Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Pernikahan Nayra & Nando


__ADS_3

Tidak lama setelah kepergian Rania, Akbar pun datang dan membawa istri dan anaknya kembali ke rumah. Sesampainya dirumah, Mona dan Bi Lina dengan antusias menyambut kedatangan Maxwell, bahkan untuk memeriahkan kembalinya Maxwell, mereka sengaja menghias kamar Maxwell. Dengan tema luar angkasa yang dilengkapi beberapa poster atronot dan roket, sekarang kamar Maxwell benar-benar seperti berada diluar angkasa.


Maxwell membuka pintu kamarnya dan perlahan memasukinya. Kebahagiaan langsung terpancar diwajahnya. Anak itu tertawa girang dengan keindahan kamarnya.


"Wow... ". Ucap Maxwell dengan kagum. "Max tidur dibulan". Teriaknya dengan girang. Dia berlari dan menaiki tempat tidurnya. Sementara Mila dan Akbar berdiri dipintu tersenyum menyaksikan Maxwell yang loncat-loncat diatas tempat tidur tersebut.


Setelah Maxwell kembali, kehidupan dirumah itu pun kembali seperti semula. Mila yang seperti biasanya dirumah bersama Maxwell dan Bi Lina. Dan sekarang, Akbar juga lebih cepat pulang dari kantor. Dia selalu pulang dijam 5 sore agar bisa makan malam bersama keluarganya. Mereka bahagia dengan kehidupan mereka.


Setiap malam sebelum tidur, Mila selalu mendatangi kamar Maxwell, membacakannya dongeng atau kadang hanya sekedar mengajaknya ngobrol. Mila juga menepati janjinya yang selalu menceritakan tentang Rania pada Maxwell. Meskipun hubungan Mila dan Maxwell sudah seperti anak dan ibu kandung, namun Mila tetap berusaha menanamkan Rania dihati Maxwell. Karena bagaimana pun Rania tetaplah ibu kandung Maxwell, dialah wanita yang melahirkan Maxwell, dan Mila tidak akan menutupi kenyataan itu. Meskipun terkadang hatinya was-was dan takut kalau suatu saat Maxwell akan benar-benar meninggalkan mereka dan pergi dengan Rania, namun dia tetap konsisten dengan janjinya.


****


Malam ini adalah pesta pernikahan Nayra dan Nando. Semua anggota keluarga sudah bersiap untuk berangkat, tidak terkecuali Mona. Mereka berempat akan berangkat bersama ke gedung tempat acara. Mila, Akbar dan Maxwell sudah berada didepan pintu dan akan segera berangkat. Namun Mona belum juga keluar dari kamarnya.


"Mona, ayo dong cepat, acaranya sudah mau mulai nih". Teriak Mila.


"Iya Kak, sebentar". Sahutnya dari dalam kamar.


"Aduh kenapa lama sekali sih". Gerutu Mila mulai tidak sabar. Akbar melangkah menuju pintu rumah dan membuka pintu. Melihat siapa yang berdiri disana, mereka pun terkejut.


"Milva! Kamu sedang apa disini?". Mila melangkah mendekati Milva yang kini tersenyum kearah mereka.


Dan tidak lama kemudian, Mona pun muncul dan menghampiri Milva.


"Mona boleh berangkat dengan Kak Milva ya Kak ?". Ucap Mona dengan penuh harap sambil berdiri disebelah Milva.


"Boleh aja sih, tapi kenapa kamu tidak bilang dari tadi, kalau tahu kamu dijemput Milva terus untuk apa kami menunggu mu sedari tadi". Jawab Mila dengan sedikit kesal. Mila menggeleng kearah Mona, dan memberinya tatapan tidak suka.


"Tidak boleh!". Akbar melarangnya dengan tegas. "Mona berangkat dengan kami, ayo Mona". Akbar menarik tangan Mona, namun dengan sigap Milva menahannya. "Apa maksudnya ini?". Memberi Milva tatapan tidak suka.


"Tolong Kak, sekali ini aja, biarkan Mona berangkat dengan ku, malam ini aku ingin berjalan dibelakang Nayra bersama Mona, aku janji, aku akan menjaganya dengan baik, dan akan mengantarnya pulang dengan selamat". Milva sungguh-sungguh dengan ucapannya. Mona yang berdiri disampingnya pun dibuat merinding.


