
Mila menaiki taksi untuk kembali ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dia menangis terus di dalam taksi sampai membuat si supir kebingungan dan kasihan melihatnya.
"Apa nona ada masalah?" tanya Pak Supir merasa khawatir dengan penumpangnya.
"Tidak Pak" jawabnya singkat
Sesampai di rumah sakit, Mila tidak langsung ke kamar Pak Dedi, ia terlebih dahulu ke toilet untuk merapikan dirinya dan mencuci wajahnya yang terlihat sangat kacau.
Setelah dirasa lebih baik, Mila keluar dari toilet lalu berjalan menuju kamar Pak Dedi. Dari kejauhan samar-samar Mila mendengar suara tangisan dari kamar Pak Dedi, Mila mempercepat langkahnya, dan begitu sampai di sana, Mila mendapati tubuh Pak Dedi yang sudah ditutupi kain putih. Pak Dedi sudah meninggal, dan Bunda Rita menangis disamping tubuh suaminya itu.
Dengan langkah berat, Mila mendekat lalu perlahan membuka kain putih penutup tubuh Pak Dedi, air matanya kembali berhamburan membasahi pipinya. Mila menangis dan memeluk Bunda Rita yang berada disampingnya. Lengkap sudah kini kesedihannya.
*********
Pemakaman Pak Dedi ditangisi oleh semua anak panti. Bagi mereka Pak Dedi adalah seorang ayah yang sangat hebat, dan sekarang mereka telah kehilangan orang tersebut.
Setelah Pak Dedi dimakamkan, mereka kembali ke panti dengan hati yang tidak menentu. Mila dan Bunda Rita berjalan dibelakang anak-anak yang lain. Kesedihan terlihat jelas di wajah mereka.
Sesampai di panti, Mila masuk ke dalam kamarnya. Dia kembali menangis meratapi nasibnya, Akbar yang tiba-tiba menikah dengan orang lain, dan yang lebih menyakitkan gadis itu sedang hamil, hingga ia merasa perasaan Akbar selama ini kepadanya semuanya bohong. Ditambah lagi Pak Dedi yang kini telah tiada, membayangkan nasib adik-adiknya kelak semakin membuatnya menderita.
Sore harinya Nayra datang lagi, karena setelah dari pemakaman tadi dia langsung pulang. Nayra memasuki panti dan berjalan menuju kamar Mila, begitu akan masuk ke kamar Mila, Bunda Rita menahannya dan mengajaknya ke ruang tamu.
"Ada apa Bunda?"
"Nay, apa sebenarnya yang terjadi? Kemarin Mila menangis sampai menjatuhkan Hpnya dan disana Bunda lihat ada foto undangan pernikahan atas nama Akbar dan Rania, apa benar itu Akbar yang selama ini Bunda kenal?" ucap Bunda Rita dengan suaranya yang parau.
"Aku juga tidak mengerti Bunda, aku juga baru dapat kabar dari Kak Rio, katanya hari ini Akbar menikah, dan dia juga tidak tahu kenapa Akbar tiba-tiba menikah"
"Kasihan Mila, dia pasti sangat terpukul dengan semua ini, apa mereka bertengkar? kenapa Akbar tega seperti ini?" lanjut Bunda Rita dengan sedikit emosi.
"Entahlah Bunda, tapi gadis yang dinikahi Akbar itu sedang hamil, aku tidak akan pernah memaafkannnya" ucap Nayra dengan geramnya.
"Hamil?" sangat kaget dengan apa yang ia dengar. "Ohh Mila ku yang malang, kasihan sekali nasib mu nak" Bunda Rita mulai menangis. "Tolong hibur dia Nay, kuatkan Mila supaya bisa melewati ini" ujarnya memohon.
"Iya Bunda pasti, Bunda tenang saja ya, Mila akan baik-baik aja" jawab Nayra menenangkan Bunda Rita lalu ia pun bergegas memasuki kamar Mila.
Didalam kamar, Mila terlihat duduk di tepi tidurnya dengan tatapan kosong. Nayra mendekatinya dan duduk disampingnya.
"Mila!" dengan lembut Nayra memanggil namanya. Mila tidak menjawab namun menoleh ke arah nya, matanya terlihat bengkak karena menangis terus.
"Mila, aku tidak akan meminta mu cerita jika kamu memang tidak ingin bercerita, tapi kalau kamu mau menangis, menangis lah, aku akan akan menemani mu disini" ucapnya lembut.
Seketika Mila langsung memeluknya dan kembali menangis menumpahkan segala kesedihannya, air matanya kian deras bahkan sampai membasahi baju Nayra.
__ADS_1
Nayra merangkul dan memeluknya erat, dia ikut merasakan kepedihan hati Mila namun tidak bisa berbuat apa-apa.
********
Tiga hari setelah kepergian Pak Dedi, Mila masih tinggal di panti, ia belum bisa meninggalkan panti karna adik-adiknya yang masih saja menanyakan Pak Dedi, ia juga tidak tega kalau harus meninggalkan Bunda Rita yang masih berduka.
Pagi itu seperti biasa mereka sarapan bersama di meja makan. Mila membantu Bi Indah menyiapkan makanan. Tidak ada yang bersuara melainkan hanya detingan dari sendok mereka yang terdengar.
