Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Keinginan Mila


__ADS_3

"Daddy! Daddy bangun!" Guncangan Maxwell membuat Akbar tersentak dari tidurnya. Akbar membuka matanya sambil menguap. "Daddy bangun" Maxwell masih saja mengguncang tubuh Daddy-nya.


"Iya sayang, ini kan Daddy sudah bangun" Akbar menggerakkan tubuhnya lalu duduk menyandarkan punggungnya. Rasa ngantuk masih menyelimutinya, ia pun kembali menguap. "Kamu sudah mandi?" Memperhatikan Maxwell yang sudah rapi.


"Sudah Daddy, Bunda juga sudah mandi, Daddy sendiri yang belum mandi, Daddy bau" Menutup hidungnya sembari menjauh dari Akbar.


Akbar tersenyum tipis dengan tingkah anaknya. Ia mendekat lalu menangkap tubuh Maxwell.


"Apa? Kamu bilang Daddy bau?" Akbar menggelitik Maxwell hingga anak itu berteriak dan berusaha lepas darinya.


"Ampun Daddy! Bunda..tolong Maxwell" Teriaknya. Tidak lama kemudian Mila pun muncul. Akbar seketika mengalihkan pandangannya. Mila terlihat sudah rapi juga, ia berdiri beberapa meter dari tempat tidur. Tampaknya ia memang tidak mau mendekat, bahkan Mila terkesan sengaja menghindari kontak mata dengan Akbar.


"Max! ayo ikut Bunda" Pangilnya pada Maxwell. Anak itu langsung menurut, ia melepaskan tubuhnya dari Akbar lalu turun dari tempat tidur dan berlari ke Bunda-nya.


"Semuanya sudah menunggu untuk sarapan, dan selesai sarapan kita akan langsung kembali ke Toronto." Ucap Mila lalu bergegas meninggalkan kamar itu tanpa menunggu jawaban dari Akbar.


Akbar memandangi punggung istrinya yang telah menghilang dibalik pintu. Jelas sekali perubahan sikap istrinya itu, selain irit bicara padanya, Mila pun terlihat murung. Akbar memejamkan matanya mengingat kembali sikap dan ucapannya yang kasar.


"Aku sangat menyesali ucapan ku". Gumamnya.


***


Sarapan mereka lewati tanpa obrolan seperti biasanya. Mila banyak diam, ia hanya sesekali berbicara dengan Maxwell. Bahkan sepanjang perjalanan ke Toronto pun ia memilih banyak tidur di mobil. Nayra dan Irene yang penasaran dengan perubahan sikap Mila ingin mencari tahu permasalahannya. Namun Nando melarang mereka karena itu masalah pribadi Mila dan Akbar.


Mereka sampai di Toronto, kembali ke hotel yang semula mereka tempati. Mila mengajak Maxwell kembali ke kamar yang diikuti Akbar dibelakangnya.


Mila menyibukkan dirinya bersama Maxwell, dan jika Akbar bertanya sesuatu ia hanya menjawab singkat. Akbar ingin meminta maaf dan bicara berdua dengan Mila, tapi karena Maxwell yang selalu berada disisi Mila, ia pun menundanya hingga Maxwell tidur, ia tidak ingin anak itu mendengar pembicaraan mereka.


Malam pun tiba, Maxwell sudah terlelap diatas tempat tidur. Sementara Mila sedang dikamar mandi, dan Akbar sengaja berdiri didepan kamar mandi, menunggu Mila keluar dari sana.


Mila pun keluar, ia melewati Akbar begitu saja, tapi Akbar yang sudah berniat minta maaf langsung menariknya dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


"Mila, maafkan aku" Memeluk Mila dengan erat. Ia membenamkan wajahnya dileher Mila. "Maafkan aku sayang, tolong jangan diamkan aku seperti ini"


"Lepaskan Akbar" Ucap Mila pelan dan berusaha melepaskan dirinya.


Akbar mengangkat wajahnya namun tetap memeluk Mila. Ia melingkarkan kedua tangannya dipinggang gadis itu.


"Sayang! "

__ADS_1


Tidak ada sahutan, bahkan Mila menundukkan pandangannya, ia masih menghindari kontak mata dengan suaminya. Akbar dengan tiba-tiba mencium bibir Mila, ciuman singkat namun berhasil membuat Mila mengangkat wajahnya. Mila menatapnya dan spontan memukul dada Akbar.


Akbar tersenyum tipis, ia meraih kedua tangan mungil itu dan menggenggamnya.


"Sayang, coba lihat aku sebentar" Pintanya dengan suara terendah. Mila yang gampang luluh dengan suara itu kini mulai mengangkat wajahnya dan menatap Akbar.


"Mila, aku salah, aku minta maaf, aku sadar ucapan ku sudah melukai mu, tolong maafkan aku sayang, aku tidak tahan kamu diamkan seperti ini" Mila menatapnya iba. Ada perasaan tidak tega dalam hatinya tapi ia juga kembali mengingat perkataan Akbar tadi malam. Akbar yang membentaknya dengan perkataan kasar kembali terngiang ditelinganya. Tanpa disadarinya, air matanya mulai jatuh membasahi pipi.


"Sayang jangan menangis lagi, aku mohon" Menghapus air mata Mila dan kembali memeluknya. "Sekarang katakan padaku, aku harus bagaimana supaya aku bisa memperbaiki kesalahan ku, katakan Mila, apa yang harus aku perbuat supaya kamu bisa memaafkan ku" Sembari menciumi puncak kepala Mila.


Mila menggeleng dan semakin menangis, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.


