
"Mila... sebenarnya Maxwell bukanlah anakku"
"Hah? dalam sekejap kamu tidak mengakui anak mu" dengan tatapan sinis.
"Aku menjaganya seperti anak ku sendiri, tapi dia bukan anakku" ucapnya berusaha meyakinkan Mila.
"Lalu kamu mau bilang kalau istri mu melahirkan anak yang bukan darah daging mu ? Akbar! Omong kosong apa lagi ini, ahhh... aku benar-benar sudah buang waktu disini" semakin merasa kesal.
"Dia anak Kak Dika, Kakak ku yang dulu sekolah di Amerika" jawab Akbar dengan tegas.
"Apa?" tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Akbar, kamu tidak bercanda kan?"
"Maxwell adalah anak Kak Dika, dan Rania adalah tunangannya"
"Tidak mungkin" masih tidak percaya. "Lalu kenapa kamu menikahi tunangan Kakak mu sendiri ?" Mila mulai meninggikan suaranya.
"Karna....karna Kak Dika sudah tidak bisa lagi menikahinya" jawab Akbar dengan mata berlinang.
"Akbar! tolong bicara yang jelas, aku tidak mengerti apa maksud kamu"
"Kak Dika meninggal dalam kecelakaan pesawat yang ia tumpangi saat akan kembali ke negeri ini"
"Apa ?" Mila tercengang dengan kenyataan yang baru saja ia dengar, dadanya terasa sesak hingga ia sulit untuk bernafas. Dilihatnya mata Akbar yang berkaca-kaca, tidak ada kebohongan sedikit pun disana. "Apa sebenarnya yang terjadi?" ucapnya dan melembutkan suaranya.
"Apa kamu ingin mengetahuinya?". Menatap Mila dalam-dalam. Mila menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menceritakannya" Mulai menarik nafas. "Dulunya aku tidak ingin kamu tahu hal ini, tapi sekarang tidak ada gunanya lagi ditutupi". Mila mendengarkannya dengan baik.
*******Flashback Akbar
Malam itu, setelah pulang mengantar Mila, dengan hati yang berbunga-bunga, Akbar memasuki rumahnya. Dia bahkan bersiul gembira, karna suasana hatinya memang lagi bahagia.
Akbar berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua, tapi baru sampai di anak tangga yang kedua, ia kembali turun karena mendengar suara tangisan dari ruang keluarga. Akbar berjalan mencari asal suara tersebut dan mendapati Mamanya sedang menangis dipelukan Papanya. Akbar mendekat, dan melihat tayangan di tv yang memberitakan pesawat jatuh.
"Pa, apa yang terjadi ? Kenapa Mama menangis?" tanya Akbar panik.
"Akbar, Kakak kamu, dia...." Papanya ikut menangis dan tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
"Ada apa Pa? Kenapa papa juga menangis?" semakin panik. "Kenapa Kakak? Ada apa dengannya? Dia akan pulang kan Pa?" berteriak, Akbar mulai khawatir dan merasakan ada yang tidak beres.
"Pesawat yang seharusnya mendarat malam ini dikabarkan jatuh, itu pesawat yang Kakak mu tumpangi Akbar, dia ada di dalam pesawat itu" jawab Mamanya mulai histeris.
"Tidak mungkin Ma, pasti ada yang salah, tidak mungkin Kakak ada didalam pesawat itu" bantahnya dan menolak kenyataan itu. Akbar memang tidak begitu dekat dengan Kakaknya, namun tetap saja dia menyayanginya.
"Aku akan cek ke bandara" sambungnya dan langsung bergegas ke bandara.
__ADS_1
Sesampai dibandara Akbar mengecek daftar penumpang pesawat itu, dan ternyata memang benar, Dika adalah salah satu penumpang pesawat itu.
Pesawat meledak dan jatuh di laut, dan semua penumpang dinyatakan tewas. Tim sudah mencari jasad para korban, namun jasad Dika dan beberapa penumpang lain belum juga ditemukan.
