
Rania berusaha menenangkan Maxwell yang terus menangis, sementara Mamanya hanya berdiri dibelakangnya tanpa tahu harus berbuat apa.
"Max mau Daddy, mau Daddy". Terus saja menangis. Rania pun mulai kesal dibuatnya yang tidak kunjung mau diam.
"Diam!". Rania mulai membentaknya. Namun bukannya diam, Maxwell semakin menangis. "Bisa diam tidak!". Dengan melototkan matanya.
"Kamu hanya akan membuatnya takut Rania". Papanya yang baru memasuki kamar langsung menghampiri Maxwell. "Lihatlah, ini akibat keegoisan kalian". Menatap kedua gadis itu secara bergantian. "Rania, Papa tanya sama kamu?. Apa kamu yakin bisa merawat Maxwell ?".
"Tentu saja Pa".
"Lalu bagaimana kamu akan menjaganya?. Menenangkannya yang sedang menangis saja kamu tidak bisa, dan sekarang lihat, dia hanya menginginkan Daddynya".
"Itu karena tadi dia melihat Akbar, lama-lama juga dia akan terbiasa dengan ku". Sengkalnya.
"Kamu Ibu yang egois Rania, kamu tidak akan bisa merawatnya, kamu tahu kan selama ini Maxwell bahagia bersama Akbar, kenapa sekarang kamu ingin merebut itu darinya?". Suaranya mulai meninggi.
"Pa! harusnya Papa mendukung Rania yang ingin menjaga Maxwell, kenapa Papa malah memojokkannya seperti ini?". Mama Rania yang selama ini meracuni Rania menjawab dengan emosi.
"Kalau kamu menyayangi Maxwell, kamu pasti tahu apa yang terbaik untuknya". Usai berkata demikian dia pun keluar dari kamar itu.
"Jangan hiraukan Papa kamu". Ucapnya setelah suaminya meninggalkan mereka. "Jangan khawatir, kalau sudah ada baby sister tidak akan serepot ini menjaga Maxwell". Sambungnya lagi.
Mendengar kata baby sister, Rania kembali teringat ucapan Akbar yang mengatakan kalau Mila berhenti dari pekerjaannya supaya bisa menjaga Maxwell. Dia memandangi Maxwell yang mulai kelelahan karena terus menangis, hatinya mulai bertanya-tanya, apa keputusannya ini sudah benar.
"Ma, bisa tinggalkan kami dulu, aku ingin menenangkan Maxwell dulu".
"Baiklah sayang, Mama keluar ya". Rania mengangguk dan memandangi Mamanya yang berjalan keluar. Dipandanginya lagi anaknya yang masih menangis.
"Bunda..!". Sekarang Maxwell malah memanggil Bundanya. Tidak sekali pun memanggil Rania dalam tangisnya. Rania menarik napas, dan berusaha tersenyum dihadapan Maxwell.
"Maxwell mau ketemu Daddy ?". Mengusap rambut anak itu dengan lembut. Maxwell mengangguk dengan cepat. "Mau ketemu Bunda juga?".
"Iya, Max rindu Daddy dan Bunda". Tangisnya pun mulai reda.
"Kalau begitu Max jangan menangis lagi ya, besok kita jumpa Daddy". Membuat janji palsu supaya bisa menghentikan tangis Maxwell.
"Asyik...". Maxwell yang polos langsung girang mendengarnya. Tangisnya seketika hilang, kini bibir mungilnya mulai tersenyum.
Rania juga ikut tersenyum melihat Maxwell yang sekarang tidak menangis. Namun hatinya sedih karena tahu kalau dirinya sama sekali tidak punya tempat dihati anak itu. Ia hanya menginginkan Daddy dan Bunda, yang berarti dia hanya ingin bersama Akbar dan Mila. Rania mulai ragu akan keputusannya yang akan membawa Maxwell ke Amerika. Satu sisi ia ingin bersama Maxwell, tapi ia sadar dengan apa yang dikatakan Papanya, kalau kebahagiaan Maxwell ada bersama Akbar.
*****
Keesokan harinya, Akbar sengaja tidak berangkat ke kantor. Hari ini dia akan kembali mendatangi rumah Rania. Dia akan membujuk Rania untuk tidak membawa Maxwell ke Amerika bersamanya. Akbar menuruni tangga dan berjalan menuju meja makan. Mila sedang menyiapkan sarapan bersama Bi Lina. Mona yang sudah berseragam sekolah pun sudah berada disana.
"Akbar, kamu mau kemana?". Mila yang melihatnya tidak memakai baju kerja yang sudah disiapkannya langsung menghampiri.
"Aku akan menamui Rania dan membujuknya untuk tidak membawa Maxwell". Lalu duduk di kursi yang biasa ia tempati.
__ADS_1
"Emang Maxwell mau dibawa kemana Kak?". Mona yang belum tahu apa yang terjadi langsung kaget mendengar ucapan Akbar.
"Kamu yakin Rania akan mau?".
"Aku akan bicara baik-baik dengannya".
"Kak, Maxwell mau dibawa kemana?". Mengulang pertanyaannya yang belum mendapat jawaban.
"Kalau begitu aku ikut, aku akan bantu kamu bicara dengan Rania". Mila menawarkan diri.
"Tidak usah sayang, aku tidak mau kalau Rania nanti menghina kamu lagi disana".
"Maxwell mau dibawa kemana sih?". Kesal, tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Sementara Bi Lina hanya bisa mendengar tanpa berani berkomentar.
Selesai sarapan, Akbar pamit, namun sebelum pergi kerumah Rania, ia terlebih dahulu mengantar Mona kesekolahnya. Setelah itu barulah menuju rumah Rania.
