Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Kalau senang kenapa menangis?


__ADS_3

Akbar mengangkat tubuh kecil Maxwell, berlari dan memasuki mobil. Tidak mempedulikan apapun lagi, satu-satunya yang ada dipikirkannya saat ini adalah membawa Maxwell ke rumah sakit. Mobilnya melaju dengan kecepatan cepat menyalip semua mobil yang ada didepannya. Membunyikan klakson berulang, dan terus berdoa dalam hati supaya Maxwell bisa bertahan.


Sementara itu, Rania dan Mamanya berusaha mengejar mobil Akbar dari kejauhan. Rania mengemudi dengan pipi yang dipenuhi air mata. Pikirannya kacau namun tetap berusaha fokus dengan kemudinya. Mamanya yang duduk disampingnya berusaha menenangkan dan berusaha meyakinkan Rania kalau Maxwell akan baik-baik saja.


Mobil Akbar memasuki rumah sakit, dengan buru-buru Akbar keluar dari mobil, menggendong Maxwell dan berlari memasuki rumah sakit. Perawat yang melihat langsung menghampirinya.


"Tolong Suster, anak saya tidak sengaja makan stroberi, dia alergi stroberi".


"Silahkan Pak arah kesini". Perawat tersebut menuntun dan membawa Akbar ke ruang rawat. Mereka membaringkan Maxwell, lalu dengan sopan meminta Akbar menunggu diluar. Tidak lama kemudian Dokter pun datang dan memasuki ruangan tersebut.


Akbar menunggu diluar sambil sesekali mengintip kedalam ruangan. Dia tidak berhenti berdoa untuk keselamatan Maxwell. Setelah beberapa saat ia pun teringat dengan Mila, segera dia menelepon istrinya itu dan memberitahu kalau Maxwell masuk rumah sakit. Mila yang menerima kabar langsung terdengar panik, dan mengatakan kalau dia akan segera menyusul Akbar.


Dua puluh menit berlalu, namun Dokter dan para perawat belum juga ada yang keluar dari ruangan tersebut. Hal ini membuat Akbar semakin cemas. Duduk, berdiri, mengintip kedalam ruangan, itu dia lakukan berulang-ulang. Akbar kembali duduk dikursi tunggu sambil menundukkan kepalanya, dia benar-benar takut kalau sesuatu buruk menimpa Maxwell.


"Akbar, bagaimana keadaan Maxwell?". Rania yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya. Wanita itu berdiri dihadapannya bersama Mamanya. Matanya terlihat sebab yang menandakan dia menangis sedari tadi. Akbar mengangkat wajahnya dan langsung memberi tatapan penuh amarah. Akbar berdiri dan langsung menarik lengan Rania dengan kasar.


"Kamu mau apa kesini?. Belum puas membuat Maxwell seperti ini". Dengan mata memerah Akbar menekan lengan Rania hingga gadis itu merintih kesakitan. Mama Rania berusaha membantu Rania untuk melepaskan tangan Akbar, tapi sia-sia saja karena Akbar menggenggamnya dengan kuat.


"Lepaskan Akbar, kamu tidak boleh menyakiti Rania". Bentak Mama Rania.


Dan disaat yang bersamaan Mila pun datang, melihat Akbar dari kejauhan membuatnya langsung berlari menghampirinya. Akbar masih menggenggam lengan Rania, sementara gadis itu terus merintih kesakitan.


"Akbar, dimana Maxwell? ". Tegur Mila begitu sampai. Dia memperhatikan wajah Akbar yang memerah menahan amarah, sementara tangannya menggenggam lengan Rania dengan kuat. "Akbar, ada apa ini?. Lepaskan Rania". Ucap Mila. "Dimana Maxwell, Akbar?. Apa dia baik-baik saja ?". Mata Mila mulai berkaca-kaca. Dia mengintip keruangan yang ada dibelakangnya, dan disana Dokter masih sibuk menanganinya.


