Reuni Cinta Carmila

Reuni Cinta Carmila
Sedikit nakal dan keras kepala


__ADS_3

Akbar berjalan mengikuti Mona yang berjalan setengah berlari didepannya. Mona membawanya ke halaman yang berada dibelakang panti. Halamannya tidak terlalu luas, namun cukup menampung anak-anak untuk bermain seperti sore ini. Beberapa dari mereka sedang berlari kejar-kejaran sambil tertawa tanpa ada beban, ada juga yang duduk melingkar memainkan boneka, dan anak laki-laki terlihat sedang main bola. Mereka semua terlihat seumuran dengan Mona.


"Kakak duduk disini ya" ucap Mona dengan menunjuk salah satu kursi yang berada disana.


"Disini" balas Akbar sambil mengikuti arah kursi yang ditunjuk Mona.


Mona mengangguk, kemudian Akbar pun duduk mengikuti keinginan Mona.


"Apa kakak suka olahraga? "


"Tentu, kakak adalah ketua ditim basket sekolah" dengan bangganya menjawab.


"Wahh kakak hebat sekali" kagum dengan apa yang dia dengar. "Apa kakak juga menyukai perempuan yang bisa main basket ?" tanya Mona lagi.


"Hm... tentu" jawab Akbar dengan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu lihatlah, Mona akan main basket" ucapnya lalu berlari menghampiri sekelompok anak laki-laki yang sedang memainkan bola. Sesampai disana Mona terlihat mengatakan sesuatu namun tidak terdengar oleh Akbar. Beberapa saat kemudian Mona kembali berlari menemui Akbar.


"Apa kakak juga menyukai perempuan yang bisa main bola kaki ?" kata Mona begitu sampai dihadapan Akbar.


"Hmm..... entahlah, kenapa Mona bertanya seperti itu? " tanya Akbar, dia semakin tidak mengerti arah pertanyaan yang Mona utarakan.


"Mona ingin menjadi perempuan yang kakak sukai, tapi kata mereka bola itu bukan bola yang digunakan untuk main basket melainkan untuk bola kaki" jawab Mona sambil menunjuk bola yang digunakan teman-temannya.


"Hahahahaha" Akbar tertawa mendengar penjelasan Mona yang ternyata sedang berusaha untuk menjadi perempuan yang dia suka.


"Kenapa kamu lucu sekali" sambung Akbar sambil mengacak-acak rambut Mona.


"Kak Akbar tidak suka sama anak cengeng, Mona kan masih suka nangis disekolah" kata Bunda Rita yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Bunda.... " Mona berjalan mendekati Bunda Rita. "Bunda, hari ini Mona tidak menangis disekolah" berusaha membela diri.


"Oh ya.... lalu besok apa tidak menangis lagi?"


"Tidak akan Bunda, Mona janji" jawab Mona dengan sungguh-sungguh sambil mengangkat jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Baiklah" balas Bunda Rita dan mengaitkan kelingkingnya di kelingking Mona, sementara Akbar tersenyum menyaksikan mereka.


"Sekarang mainnya udahan ya, Mona ajak yang lain untuk segera masuk dan mandi, oke" kata Bunda Rita dengan lembut.


"Oke Bunda" jawab Mona dengan lantang, lalu dia berlari menuju teman-temannya, dan tidak lama kemudian anak-anak dengan patuh masuk kedalam panti.


Setelah anak-anak masuk semua, Bunda Rita mulai duduk disamping Akbar.


"Terima kasih nak Akbar karna sudah mau sering-sering ke panti ini" kata Bunda Rita memulai pembicaraan.


"Kenapa berkata seperti itu Bu? justru Akbar senang dan berterimakasih karna sudah diijinkan berkunjung kepanti ini" jawab Akbar dengan senyum khas yang memamerkan lesung pipi miliknya.


"Apa nak Akbar senang dengan anak-anak disini? "


"Iya bu, mereka lucu dan menghibur"


"Syukurlah kalau begitu" Bunda Rita menghela napas panjang lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Disekolah anak-anak sering dibully, dikatain anak panti, tidak punya orang tua, dan banyak lagi yang akhirnya anak-anak sering menangis saat pulang sekolah dan meminta berhenti bersolah"


"Kenapa tidak membuatkan sekolah khusus untuk mereka bu? " tanya Akbar.


