
Mila dan Aldo menemui Rio, memberinya ucapan selamat atas pernikahannya.
"Selamat ya Kak" ucap Mila pada Rio
"Terima kasih Mila" jawab Rio dengan tersenyum lebar.
"Selamat ya" Lanjut Mila pada Putri yang berdiri disamping Rio, Mila mengulurkan tangannya namun Putri tidak langsung menerimanya, butuh beberapa saat hingga akhirnya dia mau menerima uluran tangan Mila. Putri tidak menjawab, dia malah menatap Mila dengan tatapan tidak suka. Mila tidak terlalu menghiraukannya, dia mengganggap Putri hanya kecapean karna berdiri terus dalam waktu yang lama menyambut semua tamu yang datang.
Selesai menemui kedua pengantin, Mila dan Aldo kembali berkumpul dengan Nayra dan yang lainnya. Mereka sama-sama menikmati hidangan makanan di pesta itu.
Mila yang kepedasan dengan makanannya, buru-buru mengambil minuman yang berada disisi kanannya, namun karena tidak hati-hati minuman itu malah tumpah mengenai baju dan celana Aldo yang duduk disampingnya.
"Aldo, maaf aku tidak sengaja" kata Mila dan langsung menarik beberapa tissu untuk membantu Aldo mengeringkan bajunya.
"Tidak apa-apa Mila, ini hanya air" jawab Aldo. "Aku permisi ke toilet" katanya lalu beranjak dari duduknya dan melangkah ke toilet untuk merapikan pakaiannya.
Sesampainya di toilet, Aldo mendapati Akbar sedang bersama Maxwell. Akbar membantu Maxwell mencuci tangan di wastafel. Aldo menarik beberapa tisu yang ada disana lalu berdiri disamping Akbar menghadap cermin. Akbar tidak menegur dan tidak menghiraukannya. Dia fokus mencuci tangan Maxwell, dan anak itu tertawa senang memainkan air.
"Oke sudah selesai" kata Akbar sambil mengeringkan tangan Maxwell. Akbar menurunkan Maxwell dari wastafel itu dan berniat akan pergi, namun suara Aldo menghentikan langkah mereka.
"Benar-benar Daddy yang hebat" kata Aldo. Akbar berbalik memandangnya. "Aku harap kamu akan tetap seperti ini, fokus pada anak mu saja" lanjutnya dengan tatapan sinis.
"Apa maksud kamu?" jawab Akbar.
"Jangan mendekati Mila lagi !" ancamnya. "Aku tahu apa yang kamu perbuat padanya dulu, kamu meninggalkannya dan sekarang kamu mencoba mendekatinya dengan memanfaatkan anak mu" lanjut Aldo.
"Tutup mulut mu" balas Akbar.
"Dengar Akbar! aku tidak akan membiarkannya kembali pada mu, aku akan melamarnya dan membawanya ke Kanada"
"Cih... kamu sangat yakin dia menerima mu"
"Tidak masalah dia menolak ku, tapi kamu pasti tahu kalau Mila sangat ingin ke Kanada" tersenyum disalah satu sudut bibirnya. "Aku akan membujuknya untuk ikut dengan ku ke Kanada, aku akan membuatnya menjauh dari mu, terserah dia menolak ku dan memilih orang lain asal bukan dirimu, aku tidak akan membiarkannya kembali pada lelaki berengsek seperti mu". Selesai berucap demikian, Aldo pun melangkah meninggalkan Akbar dan Maxwell. Akbar tertegun mendengar perkataan Aldo.
Yah, terkadang dia juga merasa tidak layak untuk kembali berada disamping Mila.
"Daddy, paman itu siapa? Kenapa dia memarahi Daddy?" tanya Maxwell dengan polosnya.
"Bukan siapa-siapa sayang" mencoba tersenyum. "Ayo kita pergi dari sini" lalu membawa Maxwell keluar dari toilet itu.
**********
Mila masih bersama teman-temannya ketika Aldo kembali dari toilet.
__ADS_1
"Kenapa lama?" kata Mila begitu melihat Aldo .
"Tidak apa-apa" jawabnya. "Mila, bagaimana kalau kita pulang sekarang, bukankah Mona sendirian di rumah". Kata Aldo mengingatkan.
"Oh iya, aku hampir lupa kalau sekarang tinggal berdua dengan Mona" jawab Mila. "Aku pulang duluan ya" lalu beranjak dari duduknya.
"Yah cepat sekali" keluh Yuda.
"Iya nih, kita jarang kumpul seperti ini" sambung Parto.
"Maaf, tapi Mona menunggu ku dirumah" jawab Mila. "Sampai jumpa lagi" pamit Mila pada Ifan, Yuda dan Parto. "Aku duluan" sambungnya pada Nayra dan Irene. Mereka berdua mengangguk melepas kepergian Mila dengan Aldo.
Aldo membawa Mila kembali kerumahnya, dan begitu sampai Mila pun turun dari mobil itu. Aldo ikut turun dan berjalan mendekatinya.
"Terima kasih Aldo atas tumpangannya" ucap Mila disertai senyum.
"Tidak, aku yang berterima kasih karena kamu sudah mau berangkat denganku" balas Aldo.
"Kalau begitu aku masuk ya" pamit Mila.
"Tunggu Mila" Aldo menahan Mila yang ingin masuk ke rumahnya.
"Ada apa ?"
"Tentu saja untuk kelancaran bisnis mu, kamu menangani banyak proyek disini" jawab Mila dengan sangat yakin. Dia bahkan tersenyum lebar.
