
Meskipun belum sepenuhnya yakin dengan Aldo, tapi mereka memutuskan untuk tetap tinggal di hotel. Akbar yang tadinya kekeh mau pindah hotel kini pun munurut untuk tetap disana. Mila membujuk dan meyakinkannya kalau Aldo tidak akan berbuat jahat lagi.
Sekarang mereka mulai jalan-jalan, menjelajahi kota Toronto. Tujuan pertama mereka adalah CN Tower. Tower ini merupakan icon dan kebanggaan masyarakat Kanada. Mila yang paling semangat diantara mereka. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dengan senyum sepanjang perjalanan. Apalagi setelah sampai di depan tower tersebut. Mila menatapnya dengan mata berbinar-binar, ia sudah seperti anak kecil yang kegirangan diajak ke kebun binatang.
Mereka masuk dan menaiki tower tersebut menggunakan lift yang memiliki kecepatan tinggi. Bahkan saking cepatnya, lift ini bisa sampai ke puncak hanya dalam waktu 58 detik saja. Mila dan yan lain tidak berhenti mengagumi tower ini. Dengan tinggi 553 meter, dari sini mereka bisa memandangi seluruh kota Toronto. Dari sisi terbaik bahkan air terjun Niagara pun dapat terlihat. Air terjun itu adalah tempat selanjutnya yang akan mereka kunjungi.
Mila mengambil foto dirinya bersama Maxwell. Cekrek cekrek dengan berbagai pose. Tidak puas dengan foto yang ia dapatkan, ia pun meminta Akbar untuk memotret mereka. Sudah beberapa bidikan, namun nampaknya Mila belum juga puas hingga membuat Akbar yang sedari tadi pegang camera mulai kesal.
"Sayang, ayo dong sekali lagi". Bujuk Mila pada Akbar.
Dengan wajah masam, Akbar kembali memotret. Mila tersenyum ke arah camera bersama Maxwell yang berdiri didepannya.
"Satu dua tiga... ". Mila berjalan menghampiri Akbar dan melihat hasil fotonya.
"Wah... bagus bangat fotonya". Seru Mila. "Sekali lagi ya ". Pintanya.
"Sayang, kamu benar-benar membuat aku kesal".
"Kenapa?. Hasil jepretan kamu bagus, aku suka".
"Iya, tapi aku yang tidak suka, coba deh kamu lihat ini". Menggeser semua foto yang ada di camera. "Dari sekian banyak foto, wajah ku cuma ada satu di sini".
"Kamu mau di foto juga?". Dengan menyergitkan dahinya.
"Ya iya lah, kamu pikir aku kesini hanya untuk jadi fotografer. Dari tadi kamu hanya berfoto dengan Maxwell". Haha sepertinya Akbar cemburu.
"Astaga sayang, kenapa tidak bilang dari tadi, kalau begitu kita foto bertiga ya". Bujuk Mila.
"Kenapa tidak foto berdua saja, foto mu bersama Maxwell kan sudah banyak". Dia benaran cemburu dengan Maxwell.
"Daddy! Max juga mau berfoto". Maxwell yang mendengar perkataan Daddy-nya langsung protes.
"Baiklah, kita foto bertiga". Langsung mengalah.
Akbar menghadapkan camera ke arah mereka. Mila dan Maxwell tersenyum lebar di belakangnya. Cekrek cekrek. Dari yang awalnya Akbar senyum kaku sampai tersenyum lebar, kini sudah puluhan foto mereka ambil.
Tidak jauh dari tempat mereka, terlihat Nayra yang sedang berpose bersama Nando yang memotretnya. Mereka pun mendatangi pasangan muda itu.
"Ihhh Nando, kamu bagaimana sih ngambil fotonya?". Nayra terlihat kesal melihat hasil jepretan suaminya.
"Inikan sesuai permintaan kamu, pemandangan kota Toronto terlihat sangat jelas bukan". Jawab Nando.
"Iya, tapi wajah ku tidak terlihat jelas, kalau seperti ini orang tidak akan tahu kalau manusia yang di foto ini adalah aku". Balas Nayra semakin kesal.
Mila tertawa melihat pertengkaran mereka. Nando sudah ingin meneriaki Nayra, namun ia menahannya dan memlilih diam.
Akbar meraih camera dari tangan Nando dan memperhatikan hasil fotonya.
"Biar aku yang foto". Akbar menawarkan diri.
Dengan senang hati, Nayra menerima tawaran Akbar. Ia mengajak Nando untuk berfoto bersama.
__ADS_1
"Satu dua tiga!". Cekrek. Satu foto berhasil di jepret. Nayra meraih camera yang Akbar sodorkan padanya. Melihat hasil fotonya dan langsung tersenyum sumringah.
"Wow.... hasilnya bagus banget". Puji Nayra. Foto yang dihasilkan Akbar memang bagus. Ia sangat mahir dalam mengambil foto. Masih mengamati fotonya, Nayra tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada Nando yang berdiri disampingnya.
"Kamu merusak fotonya". Ketus Nayra.
"Aku?". Nando yang merasa tidak berbuat apa-apa dibuat bingung dengan perkataan Nayra.
