bekerja". Goda Mila dengan tersenyum lebar.


Akbar tersenyum tipis mendengar ucapan Mila.


"Kamu terlalu sepele sayang, kamu lupa kalau suami mu ini punya uang yang banyak, tidak bekerja sebulan saja keuangan ku sama sekali tidak akan berpengaruh". Jawabnya sombong sembari kembali mencubit pipi Mila. Mereka tertawa bersama. "Baiklah, aku akan menuruti keinginan mu, tapi kalau suatu saat nanti kamu bosan dan ingin kembali kerja, atau kalau kamu capek menjaga Maxwell, maka kamu harus segera mengatakannya padaku, aku akan mencarikan Maxwell Baby Sister saat itu juga".


"Itu tidak akan terjadi". Jawab Mila dengan senang. "Kamu tahu apa yang menjadi cita-cita ku selama ini?". Akbar diam menantikan jawabannya. "Menjadi ibu rumah tangga". Ucap Mila dengan bangga.


"Oh ya?". Tersenyum tipis dan mulai memainkan kancing baju Mila.


"Iya, dari dulu aku sangat ingin menjadi Ibu rumah tangga, mengurus suami, hahahaha". Geli sendiri dengan ucapannya. "Bagi ku ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang paling istimewa, mengurus semua anggota keluarga, menemani anak dan mendidiknya dari kecil menurut ku itu pekerjaan yang sangat tidak mudah tapi akan sangat menyenangkan karena punya banyak waktu dengan keluarga, dan aku ingin menjadi seperti itu, aku akan menemani mereka disaat senang, disaat sedih..... ". Mila mengoceh panjang lebar tanpa sadar tangan Akbar yang sedari tadi membuka kancing bajunya satu per satu, dan kini hanya menyisakan satu kancing lagi.


"Kamu tahu, pekerjaan utama ibu rumah tangga?" . Bisik Akbar ditelinga Mila.


"Apa?". Mencoba mengingat dan menerka jawaban yang pas.


"Melayani suami". Jawab Akbar dan menyelesaikan kancing yang tersisa. Menarik baju Mila hanya dengan satu hentakan.


"Akbar, kamu curang!" . Teriak Mila dan berusaha mendorong tubuh Akbar, namun sia-sia karena sekarang tubuh Akbar sudah ada diatasnya. Akbar membekap bibir Mila dengan bibirnya. Seperti yang sebelumnya, Akbar kembali melakukannya dengan lembut dan hati-hati. Tangannya yang besar kembali menyusuri seluruh lekuk tubuh istrinya.


Kali ini Akbar melakukan aksinya lebih lama, dan lebih menikmatinya karena Mila yang sudah belajar dari yang sebelumnya kini lebih merespon setiap sentuhan yang ia berikan. Mila juga membalas setiap ciuman yang mendarat dibibirnya.


Seolah tenaganya tidak habis, Akbar mengangkat tubuh Mila, dan memandanginya dengan lekat. Akbar meletakkan tubuh gadis itu diatasnya sambil mengelus lembut pipinya.

__ADS_1


"Mila, apa kamu mencintai ku?". Tanyanya dengan penuh harap.


"Aku mencintaimu Akbar,sangat mencintai mu". Jawab Mila


Akbar tersenyum puas. Mengangkat tubuh Mila dan kembali menurunkannya.


"Kamu tahu, aku jauhhh lebih mencintai mu". Balasnya lalu kembali mencium bibir Mila.


Malam yang panjang mereka lewati bersama. Keringat disekujur tubuh tidak membuat mereka lelah.


****


Kepala Mila yang sekarang berada diatas lengan Akbar dia putar kekiri dan kekanan secara berulang. Mencari posisi yang nyaman agar ia bisa kembali tidur, memejamkan matanya namun tetap saja matanya belum mau tidur. Berbalik memandangi wajah suaminya yang sudah tertidur, dengan jailnya Mila menusuk-nusuk pipi Akbar dengan jari telunjuknya, tidak ada respon, pria itu sudah benar-benar tidur.


"Akbar". Panggilnya, namun tidak ada sahutan. "Sayang". Bisiknya, lalu cekikikan sendiri dengan suaranya. "Aneh ya rasanya, selama ini aku selalu memanggil namanya". Gumam Mila.


"Tapi aku suka panggilan itu". Jawab Akbar tiba-tiba.


"Kamu pura-pura tidur ya". Kaget dengan Akbar yang tiba-tiba menyahutinya.


Akbar memutar kepalanya, lalu mendekap tubuh Mila yang ditutupi selimut.


"Bagaimana aku bisa tidur, kamu mengganggu ku terus". Membenamkan wajahnya dileher Mila. "Tidurlah, apa yang kamu pikirkan".


"Aku tidak bisa tidur". Keluh Mila.


"Kenapa? apa kamu mau ronde kedua?". Ucap Akbar dengan mengangkat kepalanya.


"Tidak! dasar otak mesum". Cibir Mila.


"Dengan istri sendiri apa salahnya". Balas Akbar dengan santai.


"Ayo ajak aku ngobrol, aku tidak bisa tidur dan sangat bosan".


"Hmmm... mau cerita apa?". Ucapnya sambil menguap menahan rasa kantuknya.


"Apa ya ? Ehmm, waktu itu kenapa kamu bisa datang diacara reuni, kata Nayra, sebelumnya kamu sama sekali tidak pernah hadir diacara reuni".


"Iya, sebelumnya aku memang tidak pernah hadir diacara reuni".


"Kenapa?". Mulai penasaran.


"Semenjak Kakek menyerahkan SMA Pelita pada keluarga Rio, Papa melarang ku untuk mendatangi sekolah itu, tapi hari itu, aku ada meeting dengan beberapa rekan ku disebuah restoran yang tidak jauh dari sana, selesai meeting aku melewati sekolah dan melihat spanduk yang bertulisan reuni, iseng saja aku masuk". Mila mendengarkannya tanpa berusaha menyela. "Begitu mobil aku parkir, aku melihat mu yang berjalan menuju taman, saat itu aku langsung turun dari mobil dan mengejarmu, tapi tidak punya keberanian untuk mendatangi mu". Melirik Mila yang masih setia mendengarkannya. "Aku melihat mu dari jauh, dan saat Rio mendatangi mu, aku sangat kesal, marah, lalu akhirnya memberanikan diri menghampiri mu".


"Jadi kamu melihat semuanya?".


"Iya, aku sangat bersyukur mendatangi sekolah kita saat itu, dan berkat reuni itu kini aku bisa kembali bersama mu, terkadang aku takut kalau ini hanya mimpi". Ucap Akbar dengan sungguh-sungguh. "Terima kasih sudah menerima ku kembali". Lanjutnya dan mendaratkan satu kecupan di kening Mila.


Mila mengangguk lalu tersenyum dengan membenamkan wajahnya didada Akbar.


"Aku mengantuk". Gumamnya.

__ADS_1


"Kamu memang menyebalkan". Balas Akbar lalu mendekap tubuh Mila dengan erat. Dan seperti biasa Mila berteriak tidak bisa bernapas.


__ADS_2