Sudah tiga hari setelah kejadian, namun jasad Dika belum juga ditemukan. Selama itu juga Akbar bolak balik ke rumah sakit untuk melihat langsung setiap jasad yang ditemukan. Keluarga Akbar masih berusaha dan meminta petugas untuk tetap mencarinya.
Pagi itu, keluarga Akbar kedatangan tamu. Rania datang bersama kedua orangtuanya. Rania bukanlah orang asing bagi mereka karna dia adalah pacar Dika, orangtua Rania juga adalah salah satu rekan bisnis keluarga Akbar, dan sebenarnya mereka sudah bertunangan dan berencana akan segera menikah. Dika dan Rania sama-sama bersekolah di Amerika.
Rania terlihat sangat murung, tentu saja, lagi pula siapa yang tidak sedih ditinggalkan untuk selamanya oleh sang kekasih. Kedatangan mereka pagi itu, bukan sekedar berbelasungkawa, namun ada sesuatu hal penting yang harus dibahas.
"Kami tahu bahwa kalian pastinya masih berduka atas kepergian Dika" kata Papa Rania memulai pembicaraan. "Namun, ada satu yang harus kalian ketahui, ini berhubungan dengan Rania anak kami" sambungnya.
"Apakah ini mengenai rencana pernikahan itu? " jawab Papa Akbar. "Kalian pasti tahu kalau itu tidak mungkin bisa dilaksanakan lagi.
"Iya, saya mengerti, tapi Rania putri kami sedang mengandung anaknya Dika" lanjut Papa Rania.
"Apa?" serentak menjawab dengan kaget.
"Maaf, tapi saya juga baru mengetahui hal ini, Rania baru sampai dari Amerika kemarin sore, dan dia baru menceritakannya tadi malam". Semua terdiam, begitu juga Rania, gadis itu hanya menunduk.
"Lalu kita harus bagaimana?" kali ini Papa Akbar yang berbicara. Mereka terlihat sangat frustrasi.
"Aku akan mengugurkan kandungan ini" ucap Rania.
"Aku tidak mau melahirkan bayi tanpa ada ayahnya" keluh Rania dan mulai menangis.
Usia kehamilan Rania sudah memasuki bulan keenam, tidak mungkin lagi mengugurkannya, selain membahayakan nyawanya, kedua orangtua Akbar dan Rania juga tidak mau membunuh cucu mereka. Hingga akhirnya timbullah ide dari Papanya Rania.
"Bagaimana kalau Akbar yang menikahi Rania ?" ide yang terdengar gila, namun kelihatannya memang itulah satu-satunya cara yang mereka punya.
Mendengar ide itu, tentu saja Akbar dan Rania menolak dengan tegas. Tapi kedua orangtua mereka bersikeras dan membuat kesepakatan akan segera menikahkan mereka.
Akbar sangat marah, dia mengutarakan keinginannya yang tidak mau menikahi Rania, namun Papa Akbar memarahinya dan mengatainya egois lalu mengurungnya dikamar dan menyita semua barang-barangnya termasuk Hp pribadinya.
Keesokan harinya, Akbar berniat kabur dan mengajak Mila untuk ikut bersamanya. Namun Mamanya mengetahui niatnya itu.
"Mama, tolong Akbar, aku tidak mau menikah dengan Rania, Akbar sudah punya Mila dan hanya akan menikah dengannya" kata Akbar ketika Mamanya memergoki dia yang akan kabur.
"Akbar, Mama juga tidak ingin melakukan ini, tapi coba kamu bayangkan akan bagaimana nasib anak itu kelak kalau lahir tanpa ayah" kata Mamanya mencoba menenangkannya. "Bukankah kamu sering ke panti tempat Mila ? Bagaimana anak-anak disana? Apa mereka bahagia tanpa orangtua?" ucap Mamanya, seketika bayangan anak panti muncul dipikirannya. Ia kembali mengingat bagaimana dulu awal mula dia bertemu Mona, anak itu menangis di jalanan dan sampai tidak mau bersekolah karena sering diejek tidak punya keluarga, dan Mila, gadis yang ia cintai itu juga dulunya sering di bully karna hal itu.
