
"Apa benar kamu dengan Bima......?" ucap Irene. "Kenapa tidak pernah menceritakannya kepada kami" lanjut Irene.
"Ahh.... itu sebenarnya tidak direncanakan, kami kebetulan bertemu dijalan, dan akhirnya dia menemaniku" jawabnya Nayra dengan diakhiri senyum yang dipaksakan.
"Kebetulan apanya? tiga hari sebelumnya Bima sudah cerita kalau kamu bersedia diajak jalan-jalan dengannya" sengkal Nando sambil terus menyantap makanannya.
Mila dan Irene semakin terkejut dengan apa yang diucapkan Nando, mereka berdua sama-sama memberikan tatapan tajam pada Nayra.
"Kenapa tidak jujur pada teman-teman mu? teman macam apa kau ini, kamu mau membohongi Mila dan Irene? " lanjut Nando sengaja memanaskan suasana.
"Diaaammm......" teriak Nayra pada Nando yang membuat seluruh mata siswa yang ada dikantin menatapnya. Sementara Nando tertawa, puas melihat Nayra yang semakin kesal.
"Tutup mulutmu Nando, dasar mulut ember" bentak Nayra dengan melototkan kedua matanya, Nando semakin tertawa melihat ekspresi Nayra, begitu juga dengan Mila dan Irene, mereka ikut tertawa melihat tingkah Nayra.
"Kenapa harus marah seperti itu, aku membantumu menjelaskan yang sebenarnya" sambung Nando lagi sambil menahan tawanya.
"Kenapa kamu menutupinya Nay" ucap Mila setelah puas menertawakan Nayra.
"Sebenarnya aku ingin memberitahukannya pada kalian berdua, tapi aku malu untuk menceritakannya, lagi pula kami hanya jalan-jalan ke taman saja" jawab Nayra dengan menundukkan kepalanya.
"Ya sudah Nay, tidak perlu dipikirkan lagi" balas Mila.
"Lalu bagaimana dengan mu Mila, bukannya kamu berpacaran dengan Rio ?" kata Nando yang membuat Mila, Nayra dan Irene tercengang mendengarnya. Kali ini Mila yang mendapat tatapan penuh tanda tanya dari kedua sahabatnya.
"Omong kosong apa itu, sejak kapan aku jadi pacarnya ? aku tidak berpacaran dengannya" Jawab Mila tegas.
"Sepertinya ada yang salah dengan mulut mu" balas Nayra dengan mencibirkan bibirnya ke arah Nando.
__ADS_1
"Kalau tidak pacaran lalu kenapa Akbar tidak mau mengantarkan mu pulang lagi?"
"Mungkin dia bosan kepanti, lagi pula untuk apa juga dia terus menerus mengantar aku pulang"
"Iya, kenapa Mila harus pulang bersama Akbar ? Mila teman kami, kamu pikir kami tidak bisa mengantarnya ? dan asal kamu tau, gara-gara Akbar kami jadi jarang punya waktu belajar bersama" sambung Nayra dengan suara yang meninggi.
"Bukan begitu, Akbar pernah bilang, katanya kamu menyukai Rio, dan aku rasa itu adalah alasan Akbar tidak mendatangi dan mengantarkan mu pulang lagi"
"Aku juga merasa ada yang aneh dengan Akbar, karna tiba-tiba dia seperti menjauh begitu saja, padahal sebelumnya dia terlihat bersemangat dengan Mila" Irene ikut menimpali, karna dia juga merasa ada sesuatu yang terjadi antara Akbar dan Mila.
Mila mengingat kembali waktu terakhir kali Akbar mendatanginya dikelas lalu meninggalkannya begitu saja diparkiran setelah mengatakan dia menyukai Rio.
"Dasar.... jadi karna itu Akbar tidak mendatangi ku, menyebalkan padahal waktu itu aku asal ngomong aja" batin Mila.
Bel berbunyi yang berarti jam istirahat telah habis. Mila dan kedua sahabatnya bergegas kembali ke kelas begitu juga dengan Nando, namun dia terlebih dulu ke lapangan basket untuk mencari Akbar dan Bima, setelah itu mereka sama-sama menuju kelas IPS.
