
Mila sudah siap akan berangkat ke pesta pernikahan Rio dan Putri, dan seperti yang sudah disepakati ia akan berangkat dengan Aldo, sementara Nayra dan Irene berangkat bersama. Mereka sudah membuat janji akan bertemu di pesta nanti.
Tok tok....
Ketukan pintu kamarnya. Mona membuka pintu lalu masuk ke kamar Mila.
"Kak, Kak Aldo sudah di depan" ucapnya pada Mila yang masih saja duduk di depan cermin mengamati bayangannya.
Mila beranjak dari depan cermin lalu melangkah keluar dari kamar, Mona pun mengekorinya dari belakang. Sesampainya dipintu depan, Mila pamit pada Mona lalu menghampiri Aldo yang sudah menunggunya dengan bersandar disamping mobilnya.
Begitu Mila berjalan mendekat ke arah Aldo, mata pria itu tidak bisa untuk berkedip melihat kecantikan Mila pada malam itu. Dengan gaun merah dan rambut yang digerai membuat Mila terlihat semakin anggun.
"Aldo!" tegur Mila pada Aldo yang masih saja diam tak bergeming menatapnya.
"Oh iya, sorry" ucapnya menyadari sikapnya. "Kamu cantik sekali Mila". Mila tersenyum kaku mendengarnya. "Ayo berangkat sekarang" lanjutnya sembari membukakan pintu untuk Mila.
Mila memasuki mobil begitu juga dengan Aldo. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan diantara mereka, namun Aldo sesekali melirik Mila dengan perasaan yang tidak menentu. Sepuluh menit kemudian mereka pun sampai digedung tempat diadakannya pesta pernikahan Rio dengan Putri. Mila dan Rio memasuki gedung yang sudah dipadati para tamu undangan lainnya. Kehadiran Mila membuat perhatian banyak orang beralih kepadanya, terutama bagian kaum adam.
Mila dipesta Rio
Nayra dan Irene yang terlebih dulu sampai ditempat itu langsung menghampiri Mila.
"Mila, kamu cantik sekali" seru keduanya yang membuat Mila semakin jadi pusat perhatian.
"Jangan berisik, kalian membuat ku malu" bisik Mila pada kedua sahabatnya itu, dan bukannya diam, Nayra dan Irene malah tertawa.
Aldo masih setia disambung Mila, dan ikut mengobrol bersama Nayra dan Irene, tapi selang beberapa saat, salah satu rekan bisnisnya datang dan mengajaknya untuk bergabung dengan rekan yang lainnya. Aldo pun pamit pada Mila lalu ikut bergabung dengan rekan-rekan bisnisnya.
Setelah Aldo pergi, Yuda dan Parto yang tidak tahu darimana tiba-tiba datang menghampiri mereka. Suasana semakin ramai setelah mereka berkumpul. Pesta ini sudah membuat mereka kembali reuni. Layaknya anak SMA dijam istirahat, mereka mengobrol dan membicarakan banyak hal, bahkan sesekali mereka tertawa bersama hingga orang yang disekeliling mereka menatap sinis. Tapi suasana berubah, saat Ifan datang bersama pacar barunya. Semua mendadak diam dan hanya bicara seperlunya. Meskipun mereka sama-sama tahu kalau Ifan dan Irene sudah lama putus, namun berada ditempat yang sama dengan pacar Ifan seperti ini membuat semuanya jadi kaku.
Mila yang berdiri disamping Nayra tiba-tiba didatangi anak kecil yang langsung memeluk kakinya.
"Bunda" ucapnya polos.
Mila menunduk dan melihat anak itu.
"Maxwell!" kaget melihat Maxwell yang tiba-tiba mendatanginya. Mila mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya. "Sayang, kenapa kamu bisa ada di sini? " tanya Mila pada Maxwell, namun anak itu tidak menjawab dan malah menyandarkan kepalanya dibahu Mila.
"Aduhh... ini anak siapa sih ?" ucap Nayra dengan gemasnya, bahkan ia mencubit pipi Maxwell.
__ADS_1
"Ini anak siapa Mila? Kenapa dia mengenali mu?" sambung Irene.
"Ini Maxwell, anaknya Akbar" jawab Mila sembari merapikan rambut Maxwell.
"Hah? Anaknya Akbar?" serentak Nayra dan Irene dengan kaget bukan main.
Ifan, Yuda, dan Parto juga terkejut mendengarnya, namun mereka lebih memilih diam, daripada berkomentar.
"Iya, lucu kan? " sambil mencium pipi Maxwell dengan gemasnya. Nayra dan Irene semakin bingung dibuatnya. "Max, kamu sama siapa disini?" tanya Mila pada Maxwell yang masih berada digendongannya.
"Sama Daddy" jawabnya sambil memainkan rambut Mila.
Akbar memang berada dipesta itu. Meskipun Akbar dan Rio terlihat tidak menyukai satu sama lain, namun mereka adalah sepupu, dan pastinya Akbar dan keluarganya juga diundang ke acara ini.