"Setelah ini jangan harap kamu bisa bertemu Maxwell, dan kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, kamu akan tahu sendiri akibatnya". Mencurahkan semua amarahnya pada Rania, lalu menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar, kemudian beralih menarik tangan Mila dan mengajaknya duduk.


"Bagaimana keadaan Maxwell?". Ucap Mila setelah duduk disamping Akbar.


"Belum tahu, Dokter masih menanganinya".


"Maxwell akan baik-baik saja kan?". Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Mila menatap Akbar, menunggu jawaban dari mulut pria itu dengan mata yang kini berkaca-kaca.


"Maxwell pasti akan baik-baik saja, percayalah, dia anak yang kuat". Jawab Akbar berusaha meyakinkan Mila sekaligus meyakinkan hatinya juga. Dia merangkul bahu Mila, dan menyandarkan kepala istrinya itu dibahunya. Mila ketakutan dan mulai membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada anak itu. Kini ia tidak bisa lagi menahan air matanya, pipinya mulai basah karena tangisnya. Akbar membuang napasnya dengan berat, sambil mengusap punggung Mila dengan lembut. Ia tahu gadis itu benar-benar khawatir, bahkan mungkin lebih khawatir dibanding dirinya.


Sementara itu, Rania tidak melawan sedikit pun atas ucapan Akbar terhadapnya, dia hanya bisa menunduk dengan air mata yang semakin deras. Dia menyadari kebodohannya, dia hanya ingin Maxwell berhenti menangis tanpa mau memahami kemauan anak itu. Memberi anaknya ice cream rasa stroberi supaya diam, padahal dulu dia sudah tahu kalau Maxwell alergi dengan buah itu, bahkan hanya dengan memakan sedikit saja bisa membahayakan nyawa anak itu. Tapi dia benar-benar lupa akan hal itu, karena yang ada dalam pikirannya saat itu hanya bagaimana cara mendiamkan Maxwell. Sekarang semuanya sudah terjadi, waktu tidak bisa diputar lagi, Rania menangis menyesali perbuatannya.


Dokter beserta beberapa perawat keluar dari ruangan Maxwell. Akbar dan Mila langsung beranjak dari duduknya.


"Bagiamana keadaan anak saya Dokter?".


"Alerginya cukup parah, beruntung Bapak membawanya tepat waktu, terlambat sedikit saja keadaannya akan lebih parah lagi. Sekarang dia sudah membaik, satu jam lagi dia akan kembali sadar". Jelas sang Dokter. "Untuk kedepan, saya harap kalian lebih mengawasi makanannya".


"Baik Dokter, terimakasih".


Dokter berjalan meninggalkan mereka, setelah itu Akbar dan Mila pun memasuki ruangan Maxwell yang disusul oleh Rania dan Mamanya. Disana Maxwell terlihat terbaring lemah. Wajahnya masih memerah sama seperti saat Akbar membawanya tadi. Rania ingin mendekatinya seperti Mila dan Akbar yang sekarang berada disamping anak itu. Namun dia tidak punya keberanian untuk melangkahkan kakinya. Dia merasa bersalah dan berdosa, dia yang membuat Maxwell seperti ini. Rania tidak sanggup melihat Maxwell, akhirnya dia berlari keluar dari ruangan itu.


Melihat putrinya yang berlari keluar, Mama Rania pun mengikutinya, dan mendapati Rania yang kini duduk dikursi tunggu dengan tangis yang penuh penyesalan.


"Rania". Mamanya mendekat dan duduk disampingnya. Rania menoleh dan langsung memeluk Mamanya, menangis dan mencurahkan semua kesedihannya dibahu wanita itu.

__ADS_1


"Aku memang Ibu yang tidak berguna". Ucapnya disela-sela isak tangisnya. Wanita yang kini menginjak usia 50 tahun itu pun tak memberinya komentar apapun lagi. Dia hanya mengelus punggung putrinya dengan lembut. Ia tahu kalau saat ini Rania sangat tertekan dan hanya membutuhkan ketenangan. Sama halnya dengan Rania, ia pun merasa menyesal atas apa yang terjadi pada cucunya, dan melihat Rania seperti ini membuatnya semakin sedih.


