Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Merindukan Maxwell


__ADS_3

Mila berdiri didepan pintu utama. Menunggu kepulangan Akbar dari kantor. Sesekali mengintip dari kaca jendela, lalu kembali berdiri diposisinya. Rania yang datang tiba-tiba dan membawa Maxwell sore tadi membuat hatinya tidak bisa tenang. Karena semenjak Mila datang kerumah ini, sekalipun Maxwell tidak pernah lagi bermalam ditempat lain seperti menginap dirumah Nenek Kakeknya, ia selalu bersama anak itu sepanjang hari, mereka tidak pernah berada ditempat berbeda dan sekarang dia sangat mengkhawatirkan Maxwell.


Kekhawatirannya memang bisa dibilang berlebihan karena yang membawa Maxwell bukanlah orang lain, melainkan Ibu kandungnya sendiri, tapi entah kenapa hatinya masih saja was-was, apalagi ia yang tidak bisa menghubungi Rania untuk menanyakan langsung keadaan Maxwell.


Bi Lina yang memperhatikannya sedari tadi berjalan menghampirinya.


"Nona sedang menunggu siapa?".


"Menunggu Akbar Bi". Mengintip kembali kaca jendela.


"Kenapa tidak menunggu diruang tamu saja Nona ?. Disana kan Nona bisa menunggu Tuan sambil duduk disofa". Kata Bi Lina memberi usul.


"Tidak apa-apa Bi, saya tunggu disini saja". Tolak Mila dengan lembut.


"Baiklah Nona". Bi Lina melihat wajah Mila yang cemas, namun dia tidak berani untuk menanyakan penyebabnya. "Kalau begitu Bibi kebelakang ya Nona, kalau nanti butuh sesuatu panggil aja". Ucapnya, lalu meninggalkan Mila yang tetap berdiri didepan pintu.


Mila masih menunggu Akbar, hingga lima belas menit setelah Bi Lina meninggalkannya, suara mobil pun terdengar memasuki halaman rumah. Dengan cepat Mila membuka pintu lalu menyambut Akbar yang kini berjalan kearahnya.


"Sayang, kenapa harus keluar rumah ?. Disini sangat dingin, ayo masuklah". Ajak Akbar sembari merangkul dan membimbingnya memasuki rumah. "Ada apa sampai kamu keluar rumah seperti ini ?".


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menunggu mu". Jawab Mila berbohong, dan mencoba tersenyum untuk membuat Akbar mempercayainya. "Apa kamu sudah makan?".


Akbar menggeleng.


"Kalau begitu kita makan dulu, aku juga belum makan". Langsung menarik Akbar ke meja makan. Sampai disana mereka pun langsung duduk dikursi masing-masing. "Aku tidak suka makan sendiri, makanya aku menunggu mu". Menyiapkan piring Akbar dan menuangkan makanan kedalamnya.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan ?". Menghentikan tangan Mila yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuknya. Meraih tangan Mila dan menatapnya dengan penuh selidik. "Katakan, apa yang kamu pikirkan?". Akbar dengan mudah membaca raut wajah Mila.


"Aku khawatir dengan Maxwell". Ucapnya dengan wajah menunduk. "Aku ingin meneleponnya, tapi aku tidak punya nomor ponsel Rania".


"Jadi karena itu kamu menunggu ku sampai berdiri didepan rumah?". Mila mengangguk pelan. "Sayang, kalau kamu seperti ini, aku bisa cemburu dengan Maxwell". Mendengus kesal, sementara Mila menatapnya dengan dahi yang berkerut. "Bisa-bisanya kamu sekhawatir itu dengan Maxwell. Padahal dia baru beberapa jam tidak bersamamu. Sementara aku yang seharian tidak bersamamu tidak dikhawatirkan". Membuang napasnya dengan kasar.