Sementara itu dirumah Rania, dia kembali kesal karena Maxwell kembali menangis dan minta bertemu Akbar dan Mila. Rania sudah membujuknya setelah makan baru ketemu Daddy, namun anak itu tidak mau mendengarkannya dan terus menangis. Rania menyuapinya tapi Maxwell selalu menepis sendok yang berisi makanan itu.
Kesabaran Rania habis, dia meninggikan suaranya dan membentak Maxwell yang tidak mau makan.
"Rania, ada apa ini?". Mama yang mendengar suaranya berlari menghampiri. Saat itu Papanya sudah berangkat ke kantor, sekarang hanya tinggal mereka bertiga bersama beberapa asisten rumah.
"Dia selalu menangis memanggil Akbar dan Mila, emang apa hebatnya sih mereka". Jawabnya dengan kesal.
"Iya, tapi kamu tidak boleh membentaknya seperti itu". Mendekati Maxwell yang semakin menangis. "Maxwell makan dulu ya". Bujuknya.
"Tidak mau, Max mau Daddy, mau Bunda, Max mau pulang". Teriak Maxwell.
Rania mulai frustrasi melihat tingkah Maxwell. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Berjalan bolak balik sambil memikirkan cara untuk bisa membuat Maxwell diam. Hingga akhirnya dia menemukan ide. Mendekati lemari es dan membukanya.
"Maxwell mau ice cream?". Dengan melebarkan senyumnya. Maxwell yang mendapat tawaran ice cream langsung menoleh ke arahnya. "Mommy punya ice cream loh". Meraih kotak ice cream dan membawanya kehadapan Maxwell. "Mau?". Maxwell terdiam dan memperhatikan ice cream yang berada ditangan Rania.
"Sepertinya dia tertarik Rania, lihat dia mulai diam".
"Maxwell mau ice cream?". Bertanya lagi, dan sekarang mulai membuka penutup kotak ice cream tersebut. Maxwell menganggukkan kepalanya.
"Tapi janji ya, Max tidak boleh nangis -nagis lagi". Maxwell mengangguk lagi. Rania pun menyodorkan kotak ice cream tersebut pada Maxwell beserta sendoknya. Dengan cepat Maxwell langsung menyendoki dan melahapnya.
"Ternyata segampang ini". Mama Rania merasa sudah mendapatkan trik untuk menghentikan tangis Maxwell. Rania duduk disampingnya dan memperhatikan Maxwell yang makan ice cream dengan lahap.
"Max suka rasa stroberi? ".
"Suka, tapi Daddy dan Bunda yang paling suka". Jawabnya.
"Lagi-lagi Daddy dan Bunda". Rania mendengus kesal.
Dari depan terdengar suara bel. Seseorang datang bertamu kerumah ini. Mama Rania berteriak memanggil asisten rumah untuk membukakan pintu, namun sudah tiga kali berteraik satu orang pun tidak ada yang muncul. Sementara bel terus berbunyi. Akhirnya Mama Rania mengalah dan berjalan mendekati pintu untuk membukanya.
__ADS_1
"Iya sebentar". Teriaknya dari dalam.
Dia membuka pintu dan melihat siapa yang datang, spontan ia menutup kembali pintu, tapi Akbar dengan sigap langsung menahan pintu itu.
"Tolong Tante biarkan saya masuk, saya ingin bicara dengan Rania". Akbar menarik pintu itu hingga kini terbuka lebar.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan dengan Rania?. Lagi pula Rania tidak ada disini, dia pergi bersama Maxwell tadi". Sambil melipat kedua tangannya.
"Pergi kemana mereka Tante?".
"Tidak tahu". Jawabnya jutek.
"Tante tolong bilang pada Rania untuk tidak membawa Maxwell ke Amerika".
"Kenapa?. Kamu pikir dia tidak bisa menjaga Maxwell?".
"Bukan begitu Tante, tapi Maxwell tidak mau bersama Rania, dia akan terus mencari ku, apa Tante tidak kasihan melihat Maxwell menangis terus?".
"Kata siapa dia menangis terus, dia happy kok dengan Rania". Jawabnya berbohong.
"Maxwell.....Mama tolong.... ". Tiba-tiba terdengar suara Rania dari dalam rumah.
"Itu kan suara Rania". Akbar yang menangkap jelas suara itu.
"Mama...tolong Ma, Maxwell.....". Suara Rania terdengar sangat panik.
"Maxwell... ada dengan Maxwell ?". Akbar langsung berlari menuju asak suara.
Sesampainya disana, Akbar melihat Maxwell yang kesulitan bernafas, mukanya pun memerah. Dengan panik Akbar langsung menghampirinya.
"Maxwell". Akbar berlutut untuk melihat jelas keadaan Maxwell. "Apa yang terjadi dengannya?". Bentak Akbar pada Rania.
"Tidak tahu, aku hanya memberinya ice cream dan tiba-tiba dia seperti ini". Jawab Rania kaku. Dia terlihat sangat ketakutan.
"Ice cream". Akbar meraih kotak ice cream di atas meja dan langsung melemparkannya begitu mengetahui ice cream tersebut rasa stroberi. "Kamu ingin membunuhnya?. Kenapa kamu memberinya ice cream rasa stroberiiii!". Akbar membentak Rania dengan suara tinggi. "Kamu tahu gak, Maxwell alergi stroberi".
"Apa?. Dia alergi stroberi?". Seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tubuh Rania melemas, dia terhuyung beberapa langkah kebelakang.
"Maxwell.... ". Seketika anak itu pun pingsan ditangan Akbar.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya ya 😀😀😀
Oh iya buat kalian yang belum update NT ke versi baru, segera di update ya di playstore, karena vote kalian tidak akan terbaca kalau masih pake versi lama. Terimakasih untuk semuanya.