"Jangan menangis sayang, aku semakin merasa tidak berguna kalau kamu menangis terus"


"Aku sudah memaafkan mu" Ucap Mila disela isak tangisnya.


"Benarkah?" menatap wajah Mila, dengan senyum menampilkan lesung pipinya yang khas. Gadis itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kalau begitu jangan menangis lagi dong sayang" Kembali mengusap air mata Mila.


Akbar kembali menciumnya, tapi berbeda dari sebelumnya, sekarang ia menciumi pipi Mila berulang.


"Akbar! Hentikan!" Menjauhkan wajahnya karena tidak tahan dengan ciuman Akbar yang bertubi.


"Aku kangen sayang, dari kemarin aku tidak mencium mu, sekarang aku ingin melakukan pembalasan "


"Baiklah, tapi kalau seperti ini, boleh ya" Mengangkat tubuh Mila lalu membawanya ke atas tempat tidur. Akbar menurunkan dan membaringkannya disamping Maxwell. "Istirahatlah, tidur yang nyenyak sayang, terimakasih sudah memaafkan aku, terimakasih juga karena sudah cerewet lagi, mimpi indah sayang." Mencium kening istrinya lalu berpindah kesisi lain untuk ikut tidur dengan anak dan istrinya. Akhirnya mereka bisa tidur dengan tenang.


*****


Satelah menghabiskan satu minggu penuh di Kanada, sekarang saatnya Akbar dan yang lain kembali ke negara asal. Mereka sudah dibandara, Irene dan Aldo turut ikut mengantarkan mereka.


Setelah berpamitan dan saling berpelukan, mereka pun berdadah ria dengan lambaian tangan perpisahan pada Irene dan Aldo. Mereka masuk security check dan menunjukkan boarding pass setelah itu mereka pun menghilang dari pandangan Irene dan Aldo.


Sama seperti saat berangkat, kini mereka kembali menghabiskan belasan jam hingga akhirnya sampai ditanah air. Mona dan Bi Lina yang sudah ditinggal selama seminggu ini langsung menyambut kepulangan mereka dengan antusias.


Setelah beberapa hari dirumah, mereka pun kembali pada aktivitas seperti biasanya. Akbar yang tiap hari berangkat ke kantor, dan Mila yang menjadi ibu rumah tangga. Kesibukan Mila semakin bertambah karena Maxwell sudah mulai masuk sekolah TK. Selain mengurus rumah, sekarang Mila pun harus membagi waktunya untuk mengantar dan menjemput Maxwell sekolah.


Hari berlalu begitu cepat, dan tidak terasa sudah tiga bulan setelah mereka kembali dari Kanada.


Pagi itu Mila duduk di tepi tempat tidurnya. Ia termenung melihat pesan masuk yang ia dapatkan dari Nayra.

__ADS_1


Mila, aku hamil. Dengan emogi bahagia bertubi-tubi dibelakangnya.


Tentu saja Mila bahagia dengan kabar kehamilan sahabatnya itu, namun hatinya sedikit risau karena ia sendiri belum hamil juga.


Akbar yang sedang bersiap ke kantor, menghampiri Mila yang terlihat duduk tidak bersemangat. Ia duduk disamping Mila.


"Ada apa sayang, pagi-pagi kok sudah cemberut gini" Goda Akbar disertai senyum.


Mila menyodorkan ponselnya pada Akbar. Pria itu menerima dan membaca pesan yang sudah dibaca Mila sebelumnya.


"Wahh, inikan berita bagus sayang, tapi kenapa kamu terlihat tidak senang?"


"Aku senang dan ikut bahagia dengan kehamilan Nayra, tapi.... "


"Tapi ?"


"Tapi kenapa aku belum hamil juga?" Dengan menundukkan wajahnya. "Bukankah kita yang lebih dulu menikah, kenapa malah Nayra yang duluan hamil, aku juga ingin merasakan hamil seperti Nayra dan wanita lainnya."


"Sayang, ini bukan tentang siapa yang lebih dulu menikah, kalau memang sudah saatnya, nanti kamu akan hamil juga kok" Akbar yang mengerti perasaan Mila berusaha menenangkannya.


"Tapi kapan?"


"Sabar ya" Sambil mengusap lembut kepala istrinya. Sebenarnya Akbar sama sekali tidak pernah membahas tentang kehamilan, namun entah kenapa akhir-akhir ini Mila sering mengeluh dengan dirinya yang belum juga hamil.


*****


Layaknya orang hamil pada umumnya, perut Nayra pun semakin membesar, dan sekarang Nando tidak menginzinkannya lagi untuk bekerja. Kini keseharian Nayra lebih banyak berdiam diri dirumah, dan untuk mengusir rasa bosannya sesekali dia keluar bersama Nando, atau terkadang dia juga meminta Mila mengunjunginya. Tidak jarang, Nayra juga mengajak Mila untuk menemaninya ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kandungannya, tentu saja Mila mau, dengan senang hati ia selalu bersedia menemani Nayra. Tapi hal ini malah membuatnya semakin iri, apalagi setelah mengetahui kalau ternyata Nayra hamil anak kembar. Keinginan Mila untuk hamil pun kian bertambah.


Mila mulai mengkonsumsi makanan yang sekiranya bisa membuatnya cepat hamil, Mila juga beberapa kali konsultasi ke dokter. Ia sangat ingin segera hamil. Tapi, bahkan setelah Nayra melahirkan Mila belum juga hamil.


Mila duduk lemas sembari memandangi test pack ditangannya.


"Kapan aku akan hamil?" Gumamnya dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote nya ya


Terimakasih untuk semuanya.


__ADS_2