"Lalu Daddy kamu dimana?" tanya Mila lagi. Maxwell menggeleng tidak tahu lalu tertawa yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
"Kamu sangat lucu" kata Nayra sambil mencubit pipi Maxwell. "Tapi kenapa kamu harus anaknya Akbar yang menyebalkan itu" keluh Nayra.
"Hei... kamu tidak boleh bicara seperti itu" tegur Irene.
"Aku tinggal sebentar ya, aku cari Daddynya dulu" pamit Mila pada teman-temannya.
"Kami akan menemui Kak Rio, apa kamu tidak mau ikut?" cegah Nayra.
"Aku sangat tidak suka dia bertemu Akbar lagi" ujar Nayra setelah Mila pergi.
Maxwell masih berada digendongan Mila, dia berjalan menyusuri isi gedung yang luas itu untuk mencari Akbar.
Mila menelepon ke nomor Akbar, namun tidak ada jawaban.
"Sayang, kenapa kamu meninggalkan Daddymu ?" kata Mila sambil terus berusaha mencari Akbar.
"Aku melihat bunda" jawab Maxwell.
"Iya, tapi kamu tidak boleh kemana-mana kalau tidak dengan Daddy, ini tempat ramai sayang"
"Daddy akan menemukan ku Bunda" jawab Maxwell dengan percaya diri.
"Baiklah, apa kita duduk saja disini sambil menunggu Daddy mu?"
"Iya Bunda" jawab Maxwell.
__ADS_1
Akhirnya Mila pun duduk bersama Maxwell di salah satu kursi tamu. Mila menurunkan Maxwell dari gendongannya dan membantunya untuk duduk dikursi.
Disisi lain, Akbar juga sibuk mencari Maxwell, padahal sedari tadi dia duduk bersama anak itu, namun pas menyapa rekan bisnisnya yang kebetulan ada diacara itu, Maxwell langsung menghilang dari sampingnya. Akbar memutari gedung dan mulai panik karena belum juga menemukan Maxwell, bahkan HPnya yang berdering sedari tadi dia biarkan begitu saja.
Akbar mulai putus asa karena belum juga menemukan Maxwell, dia bahkan sudah meminta bantuan pada petugas keamanan gedung itu untuk ikut mencari Maxwell, tapi tetap saja belum bisa menemukan anak itu.
Akbar menarik napasnya dalam-dalam, lalu berjalan kembali ke kursi tamu, tempat dia kehilangan Maxwell tadi.
"Daddy....Daddy" teriak Maxwell yang melihat Akbar berjalan tidak jauh dari tempatnya.
Mendengar suara Maxwell, Akbar pun menoleh dan langsung berlari menghampiri Maxwell yang duduk bersebelahan dengan Mila.
"Lihat Bunda! Daddy menemukan ku" ucap Maxwell dengan girang.
"Anak nakal, Daddy mencari mu kemana-mana" ucap Akbar sambil mengusap lembut kepala Maxwell. Kekhawatiran masih terlihat jelas di wajahnya.
"Aku bersama Bunda" seru Maxwell dengan senyum lebar. Akbar baru menyadari kalau wanita yang disebelah Maxwell adalah Mila.
"Mila" ucapnya dengan menatap kagum melihat Mila. Malam ini Mila memang jauh terlihat lebih cantik dari biasanya, Akbar sulit melepaskan pandangannya dan Mila tersenyum tipis kearahnya. "Terima kasih sudah menjaga Maxwell" sambungnya sambil berusaha mengalihkan pandangannya.
"Maxwell tiba-tiba mendatangi ku, kami juga mencari mu, bahkan aku menelepon ke nomor mu untuk memberitahukan bahwa Maxwell bersama ku, tapi kamu tidak mengangkatnya" jawab Mila menjelaskan.
"Oh ya" mengeluarkan HPnya dari kantong celana, dan melihat panggilan disana. "Maaf, aku tidak tahu kamu yang menelpon" sembari menyimpan kembali HPnya. "Terima kasih Mila karena sudah menjaga Maxwell"
Akbar ikut duduk dan memangku Maxwell.
"Aku tidak tahu kamu ada disini" ucap Akbar. "Kamu dengan siapa?".
Bersamaan dengan itu, Aldo pun muncul mendatangi mereka.
"Mila" tegur Aldo, pria itu terlihat kesal karena mendapati Mila yang kini tengah duduk bersama Akbar.
Mila dan Akbar menoleh serentak ke asal suara.
"Aku mencari mu" ucapnya sambil berjalan mendekati Mila.
"Maaf, aku sedari tadi bersama Maxwell" jawab Mila.
Akbar dan Aldo seperti biasa, saling memberi tatapan tidak suka.
"Teman-teman mu sudah menemui Rio, kita juga harus menemuinya dan memberi ucapan selamat" ajak Aldo.
__ADS_1
"Oh iya, baiklah" Mila beranjak dati duduknya. "Akbar, aku akan menemui Kak Rio dulu" pamit Mila pada Akbar, dan dengan berat hati, Akbar pun menganggukkan kepalanya. "Maxwell, Bunda pergi ya" sambil mencubit pipi Maxwell dengan lembut.
Mila mengikuti langkah Aldo, sementara Akbar menatap kepergian mereka hingga menghilang ditengah kerumunan penghuni gedung itu.