"Iya itu benar, tapi... tapi sebenarnya itu hanya alasan yang kesekian, karena sebenarnya....alasan yang sebenarnya adalah kamu" jawab Aldo kaku.
"Aku? Kenapa?" jawab Mila dengan dahi berkerut.
"Karena...karena aku menyukai mu Mila" jawab Aldo. Mila yang mendengarnya langsung terperanjak kaget. "Aku sangat menyukai mu Mila, dan aku ingin terus bersama mu, itu lah alasan ku bolak balik ke kota ini" menarik napasnya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. "Mila, maukah kamu menikah dengan ku ?" lanjutnya dan memperlihatkan sebuah cincin berlian sebagai bukti keseriusannya.
"Aldo...kamu..." Mila tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kita akan tinggal di Kanada, bukankah kamu ingin ke Kanada" sambungnya disertai senyum. "Aku juga bisa membawa mu kembali ke kota ini dan berkunjung menemui Bunda Rita di panti kalau sewaktu-waktu kamu merindukannya" kata Aldo bersemangat. "Aku juga sudah memberi tahu Papa dan Mama kalau kita akan menikah, mereka sangat senang Mila"
"Aldo, kamu tidak seharusnya memberi tahu mereka seperti itu" ucap Mila pelan. "Bagaimana kalau itu tidak terjadi, mereka akan kecewa" sambung Mila.
"Kalau begitu jangan buat mereka kecewa" jawab Aldo dengan sungguh-sungguh.
"Tapi maaf Aldo, aku tidak bisa menikah denganmu" jawab Mila dengan hati-hati.
"Mila, kita sudah lama saling mengenal, kita banyak menghabiskan waktu bersama, dan kita juga merasa saling nyaman, " lanjutnya.
__ADS_1
"Iya, itu memang benar, tapi aku tetap tidak bisa menikah denganmu" ulang Mila.
"Kenapa Mila? Kenapa? Apa yang membuat kamu tidak bisa menikah dengan ku? Apapun yang kamu mau, aku bisa mewujudkannya, aku bisa membeli apapun yang kamu mau" Aldo mulai emosi dan meneriaki Mila.
"Aldo, kenapa kamu berteriak seperti ini" tegur Mila.
"Sekarang kamu katakan, apa yang kamu butuhkan, aku bisa.... "
"Ini bukan masalah apa yang aku butuhkan Aldo" bentak Mila dengan mata berkaca-kaca menahan emosi. Dia benar-benar tidak menyangka dalam sekejap Aldo berubah seperti ini. Selama ini, Mila selalu menganggap Aldo orang yang lembut dan sopan. Tapi malam ini, dia melihat sosok Aldo yang sesungguhnya.
"Lalu apa? Hah?" sambil menarik kasar lengan Mila.
"Aldo, tolong jangan seperti ini" keluh Mila sambil melepaskan tangan Aldo dari lengannya. Aldo pun melunak dan melepaskan tangan Mila. "Aldo, aku sangat yakin dan percaya kalau kamu bisa membelikan apapun yang aku inginkan, tapi Aldo.... aku tetap tidak bisa menikah dengan mu karna aku sama sekali tidak memiliki perasaan khusus dengan mu". Aldo menatapnya dengan mata memerah. "Maaf kalau selama ini, mungkin sikap ku sudah membuat mu salah paham, tapi, aku hanya menganggap mu teman, aku juga sangat menghormati mu dan keluarga mu karena telah banyak membantu kami di panti" Mila sangat hati -hati dengan ucapannya.
"Kamu akan menyesalinya Mila" ucap Aldo.
"Aldo, maaf karena harus melukai mu seperti ini, tapi aku juga tidak mau membohongi mu dan berpura-pura suka pada mu" ucap Mila dan mulai menitikkan air matanya yang sedari tadi dia tahan. "Maafkan aku Aldo, aku harap kamu menemukan orang yang lebih baik dari ku" sambung Mila lalu meninggalkan Aldo dan memasuki rumahnya.
Aldo berteriak kesal dan menendang ban mobilnya, Aldo bahkan melemparkan cincin ditangannya, kemudian dia bergegas masuk kedalaman mobilnya dan meninggalkan rumah Mila.
***********
Seminggu setelah Mila menolak lamaran Aldo, dia tidak pernah lagi bertemu dengan pria itu. Aldo juga tidak pernah lagi membalas pesan Mila.
"Sepertinya dia sangat membenci ku" batin Mila sembari membaca ulang semua pesan yang dia kirimkan pada Aldo.
Mila duduk di depan tv, sambil menunggu Mona pulang kerja. Sudah seminggu Mona bekerja di toko Nayra, dan dia akan kembali ke rumah setelah jam 9 malam, karena Mona bekerja di shif sore. Mona memang sengaja dibuatkan shif sore karena pagi sampai siang dia harus bersekolah, dan dia baru bisa kerja setelah pulang dari sekolah.
Mila menonton tv sambil menikmati cookies yang dia beli dari toko Nayra. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar, sesaat Mila mengira Mona yang mengetuk pintu, namun melihat jam yang masih menunjukkan angka 7 membuat Mila yakin kalau itu bukan Mona.
Mila bergegas membukakan pintu, dan mendapati seseorang yang tidak ia sangka, Akbar berdiri dihadapannya.
"Akbar" sangat kaget melihat Akbar yang ternyata mengetok pintunya.
-
-
-
bersambung.....
jangan lupa like dan votenya
__ADS_1
terima kasih 😊😊😊😊