"Mama tidak akan melarang mu pergi, tapi coba tanya hati mu, apa kamu tega menelantarkan anak itu ? Anak itu adalah keluarga kita, dia anak kandung kakak mu" kata Mamanya berusaha membuatnya mengerti. "Dan Mila, apa kamu pikir dia akan mau pergi begitu saja dengan mu ? Jika dia tahu hal ini, Mama yakin dia malah akan menjauh meninggalkan mu dan menyuruh mu untuk segera menikahi Rania, Mila akan sependapat dengan Mama"
Akbar terdiam, dan mulai mencerna apa yang disampaikan Mamanya, namun sekeras apapun ia mencoba menerimanya, hatinya tetap menolak kalau harus meninggalkan Mila.
__ADS_1
Dalam dilema seperti itu, tiba-tiba mereka mendapat kabar kalau Rania masuk rumah sakit karena mencoba untuk bunuh diri, beruntung Mamanya cepat mengetahuinya dan langsung membawanya ke rumah sakit. Rania bisa ditolong dan bayinya juga dalam keadaan baik-baik saja.
Begitu Rania sadar, ia terus menangis dan mengatakan ingin mati saja, melihat itu, hati Akbar mulai goyah dan menyetujui pernikahan itu. Akbar menenangkan Rania dan mengatakan bahwa ia akan menikahi Rania dan akan menjadi ayah untuk anaknya. Dia juga berjanji akan menjaganya dengan baik. Dan akhirnya mereka pun menikah.
*****Flashback End
Air mata Mila berlinang mendengar cerita panjang Akbar. Ia tak kuasa menahan kesedihannya, hingga air matanya keluar dengan deras membasahi pipinya.
"Kenapa kamu tidak jujur sama ku?" ucapnya disela isak tangisnya.
"Kalau aku menceritakannya, apa kamu akan mau kabur dengan ku, atau malah akan mendukung untuk menikahi Rania ?" tanya Akbar sambil menatap mata Mila tanpa berkedip.
Mila tidak bisa menjawab, air matanya semakin deras, kini dia tahu hidup Akbar tidaklah seperti yang dia bayangkan.
"Aku tidak ingin kamu menangis karena harus merelakan aku dengan orang lain, aku tidak ingin kamu ikut sedih karena tahu apa yang aku alami, dari pada melihat mu menangis seperti itu, aku lebih suka kamu membenci ku" ucap Akbar dengan sungguh-sungguh. "Maaf Mila, karna pada akhirnya aku tetap saja membuat mu menangis" lanjutnya dengan perasaan bersalah.
Mila tidak sanggup lagi mendengarnya, dia memeluk Akbar begitu saja dan menumpahkan semua air matanya yang kian deras.
"Mila, maafkan aku" kata Akbar sambil membalas pelukan Mila dan semakin mengeratkannya.
Setelah beberapa saat, tangis Mila mulai menyurut, dia mengangkat tubuhnya, lalu mengeringkan air matanya.
"Maaf aku tidak sengaja memeluk mu" ucap Mila sambil mengusap air matanya.
"Tidak apa-apa" balas Akbar.
"Tidak apa-apa, apanya? Kamu adalah suami orang, aku tidak sepatutnya memeluk mu seperti tadi, biar bagaimana pun sekarang kamu tetap suaminya Rania" sambungnya dan mulai menjauhkan tubuhnya.
Akbar menatapnya lalu menariknya untuk kembali mendekat ke arahnya.
"Akbar jangan seperti ini" tegur Mila.
-
-
-
bersambung......
Bagaimana ? Masih benci sama Akbar ?
Jangan lagi ya, kasihan dia tuh😄😄😄
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya ya, terimakasih 😊😊😊