"Sayang, biarkan mereka pergi bersama". Mila yang merasa tidak enak dengan Milva berusaha membujuk Akbar, tapi begitu Akbar menatapnya dia segera menutup mulutnya. Semenjak Bunda Rita menitipkan Mona kepadanya, Akbar menjadi sangat hati-hati dengan semua teman pria Mona. Apalagi anak itu memang masih kecil, ya masih kecil, terutama dimata Akbar.


"Kak, pliss". Mona ikut memohon, bahkan dia mengatupkan kedua tangannya supaya Akbar luluh, dia menatap Akbar dengan wajah memelas. Tidak berdaya dengan tatapan itu, akhirnya Akbar pun melepasnya pergi dengan Milva.


"Jaga dia dengan baik". Akhirnya menyerah. Mona langsung tersenyum lebar begitu Akbar melepasnya. Milva pun ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Akbar. "Ingat ! Kamu hanya boleh membawanya ke pesta Kakak mu, dan mengantarnya pulang begitu acara selesai".


"Siap Kak". Jawab Milva dengan semangat. Milva menggandeng tangan Mona dan menuntunnya kedalam mobil. Akbar memang tidak menyukai Milva, tapi dia juga tidak punya alasan untuk membencinya.


Setelah mobil Milva menghilang, Akbar pun menuntun Mila dan Maxwell untuk segera menaiki mobil mereka.


"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana kelak kalau kamu punya anak perempuan, apa kamu akan mengusir semua pria yang akan mendatanginya?". Goda Mila setelah mobil melaju.

__ADS_1


"Tentu saja, tidak akan aku biarkan siapapun mendekati putri ku".


"Kasian sekali putri mu kalau begitu, dia akan sendirian sepanjang hidupnya, menikah pun tidak akan bisa kalau seperti itu". Keluh Mila.


"Aku akan selalu menemaninya bukan berarti tidak boleh menikah, lagi pula siapa yang akan melarangnya menikah, tentu saja boleh menikah".


"Dengan kamu yang galak dan melarang pria mendekatinya, kamu pikir akan ada yang mau menikahinya? Kamu memang Daddy yang hebat". Sambil menahan tawanya.


"Kamu memuji atau mengejek ku".


"Memuji sayang". Sambil melebarkan senyumnya kearah Akbar.


"Tapi tidak terlihat seperti memuji".


"Daddy paling hebat". Maxwell ikut menimpali pembicaraan mereka.


Akbar yang tadinya sedikit kesal langsung tersenyum lebar begitu mendengar ucapan Maxwell.


"Terimakasih sayang, kamu juga anak yang hebat". Balas Akbar sembari mengusap kepala Maxwell. Anak itu tertawa dipangkuan Mila.


"Kalian berdua laki-laki terhebat". Puji Mila dan kembali tersenyum lebar.


"Sayang, aku suka senyum mu, tapi melihat kamu tersenyum lebar seperti itu sambil memuji ku rasanya aneh, aku merasa kamu bukan sedang memuji ku". Keluh Akbar yang sedari tadi memperhatikan wajah istrinya.


"Kamu mengejek ku lagi". Menatap Mila dengan sinis. "Tapi emang benar kan? Kita tertawa karena emang lagi senang, menangis ya karena lagi sedih". Entah dari mana Akbar mendapatkan ilmu ini, namun dia juga sangat percaya dengan kayakinan ini. Sepanjang hidupnya dia selalu yakin kalau seseorang tertawa berarti hatinya sedang bahagia, dan sebaliknya jika melihat orang menangis berarti orang tersebut sedang bersedih. Tidak salah juga sih, karena selama ini dia memang menjalani hidup yang seperti itu.


Mila menggeleng pelan dan kembali tersenyum kearahnya.


"Lalu bagaimana dengan tangis bahagia?". Ucap Mila.


"Tangis bahagia?". Akbar mengerutkan dahinya. "Omong kosong, kalau memang bahagia ya kamu harus tertawa, kenapa malah menangis". Menyinggungkan senyumnya.


"Itu artinya kamu belum mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya Akbar. Saat seseorang bahagia, bibirnya bisa saja tersenyum atau bahkan tertawa, namun tanpa disadari air matanya juga ikut jatuh, kalau seperti ini berarti orang itu benar-benar bahagia. Kamu tidak pernah merasakan seperti itu?".


"Tidak". Sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu sendiri?".


