
Akbar tertawa melihat wajah Mila yang baginya semakin terlihat menggemaskan kalau sedang marah, matanya melotot dengan tajam saking kesalnya dengan Akbar. "Kamu memang selalu menyebalkan" gerutu Mila dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya, yang dipelolotin malah semakin tertawa. Sementara Nayra, dia masih diam ditempatnya berdiri sambil memperhatikan raut wajah kedua orang yang dihadapannya ini, keduanya terlihat sangat berbeda malam ini.
"Aku akan kembali bergabung dengan anggota pramuka lainnya, kamu kembalilah ke aula bersama Nayra" ucapnya dengan lembut sembari mengelus puncak kepala Mila sebelum akhirnya bergegas meninggalkan Mila dan Nayra disana.
Mila mengangguk dan mengantarkannya dengan pandangannya hingga tubuh Akbar benar-benar tidak terlihat lagi. Setelah Akbar menghilang dari pandangannya dia baru menyadari kalau Nayra sedari tadi mengawasinya dengan tatapan penuh selidik. Mila terperanjak begitu melihat tatapan mematikan dari Nayra, dia menundukkan pandangannya lalu berjalan setengah berlari meninggalkan Nayra.
"Hei.... kamu mau kabur kemana?" mengetahui niat Mila yang berusaha menghindarinya. "Mila....kamu harus jelaskan semuanya" teriaknya sambil mengikuti Mila menuju aula.
Sampai di pintu aula, Mila buru-buru membuka pintu untuk bisa segera masuk kedalamnya, saat tangannya baru saja menyentuh gagang pintu, seseorang terlebih dulu mendorong pintu itu dari dalam. Irene terlihat berdiri diambang pintu sambil menguap dan mengucek matanya.
"Kalian dari mana? ini sudah tengah malam, kenapa kalian masih berkeliaran seperti ini" ucapnya sambil terus menguap menahan rasa kantuknya.
"Harusnya kamu tanyakan itu pada Mila, alasannya mau ambil minum ke gudang, ternyata malah pacaran disana" cibir Nayra.
"Hah? pacaran? kamu punya pacaran, dengan siapa? sejak kapan kamu berpacaran?" langsung memberi Mila pertanyaan bertubi-tubi, rasa kantuknya pun seketika hilang dan berganti dengan mata yang berbinar.
"Sstttt..... " menempelkan jarinya ke bibir mengisyaratkan agar Irene pelankan suaranya yang bisa saja membangunkan semua orang yang sedang tidur di dalam aula.
"Kamu benaran pacaran? dengan siapa?" kali ini dengan suara setengah berbisik.
"Dengan Akbar, siapa lagi" Nayra yang menjawab.
"Aaa.... benarkah?" kembali berteriak namun langsung membekap mulutnya sendiri. Mila menganggukkan kepalanya disertai senyum malu-malu. "Yeee akhirnya.....selamat ya" entah kenapa Irene sangat bahagia mengetahui Mila berpacaran dengan Akbar, sepertinya dia sudah lama menantikan momen ini. Saking senangnya Irene memeluk Mila dengan sekuat tenaganya sampai-sampai Mila kesusahan untuk bernapas dibuatnya.
"Hei lepaskan, kamu mau membunuh ku" sambil menarik tubuhnya dari pelukan Irene.
"Aku tidak mengerti, kenapa kalian bisa sebahagia itu" keluh Nayra dengan tatapan sinis kepada mereka berdua.
Mila dan Irene terdiam sesaat mendengar ucapan Nayra yang terdengar seperti tidak suka dengan kebahagiaan mereka. Mila menundukkan kepalanya merasa sedikit kecewa dan sedih dengan respon yang Nayra berikan terhadap hubungannya yang baru saja terjalin. Mila sangat mengetahui ketidaksukaan Nayra pada Akbar, karna biar bagaimana pun Akbar adalah orang yang selama ini sering mengganggunya, Akbar adalah orang yang selama ini membuat hari-hari Nayra menjadi sulit. Mila juga sudah menduga hal ini, dia juga sudah membayangkan respon Nayra yang akan seperti ini, namun saat sudah terjadi tetap saja rasanya sangat mengecewakan.
