
"Akan seperti apa nasibku ?" batin Mila.
"Aishhh kamu benar-benar menyebalkan" dengan wajah yang masih terlihat kesal.
"Kamu juga" balas Mila
"Apa?"
"Tidak apa-apa" jawabnya singkat
"Ada apa" bertanya lagi.
"Pantas saja kamu senang main basket, penggemar mu sangat banyak" mulai menggerutu tidak jelas.
Akbar terdiam lalu memperhatikan Mila, ia tersenyum ketika melihat raut wajah Mila.
"Ohhh kamu cemburu?" godanya sambil menahan tawanya.
"Tentu saja aku cemburu, kamu adalah pacar ku" jawab Mila mulai meninggikan suaranya. "Tapi ternyata penggemar ku jauh lebih banyak darimu, apa aku pindah sekolah saja ya?" sambungnya sambil melirik kearah Akbar.
"Coba saja!" ucapnya dengan nada tinggi hingga membuat Mila tersentak kaget. "Aku akan menculikmu setiap hari kalau kamu pindah sekolah" sambungnya lalu ia pun tertawa. Mila pun ikut tertawa, seketika amarah yang timbul karna cemburu tadi hilang begitu saja.
Begitulah Akbar dan Mila, meskipun mereka sering merasa kesal atau marah dengan satu sama lain, namun dengan sendirinya akan berbaikan, bahkan dalam waktu sekejab mereka akan akur kembali. Hubungan mereka sangat terlihat manis, tidak heran banyak yang mengidolakan mereka, bahkan setelah kelulusan mereka masih bersama padahal banyak yang memilih mengakhiri hubungan mereka dengan pacarnya karna ingin fokus menggapai cita-cita, salah satunya adalah Irene.
Dihari kelulusan ketika semua orang saling coret-coretan, dan saling memberikan tandatangan diseragam, Irene malah terlihat murung, bahkan matanya sembab karna menangis sedari tadi. Mila dan Nayra sebagai sahabat berusaha menenangkannya.
"Jangan menangis lagi" bujuk Mila.
"Aku sedih karena harus pisah dengan Ifan" ulangnya lagi dengan sesenggukan.
"Kalau begitu kenapa minta putus" balas Nayra.
"Aku akan sekolah ke Kanada, kami akan berjauhan, aku tidak bisa kalau harus pacaran ldr" balasnya lagi. "Mila, apa karna takut ldr juga kamu tidak jadi mengambil beasiswa ke Kanada itu ?" lanjutnya menduga alasan Mila yang membatalkan niatnya yang akan bersekolah ke Kanada.
"Tidak, aku kan sudah pernah bilang, aku tidak jadi ke Kanada karna tidak bisa meninggalkan Bunda Rita, Pak Dedi juga sekarang sakit-sakitan, aku tidak bisa meninggalkan panti untuk saat ini" jawab Mila.
Mereka terus menenangkan Irene, hingga beberapa saat kemudian Nando datang menghampiri mereka.
"Mila! Akbar menunggumu ditaman" ucapnya.
"Aku kesana sebentar ya" pamit Mila pada teman-temannya lalu bergegas menemui Akbar.
"Nay, apa bisa bicara sebentar" sambungnya pada Nayra.
"Ada apa? bicara saja disini" jawab Nayra jutek seperti biasanya.
"Bisakah kamu ikut aku sebentar ?" ajaknya dan akhirnya Nayra pun mengikutinya.
"Cepat katakanlah, apa yang mau kamu bicarakan" ucap Nayra ketika sudah menjauh dari Irene.
Nando mengeluarkan setangkai bunga dari belakang bajunya lalu menyodorkannya pada Nayra.
"Ambillah" ucapnya
Dengan hati yang berdebar, Nayra pun menerima bunga itu, ini pertama kalinya dia diberikan bunga.
"Apa ini?" katanya sambil berusaha mengendalikan dirinya yang hampir menangis karena terharu.