"Kamu memang tidak tahu malu". Mila jadi


tertawa mendengar ucapan Akbar, ia memperhatikan wajah Akbar yang mulai kesal. "Kenapa juga kamu harus cemburu dengan anak sendiri". Masih tertawa hingga Akbar menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa selucu itu ya?". Semakin terlihat kesal. "Aku merasa level cinta mu ke Maxwell lebih tinggi daripada sama ku". Mila semakin tertawa mendengarnya, bahkan air matanya keluar karena tertawa. "Dikantorku banyak cewek , apa kamu tidak khawatir kalau salah satu dari mereka menggoda ku". Katanya dengan serius.


"Coba saja kalau ada yang berani, aku akan mendatanginya dan mengantakan kalau kamu adalah milik ku". Akbar yang mendengar malah tersanjung. Tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya. "Tapi kalau sampai kamu yang menggoda mereka.....".


"Sudah, tidak usah dilanjutkan, itu tidak akan terjadi". Sela Akbar. "Sekarang makanlah, setelah ini aku akan menghubungi Rania supaya kamu bisa bicara dengan Maxwell".


"Benarkah?".


"Iya".


****


Mila dan Akbar sudah berada diatas tempat tidur, keduanya bersandar dikepala tempat tidur. Akbar meraih ponselnya yang berada diatas meja, mulai mencari kontak Rania dan menghubunginya. Sementara Mila yang berada disebelahnya mulai menyandarkan kepalanya dibahu Akbar sambil menunggu telepon terhubung.

__ADS_1


Tut.... tut...tut......


Mereka menunggu, namun tidak ada jawaban dari seberang sana. Akbar mengulang kembali panggilannya, dan tetap tidak ada jawaban. Rania sama sekali tidak mengangkat telepon dari Akbar, seketika wajah Mila pun kembali murung padahal tadinya sudah senang saat Akbar akan menghubungi Rania.


Setelah tiga kali melakukan panggilan pada nomor Rania dan tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Akbar mengakhirinya dan sebagai gantinya, dia mengirim pesan untuk Rania.


Rania, jawablah telepon ku, aku ingin bicara dengan Maxwell.


Pesan terkirim Akbar. Menatap istrinya dan mulai merangkulnya.


"Sabar ya, mungkin Rania lagi sibuk". Berusaha menenangkan Mila. Mila mengangguk pelan, berusaha tenang, walaupun sebenarnya hatinya merasa ada yang mengganjal dengan sikap Rania dari saat datang menjemput Maxwell tadi. Tidak lama kemudian, ponsel Akbar pun berdering, pesan masuk dari Rania.


Maxwell sudah tidur. Balasan singkat dari Rania.


Mendapat balasan seperti itu, mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tidak mungkin juga menyuruh Rania untuk membangunkan anak itu, mereka juga tidak akan tega kalau sampai harus mengganggu tidur Maxwell. Akhirnya dengan sedikit rasa kecewa, Mila memilih tidur juga, dan berharap besok kalau Rania akan menghubungi mereka, dan Akbar pun berjanji akan kembali menghubungi Rania besok pagi.


Keesokan paginya, Akbar kembali menghubungi Rania, dan kali ini dia menjawab teleponnya, namun dia mengatakan kalau Maxwell sedang keluar rumah bersama kedua orangtuanya.


Hari-hari berlalu mereka lalui tanpa melihat bahkan mendengar suara Maxwell, sekarang sudah masuk satu minggu Maxwell bersama Rania, dan selama itu juga Akbar dan Mila menahan rindu pada Maxwell. Rania selalu saja punya alasan setiap Mila dan Akbar menghubunginya untuk bicara dengan Maxwell. Dia selalu beralasan dengan mengatakan Maxwell tidur atau sedang tidak dirumah. Mereka mencoba memahami Rania yang ingin bersama Maxwell, tapi sebagai orangtua tentu saja mereka juga khawatir dengan keadaan Maxwell.


Siang itu, Mila yang bosan berada dirumah menghubungi Akbar yang masih berada dikantor.


"Pulang jam berapa?". Tanya Mila pada Akbar begitu panggilannya terhubung.


"Hari ini aku akan pulang lebih cepat, sebelum jam 5 sore aku sudah sampai dirumah nanti". Jawab Akbar dari seberang sana.


"Iya, makanya sekarang udahan ya telponnya, biar aku bisa lanjut kerja dan cepat pulang".


