Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Pohon Maple di Kanada


__ADS_3

"Aldo....". Ucap Nayra dengan sedikit bergetar.


"Hai semuanya". Sapa Aldo dengan ramah.


Tidak ada satu pun yang menjawab sapaannya.


"Siapa dia?". Bisik Nando ditelinga Nayra.


"Aldo, pria yang dulu membuat Mila masuk rumah sakit".


"Jadi dia..... ". Nando tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Nayra langsung membekap mulutnya.


"Mau apa kamu kesini?". Akbar mendorong tubuh Aldo dengan kasar hingga membuatnya mundur beberapa langkah.


"Tenang dulu Akbar, aku kesini....". Belum selesai Aldo bicara, Akbar kembali mendorongnya, kali ini lebih keras hingga Aldo menahan sakit di dadanya.


"Kamu mau apa kesini? Ha?". Akbar tidak bisa menahan emosinya. Melihat Aldo yang tiba-tiba muncul dihadapannya membuat ia kembali mengingat perbuatan pria ini pada Mila waktu itu. Ingin sekali dia menghajar Aldo, namun mengingat dimana mereka berada sekarang, Akbar menahan diri. Menahan amarahnya dengan tangan yang mengepal.


"Bunda! Max takut". Maxwell yang ketakutan langsung Mila angkat dari sampingnya dan menggendong anak itu dengan kedua tangannya.


"Jangan dilihat ya sayang, tutup matanya". Maxwell mengikuti perintah Mila. Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Akbar! Tenang dulu, aku mohon dengarkan aku dulu".


Akbar tidak menjawab, namun kali ini dia memberikan Aldo kesempatan untuk bicara.


"Aku kesini untuk menjemput kalian, Irene yang meminta ku untuk datang kesini".


"Apa?". Serentak mereka memberikan tatapan tidak percaya.


"Omong kosong". Cibir Akbar.


"Tidak mungkin, kamu pasti berbohong". Sambung Nayra dengan geram.


"Mila, sebelumnya aku minta maaf atas perlakuan ku padamu waktu itu. Tapi kali ini sungguh, aku tidak berniat jahat, aku kesini murni karena diminta Irene, sekarang dia ada di hotel menunggu kalain". Menatap satu per satu wajah mereka yang berdiri dihadapannya.


Terlihat jelas kalau mereka sama sekali tidak percaya dengan ucapannya.


"Kalau bukan Irene yang memberitahu keberadaan kalian, mana mungkin aku bisa tahu kalian ada disini". Berusaha meyakinkan lawan bicaranya. "Sekarang masuklah ke mobil, aku akan membawa kalian ke Irene".


"Kamu pikir kami sebodoh itu bisa percaya begitu saja denganmu, lagi pula untuk apa Irene menyuruh kamu untuk menjemput kami". Nayra menjawab mewakili yang lain.


"Aku tidak bisa jelaskan disini, biar Irene nanti yang akan menjelaskan semuanya pada kalian, sekarang ikutlah denganku dulu". Wajahnya mulai terlihat frustrasi. Dia mulai kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Akbar dan yang lainnya.


"Buktikan dulu kalau memang Irene yang memintamu untuk menjemput kami". Nando mulai mengeluarkan suaranya.


"Baiklah, aku akan menghubungi Irene". Aldo merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel dan mulai menghubungi Irene dengan panggilan suara. Panggilan langsung terhubung.


"Halo!". Jawab Irene dari seberang sana.

__ADS_1


"Irene, aku sudah bertemu dengan teman-teman mu, mereka mau bicara". Aldo menyodorkan ponselnya kepada Akbar, namun pria itu hanya menatapnya tanpa mau menerima ponsel tersebut.


Sementara Nayar yang sudah sangat penasaran langsung berjalan mendekati Aldo lalu dengan cepat meraih ponsel dari tangan Aldo.


"Halo!". Sapa Nayra.


"Nayra... ". Terdengar suara Irene menyahutinya dengan heboh dari seberang sana.


"Ini benaran Irene?".


"Iya, ini aku, Irene, cepat dong kalian kesini. Aku sudah tidak sabar melihat kalian". Serunya.


"Kamu sudah gila ya, ngapain kamu minta Aldo yang menjemput kami". Langsung memaki Irene.


"Hehe sorry deh". Ucapnya tanpa merasa berdosa sedikit pun. "Nanti aku jelasin, ikut aja dulu sama Aldo".