Akbar mendengarkan dengan baik semua yang diucapkan Bunda Rita.


"Saat ini mereka memang dijauhi dan sering menangis, tapi nanti kalau sudah dewasa, Ibu yakin mereka akan bertemu orang yang benar-benar bisa menerima mereka apa adanya, dan kelak mereka akan menjadi orang yang kuat, sama halnya dengan Mila yang sekarang" sekilas tersenyum ketika menyebut nama Mila, begitu juga dengan Akbar dia ikut tersenyum mendengar nama itu.


"Namun Mila berbeda dengan anak yang lain, kalau anak yang lain akan selalu menangis ketika dikatai anak panti, Mila malah selalu melawannya, bahkan kalau ada yang menjelekkan panti dia tidak akan segan-segan menyerang orang itu dan akhirnya saya dan suami saya harus berurusan dengan pihak sekolah" Bunda Rita tertawa mengingat sifat Mila, sementara Akbar masih setia mendengarkan.


"Mila anak yang cerdas, dari dulu selalu dapat rangking dikelasnya, tapi dia sedikit nakal dan juga keras kepala"


"Ya... dia memang keras kepala" jawab Akbar menyetujui pernyataan bunda Rita.


"Mila cerdas dan juga cantik, banyak orang yang ingin mengadopsinya, namun dia selalu menolak, dia lebih memilih tetap tinggal dipanti ini dibanding tinggal dirumah mewah orang yang mau mengadopsinya" sambung Bunda Rita


"Kenapa Mila tidak mau bu? " tanya Akbar penasaran


"Entahlah, dia selalu bilang, panti ini adalah rumahnya dan tidak akan pernah meninggalkannya, padahal teman-teman seumurannya dipanti ini, semuanya sudah bersama keluarga baru"

__ADS_1


"Mila tidak ingin meninggalkan ibu" balas Akbar


"Ibu rasa juga seperti itu" tersenyum lalu menatap Akbar. "Ibu senang karna sekarang Mila sudah punya teman, sekarang dia punya Nayra, Irene, mereka adalah teman yang selalu ada buat Mila"


"Ada Akbar juga bu" jawab Akbar sambil membusungkan dadanya. Kemudian mereka tertawa bersama.


"Bunda...." suara Mila membuat tawa mereka berhenti, dan serentak berbalik melihat Mila yang kini berjalan kearah mereka.


"Bunda.... jangan terlalu sering berbicara dengan Akbar" tegurnya begitu sampai ditempat Bunda Rita dan Akbar. Mila ikut duduk disamping Bunda Rita, sekarang Mila sudah mengenakan pakaian rumah.


"Kenapa? Akbar anak yang baik" bela Bunda Rita pada Akbar.


"Anak baik" ulang Akbar sambil menupuk dadanya membanggakan pujian Bunda Rita padanya.


"Dia suka membuat peraturan aneh dan memaksa seenaknya untuk dipatuhi" balas Mila berusaha membongkar kejelekan Akbar didepan Bunda Rita.


"Tidak... sama Bunda tidak akan, bahkan Bunda yang akan membuat peraturan untuknya" jawab Bunda Rita menanggapi.


"Oh ya, kalau begitu buatlah peraturan untuknya Bunda, supaya dia tidak bisa kepanti ini" ucap Mila dengan bersemangat.


"Hei... jangan berbicara sembarangan seperti itu" jawab Akbar dengan wajah panik.


"Hmm.... sepertinya itu ide bagus" jawab Bunda Rita sambil pura-pura berusaha berpikir.


"Bu.. bukankah aku ini anak baik" jawab Akbar yang langsung disambut tawa oleh Mila dan Bunda Rita.


Mereka menghabiskan waktu sore itu dengan obrolan ringan, yang disertai tawa dan sesekali adu mulut antara Mila dan Akbar. Hingga akhirnya hari pun sudah mulai gelap, dan Akbar pamit dan bergegas untuk pulang. Mila mengantarkan Akbar kedepan panti, dan sampai Akbar benar-benar menghilang dari pandangannya barulah dia kembali masuk kedalam panti. Mila masuk kedalam panti dengan suasan hati yang tenang, bahkan seulas senyum terlihat dibibirnya kala masuk kedalam kamarnya.


-


-


-


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2