Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Membuat Mila menangis


__ADS_3

"Akbar!". Mila mengejar Akbar yang berjalan cepat meninggalkannya. Mereka memasuki kamar yang telah disiapkan sebelumnya oleh staff hotel sesusai permintaan Aldo.


Akbar membanting pintu setelah Mila memasuki kamar. Melepas dan melempar jacket yang sedari tadi dia pakai. Udara dingin disekelilingnya tidak terasa lagi, tubuhnya kini malah mengeluarkan keringat.


"Apa yang ada dipikiran kamu Mila?. Kenapa kamu dengan mudahnya melepaskan Maxwell pergi dengan Rania ?". Nadanya sudah mulai meninggi.


"Maaf Akbar karena tidak memberitahu kamu terlebih dulu, tapi aku yakin Rania akan mengembalikan Maxwell, aku yakin itu".


"Kenapa kamu bisa seyakin itu ?. Kalau ternyata dia membawa Maxwell kabur bagaimana?".


"Tidak akan, percayalah. Rania hanya ingin bertemu Maxwell, ia merindukan anaknya dan ingin bermain dengan Maxwell". Entah kenapa hatinya sangat percaya pada Rania.


"Apa dia memaksa mu untuk mempertemukannya dengan Maxwell?".


"Tidak". Menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Aku yang menghubunginya dan memberitahu kalau kita ada di Kanada". Jawab Mila pelan. Ia tahu jawabannya ini akan membuat Akbar semakin marah.


"Mila! kamu berhasil membuat aku marah". Namun ia terlihat masih berusaha menahan. Menatap Mila dalam-dalam dengan napas berat, dadanya terlihat naik turun menahan emosi. Kini pria itu menangkap kedua bahu Mila dengan kuat. "Beri aku satu alasan, kenapa kamu melakukan ini ?".


"Akbar, aku melakukan ini karena tahu apa yang Rania rasakan, mungkin kamu tidak mengerti, tapi sesama seorang ibu, aku sangat tahu bagaimana rasanya jauh dan merindukan anak sendiri". Jawab Mila, ia berharap Akbar melunak dan mencoba mengerti situasi ini.


Mendengar jawaban itu, Akbar malah semakin marah, ia tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Alasan yang tidak masuk akal". Umpat Akbar. Melepaskan bahu Mila dan menjauh beberapa meter dari gadis itu. "Ibu? Sejak kapan kamu jadi seorang ibu, dan perasaan mana yang tidak aku pahami itu". Bentak Akbar.


Mila sedikit tersentak dengan bentakan itu. Ini adalah pertama kalinya Akbar membentaknya. Dan perkataan Akbar barusan sungguh membuatnya terluka, ucapan itu terdengar sangat kasar ditelinganya. Mila menunduk dengan mata yang berkaca-kaca, berusaha menahan air matanya yang mulai memaksa keluar. Ia tidak menyangka niatnya yang hanya ingin mempertemukan Rania dengan Maxwell akan membuat Akbar sangat marah.


"Aku tidak menyangka perkataan seperti itu bisa keluar dari mulutmu. Mungkin bagi kamu dan yang lain, aku hanyalah ibu sambung Maxwell, bukan ibu yang benar-benar melahirkannya. Tapi perlu kamu tahu, begitu sah jadi istrimu, aku sudah menganggap diriku ini seorang ibu, karena suami ku sudah memiliki seorang anak dan aku menyayanginya dengan sepenuh hati, bahkan sekalipun tidak pernah terlintas dipikiranku kalau dia bukan anak kandung ku". Air mata mulai jatuh membasahi pipi gadis itu, namun dengan cepat Mila menepisnya.


"Saat Maxwell bersama Rania waktu itu, aku sangat rindu dan mencemaskannya. Aku bahkan lebih banyak memikirkan dia daripada kamu. Dan aku tahu Rania juga merasakan hal sama saat dia jauh dari Maxwell, mungkin dia terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin dia sangat menderita karena harus berada ditempat yang jauh dari anaknya, aku hanya memberi mereka waktu sebentar untuk melepas rindu, untuk saling memeluk sebelum kita kembali pulang. Rania ingin tidur dengan Maxwell, hanya malam ini Akbar, besok Rania akan mengembalikan Maxwell". Ya Mila memang mengizinkan Rania membawa Maxwell, tapi itu hanya untuk malam ini saja, Rania berjanji akan mengembalikan Maxwell sebelum mereka kembali ke Toronto, dan menurut Mila tidak ada salahnya mempertemukan ibu dan anak itu. Akbar diam mendengarkannya, ia mulai merasa bersalah karena terlalu emosi dan membentak Mila, sekarang istrinya menangis akibat ucapannya yang kasar.


"Aku juga tidak ingin kalau kelak Maxwell menyesali masa kecilnya yang tidak punya kenangan bersama Mommy-nya. Meskipun tidak mengutarakannya, tapi aku yakin dia juga merindukan Rania". Air mata Mila kian deras. Akbar yang semakin merasa bersalah mulai melangkah mendekati Mila, tapi Mila malah melangkah mundur menghindarinya.

__ADS_1


"Mila!".