"Kamu yakin ? Nanti kami malah dibawa kemana-mana lagi". Melirik ke arah Aldo yang tetap berdiri di sampingnya.


"Yakin, udah gak apa-apa, naik aja ke mobilnya". Panggilan pun berakhir, Nayra menyerahkan kembali ponsel milik Aldo.


"Apa itu benar Irene?". Tanya Mila memastikan.


"Iya, kita disuruh naik mobilnya". Ucap Nayra kepada yang lainnya sambil menunjuk Aldo dengan ujung matanya.


Butuh waktu lagi untuk membuat mereka yakin kalau Aldo benar-benar akan membawa mereka bertemu Irene. Namun pada akhirnya mereka pun mau menaiki mobil tersebut. Nando yang terlebih dahulu memasuki mobil dan duduk dibangku depan. Disusul Nayra dan Mila yang menggandeng tangan Maxwell. Terakhir Akbar pun ikut menaiki mobil itu, tapi sebelum masuk kedalaman mobil, ia terlebih dulu memperingati Aldo untuk tidak berbuat hal buruk pada mereka.


Setelah semua memasuki mobil, Aldo pun ikut masuk dan mulai melajukan mobilnya.Tidak ada obrolan diantara mereka sepanjang perjalanan. Kesunyian tercipta, yang ada hanya suara Maxwell yang terus mengoceh menanyakan apa yang dia lihat dari kaca dan suara Mila yang sesekali menyahutinya.


"Oh my god, ini benar-benar kalian". Menghambur dan memeluk kedua sahabatnya. "Bagaimana perjalanannya? Menyenangkan bukan?".


"Menyenangkan apanya, kamu gak lihat wajah kami tegang seperti ini, gila ya kamu, bisa-bisa kirim Aldo yang jemput kami, kamu mau bunuh kami". Nayra langsung menyemprotnya dengan amukan. "Kalau kamu gak bisa jemput kan kami bisa sendiri, kenapa malah kirim psikopat sih?". Cibir Nayra.


"Aku bisa mendengar mu, kalau mau ngomongin aku tunggu pas aku gak ada". Aldo menyahutinya dan berlalu meninggalkan mereka.


"Nay, jaga ucapan mu". Tegur Nando yang sekarang berdiri dibelakangnya.


"Kenapa? Dia emang psikopat kan". Balas Nayra tidak mau kalah.


"Gak Nay, sekarang Aldo sudah berubah kok, ayo masuk dulu deh, kalian pasti kecapean". Memberi isyarat kepada beberapa orang yang dibelakangnya untuk membawakan koper sahabat-sahabatnya itu.


Nayra dan Nando pun menurut memasuki hotel. Mila berjalan menyusul bersama Akbar yang menggendong Maxwell.


"Hai Max!". Sapa Irene pada bocah itu, namun Maxwell langsung menyembunyikan wajahnya dibahu Akbar. "Aduh kok jadi malu gitu sih". Goda Irene sembari menyentuh kepalanya.


"Irene, apapun alasan kamu, aku sangat tidak menyukai ini, aku tidak mau Aldo berada disekeliling Mila". Akbar menunjukkan kekesalannya pada Irene.


"Nanti aku jelasin Akbar, Aldo sudah berubah kok, aku yang jamin, nanti aku akan jelasin semuanya, tapi sekarang kalian istirahatlah dulu".


Akbar tidak menyahut, dia masih terlihat kesal. Mila menariknya dan mereka pun memasuki hotel dan menuju kamarnya bersama staf yang membawa semua barang mereka.

__ADS_1


Perjalanan yang melelahkan membuat mereka yang baru tiba memilih langsung istrharat dikamar masing-masing. Selesai makan dan mandi, Mila berdiri memandangi kota Toronto dari kamarnya. Melihat betapa menakjubkannya pemandangan malam kota ini. Matanya tertuju pada menara CN yang menjulang tinggi. Menara itu terlihat jelas dari kamar hotel yang saat ini mereka tempati.


Akbar keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya, sementara Maxwell sudah terlelap ditempat tidur beberapa saat yang lalu.


Melihat istrinya yang berdiri sendirian, Akbar pun berjalan mendekatinya. Dilemparnya handuk kecil yang tadinya menggantung dileher lalu meraih tubuh Mila dan memeluknya dari belakang.