"Aku memungutnya dari tempat sampah" jawab Nando.
"Sialan" umpat Nayra dan berniat membuang bunga itu, namun langsung ditahan oleh Nando.
"Aku bercanda, jangan dibuang" sambil menahan tangan Nayra. "Aku membelinya tadi" lanjutnya. "Sumpah" sambil mengacungkan dua jarinya untuk meyakinkan Nayra.
"Lalu kenapa memberikannya padaku?"
"Hadiah kelulusan mu" jawab Nando. "Dan juga sebagai ucapan permintaan maaf ku karna selama ini sering mengganggu mu"
__ADS_1
"Ada angin apa kamu berubah seperti ini, seperti akan pergi jauh saja" jawab Nayra disertai tawanya.
"Iya, lusa aku dan keluarga akan pindah ke luar negeri, Papa dipindah tugaskan selama 5 tahun kedepan di Turki" jawab Nando dengan wajah serius.
Nayra masih menertawakannya, dan berpikir itu hanya candaan Nando.
"Aku serius Nay" lanjut Nando meyakinkannya.
Nayra terdiam ketika melihat wajah Nando, dia tidak pernah melihat Nando seserius ini, dan tanpa disadarinya air matanya menetes begitu saja. Dia memang sering kesal dengan Nando yang suka mengganggunya, namun dibalik itu semua, Nando juga lah yang banyak menemaninya jika Mila dan Irene sedang bersama pacar mereka.
"Kenapa tiba-tiba sekali ?" ucapnya lirih.
"Karna Papa juga baru memberi tahu kami" jawab Nando. "Nay, aku tahu selama ini aku sering mengganggu mu, dan belakangan aku mulai berpikir kenapa aku suka mengganggu mu? dan akhirnya aku sadar aku melakukan itu karna aku senang mendengar suara mu, aku senang melihat, dan aku ingin kamu memperhatikan ku" ucapnya lembut yang membuat Nayra tertegun mendengarnya. "Nay, sepertinya aku menyukai mu, tidak, aku memang menyukai mu" lanjutnya dengan mata sendunya.
"Kamu menyatakan perasaan mu disaat kamu pamit akan pergi, omong kosong apa itu"
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi Nay aku serius" berusaha meyakinkan Nayra.
"Aku tidak mau berpacaran dengan mu" kata Nayra dengan tegas namun dengan air mata yang bercucuran.
"Aku juga tidak berniat memacari mu"
"Lalu maksdu kamu apa mengatakan seperti itu?" bentak Nayra.
"Nay, lima tahun kedepan aku akan berusaha untuk menjadi orang yang layak untuk mu, aku akan belajar dan bekerja hingga aku benar-benar mapan, lalu aku akan kembali, aku akan menikah denganmu, Nay kamu mau kan menunggu aku ?" ucapnya dengan penuh harap.
"Jangan konyol! kamu pikir kamu siapa menyuruh ku menunggu lima tahun, jangan harap aku mau menunggu mu" jawab Nayra lalu meninggalkan Nando.
Nayra melangkah dengan cepat dengan air mata yang semakin membasahi pipinya. Sementara Nando memandang kepergiannya dengan hati yang hancur.
Disisi lain, Mila dan Akbar kini berada ditaman, mereka duduk berdua disalahkan satu kursi ditaman itu.
"Ini untuk mu" sambil menyodorkan sebuah kertas yang digulung dengan pita berwarna pink.
"Apa ini?" tanya Mila begitu menerimanya.
Mila pun membukanya, dan tara... kertas itu ternyata foto Akbar.
"Hadiah macam apa ini? " kata Mila dengan kesal.
"Kamu harus membawanya setiap berangkat kuliah nanti, jika ada cowok yang mendekati mu, tunjukkan saja foto ini, pelihatkan pada mereka kalau pacar kamu jauh lebih keren dibanding mereka" ucapnya dengan percaya diri. "Ahhh sial, kenapa kita harus kuliah di universitas yang berbeda" keluhnya.