Rania dan Mamanya masih duduk didepan ruangan Maxwell saat kedua orangtua Akbar datang. Sepasang suami istri itu berjalan tergesa-gesa menuju ruangan tempat cucu mereka berada. Rania berdiri ketika kedua mantan mertuanya itu tiba, ia ingin menyapa keduanya, namun melihat tatapan mereka, Rania mengurungkan niatnya. Sepertinya kedua orangtua itu sudah tahu penyebab Maxwell berada dirumah sakit ini. Rania hanya menundukkan kepalanya sampai keduanya memasuki ruangan Maxwell.


Rania kembali duduk ditempatnya semula, sementara Mamanya mengintip kedalaman ruangan dan mendapati Maxwell yang sudah siuman.


"Rania, Maxwell sudah bangun, ayo cepat kita masuk". Ajak Mamanya. Spontan Rania pun bangun dari duduknya, berjalan kepintu. Tangan Rania sudah berada di gagang pintu, tapi kakinya terhenti kala melihat dari sana Maxwell yang tersenyum. Anak itu tersenyum lebar bersama Akbar dan Mila, senyum yang tidak pernah ia lihat kalau Maxwell sedang bersamanya, dan anak itu sama sekali tidak mencari keberadaannya. Rania pun tertegun dan menyadari kalau Maxwell hanya membutuhkan Akbar dan Mila, anaknya bahagia bersama mereka. Maxwell sama sekali tidak membutuhkannya lagi disana.


Rania melepaskan tangannya dari gagang pintu dan berbalik meninggalkan ruangan itu. Mamanya yang tidak mengerti langsung mengejar dan menahannya.


"Ada apa Rania, kenapa tidak masuk?".


"Ma, Maxwell sudah tidak membutuhkan ku lagi, keberadaan ku disana nanti hanya akan memperburuk suasana". Ucapnya lirih.


"Kamu ibunya, dan kamu berhak ada disana".


"Tidak Ma, setelah apa yang aku perbuat pada Maxwell, sekarang aku merasa tidak layak disebut sebagai ibunya". Usai berkata demikian, Rania pun berjalan meninggalkan Mamanya.


"Rania... ". Panggi Mamanya, namun ia tidak menghiraukannya lagi. Rania terus berjalan dengan air mata yang kembali turun membasahi pipinya.


*******


Semakin hari keadaan Maxwell pun semakin membaik. Ruam diwajahnya pun sudah menghilang. Akbar dan Mila bergantian menjaganya, dan kalau malam Akbar selalu menginap disana. Semua teman-teman Mila dan Akbar pun sudah datang menjenguk. Mulai dari Mona yang tiap pulang sekolah selalu datang kesana, dan suatu hari Mona pernah datang bersama Milva, dan hal ini membuat Akbar curiga kalau ada hubungan khusus diantar mereka.


"Tidak Kak, kami hanya kebetulan jumpa didepan". Sengkal Mona waktu Akbar menanyakan status hubungan mereka.


"Kakak tidak bodoh Mona, waktu itu juga kamu pulang dengannya". Jawab Akbar.


"Sayang, kenapa kamu seyakin itu dengan Milva?. Umurnya jauh diatas Mona, aku tidak setuju Mona dengannya".


"Tapi aku suka cowok yang lebih dewasa, sama seperti dulu aku yang suka dengan Kak Akbar". Jawab Mona disertai tawanya, Akbar langsung memberinya tatapan tajam. "Hahahaa becanda deh". Menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. "Aku berangkat kerja ya Kak, Kak Milva sudah menunggu didepan". Ucapnya dan langsung berlari keluar dari ruangan itu.


