Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Rumah sakit 2


__ADS_3

Akbar masih duduk disamping ranjang Mila ketika Nayra datang bersama Irene, Mona dan juga Milva. Mereka berempat menerobos masuk keruangan Mila.


"Mila..... " teriak Nayra dengan hebohnya dan langsung berlari menuju ranjang Mila yang membuat Akbar harus beranjak dari tempatnya dan mundur beberapa langkah supaya Nayra bisa dengan leluasa melihat keadaan Mila.


"Mila, apa yang terjadi? Siapa yang tega membuat mu seperti ini ? Astaga... ini pasti sangat menyakitkan" ucap Nayra dengan penuh kekhawatiran sambil memeriksa semua bagian tubuh Mila yang terluka.


"Nay, aku baik-baik saja" jawab Mila berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Baik apanya, Kakak sampai masuk rumah sakit seperti ini" Mona tidak kalah khawatirnya.


"Benar, kami sangat khawatir begitu mendengar kamu masuk rumah sakit" sambung Irene.


Sementara itu, Milva malah sibuk memperhatikan Akbar yang kini berdiri dibelakang Nayra.


"Orang ini tidak asing, tapi siapa dia ?" gumamnya dalam hati. Akbar menoleh ke arahnya, dan sesaat mereka pun saling bertatapan. "Tatapan itu benar-benar tidak asing" berusaha berpikir sendiri. "Ah iya, Akbar, pacar Kak Mila di SMA Pelita" akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri. "Bukannya mereka sudah putus, kenapa dia ada disini?". Milva sibuk dengan pikirannya.


"Kalian sangat berlebihan, aku baik-baik saja, aku akan segera keluar dari rumah sakit ini". Mila meyakinkan mereka kalau dirinya memang baik-baik saja.


"Siapa yang membuat mu seperti ini?" tanya Nayra lagi, lalu berbalik menatap Akbar yang berdiri dibelakangnya. "Kamu ! pasti kamu kan yang membuat Mila seperti ini, aku sudah punya firasat buruk saat melihat mu pertama kali" langsung membuat kesimpulan begitu melihat Akbar.


"Nay, ini bukan karena Akbar" bela Mila.


"Tuduhan mu sangat tidak masuk akal" jawab Akbar sambil menggelengkan kepalanya, lalu kembali mendekat ke ranjang Mila. "Aku akan menjemput Maxwell, istirahat lah, besok aku akan kembali" pamit Akbar yang langsung mendapat anggukan dari Mila.


"Aku titip Mila pada mu, jaga dia" ucap Akbar pada Nayra.


"Tanpa kamu suruh juga aku selalu menjaganya, kamu pikir kamu itu siapa" jawab Nayra dengan emosi.


"Kalau begitu terima kasih karena sudah menjaganya selama ini" sambung Akbar dengan memamerkan lesung pipinya lalu bergegas dari ruangan itu.


"Kamu pikir aku menjaganya untuk mu ?" teriak Nayra. "Menyebalkan, Kenapa dia muncul lagi sih" terus berteriak padahal Akbar sudah tidak terlihat.


"Kenapa Kak Nayra memarahi Kak Akbar? " ucap Mona dengan polosnya.


"Karena dia yang membuat Mila menjadi seperti ini? "


"Tidak mungkin, justru Kak Akbar yang membawa Kak Mila kerumah sakit ini" sengkal Mona, karena memang Akbar yang menghubunginya dan memberitahu bahwa Mila dibawa kerumah sakit.


"Nay, ini bukan salah Akbar" kata Mila meyakinkan Nayra.

__ADS_1


"Lalu ini perbuatan siapa ?" tanya Irene dengan penasaran.


"Aldo" jawab Mila, lalu dia pun menceritakan yang sebenarnya. Mila menceritakan dari saat Aldo melamarnya hingga kejadian di toilet yang membuatnya terluka.


Keempat orang tersebut sangat kaget mendengar cerita Mila.


"Aku tidak sangka Aldo orang yang seperti itu, padahal aku sudah sempat tertarik dengannya" keluh Irene dengan wajah sedihnya.


"Aku sungguh tidak mengerti apa yang membuat mu menyukainya" cibir Nayra yang geram melihat Irene karena menyukai Aldo.


"Apa mata mu buta ? Coba kamu lihat baik-baik, Aldo itu sangat tampan, keren, dan pastinya kaya, dia juga mudah beradaptasi, pintar lagi" puji Irene yang sepertinya sudah sangat menyukai Aldo.