"Kenapa kalian bisa sebahagia itu sementara sekarang aku satu-satunya yang jomblo disini" seru Nayra disertai tawanya. Mila dan Irene pun ikut tertawa dibuatnya. "Kemarilah, aku ingin memeluk mu" lanjutnya dengan membentangkan kedua tangannya. Mila langsung menghambur kepelukan Nayra. "Selamat ya.... " ujarnya sambil memeluk Mila, tidak lama kemudian Irene pun ikut masuk kepelukan Nayra.
******
__ADS_1
Upacara penutupan dalam rangka pelantikan pramuka baru saja selesai, semua peserta upacara telah membubarkan diri. Sebagian besar dari mereka juga sudah bergegas pulang meninggalkan SMA Pelita, Irene dan Nayra pun sudah pamit pulang kepada Mila. Mereka pulang lebih dulu bersama Ifan, Yuda dan Parto.
Sementara Mila masih menetap di SMA Pelita, Akbar memintanya untuk menunggu karena masih ada beberapa yang harus Akbar selesaikan dengan anggota pramuka senior lainnya. Mila menunggu ditaman dan duduk disalah satu kursi yang ada disana. Sudah setengah jam Mila menunggu, namun Akbar belum juga mendatanginya, padahal tadi Akbar bilang hanya sebentar. Mila memainkan game online di Handphone miliknya untuk mengusir rasa bosannya. Sedang asyik main game, tiba-tiba seseorang datang menghampirinnya dan berdiri dihadapannya.
Mila mendogak melihat siapa yang datang. "Kak Rio... " ucapnya begitu melihat Rio yang berdiri tegak dihadapannya.
"Aku mencari-carimu, ternyata kamu ada disini" balas Rio lalu ikut duduk disamping Mila.
Mila merasa was-was dengan kehadiran Rio, takut Akbar tiba-tiba datang dan melihatnya duduk berdua bersama Rio, tapi dia juga tidak berani untuk mengusir Rio dari sana.
"Kenapa duduk sendirian ditaman ini?" tanya Rio, Mila tidak menyahut dan malah sibuk melihat kiri kanan memastikan Akbar tidak melihatnya sambil berharap Rio segera pergi meninggalkannya.
"Kamu nunggu siapa?" tanyanya lagi.
"Hmm.... itu..... aku menunggu "
"Menunggu teman-teman mu? mereka sudah pulang, ayo pulang lah dengan ku" sela Rio dan berharap Mila mau pulang dengannya.
"Kamu tidak perlu repot-repot Rio, Mila akan akan pulang dengan pacarnya" seru Akbar yang entah kapan sampai disana. Dia mempercepat langkahnya dan menghampiri Mila dan Rio.
"Aku pacarnya" jawab Akbar dengan tegas. "Aku pacarnya, dia yang nembak aku dan meminta ku untuk jadi pacarnya" sambungnya lagi dengan tidak tahu malunya.
Mila langsung mendengus kesal mendengar ucapan Akbar yang dia rasa sangat menyebalkan itu. "Ingin rasanya aku menyumbat mulut itu" batin Mila.
Rio tertegun mendengar penuturan Akbar. "Apa itu benar?" tanyanya lagi pada Mila. Akbar langsung memberi Mila ancaman dengan tatapan dinginnya, dengan tatapan itu dia seolah mengatakan "Awas saja kalau tidak mengakuinya". Seolah mengerti maksud tatapan Akbar, Mila pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Rio.
"Aku baru tahu kalian pacaran" kata Rio dengan nada penuh kekecewaan. "Kalau begitu selamat untuk kalian" lanjutnya. Usai berkata demikian, Rio beranjak dari duduknya lalu bergegas meninggalkan Mila dan Akbar.