"Aku akan membakar foto ini" jawab Mila
"Jangan! aku susah payah membuatkannya"
"Susah apanya?"
*********
Tidak ada yang berubah, bahkan setelah Akbar dan Mila kuliah semua masih berjalan baik-baik saja. Setelah kuliah Mila memutuskan untuk tinggal sendiri dikontrakan yang tidak jauh dari kampusnya, dan setiap libur Mila akan mengunjungi panti. Mila juga mulai bekerja disebuah hotel. Waktu antara kerja dan kuliah yang padat pun tidak membuat hubungan Akbar dan Mila berubah, mereka tetap bertahan walau tidak bisa bertemu setiap hari.
Malam itu, selesai bekerja Akbar menjemputnya dan mengantarkan Mila kekontrakannya.
"Jam berapa besok ke panti?" tanya Akbar.
"Aku kesana jam 9 pagi, Bunda Rita meminta ku untuk menemani Pak Dedi kontrol kesehatan ke rumah sakit" jawab Mila.
"Apa perlu aku antar?"
"Tidak perlu, besok kan kamu ada kuliah" jawab Mila.
"Baiklah, kalau butuh sesuatu kamu hubungi aku"
"Iya, aku masuk ya" ucap Mila berniat melangkah masuk kerumahnya, namun tiba-tiba Akbar menarik tangannya dan menahannya. "Kenapa?"
"Aku sudah mengantar mu, dan sekarang kamu mau pergi begitu saja" kata Akbar dan mulai menarik Mila mendekat kearahnya. "Setidaknya kamu harus memberi ku hadiah"
__ADS_1
"Hadiah apa?" balas Mila dengan tersenyum.
"Mila, apa aku boleh mencium mu ?"
"Apa? " Mila kaget dengan permintaan Akbar.
Mereka memang sudah bertahun-tahun pacaran, tapi selama ini Akbar sangat menjaganya, tidak pernah berbuat hal memalukan seperti pacaran kebanyakan orang, selama ini Akbar hanya sebatas menggandeng tangannya atau sesekali memeluknya, tapi malam ini kenapa Akbar tiba-tiba meminta seperti itu. Mila menatap Akbar yang semakin mendekatkan wajahnya kearah Mila, dan dengan gugup Mila pun memejamkan matanya. Sekian detik kemudian, Mila merasakan sesuatu ditangannya, perlahan Mila membuka matanya, ternyata Akbar hanya mencium telapak tangannya. Mila bernapas lega ternyata Akbar tidak berbuat seperti apa yang dia pikirkan.
"Kenapa? apa kamu menginginkan aku mencium mu dibagian lain ?" goda Akbar, yang membuat wajah Mila seketika memerah. "Kalau kamu mau aku bisa melakukannya" sambungnya dan kembali mendekatkan wajahnya.
"Tentu saja tidak" jawab Mila sambil mendorong tubuh Akbar. "Pulanglah, aku akan masuk" ucapnya lalu bergegas masuk kedalaman kontrakan kecilnya.
Itulah pertemuan terakhir Akbar dan Mila. Dan besoknya Mila pergi ke panti, sesampai dipanti Mila mendapat kabar kalau Pak Dedi shubuh tadi pingsan dikamar mandi, dan saat ini berada di di rumah sakit. Mila segera menyusulnya kerumah sakit. Diperjalanan Mila menghubungi Akbar namun tidak ada jawaban, bahkan sampai Mila dirumah sakit Akbar belum bisa dihubungi.
Sesampai di rumah sakit, Mila menemui Bunda Rita yang menyambutnya dengan tangisan. Ternyata Pak Dedi mengalami stroke dan sampai sekarang belum sadar. Mila mencoba menenangkan Bunda Rita.