"Astaga ! Kamu mengagetkan ku". Ucap Mila kaget yang tadinya melamun menikmati pemandangan dihadapannya.


"Kamu sedang apa?". Mengeratkan pelukannya. Mila ingin berbalik melihat langsung wajah suaminya. "Jangan berbalik, aku ingin memeluk mu seperti ini, biarkan posisi ini selama sepuluh menit". Membenamkan wajahnya di leher Mila.


"Baiklah aku tidak akan berbalik, kamu boleh memeluk seberapa lama kamu mau". Jawab Mila sembari ikut melingkarkan tangannya diatas tangan Akbar yang memeluknya.


"Apa yang kamu lihat?".


Mila menunjuk CN tower yang berdiri kokoh diseberang sana.


"Akhirnya aku bisa melihatnya langsung". Ucap Mila.


"Jadi itu yang membuat mu sangat ingin ke Kanada?". Masih dengan posisi yang sama.


"Emm, tapi sebenarnya aku paling penasaran dengan pohon maple".


"Kenapa dengan pohon maple?". Akbar mulai mengangkat kepalanya, dan bergantian sekarang Mila yang menyenderkan kepalanya didada Akbar.


"Sewaktu aku kecil, Paman, Papanya Aldo kalau berkunjung ke panti sering membawakan kami sirup, katanya sirup itu ia bawa langsung dari Kanada, dan sirup itu berasal dari getah batang pohon maple, awalnya aku tidak percaya, mana mungkin ada pohon yang bisa mengeluarkan getah semanis itu, saking penasarannya aku pun mencari tahu dan membaca buku tentang pohon maple, ternyata memang benar, pohon maple bisa menghasilkan sirup yang manis, daunnya juga sangat unik, dari situlah timbul keinginan ku untuk ke Kanada, aku ingin membawa pulang daun maple". Jawab Mila dengan tertawa.


Mungkin terdengar kekanakan tapi itulah sebenarnya awal Mila menyukai dan ingin mendatangi Kanada. Berawal dari rasa penasarannya terhadap pohon maple. Di Kanada bahkan pemerintah disana menjadikannya sebagai pohon nasional, dan dibendera mereka juga terpampang gambar daun maple. Selain itu Mila juga menyukai Kanada, karena negara ini termasuk dalam kategori negara paling aman di dunia, padahal sebagain besar penduduknya adalah orang pendatang. Kesukaannya pada Kanada pun semakin bertambah kala mengetahui negara tersebut memiliki menara tinggi bernama CN tower, dan yang paling menakjubkan dinegara ini tentunya air terjun Niagara. Semakin banyak mengetahui Kanada, rasa sukanya pun semakin bertambah, tidak heran kalau dulu ia sangat ingin kuliah disini.


"Jadi kamu lebih suka Kanada atau aku?". Mila tercengang mendengar pertanyaan Akbar. "Pilih jawaban yang tepat, karena aku bisa saja mengajak mu pulang sebelum kamu melihat semua yang ingin kamu lihat disini". Dengan nada yang sangat serius.


"Itu pilihan yang sulit sayang". Dengan tertawa sambil berusaha memikirkan jawaban yang sekiranya bisa membuat Akbar senang.


"Jawab saja".


"Emm... aku lebih menyukai saat ini, berada dipelukan mu sambil memandangi kota impian ku, dan terasa lengkap karena ada Maxwell juga". Seulas senyum dibibir Akbar. "Malam ini jauh lebih indah dibanding apa yang aku impikan selama ini, aku ingin waktu terhenti disaat ini, aku juga tidak ingin tidur, aku takut begitu bangun ternyata ini hanya mimpi". Sambung Mila dengan bahagia.


Akbar meraih wajah Mila, memandanginya dalam-dalan lalu memberinya kecupan lembut dibibir gadis itu.


"Kalau waktu berhenti lalu bagaimana mana kita akan mengunjungi menara itu?. Kita juga harus tidur biar cepat sampai dihari besok".


"Oh iya, benar juga". Tertawa sendiri.


"Ayo istirahat lah, besok kita akan mulai menjelajah kota ini". Mengangkat tubuh Mila lalu membawanya ke atas tempat tidur. Mila sempat berteriak karena kaget Akbar yang tiba-tiba menggendongnya, tapi melihat Maxwell yang terlelap ia langsung menutup mulutnya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


Jangan pengen ke Kanada 😂😂😂😂


__ADS_2