"Saat kamu melamar ku". Jawab Mila dengan mantap. "Saat itu aku benar-benar bahagia, rasanya aku ingin teriak menyuarakan kebahagiaan yang ada dihatiku, tapi entah mengapa malah air mataku yang keluar". Ucap Mila sambil mengenang kembali perasaannya saat Akbar melamarnya secara tiba-tiba didepan Bunda Rita waktu itu.


Tangan kiri Akbar berpindah dari kemudi dan beralih meraih tangan Mila. Ia menggenggam tangan gadis itu lalu menciumnya dengan lembut.


"Aku juga sangat bahagia saat kamu bersedia menjadi istriku". Ucapnya kemudian.


"Daddy!". Maxwell tiba-tiba menarik tangan Mila dari Akbar, dia merasa kesal karena dicuekin. "Daddy tidak boleh pegang tangan Bunda!". Teriaknya. Menarik kedua tangan Mila lalu mendekapnya ketubuh mungilnya. "Bunda punya Maxwell". Lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Bunda kamu adalah istri Daddy, jadi terserah Daddy dong mau ngapain". Jawab Akbar dengan menahan tawanya.


"Tidak boleh". Balas Maxwell.


"Boleh".


"Max bilang tidak boleh".


"Daddy bilang boleh".


"Tidaakkk". Maxwell menjadi marah.


"Akbar". Tegur Mila pada suaminya, dia mencubit lengan Akbar dengan kuat sampai Akbar meringis kesakitan. " Maxwell tidak boleh berteriak seperti itu ya, Daddy cuma bercanda kok". Bujuknya pada Maxwell. Sementara Akbar tertawa melihat wajah Maxwell yang masih kesal.


"Ahhh Daddy tertawa". Rengek Maxwell pada Mila, dia semakin kesal melihat Akbar yang menertawakannya.


"Masa Daddy gak boleh tertawa". Protes Akbar.


"Sayang, udah dong". Mila melolotinya.


Setelah berbagai drama sepanjang perjalanan, akhirnya mereka pun sampai ditempat tujuan. Papan bunga berisi ucapan selamat untuk kedua mempelai terlihat berjejer memenuhi halaman gedung bahkan sampai kejalanan. Akbar turun dari mobilnya, setelah itu berjalan mengelilingi mobilnya dan membukakan pintu untuk Mila. Mengambil alih tubuh Maxwell dari pangkuan Mila dan menggendongnya. Akbar pun membawa anak dan istrinya memasuki gedung itu. Tangan kanannya menggendong tubuh mungil Maxwell sementara tangan yang satu lagi menggandeng tangan Mila. Kini mereka berjalan beriringan menuju tempat acara.


Kedatangan mereka membuat tamu yang sebagian besar adalah alumni SMA Pelita langsung menoleh kearah mereka. Mereka mulai berbisik membicarakan keluarga kecil itu. Sebagian mengatakan Mila bodoh karena mau menikah dengan Akbar yang sudah duda dan bahkan punya anak. Sebagian lagi mencibir karena menganggap Mila mau kembali dengan Akbar karena pria itu berasal dari keluarga berada.


"Pasti karena suaminya kaya, kalau gak mana mau dia". Bisik yang satu.


"Apa dia tidak malu, dari zaman sekolah dia memang terkenal suka mendekati pria kaya". Bisik yang satu lagi.


"Jangan-jangan dia penyebab Akbar cerai dengan mantan istrinya".


"Aku yakin, dia tidak benar-benar menyukai anak itu". Semuanya berbisik dan mengatakan sesuai dengan apa yang ada diotak mereka. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan anehnya, mereka hanya mencibir dan menyalahkan Mila. Seolah apapun yang terjadi, Mila-lah pernyebabnya.


Mila terus berjalan mengikuti langkah Akbar, dia berusaha menutup telinganya untuk hal yang tidak penting seperti itu. Baginya itu sudah hal biasa. Namun tidak dengan Akbar, dia tidak bisa terima atas semua yang dituduhkan kepada Mila. Langkahnya terhenti persis didepan Tina dan Dara. Ya, dua wanita itu diundang dan berada dipesta ini. Mereka lah biang dari ini semua. Mereka yang menyebarkan banyak tumor dikalangan alumni SMA Pelita, nampaknya mereka berdua masih menyimpan dendam pada Mila.


"Sial...". Akbar membuang napasnya dengan kasar. "Apa mereka kesini hanya untuk membicarakan mu". Akbar mulai emosi, menatap Tina dan Dara yang berdiri tidak jauh darinya.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2