Sudah seminggu Pak Dedi di rumah sakit, Mila dan Bunda Rita bergantian menjaganya. Dan selama itu juga Mila tidak bisa menghubungi Akbar. Semua pesannya juga tidak ada balasan dari Akbar.
Mila berniat mengunjungi Akbar ke kampusnya, namun karena padatnya jam kuliah dan kerja ditambah lagi sekarang harus bergantian menjaga Pak Dedi, ia pun mengurungkan niatnya itu dan berharap Akbar baik-baik saja dan segera menghubunginya.
Namun sudah memasuki dua minggu, Akbar belum juga memberi kabar. Mila terus melihat Hpnya yang terletak di meja samping ranjang Pak Dedi.
Ting.....
Bunyi Hp Mila, menandakan satu pesan masuk. Dengan sigap Mila meraih HPnya dan melihat pesan masuk dari Rio.
"Kak Rio" batin Mila, lalu dengan malas Mila membuka pesannya. Rio hanya memgirimnya sebuah foto undangan pernikahan yang disana tertulis "Akbar dan Rania". Melihat foto undangan itu, jantung Mila seperti berhenti berdetak, HP ditangannya pun jatuh kelantai begitu saja, bersamaan dengan itu Bunda Rita pun datang dan langsung menghampirinya.
"Mila, ada apa?" kata Bunda Rita sembari memungut HP Mila.
Mila tidak menjawab, namun air matanya langsung turun deras membasahi pipinya.
"Mila, kamu kenapa sayang?"
"Tidak mungkin" isaknya. "Bunda, ini tidak mungkin" ulangnya. "Aku harus menemuinya" ucapnya dan langsung berlari keluar rumah sakit. Mila sama sekali tidak menghiraukan Bunda Rita yang berusaha mengejarnya.
Mila menaiki taksi dan langsung menuju rumah Akbar. Sesampai disana Mila mendapati rumah Akbar yang sudah dipenuhi karangan bungan yang bertuliskan "Happy Wedding Akbar dan Rania". Melihat itu semua dadanya semakin terasa sesak, Mila mencoba menenangkan dirinya lalu melangkah memasuki rumah Akbar yang memang terbuka, disana terlihat banyak orang yang sibuk menghias rumah.
Mila melangkah perlahan hingga di ruang tamu dia bertemu dengan Mamanya Akbar.
"Mila" Mama Akbar terlihat kaget melihat Mila yang tiba-tiba berada dirumahnya.
"Tante, dia siapa?" tanya seorang gadis yang berdiri disamping Mama Akbar.
"Di... dia, dia teman Akbar" jawab Mama Akbar dengan gugup. Hati Mila benar-benar hancur mendengar itu, bagaimana bisa dia mengatakan seperti itu, padahal selama ini dia sangat tahu kalau Mila adalah pacar Akbar.
"Oh teman Akbar, kenalkan saya Rania, calon istri Akbar" kata gadis itu sembari mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.
Dengan kaku Mila menyambut tangan gadis yang bernama Rania itu.
"Tante, apa Akbar akan mengantarkan ku periksa kehamilan ku" kata Rania sambil mengelus perutnya yang terlihat membesar. Mendengar itu hati Mila pun semakin hancur, Mila melihat perut Rania dengan air mata yang berderai.
"Kenapa kamu menangis?" ucap Rania melihat Mila yang tiba-tiba menangis dihadapannya. Bersamaan dengan itu, Akbar pun muncul dan melihat Mila.
"Mila" tegurnya, Mila menatap ke asal suara itu dan memandang Akbar dengan tatapan penuh kebencian.
"Mila " ucap Akbar dan mulai melangkah menghampiri Mila, namun baru selangkah ia berjalan, Mila langsung berlari keluar dari rumah itu.
"Mila!" teriak Akbar dan berniat mau mengejarnya, namun ditahan oleh Mamanya.
"Biarkan dia" kata Mamanya
-
-
-
__ADS_1
bersambung....