"Kamu bosan ya aku telpon terus?". Terdengar mulai kesal.


"Tidak sayang, hanya saja pekerjaan ku masih banyak".


"Tapi aku masih ingin dengar suara mu".


"Kamu menyukai suara ku?".


"Tentu saja". Jawab Mila dengan semangat.


"Sayang, aku tahu kamu menelepon karena bosan aja kan? Waktu ada Maxwell kamu tidak seperti ini". Mila tidak menjawab, dia tidak bisa menyangkal, karena apa yang dikatakan Akbar memang benar. "Mila, kalau kamu memang sebosan itu dirumah, kenapa tidak keluar saja dengan Nayra, kalian bisa jalan-jalan di mall, atau kamu bisa saja mendatanginya ke toko kuenya". Kata Akbar memberi usul. Mila kembali terdiam, benar juga, kenapa selama ini dia tidak kepikiran dengan Nayra. Mila membatin membenarkan usul Akbar. "Mila, kamu mendengar ku?".


"Iya sayang, kalau begitu sudah dulu ya, aku akan mengajak Nayra dan pergi dengannya". Langsung semangat dan tidak sabar untuk bertemu Nayra.


"Baiklah, nanti kalau mau pulang telpon aku, aku akan menjemput mu". Mereka sama-sama mengakhiri telepon.


Setelah itu Mila pun langsung menghubungi Nayra dan mengajaknya untuk jalan-jalan ke mall. Nayra yang memang suka diajak keluar langsung menyetujuinya, bahkan dengan semangat menawarkan diri menjemput Mila kerumahnya.


Tidak butuh waktu lama, Nayra sudah berada didepan rumah Mila, membunyikan klakson beberapa kali hingga akhirnya Mila keluar dari rumah. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju mall terbesar dikota itu. Sepanjang perjalanan Nayra membuat daftar toko yang akan dia kunjungi. Pada kesempatan ini dia akan memborong kebutuhan yang belum sempat dia beli untuk pesta pernikahannya nanti. Mila yang mendengarnya pun mulai menyesali keputusannya mengajak Nayra.


Sampai ditempat tujuan, mereka langsung memasuki mall tersebut. Mall yang setiap hari ramai pengunjung walaupun bukan hari libur. Nayra mengajak Mila menaiki lift menuju lantai 3, menarik dan membawanya ketoko yang sudah jadi daftatnya sejak tadi. Dan sekarang Mila semakin menyesali pilihannya yang mengajak Nayra ke mall. Jalan-jalan seperti ini bukanlah kegiatan yang dia sukai. Mila mendengus setiap kali Nayra mencoba sesuatu dan menanyakan bagus atau tidaknya barang tersebut.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, dan sekarang tangan Nayra sudah penuh dengan hasil belanjaannya.


"Mila, bantuin". Teriak Nayra pada Mila yang berjalan cepat didepannya.


"Tidak mau, kalau tidak sanggup bawa kenapa tadi membelinya? ". Tolak Mila sembari berbalik memandang sahabatnya itu. Terlihat Nayra benar-benar kesusahan membawa semua barang itu. Nayra memasang muka memelas sembari menghampiri Mila.


"Bantuin". Dengan melebarkan senyumnya. "Yang satu ini aja". Menyodorkan satu tas belanjaannya.


"Sudah ya belanjanya, aku lapar mau makan". Akhirnya luluh dan meraih tas belanjaan dari tangan Nayra.


"Iya iya habis ini kita makan". Jawab Nayra dan berlari menggandeng tangannya.


"Kalau tahu seperti ini, aku lebih memilih dirumah saja". Ketus Mila. Sementara Nayra malah tertawa mendengarnya.


Mereka berkeliling mencari tempat makan yang sesuai, dan akhirnya menentukan pilihan di salah satu gerai makanan khas sunda. Mereka duduk dan mulai memesan makanan. Nayra memesan mie kocok dengan es lemon tea, sementara Mila yang sudah lapar karena belum makan siang memilih paketan nasi liwet, pake ayam goreng dan komplit dengan tahu tempe beserta sayur asem. Untuk minuman dia memilih es lemon tea juga. Setelah menunggu sekitar lima belas menit , makanan mereka pun datang, pramusaji membawa pesanan mereka dan menghidangkannya , setelah itu kembali meninggalkan mereka.