"Dasar anak itu". Keluh Akbar setelah kepergian Mona, sementara Mila hanya tertawa melihat Akbar yang kesal. Maxwell pun ikut tertawa padahal dia sama sekali tidak mengerti apa yang ditertawakan.


Nayra dan Nando juga datang menjenguk Maxwell. Nayra memeluk dan menciumi pipi Maxwell dengan gemas yang membuat anak itu kesal dan akhirnya malah menangis. Mila yang selalu berada disamping Maxwell pun langsung menjauhkan tubuh Nayra dari anak itu. Selain mereka, Bunda Rita juga datang menjenguk Maxwell. Begitu Mona memberinya kabar, ia langsung menuju kota dan mendatangi rumah sakit tempat Maxwell dirawat. Padahal Mila sudah mengatakan kalau keadaan Maxwell sudah membaik dan akan segara kembali ke rumah, namun tetap saja dia ngotot dan datang kerumah sakit.


Sekarang keadaan Maxwell sudah pulih, Dokter juga sudah memberinya izin untuk kembali ke rumah. Hari itu sambil menunggu Akbar datang menjemput mereka, Mila pun mengemasi barang Maxwell kedalam tas, sementara anak itu bermain sendiri diatas ranjangnya. Dia memainkan mainan yang dibawa Nayra beberapa waktu lalu. Meskipun tidak menyukai Nayra namun dia tetap menerima hadiah mainan dari gadis itu.


Disela-sela kesibukan Mila mengemasi barang Maxwell, ia tidak sengaja melihat Rania yang mengintip mereka dari luar. Mila menghentikan aktivitasnya dan berjalan menuju pintu, dan Rania yang menyadari itu langsung berlari menjauh dari ruangan itu, namun terlambat karena Mila dengan cepat menahannya.


"Rania....". Teriak Mila pada Rania yang berada beberapa langkah didepannya.


Rania berhenti, sekarang dia sudah tertangkap basah, Mila sudah melihatnya. Rania memejamkan matanya, mengutuki dirinya yang sial karena ketahuan Mila, padahal beberapa hari ini dia tidak pernah ketahuan. Yah, Rania memang selalu datang kerumah sakit ini dan diam-diam mengintip keruangan Maxwell. Dia selalu datang untuk melihat langsung keadaan Maxwell. Rania berbalik dan perlahan menatap Mila.


"Kamu tidak usah khawatir, aku kesini bukan untuk mengambil Maxwell. Aku hanya ingin melihatnya, itu saja". Ucap Rania, dia tidak ingin kehadirannya membuat Mila salah paham.


Mila tersenyum dan berjalan mendekatinya. Mila meraih tangannya dan menariknya. Tapi Rania dengan cepat melepaskan tangannya.


"Katanya mau melihat Maxwell, ayo masuklah kedalam, Maxwell juga pasti ingin melihat Mommy-nya". Rania tertegun, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Kenapa Mila masih bersikap baik padanya, padahal dia sudah menghina-hina wanita ini. Dan Mila masih menyebutnya Mommy-nya Maxwell, padahal dia sendiri merasa dirinya sudah tidak pantas lagi disebut sebagai Ibu. "Rania, ayo, bukankah kamu merindukannya?. Percayalah Maxwell juga merindukan mu". Kembali meraih tangan Rania, dan sekarang dia menurut dan mengikuti Mila memasuki ruangan Maxwell.

__ADS_1


Rania melihat Maxwell yang duduk sambil memainkan mainannya, dia berjalan perlahan mendekati Maxwell. Anak itu menatapnya dan tersenyum kepadanya.


"Mommy". Ucap Maxwell. Mendengar itu Rania pun langsung berlari keranjangnya, memeluk tubuh mungil itu dan menciumnya. Rania menangis dengan air mata yang deras dikedua sudut matanya. Dia bahagia karena Maxwell masih memanggilnya Mommy.