Mila langsung menunjukkan wajah kesalnya pada Akbar setelah Rio sudah pergi. "Kenapa mempermalukan ku ?" serunya pada Akbar yang baru saja duduk disampingnya.
"Siapa yang mempermalukan mu, justru aku sedang menyelamatkan mu dari buaya itu" jawabnya seenaknya.
"Tapi aku tidak suka kamu mengatakan hal seperti itu" dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Itu cara terbaik supaya dia tidak mendekatimu lagi" menatap Mila yang sedang cemberut. "Kamu suka dekat dengannya?" bertanya tapi yang terdengar seperti gertakan.
"Tidak" menjawab dengan tegas bahkan menggeleng dengan cepat.
"Lalu ?"
"Kamu....aku suka dekat denganmu" langsung memberi jawaban seperti yang Akbar harapkan.
Akbar tersenyum puas. "Sejak kapan kamu menyukai ku?" sambungnya lagi yang membuat Mila kebingungan mencari jawabannya. Mila sendiri tidak tahu kapan dia mulai menyukai Akbar. Dulu, baginya Akbar adalah siswa nakal yang suka bersikap seenaknya, bahkan Akbar dulunya adalah cowok yang paling tidak dia suka karna Akbar sering mengganggu sahabatnya Nayra, namun seiring waktu berjalan perasaan itu berubah, rasa tidak suka itu kini berubah jadi rasa suka, rasa peduli, dan rasa sayang, tapi dia tidak tahu perasaan suka ini sejak kapan menghinggapinya.
"Entahlah, aku tidak tahu" akhirnya menyerah setelah mencoba mengingat semua yang terjadi antara dirinya dengan Akbar namun tetap tidak menemukan jawaban yang pas.
"Aku mulai ragu dengan mu, bahkan kamu tidak tahu kapan mulai menyukai ku" jawabnya dengan sedikit kecewa, padahal tadinya dia berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan seperti sebelumnya.
"Kamu sendiri bagaimana, sejak kapan menyukai ku?" bertanya dengan sedikit meremehkan.
"Sejak saat pertama kali aku melihat mu" jawabnya dengan mantap. Mila tersenyum meremehkan.
"Kamu tahu kapan kita pertama kali bertemu?" tanya Akbar, dan lagi-lagi Mila kesulitan menjawabnya.
"Hmmm.... "sambil berpikir. "Di perpustakaan, waktu itu kamu merebut buku yang sedang aku baca" menjawab dengan bangga.
"Itu pertemuan kita yang ketiga kalinya" sahut Akbar dengan cepat.
"Oh ya, hmmmm.... "berpikir lagi. "Aku tahu.... diparkiran, iya kan, waktu itu kamu menyembunyikan helm Nayra" dengan senyum puas, sangat yakin kalau jawabannya sudah benar.
"Itu pertemuan kita yang kedua kalinya". Akbar menggeleng. "Kamu tidak tahu?". Mila terdiam, senyum yang tadi mengembang dibibirnya kini menyusut dan sekarang bibirnya tertutup rapat, dia memandang Akbar menantikan jawaban yang sebenarnya. "Disini.... ditaman ini, dan di kursi ini juga, aku pertama kali melihat mu" jawab Akbar sambil mengedarkan pandangannya, tangannya menunjuk toilet yang berada tidak jauh dari taman itu. "Kamu datang dari sana, dan menghampiri Nayra yang menunggu mu duduk dikursi ini, pada saat itu ada dua orang yang sedang mengajaknya reuni... dua orang itu adalah aku dan Nando". Mila tertegun mendengar Akbar yang dengan lancarnya menunjukkan momen pertama mereka bertemu dengan sedetail itu. Akbar mengingatnya dengan jelas, dia juga mengingat urutan kedua, ketiga kalinya mereka bertemu. Mila menatap wajah Akbar dengan lekat-lekat tanpa berkedip.
"Mila....ku harap kamu bisa tahu seberapa besar aku menyukai mu" ucapnya lembut disertai senyum yang lagi-lagi menampilkan lesung pipinya.
-
-
__ADS_1
-
bersambung.....