"Apa gunanya kalau dia memiliki sifat kasar seperti ini"


"Berhenti! kenapa kalian malah membahas itu?" teriak Milva yang sedari hanya sebagai pendengar. "Hmm... yang tadi itu Akbar bukan ?" lanjutnya.


"Apa itu penting? " jawab Nayra dengan melotot.


"Tolonglah, aku penasaran, kenapa dia ada disini?" lanjut Milva dengan muka memelasnya.


"Iya, itu Kak Akbar, dia pacarnya Kak Mila" jawab Mona dengan senyum lebar.


"Aku bilang juga apa, Mila dan Akbar itu sudah ditakdirkan untuk bersama" Irene langsung membuat kesimpulan.


"Kamu balikan lagi dengannya?" Nayra masih saja tidak bisa terima kehadiran Akbar.


"Emang kenapa? Kak Akbar orang yang baik, dia juga orang yang perhatian dan tentunya pria yang bertanggung jawab, aku ingin pria seperti dia" lagi-lagi Mona yang menyahut.


"Sial, hilang lagi kesempatan ku untuk dekati Kak Mila" keluh Milva.


Mendengar ucapan Milva, Nayra langsung memukul kepala Milva. "Dalam mimpi saja, Mila tidak akan mau dengan mu".


"Ahh... sakit, kenapa selalu memukul kepada ku" teriak Milva.


"Supaya otak mu bisa berpikir jernih"


Irene dan Mona tertawa melihat pertengkaran antara adik dan kakak itu. Namun begitu Milva menatap Mona, gadis itu langsung menutup mulutnya.


"Kalian sangat berisik, keluarlah, aku ingin istirahat". Mila mulai menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Hei... kamu menjawab pertanyaan ku" Nayra kembali mengangkat selimut Mila.


"Pertanyaan yang mana? Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya" menutup kembali tubuhnya dengan selimut.


Akhirnya mereka pun membiarkan Mila untuk istirahat. Milva pamit pulang terlebih dulu, lalu disusul Irene. Sementara Nayra dan Mona tetap dirumah sakit menjaga Mila.


**********


Akbar sampai di rumah Rio, dia langsung memasuki rumah itu. Begitu memasuki rumah, suara Maxwell sudah terdengar dari ruang tamu, Akbar terus berjalan dan mendapati Maxwell yang sedang bermain dengan Papanya Rio, sementara Rio duduk sambil menonton tv.


"Daddy.... "teriak Maxwell begitu melihat Akbar dan langsung berlari menghambur kepelukan Akbar.


Akbar menangkapnya dan mengangkatnya.


"Apa kamu bersenang-senang?" tanya Akbar. Maxwell menggeleng.


"Om Rio tidak asyik" jawab Maxwell yang membuat Akbar dan Papa Rio langsung tertawa. "Om Rio melarang ku bermain dikamar" sambungnya.


"Kamu pikir kamar ku taman hiburan" jawab Rio.


"Aku bermain dengan Kakek" lanjutnya dengan semangat.


Papa Rio berdiri dan berjalan mendekati Akbar dan Maxwell, sambil tertawa dia mengusap lembut kepala Maxwell.


"Kamu anak yang pintar" ucapnya. "Kenapa jarang membawanya ke rumah ini? " tanya Papa Rio pada Akbar.


"Maaf Paman, Akbar bukannya tidak mau, tapi Maxwell sangat aktif, Mama Papa saja selalu kewalahan menjaganya" jawab Akbar dengan sopan.


"Tapi Paman senang bermain dengannya, rumah ini terasa hidup kalau ada suara anak kecil" sambil melirik ke arah Rio.


"Papa yang benar saja, yang ada rumah ini akan berantakan kalau ada anak kecil" jawab Rio dengan kesal.


"Rio, kamu harus terbiasa dengan anak kecil, kamu sudah menikah dan kelak akan punya anak juga"


"Enyahlah Pa, aku tidak yakin dengan itu" kembali fokus pada tv yang dihadapkannya.


"Padahal Paman menyuruhnya cepat menikah karena Paman ingin segera mendapatkan cucu, tapi dia malah tidak ingin punya anak" keluh Papa Rio.


"Rio butuh waktu untuk itu Paman" balas Akbar. "Kami pamit Paman, terima kasih karena sudah bersedia menjaga Maxwell" pamitnya, Papa Rio pun mengangguk. "Rio, thanks untuk bantuannya". Rio tidak menyahut, lalu Akbar pun membawa Maxwell dari rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2