"Maafkan Mommy sayang, maafkan Mommy". Ucapnya berulang. Menciumi puncak kepala Maxwell, sementara anak itu hanya diam tidak mengerti.


"Kenapa Mommy menangis?". Kata Maxwell setelah Rania melepas pelukannya.


"Mommy senang karena Maxwell sudah sehat". Jawab Rania sembari mengusap air matanya.


"Kalau senang kenapa menangis?".


"Max, Mommy kamu menangis bahagia, bukan menangis karena sedih". Mila menimpali pembicaraan mereka.


"Kata Daddy kalau tertawa berarti senang, dan menangis berarti sedih". Jawab Maxwell dengan lugunya. Spontan Mila dan Rania pun tertawa dibuatnya.


"Daddy kamu memang pintar". Balas Mila. Mereka kembali tertawa, dan Maxwell malah ikutan tertawa juga.


Menyadari Akbar yang akan segera datang, Rania pun pamit, dia tidak ingin bertemu Akbar. Dia belum punya keberanian menatap pria itu, dan untuk saat ini dia memilih untuk menghindar padahal Mila sudah mengatakan akan membantunya nanti untuk menjelaskan tujuan Rania datang. Namun Rania tetap saja menolaknya, dan memilih untuk segera pulang. Mila pun mengantarkannya sampai kedepan pintu.


"Rania, kapan pun kamu mau bertemu Maxwell, aku akan selalu membukan pintu untuk mu".


"Terimakasih Mila, dan maaf kalau aku sudah menghina mu waktu itu". Rania menundukkan kepalanya mengingat perkataan yang ia lontarkan waktu itu. "Mila, apa yang aku katakan waktu itu tidaklah benar, justru sebaliknya, kamu adalah Ibu yang pas untuk Maxwell, aku iri dengan kedekatan kalian, bagaimana bisa Maxwell yang baru mengenalmu bisa sedekat itu dengannya, aku takut kehilangannya, aku takut dia yang akan melupakan ku, makanya aku bertindak bodoh berusaha merebutnya dari kalian, aku memang egois, aku melakukan untuk diriku sendiri tanpa memikirkan perasaan Maxwell". Matanya berkaca-kaca, terlihat ketulusan disetiap kalimatnya.


Mila merangkul dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Aku sudah memaafkan mu Rania, aku mengerti perasaan mu, dan satu hal yang perlu kamu tahu, dulu, sekarang dan sampai seterusnya kamu tetaplah Ibunya Maxwell, kamu yang melahirkannya, dan sampai kapan pun dia adalah anak kamu". Ucap Mila dengan tegas. Rania kembali menangis, terharu dengan ucapan tulus Mila.


"Besok aku akan kembali ke Amerika, aku titip Maxwell pada kamu dan Akbar, tolong jaga dan sayangi dia Mila".


"Rania, apa kamu yakin akan kembali lagi ke Amerika ?". Rania mengangguk pelan sembari mengusap air matanya.


"Kelak, kalau kamu sudah punya anak sendiri, tolong tetap cintai Maxwell sebagaimana kamu mencintai anak kamu sendiri, aku percaya pada kamu Mila, dan aku yakin Maxwell juga akan lebih bahagia bersama kalian". Rania memeluk Mila lalu berbalik dan berjalan meninggalkannya dengan tangisan. Air matanya kian deras, dia berjalan dengan langkah yang kaku.


"Rania.... ". Mila menghentikan langkah Rania dan berlari mengejarnya. "Rania, aku janji Maxwell tidak akan pernah melupakan mu, aku akan selalu menceritakan tentang mu padanya, dan suatu saat nanti kalau dia ingin pergi bersama mu, maka aku akan melepasnya dan merekakannya bersama mu".


"Terimakasih Mila, aku pamit". Dan kembali melanjutkan langkahnya.


.


.


.


.


bersambung.....


Yang mau lihat visual Reuni Cinta Carmila, silahkan follow ig ku.

__ADS_1



Sampai jumpa di next episode.


__ADS_2