"Bagaimana kabar Maxwell, apa dia masih bersama Mommynya?". Sambil menyendok kuah mie kocoknya. "Ehmm enak". Menyendok kembali, dan kali ini dengan mienya.


"Entahlah, aku juga bingung kenapa susah seperti ini menghubungi Rania, dan kalau pun bisa dihubungi, Maxwellnya selalu gak ada". Murung lagi kalau sudah bahas Maxwell. Dia benar-benar merindukan bocah itu. "Ternyata seperti ini rasanya jauh dari anak". Keluhnya.


"Kalau menurut aku sih, dia itu sengaja mau menjauhkan Maxwell dari kalain".


"Aisshh.... pikiran mu itu loh Nay". Sambil menggelengkan kepalanya. "Untuk apa dia melakukan itu, pada akhirnya juga Maxwell kan akan bersama kami, paling seminggu lagi dia akan balik ke Amerika". Membuang pikiran buruk Nayra. "Mungkin karena Rania jarang bersama Maxwell, dan sekarang dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan anaknya". Meskipun hatinya juga tidak sepenuhnya yakin, namun Mila tetap berusaha berpikir positif.


"Ya mudah-mudahan aja". Mengakhiri pembicaraan mengenai Maxwell. Mereka pun menyantap makanan yang sudah terhidang. Nayra makan dengan lahap, mie kocok ini sangat sesuai dengan seleranya, berbeda dengan Mila yang sekarang terlihat tidak berselera makan. Pikirannya kini kembali pada Maxwell.


Selesai makan, Nayra pun beranjak dari duduknya, berjalan ke meja kasir lalu membayar tagihan makan mereka. Setelah itu, keluar dari tempat tersebut, dan berniat akan pulang. Mila pun teringat pesan Akbar yang akan menjemputnya ketika akan pulang.


Mila meraih ponselnya yang ada didalam tas, dan mengetik pesan untuk Akbar, memberitahu suaminya kalau dia dan Nayra sudah mau pulang.


Tunggu saja disana, aku segera sampai. Balasan dari Akbar.


Selesai membaca pesan Akbar, Mila kembali menutup ponselnya dan menyimpannya didalam tas. Mereka berjalan menuju lift dan ikut memasuki bersama beberapa pengunjung mall yang lainnya. Lift yang transparan membuat mereka yang berada didalam bisa leluasa melihat pengunjung. Pandangan Nayra pun tertuju pada anak kecil yang sedang berjalan dengan seorang gadis yang berpenampilan sangat menarik. Tapi bukan gadis itu yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan anak kecil itu, karena anak itu adalah Maxwell.


"Maxwell". Gumamnya. "Mila, itu Maxwell". Dengan heboh menunjuk orang yang dia maksud. Mila pun langsung menoleh kearah yang ditunjuk. Dan benarnya saja, anak itu memang Maxwell. Dia berjalan bergandengan dengan Rania.


Pintu lift terbuka, mereka langsung berlari mengejar Maxwell dan Rania. Ramainya pengunjung membuat mereka kesusahan mengejar Maxwell dan Rania. Tapi mereka berdua terus berusaha mengejar, mengikuti arah jalan yang dilewati Rania dan Maxwell. hHngga akhirnya sampailah mereka di parkiran, mereka melihat Rania dan Maxwell dari kejauhan.


"Maxwell". Teriak Mila ketika Maxwell sudah mau masuk kedalam mobil Rania. Serentak Maxwell dan Rania berbalik mendengar suaranya. Mila dan Nayra mempercepat langkah dan menghampiri mereka. "Maxwell". Ucapnya lagi. Dengan senyum lebar, Maxwell menyambut kedatangan mereka.


"Bunda". Teriak Maxwell dan berlari kepelukan Mila.


.


.


.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2