Disaat Bunda Rita beranjak dari duduknya untuk memindahkan piringnya yang kotor, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang berteriak-teriak. Bunda Rita dan Mila pun langsung berlari menuju halaman untuk melihat orang tersebut. Anak-anak yang lain juga ikut berlari mengikuti mereka.
Didepan mereka bertemu dua orang lelaki paruh baya yang salah satunya Mila kenal sebagai adiknya Pak Dedi. Kedua lelaki itu mendatangi Mila dan Bunda Rita.
"Halo kakak ipar" sapanya pada Bunda Rita.
"Mau apa kamu kesini?" balas Bunda Rita.
"Tentu saja ingin mengambil kembali tanah ini, kakak ku sudah tidak ada, jadi sekarang aku lah pemilik sah tanah ini" jawabnya yang disertai tawa yang menyeramkan.
"Tidak bisa, tanah ini sudah di infakkan ke panti ini" bantah Bunda Rita.
"Kamu berani melawan ku" bentaknya lalu menarik kasar lengan Bunda Rita.
"Bunda!" teriak Mila berusaha membantu Bunda Rita namun langsung dihalangi lelaki yang satu lagi.
"Kalau tidak mau terjadi sesuatu pada anak-anak panti ini sebaiknya segera angkat kaki dari tempat ini, aku kasih kalian waktu sampai besok malam" ancamnya sambil menatap satu per satu anak-anak panti itu.
Mereka mengemasi barang, lalu segera meninggalkan panti itu. Tujuan mereka sekarang adalah rumah kecil peninggalan orangtua Bunda Rita yang berada di pinggir kota, jaraknya sekitar satu jam dari pusat kota.
Mereka memulai hidup baru disana, Mila berhenti dari pekerjaannya dan cuti kuliah selama satu semester. Mila menemani mereka disana sambil menenangkan diri juga. Setelah enam bulan, Mila kembali ke kota dan melanjutkan kuliahnya. Begitulah Mila melewati masa-masa sulitnya.
*******
(Kembali ke Acara Reuni Sekolah)
Mila terbangun dari kenangannya yang panjang. Dia menyadarkan dirinya kalau itu semua hanya masa lalu yang tidak perlu di ingat lagi. Kini dia sudah lulus kuliah, sudah bekerja, panti juga sudah aman, adik-adiknya tumbuh dengan baik disana, tidak perlu lagi memikirkan hal lain. Mila berusaha tersenyum untuk kembali menguatkan dirinya.
Seseorang datang menghampirinya, dan orang itu berdiri tegap dihadapannya. Mila mendongak melihat orang tersebut, wajah yang sangat ia kenal dan kini tersenyum lebar kepadanya.
"Hai Mila!" sapanya
"Kak Rio" balas Mila
"Sedang apa kamu disini?" ucap Rio lalu duduk disamping Mila tanpa permisi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Hanya menikmati udara taman ini aja Kak " jawabnya.
"Aku pikir, aku tidak akan pernah bertemu kamu lagi, kemana saja selama ini?"
"Aku bekerja Kak" jawabnya singkat.
"Bagaimana kabar mu ?" tanya lagi.
"Baik, Kak Rio sendiri bagaimana?"
"Baik, oh ya mumpung kita bertemu aku mau memberikan ini" sambil menyodorkan sebuah undangan.
Mila menerimanya lalu membaca undangan tersebut.
"Kak Rio akan menikah? selamat ya Kak" ucapnya. "Mempelai wanitanya Putri?" tebaknya. "Ahh Kak Rio kenapa dulu selalu berbohong bilang tidak pacaran dengan Putri" sambung Mila begitu melihat nama calon istri Rio.
"Karna aku inginnya berpacaran dengan mu" balasnya dengan nada bercanda. "Apa kamu sudah menikah ?" lanjutnya.
"Belum Kak" jawab Mila sambil menggelengkan kepalanya.
"Sial, kenapa kita baru bertemu sekarang? harusnya aku melamar mu" katanya dengan sedikit kecewa.
"Kak Rio bicara apa? sudah mau menikah tidak boleh bicara seperti itu" balas Mila.
"Rio!" panggil seseorang yang membuat mereka serentak menoleh ke asal suara itu.
"Kenapa dia ada disini?" Rio terlihat kesal begitu melihat Putri melambaikan tangan padanya. Dia beranjak dari duduknya. "Aku pamit ya, dan jangan sampai absen di pernikahan ku" ucapnya lalu bergegas menemui Putri.
Mila tersenyum melihat kepergian Rio.
" Kak Rio masih saja seperti dulu" ucapnya.
Mila memasukkan undangan Rio kedalaman tasnya, lalu beranjak dari duduknya berniat akan kembali ke aula menemui teman-temannya.
Baru satu langkah Mila berjalan, kakinya langsung berhenti begitu melihat seseorang berjalan kearahnya, jantungnya berdetak dengan sangat kencang, matanya tidak berkedip melihat orang tersebut, dia ingin lari namun kakinya tertahan dan tidak bisa ia gerakkan. Orang itu semakin mendekat kearahnya.
"Akbar? "ucapnya tanpa bersuara.
-
-
-
__ADS_1
bersambung.....
Terimakasih buat yang sudah like dan vote, sampai jumpa di episode selanjutnya....