Begitu sampai di kelas, mereka duduk di kursi masing-masing. Seperti biasa Akbar duduk satu meja dengan Nando. Semua siswa sudah masuk ke ruangan, namun karna guru yang mengajar di kelas itu belum datang, beberapa dari mereka duduk bergerombol dengan yang lain, suasana di kelas itu begitu bising. Akbar yang tidak suka kebisingan mulai mengeluarkan handphone miliknya lalu memutar musik dengan menggunakan headphone. Akbar mulai mendengarkan lagu kesukaannya.
"Akbar.... " kali ini dengan suara yang meninggi, namun tetap saja Akbar tidak meresponnya, karna kesal Nando pun melepas headphone dari telinga Akbar lalu meletakkannya di meja.
"Ada apa denganmu? " seru Akbar dengan kesal lalu kembali mengambil headphone miliknya, namun begitu Akbar meletakkannya di telinganya lagi-lagi Nando melepasnya.
"Heiii..... berhenti mengganggu ku" serunya dengan tatapan tajam. Setelah pertengkaran antara dirinya dengan Mila waktu itu suasana hati Akbar memang tidak pernah baik, Akbar jadi mudah marah, dan banyak diam. Nando yang merupakan sahabatnya dari kecil tentu menyadari hal ini, dan meskipun Akbar tidak mengakuinya Nando tahu betul apa yang membuat Akbar seperti ini, apalagi kalau bukan karna Mila.
Pertemuan dan pembicaraannya dengan Mila dikantin tadi jadi berita baik untuk disampaikan pada Akbar. Nando menertawakan Akbar yang terus menatapnya tajam.
"Tenanglah, ada berita baik untukmu" ucapnya sambil menahan tangan Akbar yang akan kembali memakai headphonenya.
__ADS_1
"Aku tidak butuh berita apapun darimu" lalu menghempaskan tangan Nando.
"Hmmm... sayang sekali, padahal ini mengenai Mila" balas Nando sambil memperhatikan raut wajah Akbar yang seketika berubah begitu mendengar nama Mila.
"Aku tidak peduli dengan pacar Rio, atau siapa pun" jawabnya mencoba menyembunyikan rasa penasarannya.
"Ahh... tapi Mila bilang dia bukan pacar Rio, katanya dia tidak pernah berpacaran dengan Rio"
"Apa? Jangan ngaco kamu, dia sendiri yang bilang kalau dia menyukai Rio" bantah Akbar.
"Aku tidak tahu apa yang membuat Mila mengatakan seperti itu, tapi yang jelas saat ini mereka tidak berpacaran" ucap Nando dengan tegas.
"Cobalah bicara dengannya, sepertinya ada salah paham diantara kalian" sambung Nando, tapi Akbar tidak menjawabnya.
"Selamat siang anak-anak" kata guru begitu memasuki kelas itu.
"Siang bu" jawab mereka serentak sambil duduk di kursi masing-masing. Pelajaran bahasa inggris pun di mulai, mereka yang pintar dan yang menyukai pelajaran ini begitu antusias mendengarkan penjelasan gurunya, sementara yang lainnya pura-pura mendengarkan meskipun sama sekali tidak bisa dicerna oleh otaknya, Nando yang tidak suka pelajaran ini dibuat mengantuk dan memilih tidur dengan menyembunyikan wajahnya pakai bukunya.
Sedangkan Akbar, dia sibuk dengan pikirannya, yang ada diotaknya saat ini hanya "Mila", ucapan Mila yang mengaku suka dengan Rio terus tergiang ditelinganya.
"Mila suka dengan Rio, dan pastinya Rio juga menyukainya, tapi kenapa Nando mengatakan mereka tidak pacaran " batin Akbar. "Atau jangan-jangan Nando berbohong" melirik Nando yang tertidur disampinya. "Awas saja kalau berani membohongi ku" ancam Akbar dalam hati sambil memperhatikan Nando. "Ahh... aku bisa gila ini, kenapa aku terus memikirkannya" Akbar menutup matanya berusaha menghilangkan semua yang dipikirannya.
-
-
-
__ADS_1
-
bersambung....