"Aku tersenyum lebar, sementara kamu!. Lihat wajah kamu". Menunjuk wajah Nando di foto. "Kenapa wajah kamu terlihat kesal disini ?. Kamu kesal sama ku?. Kamu tidak senang berfoto dengan ku?".
"Siapa yang kesal sih, wajah ku memang seperti ini Nay, dan ini sebenarnya aku senyum loh". Berusaha membela diri. Sementara Mila dan Akbar berusaha menahan tawa melihat Nando yang terlihat takut dengan Nayra.
"Kamu pikir aku gak bisa bedain orang senyum sama orang yang kesal?".
"Wajah ku memang seperti itu kalau di foto, terlihat kesal padahal aku senyum loh itu".
"Sejak kapan kamu punya wajah seperti itu ?". Nayra semakin kesal. Alasan Nando sungguh tidak masuk akal. Apa dia tidak punya alasan yang lebih logika. Batin Nayra.
"Hai semuanya". Kedatangan Irene dan Aldo telah menyelamatkan Nando dari amukan Nayra. "Bagaimana, apa kalian menikmati pemandangannya?". Irene dan Aldo yang sedari tadi menjauh dari mereka kini kembali berkumpul bersama mereka.
"Ini pemandangan yang sangat luar biasa Irene, aku bahkan bisa melihat air terjun Niagara". Jawab Mila sambil menunjuk air terjun dikejauhan sana. "Kapan kita akan kesana?".
"Tenanglah, besok kita akan kesana". Mendengar jawaban Irene, semangat Mila langsung berkobar. Ia sungguh tidak sabar menunggu hari esok. "Sekarang kita makan dulu ya, kita makan ke lantai paling atas". Ajak Irene.
Mereka terlihat bingung mendengar ajakan Irene.
Makan di atas?. Emang ada restoran di atas?. Mila dan Nayra bertanya-tanya dalam hati.
Mereka menikmati makanan dengan pemandangan yang menakjubkan. Mila dan Nayra tidak berhenti-hentinya memuji keindahan kota ini.
"Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa". Ujar Nayra sambil menatap ke luar.
"Benar Nay, kalau ada yang mengajak ku tinggal disini, maka aku tidak akan menolaknya". Jawab Mila spontan.
"Hemmm....". Akbar langsung memberikan reaksi tidak suka.
"Hehehe becanda kok sayang". Balas Mila yang langsung menyadari perubahan raut wajah Akbar.
"Apa kita akan tinggal disini Bunda?". Maxwell rupanya menanggapi dengan serius.
"Tidak sayang". Mengusap kepala Maxwell agar anak itu tidak berkomentar apapun lagi.
Selesai makan, mereka turun dari tower tersebut. Mereka mengunjungi tempat lain disekitar tower, berkeliling, memburu suvenir dan akhirnya kembali ke hotel menjelang matahari terbenam.
****
Keesokan paginya, sesuai yang sudah direncanakan, mereka pun kembali melanjutkan penjelajahan. Hari ini Irene dan Aldo akan membawa mereka ke Niagara city. Tempatnya air terjun Niagara berada.
Dari Toronto, mereka menghabiskan waktu selama dua jam hingga akhirnya benar-benar sampai di air terjun tersebut. Kini air terjun terpampang jelas dihadapan mereka. Mila dibuat terkesima dengan keindahan alam ini.
Air terjun Niagara merupakan air terjun terindah di dunia. Tidak cuma satu, bahkan disini ada tiga air terjun sekaligus, dan ketiganya mempunyai personanya sendirinya. Horseshoe Falls, American Falls, dan Bridal Veil Falls adalah tiga air terjun yang berdekatan.
__ADS_1
Pemandangan yang indah yang mampu membuat semua orang terpikat dan enggan untuk meninggalkannya. Mila dan Nayra yang berniat mengabadikan momen ini langsung beraksi. Mereka berpose dan mengambil foto yang banyak. Kali ini Irene pun tidak mau ketinggalan, ia ikut bergabung dengan kedua sahabatnya. Meskipun ia sudah beberapa kali ke tempat ini, namun ia selalu saja terhipnotis dengan keindahan tempat ini.
Aldo yang kini mereka jadikan sebagai fotografer sudah mengambil banyak foto mereka. Cekrek cekrek sampai puluhan kali. Dan setiap melihat hasil fotonya mereka semakin semangat untuk kembali mengambil foto berikutnya.
Akbar yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa memandangi istrinya yang sudah melupakan dirinya dan juga Maxwell. Bocah itu sekarang berada digendongan Akbar. Udara dingin membuatnya tertidur pulas digendongan Daddy-nya. Sementara Nando, pria itu juga sama halnya dengan Akbar, hanya bisa memandangi Nayra istrinya dengan tangan yang dipenuhi barang milik Nayra. Gadis itu menitipkan tas dan semua barang bawaannya pada Nando.
"Fotonya bagus, lagi lagi". Seru Nayra. Mereka kembali berpose di tempat yang berbeda. Saat ini mereka sudah seperti anak SMA yang sedang study tour. Tertawa lepas tanpa ada beban. Dan mereka beruntung karena Aldo yang sama sekali tidak mengeluh dengan mereka, ia dengan sabar mengambil semua foto ketiga gadis itu.
