
Tiga bulan sudah berlalu semenjak keputusan Mila menjadi ibu rumah tangga. Tidak ada penyesalan sedikit pun dihatinya. Dia menikmati hari-harinya dengan semangat, bangun pagi lalu menyiapkan perlengkapan Akbar untuk ke kantor, mengurus Maxwell dan mengajarinya untuk bisa mandiri, mulai dari mandi sendiri, mengenakan baju sendiri, makan sendiri, Mila menuntunnya dan memberinya arahan namun tetap mengawasinya.
Setelah berhenti bekerja, ia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama Maxwell, belajar memasak dengan Bi Lina, dan sekarang untuk makan malam Mila mengambil alih tugas memasak yang biasanya menjadi tugas Bi Lina. Bi Lina pun senang karena pekerjaannya banyak berkurang semenjak ada Mila. Semakin hari mereka pun semakin kompak.
Hari itu bertepatan dengan jadwal belanja bulanan, Mila mengajak Maxwell untuk ikut bersamanya. Mereka menaiki taksi menuju supermarket yang biasa mereka kunjungi. Sesampainya disana, terlihat Nayra sudah berdiri didepan supermarket tersebut, mereka memang sudah janjian sebelumnya.
Nayra melambaikan tangannya begitu melihat Mila dan Maxwell turun dari taksi. Nayra menyambut mereka dengan senyum lebar, lalu mencubit pipi Maxwell begitu anak itu sampai dihadapannya.
"Hai ganteng". Ucapnya dengan ramah pada Maxwell, dan seperti biasa Maxwell langsung mengusap pipinya bekas tangan Nayra.
"Sudah lama?". Tanya Mila.
"Lumayan, ayo". Ajaknya lalu memasuki supermarket yang diikuti Mila dan Maxwell.
Mereka mulai berkeliling sambil mendorong troli masing-masing. Sementara Maxwell mengikuti mereka sambil menyentuh semua barang yang dilewatinya.
"Aku kesal dengan Nando". Nayra memulai curhatnya.
"Kenapa lagi?". Sahut Mila sembari memasukkan beberapa botol kecap ke trolinya. Maxwell pun mengikutinya, mengambil barang yang dapat ia jangkau dan memasukkannya kedalam troli. Mila tersenyum sambil menggeleng lalu mengeluarkan kembali barang yang dimasukkan Maxwell. "Yang ini tidak boleh". Ucapnya pada Maxwell dan mengembalikannya pada tempat semula.
Nayra yang sudah berada didepan kembali berbalik dan menghampiri Mila dan Maxwell.
"Mila! kamu dengar aku gak sih ?". Kesal karena ternyata dia hanya bicara sendiri sedari tadi.
"Iya, kenapa?". Kembali mengikuti langkah Nayra.
"Aku kesal dengan Nando, dia sibuk terus di cafenya, sudah dua minggu kami tidak pernah jalan berdua, padahal pernikahan kami tinggal beberapa minggu lagi".
"Ya bagus dong, berarti usahanya lancar, bukannya itu yang kamu mau". Menjawab seadanya.
"Iya, tapi sekarang dia sama sekali tidak ada waktu untuk ku".
"Kalau begitu datangi dia ke cafe, temani dia kerja". Usul Mila sambil kembali meraih beberapa bungkus detergen dan memasukkannya kedalam troli.
"Sudah, aku sudah mendatanginya, tapi disana selalu rame pengunjung, dia hanya peduli dengan pelanggannya, aku dicuekin". Ucapnya dengan emosi.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu harus banyak-banyak kasih dia semangat, lagi pula tidak baik sering ketemuan untuk orang yang mau menikah".
"Ihhh ngomong sama kamu emang gak ada gunanya". Semakin kesal dan berjalan cepat meninggalkan Mila.
"Ya udah". Cetus Mila.
"Ya udah". Sambung Maxwell mengikuti ucapan Mila.
Mila menatapnya, lalu mereka tertawa bersama. Mereka kembali mengelilingi supermarket dan menuju rak buah, memilih beberapa macam buah dan memasukkannya kedalam keranjang, Maxwell pun dengan semangat mengambil semua buah yang dia suka, dan kali ini Mila membiarkannya.
Setelah semuanya dirasa lengkap, Mila mendorong trolinya menuju kasir, dan disana dia kembali bertemu Nayra.
"Sudah semua?". Tanya Nayra sembari memperhatikan barang belanjaan Mila. Padahal tadi dia sangat kesal dengan Mila yang ia rasa terus membela Nando, namun hanya sebentar rasa kesal itu pun sudah hilang begitu saja. Bahkan tadi saat berkeliling sendiri, dia mulai mencerna ucapan Mila.
"Sudah sih kayaknya". Jawab Mila sambil mengeluarkan barang belanjaannya untuk dihitung sang kasir.