"Kamu tidak usah khawatir, Maxwell pasti akan kembali, aku sendiri yang akan membawanya kembali". Mila berbalik tanpa melihat wajah Akbar, ia membuka pintu kamar dan meninggalkan Akbar yang berdiri mematung ditempatnya. Setelah Mila keluar, Akbar berusaha mengejarnya, tapi ia tertinggal karena Mila yang kini memasuki lift. Akbar berdecak kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bodoh bodohhhh...... ". Makinya pada dirinya sendiri.


Didalam lift Mila semakin menangis, air mata turun deras membasahi pipinya. Perkataan Akbar terngiang terus dipikirannya. Padahal saat Akbar melamarnya dulu, pria itu juga memintanya untuk sekaligus menjadi ibu bagi Maxwell, lalu mengapa sekarang dia malah mengatakan kalau Mila bukanlah seorang ibu.


Lift terbuka, Mila mengeringkan air matanya, ia pun melangkah keluar dari ruangan sempit itu.


"Bunda!". Maxwell dan Rania sudah berada dihadapannya. Ibu dan anak itu tersenyum kearahnya. Tapi senyum dibibir Rania langsung surut begitu melihat wajah sembab Mila.


"Mila, kamu menangis?".


"Hm... tidak". Kembali mengusap wajahnya.


"Lalu mengapa wajah kamu sembab seperti itu? Apa Akbar memarahi mu? ".


"Iya, tapi anaknya tidak mau". Keluh Rania sembari mencubit pipi bulat Maxwell.


"Max mau tidur dengan Bunda". Jawab Maxwell.


"Sayang, Mommy ingin tidur dengan mu, malam ini saja ya, besok baru sama Bunda". Bujuk Mila pada anak itu, ia merasa tidak enak dengan Rania.


"Tidak apa-apa Mila, lagi pula aku juga ingin pulang sekarang, aku ada keperluan mendadak besok pagi, jadi sekarang aku kembalikan Maxwell pada mu ".


"Keperluan apa Rania? Kalau tidak terlalu penting menurut ku kamu tetaplah disini bersama Maxwell, sampai besok kami kembali ke Toronto. Selagi ada kesempatan, kita kan tidak tahu kapan bisa bertemu lagi. Aku akan membujuk Maxwell supaya mau tidur dengan mu".


"Iya sih, tapi ini cukup penting, jadi aku tetap harus kembali". Rania berbohong, sebenarnya ia juga sangat ingin tetap bersama Maxwell, tapi melihat kemarahan Akbar tadi, ia jadi merasa bersalah. Apalagi setelah melihat Mila sekarang, ia yakin Akbar sudah memarahi Mila dan membuatnya menangis.


"Terimakasih Mila, kamu sudah memberi aku kesempatan bersama Maxwell". Beralih menatap Maxwell. "Max, kamu tidak boleh nakal sama Bunda ya". Rania berjongkok dan memeluk putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Iya Mommy, Max akan jadi anak baik". Jawab anak itu.


"Kalau begitu aku pamit ya Mila, salam untuk yang lain". Mila mengangguk dan melangkah memeluk Rania. "Bye bye Maxwell". Pamit Rania lalu berlalu meninggalkan Mila dan Maxwell, keduanya melambaikan tangan mengiri langkah Rania yang semakin menjauh.


"Bye bye Mommy". Teriak Maxwell.


"Max kenapa tidak mau tidur dengan Mommy?". Tanya Mila setelah kepergian Rania.


"Max mau dengan Bunda". Jawabnya polos.


"Besokkan bisa dengan Bunda, kasihan Mommy kan sudah jauh-jauh kesini".


"Mommy kan sudah pulang Bunda". Jawab Maxwell tidak mau kalah. Mila menggeleng sambil tersenyum, anak ini sudah pandai menjawab batinnya.


Mila mengandeng tangan Maxwell, menarik dan membawanya masuk kedalam lift. Pintu lift tertutup dan bersamaan dengan Akbar yang baru saja keluar dari lift yang sebelahnya. Akbar mencari Mila yang sejak tadi meninggalkan kamar. Dia mulai berjalan mengelilingi tempat itu, karena belum juga menemukan Mila, ia pun keluar dari hotel menuju taman yang tidak jauh dari hotel itu, barangkali istrinya ada disana. Namun sudah satu jam Akbar keliling mencari ia belum juga menemukan Mila.


Ia semakin frustrasi karena nomor Mila yang tidak bisa dihubungi. Akbar pun menghubungi Nayra dan Irene, tapi kedua sahabat istrinya itu juga tidak tahu keberadaan Mila saat ini.


"Mila, kamu dimana sih?".


Dengan perasaan yang dipenuhi penyesalan, Akbar kembali menuju hotel dan kembali ke kamarnya.


Sesampainya dikamar, alangkah terkejutnya dia melihat Mila dan Maxwell yang sudah berada diatas tempat tidur. Keduanya tidur sambil dengan saling berpelukan. Dengan perasaan lega, Akbar berjalan mendekati tempat tidur. Dipandanginya wajah Mila yang terlihat masih sembab, Akbar semakin menyesali perkataannya.


"Maafkan aku sayang".


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih, dan jangan lupa like dan votenya ya.


__ADS_2