"Aiisss ini sangat menyebalkan". Keluh Akbar. "Mereka benar-benar melupakan kita". Ucapnya pada Nando.
"Apa mereka tidak sadar kalau mereka masih punya suami". Balas Nando. "Padahal tadinya aku membayangkan honeymoon kami yang sangat romantis, tapi sekarang aku malah merasa seperti duda yang baru saja ditinggalkan istrinya".
Ketiga gadis itu masih menikmati kebersamaan mereka. Kerinduan diketiganya membuat mereka hanyut dalam kebersamaan ini.
"Ayo foto sekali lagi, kali ini jembatannya harus kelihatannya". Seru Irene pada Aldo sambil menunjuk jembatan yang ada dibelakang mereka.
"Itu jembatan apa?". Tanya Mila sembari mengikuti arah yang ditunjuk Irene.
"Itu jembatan internasional Rainbow Bridge, setelah melewati jembatan itu maka kamu akan sampai di Amerika. Seberang sungai Niagara ini merupakan wilayah bagian New York, Amerika Serikat". Jawab Irene. Mila dan Nayra pun dibuat terkejut dengan fakta itu.
"Sedekat itu?". Sambung Mila.
"Iya, dari Amerika kamu juga bisa melihat air terjun ini". Mila mulai memikirkan sesuatu setelah mengetahui hal itu.
Hari semakin gelap, namun mereka masih enggan untuk meninggalkan tempat itu. Akhirnya Aldo memberi saran supaya malam ini mereka menginap disana. Ada banyak hotel didekat sana, bahkan salah satu diantaranya juga milik keluarganya.
Mendengar pengakuan Aldo yang juga punya hotel di kota ini, dengan bodohnya Nayra mulai menghitung-hitung kekayaan Aldo.
Pantas saja Irene sangat menyukai Aldo, ya iyalah orangnya kaya raya gitu. Hehehehe bercanda deh Irene. Selain kaya raya nampaknya Aldo juga baik. Ya semoga saja otak psikopatnya benar-benar sudah hilang. Batin Nayra.
Mereka menyetujui saran Aldo dan mendatangi hotel tersebut. Melihat Aldo yang datang membawa rombongan, manager hotel langsung menghampiri mereka. Aldo terlihat mengatakan sesuatu, dan si manager hanya mengangguk setelah itu pergi lagi. Aldo kembali berkumpul dengan yang lain dan mengajak mereka untuk ke restoran untuk makan malam sebelum memasuki kamar.
Berkat Aldo, mereka selalu mendapat perlakuan istimewa termasuk di hotel ini juga. Makan malam yang menggiurkan sudah terhidang di depan mata. Tanpa basa basi mereka yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan itu.
Selesai makan, Akbar pamit ke toilet, dan saat kembali dia dikejutkan dengan kehadiran Rania disana. Gadis itu terlihat sedang menggendong Maxwell. Dengan darah yang dipenuhi amarah, dia berjalan menuju meja yang beberapa menit lalu dia tinggalkan.
"Mau apa kamu kesini?". Tidak terima dengan kehadiran Rania dan berniat mengambil Maxwell dari mantan istrinya itu. Tapi dengan cepat Mila berdiri dan menahannya.
"Akbar, Rania ingin bertemu Maxwell". Ucapnya dengan hati-hati.
"Tahu darimana kami ada disini?". Bentak Akbar. Beruntung saat ini mereka berada diruangan khusus, jadi suara Akbar tidak bisa didengar tamu yang lain.
"Lepaskan Maxwell". Akbar berjalan mendekati Rania lalu berusaha menarik Maxwell dari Rania. Maxwell yang ketakutan langsung menangis. Dengan sigap, Mila pun menarik Akbar.
"Akbar, hentikan!". Perintah Mila dan menahan tubuh Akbar. Suasana semakin memanas, Nayra dan yang lainnya mulai bangkit dari kursi mereka. "Rania, bawalah Maxwell". Rania menurut dan langsung membawa Maxwell keluar dari ruangan itu.
Setelah Rania pergi, dengan kasar Akbar menghempaskan tangan Mila. Menatap Mila dengan tatapan dingin, ingin meneriakinya namun ia berusaha menahan karena semua teman-temannya ada disana.
"Kenapa? Kenapa kamu membiarkan wanita itu membawa Maxwell?". Matanya terlihat memerah menahan emosinya.
"Ra Rania hanya ingin bertemu anaknya". Jawab Mila terbata. Dia meraih tangan Akbar dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Jadi kamu sengaja memberitahunya kalau kita ada disini?". Mila tidak menjawab, gadis itu hanya diam menunduk. "Jadi benar kamu yang memberitahunya, aku kecewa sama kamu Mila". Melepaskan tangannya dan berlalu meninggalkan tempat itu. Mila pun berlari mengejarnya, sementara Nayra, Irene, Nando dan Aldo diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya mereka juga terkejut dengan Rania yang tadi tiba-tiba menghampiri mereka.