Selesai membayar semuanya, mereka pun keluar dari supermarket itu. Nayra mengajak Mila untuk ikut ke tokonya dan berjanji akan mengantarnya pulang nanti, tapi Mila menolak dan memilih langsung pulang, karena dia akan memasak untuk makan malam mereka dirumah. Akhirnya mereka pun pulang terpisah, Nayra mengemudikan mobilnya dan kembali ke toko kuenya. Sementara Mila dan Maxwell kembali menaiki taksi untuk pulang kerumahnya.
Tidak sampai lima belas menit, taksi yang mereka tumpangi pun sudah sampai didepan rumah. Mila membantu Maxwell untuk turun dari taksi, dan tidak lama kemudian Bi Lina pun datang menghampiri mereka dan membantu supir taksi menurunkan barang belanjaan Mila.
"Nona". Bi Lina berjalan mendekat kearah Mila yang berjalan didepannya.
"Ada apa Bi?". Berbalik menatap Bi Lina.
"Itu Nona, eemm... kita ada tamu". Ucapnya pelan.
"Tamu?".
"Iya Nona, dia ada diruang tamu, dia.... ". Ragu untuk mengatakan tamu yang datang.
"Kok gak bilang dari tadi Bi, sudah lama?". Kembali melanjutkan langkahnya.
Mila mempercepat langkahnya menuju ruang tamu, dan disana dia melihat seorang gadis sedang duduk disofa. Mila terdiam melihat tamunya, dia tidak kenal dengan tamu ini, tapi wajahnya tidak asing, dia mencoba mengingat gadis ini. Mila masih berdiri memandangi gadis itu, sedangkan Maxwell langsung melepaskan tangannya dari genggaman Mila dan berlari menuju gadis itu.
"Mommy.... ". Teriak Maxwell dan menghambur kepelukan gadis itu. Mereka berpelukan, dia menciumi pipi Maxwell berulang. Gadis itu tidak lain adalah Rania, ibu kandung Maxwell, sekaligus mantan istri Akbar.
__ADS_1
"Maaf Nona, saya pikir Nona sudah mengenalnya, itu Nona Rania, dia.... ".
"Iya Bi, saya tahu, dia ibunya Maxwell". Ucap Mila memotong pembicaraan Bi Lina.
"Baik Nona, kalau begitu saya pamit kebelakang". Bi Lina mengambil alih kantong yang ditangan Mila dan membawanya ke dapur.
Mila berjalan menghampiri Rania dan Maxwell. Tersenyum ramah ketika Rania melihat kearahnya lalu duduk disofa.
"Aku rasa kita tidak perlu kenalan lagi, bukankah sebelumnya kita sudah pernah ketemu". Ucap Rania padanya.
"Ahh iya, tadi aku memang sedikit lupa denganmu, tapi sekarang aku sudah ingat, kamu Rania". Balas Mila.
"Baguslah kalau kamu masih ingat, aku datang kesini, untuk mengajak Maxwell ikut bersama ku".
"Kalau begitu aku telepon Akbar dulu". Sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Tidak perlu, aku sudah memberitahu Akbar kalau aku akan menjemput Maxwell hari ini". Berdiri dan menggandeng tangan Maxwell. "Selama aku disini, Maxwell akan tinggal denganku". Ucapnya lalu menarik tangan Maxwell mengikuti langkahnya. Mila berdiri, dan hanya bisa menyaksikan Rania yang membawa Maxwell. Ada perasaan tidak rela dalam hatinya, namun ia berusaha mengendalikannya dan mengingatkan dirinya kalau Rania adalah ibu kandung Maxwell, dan wajar saja dia ingin bertemu anaknya dan ingin menghabiskan waktu bersama.
"Mommy, kenapa Bunda tidak diajak?". Ucap Maxwell setelah berada didalam mobil Rania. Rania hanya tersenyum tipis menanggapinya, tidak memberi jawaban, ia menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah mantan suaminya itu.
Mila masih berdiri ditempatnya, menatap pintu yang masih terbuka lebar. Bunyi ponsel ditangannya membuat Mila terperanjak. Ada pesan masuk dari Akbar.
Sayang, Rania sudah kembali dari Amerika, dia akan kerumah dan mengajak Maxwell untuk tinggal dengannya sementara.
Mila menutup kembali ponselnya tanpa memberi balasan untuk Akbar. Meskipun hanya sementara tapi hatinya benar-benar tidak rela berpisah dengan Maxwell.
.
.
.
Bersambung.....
Maaf ya kalau up nya lama, tapi sebenarnya episode 70 sudah aku up dari tgl 25, tapi entah kenapa belum lolos review juga, makanya aku buatkan episode ini lagi.
__ADS_1
Terimakasih untuk yang tetap mengikuti novel ini. Jangan lupa like dan Votenya ya 😁😁😁